Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
NGGAK MAU SOE_NAT


__ADS_3

"Oh, temennya kak Fara? Aku Eirene Michaela," Eyi menyambut uluran tangan bu Fani.


"Bu Fan!" Susi, Nasya dan Gina hadir pula disana, menghampiri Fani yang tengah bertegur sapa dengan Eyi.


"Oh ya Allah, ini teh Eirene lovely tea?!" tunjuk teh Gina excited.


"Yang model iklan sabun sekali mandi langsung glowing sama make up yang bikin pangling itu?!" seru mereka, sebenarnya bukan produk sabun dan make upnya yang bikin si buluk mendadak berubah jadi dewi surga, tapi memang modelnya saja yang sudah perfect bak titisan dewi kecantikan. Ingin rasanya mereka menjerit-jerit histeris kaya korban kebakaran, tapi seragam yang membalut badan menjadi warning jika sikap mereka haruslah sebijak dewi quan'in nan dewasa, berkharisma dan berjiwa ksatria, masa iya ksatria---istrinya serdadu jerit-jerit kaya cabe-cabean yang ditinggal di pinggir jalan gara-gara nge'lem, malu sama blazer dan pin kesatuan apalagi di tempat ramai begini.


"Ini adik iparnya si far-far away!" tawa Nasya. Eirene tertawa mendengar julukan Fara dari rekan sesama istri prajuritnya.


"Oh, iya!" Susi menepuk jidatnya keras untung saja tak sampai tuh kening cekung kaya kolam ikan, kenapa ia bisa sampai lupa kalau kawannya itu punya sodara artis terkenal.


"Selfie dulu selfie lah mumpung make-up masih tebel!" ujar Gina heboh, seketika mereka lupa dengan kegiatan dan tujuan hari ini, wanita mah biasalah kalo udah ketemu yang bikin hati kelojotan saking senengnya apalagi idola suka lupa situasi kondisi. Eirene pasrah saja ditarik kesana kemari oleh geng emak-emak kecenya Fara.


Ekhem!


Deheman keras dilayangkan para ibu ketua membuat mereka tersentak kaget, "ibu-ibu diharap fokus pada kegiatan ya!" mereka menoleh ke belakang dengan wajah bak senior galak.


Mereka seketika diam dan menunduk, "Siap bu, mohon maaf." Ujar Fani.


"Biar dilanjut lagi nanti aja bu ibu, Eirene nanti selesai acara mampir dulu lah ke rumah," ujar Gina.


Eirene berjalan bersama ibu lainnya, bercampur baur dengan persatuan istri darat dan udara, berkenalan satu sama lain demi mengakrabkan diri. Rupanya begini yang namanya kegiatan gabungan, kok asik ya! Markas besar elite khusus berubah bak lautan es lapis--- ungu, ijo, biru, seger-seger pengen ngunyah.


Puluhan bahkan hampir mencapai angka ratusan anak dari seluruh sudut ibukota mengikuti acara khitanan massal yang diselenggarakan oleh gabungan tentara republik dalam rangka memperingati ulang tahun kesatuan tentara negri.


Acara diawali dengan pembukaan oleh salah satu petinggi kesatuan prajurit negri bersama ibu ketua markas elite, lalu do'a bersama yang dipimpin oleh salah satu pemuka agama ternama ibukota ustadz Soul_medh. Bersama ratusan orang tamu yang hadir Eirene duduk menengadahkan tangan agar khusyuk berdo'a. Jarang-jarang, wanita ini mau berdo'a bersama begini cuma buat do'ain orang, biasanya kan do'a Eyi isinya kalo ngga harapan dapet job ya minta sama Allah biar yang punya project matanya picek, cuma Eyi yang dia liat sebagai model wanita seorang dan model lain mendadak ben conk. Inilah pertama kalinya ia berbaur dalam kesederhanaan bersama masyarakat.


Kini anak-anak lelaki itu berjejer di bangku tunggu yang telah disediakan, menunggu giliran untuk cek kesehatan lalu masuk ke bilik-bilik ruang proses khitanan.


