
"Haaaa??!" suara itu begitu berat lolos dari mulut bumil sepaket wajah terkejut. Bukannya menangis seperti sebelumnya, ia malah takjub saat Rayyan menanggalkan seluruh pakaian atasnya yang menampakkan luka-luka di badan.
"Abang masih bisa idup?! Amazing!"pernyataan kaya minta ditampol oleh siapapun yang ditanya. Harus ia apakan istrinya itu, salah satu spesies langka yang ada di muka bumi.
"Masih dong, sekarang kamu percaya kan kalo abang superman?" tanya Rayyan, ternyata ia salah---ia memang tak perlu khawatir dengan Eyi, bukannya mewek sambil acak-acak dompet liat suami luka-luka, ia malah terlihat begitu takjub.
"Percaya," angguk Eyi tertawa, entahlah---bisakah ia disebut budak cinta? Sampai-sampai ucapan Rayyan saja ia aamiin-ni.
"You are my hero," Eyi memeluk Rayyan pelan penuh kehati-hatian, diusapnya seluruh inci kulit tubuh Rayyan mulai dari punggung hingga ke bagian depan, sentuhan telapak tangan Eyi membuat Rayyan meremang meski tak sampai hor ny. Yang ada saat ini mereka diliputi rasa cinta, apalagi diantara keduanya terhalang perut Eyi yang semakin membuncit, seolah tak ingin ketinggalan eksistensinya ia berdenyut berkali-kali, bergerak layaknya jelly yang tersentuh.
"Assalamu'alaikum anak abi," lelaki itu membungkuk dan mengecup perut Eyi.
Dan kamar ini kembali menjadi saksi atas tumbuhnya cinta kedua anak manusia. Rayyan duduk di tepian ranjang, "maaf abang ngga bisa lama berdiri, masih ngilu."
"Ngga apa-apa," Eyi mengambil t-shirt ganti untuk Rayyan dari dalam lemari. Rayyan teringat akan sesuatu dengan lemari.
"Dek, tolong ambilin kotak kecil di bawah, deket tumpukan celana." Pintanya.
Eyi berjongkok dan menunjuk ke arah yang dituju, "ini?" ia memutar kepalanya.
Anggukan Rayyan membawa Eyi meraih sesuatu dari sana.
"Apa ini?" tanya Eyi.
"Sini duduk!" Rayyan menepuk-nepuk ranjang di sampingnya membuat wanitanya menurut patuh.
Dibukanya kotak itu menunjukkan sebuah cincin, "cincin?" raut wajah Eyi mengernyit.
"Abang mau nikah lagi?! Eyi ngga mau dimadu! Mendingan abang ngga usah pulang sekalian, say good bye aja sama Eyi sama cimoy, sana--jadi warga negara Soma aja," ia bangkit dan berseru sewot. Belum apa-apa Rayyan sudah tertawa, emang paling susah diajak romantis nih perempuan!
"Mana bisa dek, yang ada abang di cut dari kesatuan," jawab Rayyan menarik tangan Eyi untuk duduk, tak bisakah wanitanya itu diam, anteng barang semenit saja, tidak spoiler dan menerka-nerka.
"Makanya duduk dulu, ini abang baru mau mangap udah kamu caplok!" omel Rayyan. Oke, setidaknya ia tau jika sampai main hati maka Eyi akan mengajukan perpindahan kewarganegaraannya.
"Ini cincin yang umi kasih buat kelak pasangan bang Fath dan abang, cuma duplikat...Dulu kak Fara juga dikasih duplikatnya cincin persis ini, karena memang ini cincin keluarga, yang asli yang dipake umi. Umi sempet nunda ngasih cincin ini sama abang sampe abang pesen sendiri cincin nikah kita, mungkin karena umi belum yakin. Tapi setelah berjalannya waktu, di satu sore umi akhirnya kasih abang ini buat kamu," Rayyan menjeda ucapannya demi melihat reaksi Eyi yang masih menyimak ucapannya tanpa menyela dan melayangkan protes. Jika wanita lain mungkin sudah marah dan kesal atas sikap umi, tapi sejak dulu---sejak pertama bertemu bahkan saat dengan terang-terangan umi mengikrarkan ketidaksukaannya pada Eyi, wanita ini tak pernah merasa dikucilkan, tak pernah mengadu apalagi sampai menangis minta dikasihani macam pengemis pada Rayyan. Diantara semua wanita, hanya Eyi lah wanita tangguh tanpa air mata menghadapi umi, ia terkesan tangguh dan tertantang menaklukkan umi meski sikap egoisnya ikut turun tangan, membuat Rayyan sadar akan satu hal---Eyi adalah wanita idamannya.
