Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
KAMU ISTRI PRAJURIT!


__ADS_3

Sudah 2 hari sejak kejadian, mereka tetap melakukan pencarian.


"Kawal kapal Cahaya Koedus menuju pangkalan Aju Sal@_lah mutiara Arab, disana Kapal negri lain sudah menunggu bersama Laks. dan Jendral."


Laporan sampai ke telinga Al Fath, ia meremas ponselnya di timur sana.


Eyi menghirup udara serakus mungkin, menurunkan kaca jendela demi memperlihatkan identitas di gerbang makkopasus, hari ini rencananya ia akan mengunjungi Fani dan teh Gina atas undangan geng ceriwis Fara itu.



"Pak Janu coba berenti disitu, itu ada bu Fani," pinta Eirene.



"Iya bu," angguknya.



"Bu Fan!" seru Eyi menurunkan kaca jendela mobil saat melihat Fani baru saja pulang dari mengantar kedua anaknya bersekolah.



"Sini masuk, bareng aja ke rumahnya!" ajak Eyi membuka pintu mobil.



"Oh iya," ia tersenyum, wanita berjilbab hijau itu masuk ke dalam mobil dan bersama menuju rumahnya.



"Teh Gina sudah menunggu di rumah saya bareng yang lain," ucap Fani.



"Oh gitu, nih! Eyi bawa cemilan juga." tunjuknya ke arah jok paling belakang, memang istri kapten militer marinir ini tak pernah kaleng-kaleng jika pasal jajanan, bukan cilor ataupun seblak.



"Waduhh, banyak sekali bu---" Fani sampai berdecak.



"Buat anak-anak juga nanti, masa cuma ibu-ibunya aja yang ngemil."



Pagi ini terbilang cukup cerah untuk Eirene, atau mungkin ia sudah terbiasa ditinggal Rayyan sekarang.



"Oh iya, kapten Rayyan juga terlibat operasi pembebasan kapal Cahaya Koedus kan?" tanya bu Fani, Eyi menghentikkan aktivitasnya membuka bungkusan coklat, kertas berbentuk seperti segitiga bergambar kacang mede telah tersobek setengahnya menampakkan plastik almunium foil berwarna gold.



"Emh, ngga tau. Abang tuh kalo nugas ngga pernah bilang bu, kadang Eyi tuh ngerasa bingung---kaya istri ngga dianggep," manyunnya. Fani tertawa, "jangan suudzon, itu artinya om Rayyan ngga mau bikin bu Eirene kepikiran," Fani mengakui pekerjaan Rayyan sama bahayanya seperti pekerjaan Regan, bahkan seringnya unit elite Raden Joko selalu diterjunkan di medan tempur yang benar-benar layaknya perang dunia.



"Hm, iya kali." Eirene kembali melanjutkan membuka bungkusan coklat dan menggigitnya.



Mereka turun dari mobil, "pak---mau ikut ngegosip atau mau pulang dulu?" tanya Eyi.



"Kira-kira lama engga bu?"



"Pasti lama!" tukasnya.



"Uhuyyyy! Tamu sebelah dateng euy!!!" seru Gina keluar dari rumah Fani bersama Susi dan Nasya.



"Kak Wiwit masih di jalan kayanya, ini tolong dibawain deh buat amunisi kita nanti---anggap aja Eyi lagi kegiatan anjangsana!" tawa Eirene.



"Wow! Banyak banget, meni niat gini bawa cemilan sebanyak pasokan ransum prajurit!" tawa Gina ikut menurunkan bungkusan makanan.



"Saya pulang dulu kayanya bu, nanti telfon saja kalau sudah mau pulang," ujar pak Janu diangguki Eirene.



"Yu, masuk--masuk!" seru para wanita ini.


Wiwit sudah bergabung singgah di rumah markas tetangga membawa serta Rengga.


"Daripada galau mendingan gosipan gini!" ujar Nasya.


"Karokean mau nggak?" tanya Susi menaik turunkan alisnya.


"Boleh---boleh!" angguk Wiwit.


Diantara hingar bingar biduan dadakan di rumah Fani, suara ponsel Fani berdering.


"Eh, sebentar!" senyumnya terlukis saat nama pahlawan keluarga tercantum disana. Fani beranjak keluar dari ruang tamu ke arah halaman.