Dokter-dokter militer dan relawan dari dokter rumah sakit umum telah bersiap dengan alat tempurnya.


"Bu Eirene, mari ikut saya untuk mengunjungi bilik-bilik ruang tindakan!" pinta ibu komandan.


"Oh, bilik tindakan? Saya bu?!" Eyi melongo setengah tak percaya dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya ibu, memangnya disini ada berapa orang yang namanya bu Eirene? Apakah ada masalah?" tanya nya.


Eirene menggeleng, "engga bu. Siap bu!" meski berat hati Eirene mengangguk setuju, perintah diatas segalanya meski ia takut dan geli. Seperti sumpahnya pada kesatuan.


"Maksudnya tindakan tuh, liat pemotongan gitu?!" tanya Eyi pada ibu yang lain.


Baik Fani, Wiwit ataupun ibu yang lain menahan kedutan di bibirnya demi melihat ekspresi, reaksi dan padanan kata Eyi.


"Pemotongan--- lah bu Rayyan ini gimana to? Dikira mau nyembelih hewan, pemotongan---" decak bu Nani bergumam.


"Ya maksudnya tindakan su nat gitu, otomatis kan Eyi liatin anu nya orang, bukan punya abang gitu loh, bu Nani!" debat Eyi justru membuat mereka semakin tergelak.


"Mbok ya ndak apa-apa to bu, wong anu-nya bocah kok bukan punya om-om,"


Dan tawa mereka benar-benar pecah, "bu Nani gimana sih, ya tetep aja itu bukan mahrom loh! Lagian Eyi geli liatnya!" ia bergidik membayangkan bagaimana ngerinya proses itu, seketika lututnya terasa lemas.

__ADS_1


"Oalah masa geli... Sing penting ngga bikin bangun!" jawab bu Nani.


"Apanya sih yang bangun!" sewot Eyi.


Fani tertawa, "si Fara kedua ini!"


"Eyi, itu ibu ketua udah jalan loh! Nanti kamu ketinggalan," tunjuk Wiwit, Eyi yang melihat ke belakang, langsung bergegas setengah berlari untuk menyusul.


"Damnnn!" umpat Eyi menyusul. Tapi belum ia sampai, Eyi dikejutkan dengan salah satu anak yang kabur dari dalam bilik sambil menjerit.


"Aku ngga mau su nat!!!"


"Eh, dek!"


"Bu Rayyan tangkap!" seru bu ketua pada Eirene yang posisinya tak jauh dari si anak yang baru saja berlari. Sontak saja bumil itu terkejut, karena aba-aba yang tiba-tiba, membuatnya kecolongan. Ia lantas berlari mengejar si anak berbaju koko putih itu.


"Hey adek!" kejarnya berlari, Eyi tak bisa berlari kencang karena kondisinya yang tengah mengandung. Sementara para prajurit yang berjaga ikut mengejar si anak.


"Ahhh shittt! Susah lari pake pantofel ber-heels gini!" ia lantas melempar heelsnya begitu saja secara sembarang dan memilih berte lanjank kaki.


"Adek tunggu!"


Para perwira yang ikut mengecek kondisi melihat kegaduhan itu.


"Eirene kasih permen deh biar mau su nat!"


"Enggak!"


"Enggak bu,"


Tapi tawaran Eyi tak lantas membuat si anak mau dan menurut.


"Aduh, balon deh balon. Atau duit deh!" teriak Eyi.


Ia berhenti tepat di depan pohon dimana si anak malah bersembunyi, Eyi mengatur nafasnya, berlari kecil cukup membuat paru-parunya kembang kempis, "engap ih!"


"Dek, kalau memang ngga mau ngga usah kabur. Anak lelaki harus berani," bujuk para prajurit yang mengepung, sementara si orangtua masih menyusul di belakang.