"Beliau luluh dengan semua tentang kamu...saat itu abang sadari, jika kamu adalah dermaga hati sang marinir, yang ada di depan kamu ini," bisiknya.
"Abang belum sempat ambil ini dan kasih ke kamu, sampe akhirnya abang lupa," Rayyan mengambil cincin dari busanya lalu melihat setiap kilauannya,
"Hubungan kita lebih dari sekedar ikatan cincin," Rayyan meraih jemari Eirene dimana cincin nikah darinya tersemat cantik di jari tengah dan memasangkan cincin warisan keluarga yang dipakai oleh umi dan Fara saat ini di jari manis Eyi.
__ADS_1
Dan kecupan di kening Eyi menjadi penutup moment manis keduanya.
"Abang makan dulu, udah jam segini takut telat buat medical check up," ucap Eyi membantu Rayyan mengganti celananya, Eyi memang bukan lagi model, ia sudah bertukar profesi menjadi chef meski masakannya masih terasa pas-pas'an, house keeping yang sudah pasti begitu menjaga kebersihan, manager keuangan, akuntansi, pengamat ekonomi, laundry, tukang cuci piring, pegawai kantor administratif kantor kesatuan, babysitter Rayyan, juga wanita malam dan wanita penghibur, dalam sekali sumpah setia---sehidup semati.
"Iya, kapan periksa cimoy?" tanya Rayyan. Eyi mendongak saat menaikkan resleting dan mengancingkan celana suaminya, "masih 2 minggu lagi bang, Eyi udah periksa dianter umi sebelumnya," Eyi bangkit dari jongkoknya, memungut celana kotor dan memasukkannya ke dalam keranjang.
"Oh, oke. Berarti masih lama dong abang liat cimoy? Mau nengok juga kondisi abang kaya gini!" ada senyum kecut di wajah Rayyan saat ini, mungkin bagi pria hal biologis begini memanglah sangat penting. Eyi menyunggingkan senyumnya paham, lalu melirik jam di dinding.
"Kalo gitu, abang diem aja Eyi yang diatas..." Wanita itu mengerling, lalu mulai merambah dan menjelajahi Rayyan dengan nakal, mendorong pelan lelakinya ke atas ranjang. Ia ikhlas dan rela jika harus nyosor duluan dan lebih agresif, mungkin karena rasa sayang sudah bersarang kuat di dalam hati, ia tak tega melihat Rayyan begitu.
"Ray! Eyi---bukannya mau medical check up?! Itu pak Janu udah nunggu dari tadi loh, kasian kopi udah abis 2 gelas, nanti kena asam lambung dia!" ketukan di pintu membuat Eyi mempercepat menyisir rambutnya yang masih basah.
"Adek yakin mau anter, biar abang diantar Maliq aja?" Rayyan sudah siap dengan pakaian bersih dan wajah sumringahnya, tak sekusut tadi saat ia belum diberi moodbooster.
"Yakin, masa dianter om Maliq, yang istrinya abang kan Eyi," angguk Eyi.
"Yuk!" Eyi sudah membawa clutch'nya, ia keluar dengan memapah Rayyan.
"Berasa jadi kakek-kakek gue di papah gini?!" omelnya saat keluar kamar.
Zahra yang berada di sofa tengah tertawa sambil menonton dan mengerjakan tugas kampus, "abang tuh kalo ngomel-ngomel makin memperkuat karakter tau ngga?!"
"Ini bisa dijadikan obat penambah darah pak Zaky, bagus untuk penderita anemia---" ujar opa Gau.
"Oh ya? Kalau setau saya ini obat herbal untuk penurun panas..." ujar abi Zaky, berteman secangkir kopi Gayo dan kue cucur.
Sementara pria yang baru saja keluar dengan koko, sarung dan songkok hitamnya itu kini bergabung dengan umi dan Zahra.
"Hah! Kan rasain tuh!" umpat Zahra menambah volume suara televisi, dimana berita gosip selebriti menayangkan kasus pros titu si di kalangan selebriti.
"Kenapa dek?" Umi ikut bergabung duduk di sofa samping Zahra.
"Kak Eyi liat!" tunjuk Zahra menepuk-nepuk sandaran sofa heboh.
"Untung aja kita cepetan pergi malem itu, kalo engga dikira lagi janjian sama mama ger mo!" tunjuknya pada layar televisi sebesar layar tancap yang menempel di dinding, dimana potret Hanin dengan wajah ditutupi topi juga pengawalan digiring ke dalam kantor polisi.
"Siapa?" tanya Al Fath ikut bersuara.
"Hanin, model terkenal itu loh---"
"Ada apa emangnya?" tanya Rayyan.
__ADS_1
"Kamu kenal?" tanya umi, mereka memberondong bumil ini dengan pertanyaan.
