Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
HUJAN PELURU DI LANGIT MALAM


__ADS_3

Memang benar nama mereka mendunia bukan tanpa sebab, terlihat beberapa perompak berjalan-jalan dan berjaga di area deck utama kapal kargo seukuran KRI XXX Perdana.


"Menurut laporan para ABK ada di dalam, tapi kita tidak bisa menghitung ada berapa ABK yang masih hidup di dalam."


Gemuruh ombak yang dapat menyurutkan nyali siapa saja yang berada disana, justru menjadi genderang perang bagi para ksatria laut ini. Terlihat kontainer-kontainer bermuatan nikel masih berjejer rapi diatas deck.


"Duit semua tuh," bisik Pram.


"Tebak berapa jumlahnya!" sahut Rayyan.


"Pasti beratus-ratus milyar," bisik Langit, Rayyan menggeleng, " biar gue tebak. Sekitar menyentuh angka triliun!" otak bisnisnya bekerja.


KRI XXX Perdana dan KRI Yos XXX ikut berselancar di belakang para sea rider demi mengepung kapal Cahaya Koedus. Tepat di perairan lepas laut Soma sekitar beratus-ratus mil para sea rider menyerbu para perompak bersenjata itu.


"Shitttt! Soldier!" teriak mereka. Baku tembak tak terelakkan, diantara gelapnya langit malam negri Soma aksi tembak-tembakan menghiasi perairan.


Dorrr!


Dorrrr!


Psyuuuu!"


Tim Sea rider berjejer mengepung MV Cahaya Koedus bersama datangnya kedua Kapal kebangaan negri.


Dorr!


Cratt! !


"Naik!" perintah komandan.


Pasukan hantu laut menembakkan sling baja untuk mereka naik ke kapal Cahaya Koedus, berjalan membungkuk penuh perhitungan dengan posisi senjata siap sedia.


Dorrr!


Dorrr!


Rayyan berlindung diantara koridor deck. Tembakan mereka cukup terarah, namun tak sampai mengenai para prajurit, itu terbukti jika mereka terlatih.


Beberapa tembakan mengenai barang-barang kapal kargo ini.


Dorrr!


Blughh!


Satu tembakan tepat mengenai jantung perompak, mereka bukan tak tau kekuatan pasukan elite negri pertiwi, nama Raden Joko dan Komando pasukan elite khusus turut mendunia karena kemampuannya.


"Menunduk!"


Dorrr!


Brakkk!


Ruangan terbuka menyajikan pemandangan 19 ABK kapal Cahaya Koedus.


"Alhamdulillah!"


"Puji syukur!"


Mereka benar-benar mengucap syukur diantara harapan yang sudah hilang melihat kehadiran para prajurit negri, sampai kapanpun jasa mereka akan selalu terkenang dalam sanubari.


Dorrr!


"Awas!"


Dorr! Dorrr!


Crat! Kembali timah panas prajurit mengenai organ vi tal para perompak bersenjata Soma.

__ADS_1


Beberapanya mengangkat tangan pertanda mengibarkan bendera putih, lalu menaruh senjata di bawah kaki saat tim'nya Regan, menodongkan mon cong senjata.


"Put your gun!" ucap Regan.


"Area Deck 2 clear!" ujar Gentra.


Belasan ABK digiring keluar, mesin kapal dimatikan sementara oleh Dilar.


"Lapor! kapal Cahaya Koedus berhasil kami ambil alih," ada senyuman menghiasi di balik masker para ksatria, namun itu tak berlangsung lama.


"Lapor ndan! Kelompok perompak lain menuju kesini, sepertinya mereka mendengar baku tembak, gps mereka menangkap sinyal keberadaan kita."


"Sea rider, bermanuver! Elite Raden Joko turun!"


"Siap!"


Rayyan bersama unit turun, diikuti beberapa unit tengkorak.


"Hadang mereka!"


Dorrr!


Dorrr!


Tak ingin usaha mereka sia-sia, apapun yang terjadi mereka harus mempertahankan kapal Cahaya Koedus. Perahu motor mengarah ke arah kapal Cahaya Koedus,


Serbuan rentetan peluru mengujani bak meteor berjatuhan, dari pihak perompak beberapanya terkena tembakan.


Dorrrr!


Cratt!


"Si al! Argghhh!" Langit mengerang saat lengannya tertembak.


"Lang!" ia segera menekan luka yang mengucurkan cairan merah kehidupannya.


"Si al!"