"Dek, di su nat itu ngga sakit---rasanya cuma kaya digigit---tapi digigit vampir! Biar sehat juga. Kan biar jadi anak jantan!" ucapnya di sela-sela nafas yang masih memburu.


"Engga bu, takut! Takut sakit---takut bapak tentara," cicitnya sambil menangis memanggil-manggil kedua orangtuanya.


"Kalo berani su nat ibu kasih hadiah, permen, coklat, balon, atau uang?!" bujuk Eyi tak sabaran. Tapi ia tetap menggeleng, membuat Eyi kesal.


"Arghhhh--- something else gitu kaya robot-robotan.. yang kamu mau!" tawar Eyi mencoba merayu meski ia sudah hampir menyerah dan geram, ini yang ia tak suka dari anak kecil, susah diajak negosiasi.


"Ahhh come on dude! Bocah tuh sukanya apa sih! Eyi kasih anak gadis orang, janda deh janda!" dumelnya frustasi.


Fix, sampai situ mereka tau bahwa wanita satu ini pasti adik ipar Letnan kolonel Al Fath.


"Kalo hadiahnya dikasih anak gadis orang mah saya juga mau di su nat lagi bu," sahut Gentra tertawa berniat membantu.

__ADS_1


"Buntung dong Tra!" tawa Andre.


"Coba tangkap deh om, Eyi dah nyerah lah! Bo do amat lah, dia mau disu nat apa engga, serah! Haus ih! Tuh kan sepatu Eyi mana lagi!" ia baru menyadari jika tadi ia membuang sepatunya entah dimana dan kini kakinya tak beralaskan apapun.


Akhirnya si anak berhasil di bujuk juga meski dengan perjuangan yang berat dan drama ogah-ogahan sampai memeluk kuat di badan pohon.


"Makasih ya bu, maaf sudah merepotkan," ujar si ibu.


Eyi mengangguk namun tak bicara.


"Bu Rayyan! Gimana?" Fani menyusul meski sambil tertawa.


"Susah lah bu Fani, padahal dulu Eyi dikejar-kejar banyak CEO, sekarang malah disuruh ngejar-ngejar anak bujang orang, susahnya naudzubillah..." dumelnya.


"Ya iyalah wong kamu bujuknya bilang kalo su nat kaya digigit vampir, mana nawarin janda---mana ngerti dia!" omel Wiwit yang ikut menyusul karena melihat bumil itu berlarian heboh bersama pra prajurit kacang ijo.


"Dia.." tanya Regan pada istrinya.


"Istri kapten Rayyan, adiknya om Fath--- adik iparnya Fara," angguk Fani.


"Ohhhh, pantes!" tandas mereka.


"Nih sepatu kamu," Wiwit adalah bestie terbaik, disaat yang lainnya hanya menonton dan lebih mengejar Eyi, ia lebih memilih memungut terlebih dahulu pantofel milik rekannya itu.


"Adududuhh, makasih bestie!" balas Eyi.


"Hah, bisa-bisa Eyi brojol disini kak!" Eirene tertatih-tatih mengambil pantofelnya dari Wiwit.


"Ya jangan dong!"


"Oh, bu Eirene sedang mengandung?" tanya Gina.


Eirene mengangguk, "iya bu Gin---"


"Oh iya, sampe lupa nanya---bu Gina ini istrinya siapa?" tanya Eyi mengeluarkan tissue basah dari tasnya dan mengelap telapak kakinya yang kotor.


"Bu Gina istrinya pak Gina---" timpal Dilar, rupanya jawaban Dilar ini diamini Eyi, "Oh---hah?! Seriusan?! Va_gina?" tanya nya membulatkan mata.


Dilar tertawa sementara Gina menyikut Dilar.


"Macam mana pula---ampun ! Tak Fara tak adik iparnya sama-sama modelan ambyar!" ujar Yosef.


"Bukanlah bu Eirene, suami saya kapten Ginanjar," jawab Gina.


"Oohhh, ini bagian konsumsi dimana sih---aus ih, lapar!" ujarnya tak jaim.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2