"Bukan lagi kenal umi, waktu bang Ray dinyatain hilang itu, kita kan pergi ke mall buat nonton sama belanja ditemenin om Maliq juga," ujar Zahra mulai membuka forum kesaksian.
"Masa dia ngiranya om Maliq suami ka Eyi---" Rayyan sempat terpancing dengan ucapan Zahra barusan, "wah! Wah! Ngga bener," ternyata wajah tampannya tak cukup dikenal dunia. Lalu dianggap apa dirinya jika Maliq dianggap suami Eyi, supirnya?!
"Dia nawarin kerjaan sama kak Eyi, katanya bos perusahaan apa tuh kak---nanyain Eirene lovely, katanya dia tertarik sama kak Eyi---" Rayyan semakin mengangkat kedua alisnya hendak melayangkan protes.
"Terus?!" tapi umi Salwa mendahuluinya bertanya dengan nada sengak dan alis tak kalah menukik.
"Kak Eyi diem. Katanya dia sayang---karir model yang udah dibangun dengan susah payah dan lagi menanjak harus berakhir jadi istri prajurit,"
"Wah! Yang mana orangnya! Minta gue tembak pake kaliber 7!"
"Kamu kenapa diem ngga jawab?" tanya umi, sementara Al Fath ikut diam seperti Eyi, walaupun pada akhirnya ia ikut bersuara, "terus umi maunya Eyi ngapain? Jambak, pukul? Kalo gitu kerjaan sama jabatan Rayyan di pertaruhkan bisa kena sidang di PM--" jawab Al Fath membuat umi diam, "ya---ngga terima aja sih, dibilang cuma istri prajurit, dia ngga tau siapa..."
"Keluarga Ananta," lanjut Zahra, Al Fath dan Rayyan membuat Eyi menyemburkan tawanya.
"Ihhh!" umi Salwa melipat kedua tangannya.
"Eyi kasian sama dia, untuk bertahan di dunia modeling itu susah mi----" mata Eyi menatap nyalang ke arah televisi dimana liputan Hanin sudah berakhir.
"Butuh jam terbang, dan job yang no kaleng-kaleng biar bisa ada di jajaran papan atas, bagi Eyi dapetin itu kaya menjejak bulan---susah tapi ngga mustahil, pengorbanan waktu, mental sama fisik itu yang Eyi pertaruhkan, Eyi inget honey sampe cuma makan semacam bento gitu dibawah tumpukan wardrobe cuma buat nunggu Eyi turun dari catwalk."
Eyi menunjukkan kedua lengannya yang putih mulus, "disini---di deretan sini---- dulu tuh sering bolong-bolong bekas suntikan vitamin C. Siang malam jarang tidur, jam tidur Eyi ngga tentu, kadang cuma rebahan di kursi ruang make up...kaki beberapa kali harus pengobatan entah itu tindakan atau cuma bedrest karena engkel yang bermasalah, tapi semua itu berbuah manis saat apa yang dicita-citakan tercapai, hanya...persaingan tetap saja persaingan, yang murni akan terus tergeser dengan yang instan, semakin kita melorotin setiap helai baju, semakin banyak uang dan job yang kita dapat, tapi itu semakin merendahkan harga diri perempuan--- kecuali model dunia yang udah punya nama dek Ra, untuk dapetin itu semua juga ngga gampang dek Ra, ibarat sebuah pajangan kita harus tampil good looking, butuh uang banyak biar tetep laku, kalau dokter jual jasa mengobati, menganalisa penyakit, maka seorang model menjual...." Eyi menggantung ucapannya yang sudah tentu nereka dapat menjawabnya. Rayyan menatap Eyi lekat dan mengeratkan rangkulannya.
"Tapi hal semacam itu tak akan bertahan lama dek, pamornya akan merosot apalagi kalau si pelaku bisnis sudah bosan, yang namanya laki-laki tak akan ada puasnya," suara Al Fath menimpali.
"Iya bang, itu kenapa honey berpikir keras buat membentuk pribadi Eyi, emhhh--- semacam nilai jual berbeda dari yang lain, model itu harus punya karakter kuat tersendiri baru kepake dan bisa bikin para pelaku bisnis penasaran, dengan godaan yang tetap sama karena selamanya akan melihat fisik bukan hati. Dulu sempet berpikir, kapan semuanya akan berakhir---karena sekuat apapun benteng pertahanan Eyi, tetap akan roboh juga, sampai--" Eyi melirik Rayyan, mengingat tujuannya datang ke club malam saat itu, karena dirinya yang sudah lelah dengan dunianya.
"Kamu ngga harus kaya gitu lagi," ucap Rayyan mengecup pipi Eyi.
.
.
.
.
.
__ADS_1