Dan benar saja, nahkoda kapal asal negri pertiwi tengah di seret dengan todongan senjata di kepalanya, tangan terikat di depan dan dipaksa berlutut, wajah ketakutan yang mungkin semua harapannya sudah ia panjatkan, hanya satu pintanya bisa kembali melihat keluarga di rumah.


Tim Sea rider kembali merapatkan barisan dan mengatur strategi diantara lelah, gelapnya malam dan waktu yang semakin bergulir.


"Kepung mereka," personel unit melakukan semuanya sesuai perintah.


Puluhan bahkan ratusan timah panas membombardir pasukan tentara negri, tapi mereka tak gentar.


"Kalian sudah terkepung menyerahlah!"


Suttt, dorrrr!


Sudah tak terhitung da rah yang tertumpah diantara para perompak. Terhitung 4-nya tewas di tangan pasukan elite Raden. Rayyan melihat para perompak yang masih asik menghujani para tim sea rider dengan rentetan peluru, "br3ng sek!" Rayyan menghantamkan bogemannya membuat ia melepaskan senjata mesin yang dipegangnya, menginjak kakinya dan menodongkan senjata tepat di depan wajahnya.


Dorrr!


Sebuah lesatan timah panas tepat mengenai kaki si perompak yang sedang menjadikan nahkoda tawanan, sedikit celah membuat nahkoda itu segera berlari dengan lindungan tembakan dari Rayyan.


"Nahkoda aman!" saat Jaya berhasil meraihnya.


"Perahu cepat sudah dikuasai!"


"Menunduk, berlutut !!" perintah mereka pada para perompak.


Rayyan dan Jaya dapat tersenyum lega, saat kapal cepat dilajukan Rizal dari unit tengkorak menuju KRI XXX.


"Bahan bakar habis bang, terpaksa kita harus menunggu sampai Yos mendekat,"


"Ya," angguk Jaya. Tapi malang tak dapat di tolak lancaran roket launcer tiba-tiba melesat mengarah pada kapal cepat yang dinaiki Rayyan, Jaya, dan unit zombie.

__ADS_1


Psyuuutttt, Duarrrr! Rayyan mendorong tubuh nahkoda dari area daya ledak.


"Si all!"


Tubuh mereka terpental dan tercebur.


"Bang!!!"


"Rayyyy!"


Ngingggg-----telinga siapapun sampai berdenging merasakan hantaman roket.


Byurrrr!


Segera tim sea rider membantu para prajurit yang tak sempat mereka gapai.


"Bang," Jaya terlihat mengerang kesakitan.


"Sini pak!" mereka mengangkat tubuh nahkoda yang selamat.


"Rayyan mana?!"


"Rizal unit zombie pun belum ditemukan!"


"Naik bang, kembali ke Yos dan Halim," ucap salah satu personel unit zombie.


"Saya tak akan kembali sebelum, personel unit saya ditemukan!" bentak Jaya yang terluka cukup parah.


"Tapi abang luka, nanti biar yang lain mencari personel yang terkena ledakan roket,"


Jaya menurut seraya memegangi perutnya, "lo mesti selamat Ray, apa yang harus gue bilang sama Eyi---"


"Amankan area!" pinta komandan unit dan komandan marinir.


"Siap ndan!"


"Sea rider 2 dan 3 lakukan penyisiran pencarian personel," wajahnya gusar menatap langit malam menyapu mencari personel yang hilang.


"Saya tidak terima kata gugur, perwira!" omelnya pada diri sendiri.


Langit yang masih menerima perawatan melihat Jaya yang dibantu oleh Pram, ia membelalakan mata, "bang?!"


"Gue mesti balik. Sodara gue masih disana!" ujar Pram.


"Siapa Pram?"


"Rayyan, dia kena ledakan dan lost tanpa terlihat,"


"Apa, an jimmm?! Gue ikut!" Langit beranjak seolah tenaganya tak pernah habis.


"Lo luka, lo diem!" bentak Pram.


Personel unit tengah mengumpulkan sejumlah barang bukti diantaranya sebuah GPS Garmin XX, amunisi peluru tajam kaliber 7.62 mm dan 5.56 mm serta satu buah jaket loreng gurun.


Komandan detsemen tengah berkoordinasi dengan komandan pasukan tengkorak juga komandan pasukan khusus bagaimana baiknya.


"Lapor ndan, kami sudah menyisir bagian selatan namun belum jua menemukan jejak kapten Rayyan dan Lettu Rizal."


Langit menthesah dan menjambak rambutnya sendiri.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2