Rengga tak sengaja menyenggol gelas berisi air putih di sampingnya, hingga air tumpah.


"Eh!"


Wiwit menjauhkan semua makanan dan barang yang ada di dekat tumpahan air.


"Biar Eyi yang lap! Bentar, kain pel dimana ya?" Eirene beranjak, terasa perbedaannya sekarang, di usia kehamilan yang sudah menginjak 22 minggu, perutnya sudah semakin membesar.


"Lap pel kayanya di samping pintu bu Ey---" ucap teh Gina.


"Bu Fan, lap dima---" Eyi menutup mulutnya saat melihat Fani tengah menerima panggilan. Ada senyum kecut saat mendengar kata mas, itu artinya Fani tengah berbicara dengan Regan. Sementara ia? Sudah seminggu lebih Rayyan tak menghubunginya.


"Oh gitu, terus kapan mas pulang?"


(..)


Alisnya makin lama makin berkerut, "Hah! Kapten Rayyan tentara Marinir? Adiknya om Fath? Hilang kontak?!" Fani membekap mulutnya dan menoleh ke belakang.


Seolah seperti dijatuhkan dari ketinggian menuju inti bumi, jantung Eirene berhenti berdegup saat itu juga.

__ADS_1


"Eirene---" gumam Fani ikut terkejut.


"Bu Fan, maksudnya kapten Rayyan itu---" air matanya tak terbendung lagi dan lolos begitu saja.


Seketika ponsel yang dipegang Fani direbut oleh Eyi, "hallo! Om Regan!"


Eirene hampir tak peduli dengan perut yang membuncit, ia setengah berlari dengan air mata yang berurai, enggak---enggak! Jangan---jangan kaya gini endingnya!



Ia langsung turun dari taksi menyerbu kantor kesatuan Marinir disusul Wiwit yang sampai kepayahan berlari menyusul membawa Rengga.



"Eyi!" teriaknya.



"Mana om Langit?! Mana om Pram! Mana bang Jaya. Mana abangggg!" teriaknya seperti orang gila di depan para tentara yang sedang bekerja di ruangan administratif.



Sontak saja kantor diramaikan oleh teriakan histeris Eyi.



"Ada apa ini kak?" tanya yang lain.



"Bu Eirene," jawab yang lain lagi.



"Bu Eirene?!" Maliq tak sengaja melihat istri atasannya itu begitupun Ulfa.



"Bu?!" keduanya mendekap Eirene yang kini menangis meraung-raung di depan ruangan Rayyan.



"Abang buka! Abang pasti ada di dalem!" teriaknya menggedor-gedor pintu ruangan Rayyan. Sakit! Dunia bagai hancur kembali untuk seorang Eirene, meski Regan tak menceritakan kronologi kejadian, namun kata hilang kontak dan belum ditemukan itu seketika membuat jiwa Eirene tercabut dari raga.



"Bu, ibu jangan begini!"



"Saya yakin kapten pasti selamat, dan dapat ditemukan!" Maliq berusaha menenangkan Eyi, dosakah ia mendekap Eirene dan menjadikan dadanya tempat wanita itu bersandar, begitupun Ulfa yang tak tega melihatnya, resiko pekerjaan seorang prajurit ya begini. Bahkan Diana dan Nindya dapat melihat betapa Eirene kehilangan.



"Bu, jangan disini malu, kita pulang saja ya," ujar Maliq. Eyi mengusap kasar pipi dan hidungnya dengan lengan baju. Tubuh yang sudah meluruh di depan pintu ruangan terkunci itu berdiri menunduk, "Abang jahat sama Eyi dan cimoy," ucap Eyi yang kini sudah bisa mengontrol emosi namun hatinya begutu terasa berat. Perasaan hancur yang dulu pernah ia rasakan kembali singgah di hati Eirene, seolah ia diciptakan Tuhan hanya untuk merasakan kehilangan.



"Bu, ibu tenang dulu. Ibu tau kabar ini dari mana?" tanya Ulfa, bahkan kesatuan belum merilis apapun, emtah memang semua yang berhubungan dengan tugas Raden Joko akan mereka simpan rapat-rapat sebelum semuanya pasti.



"Ibu duduk dulu," pinta Maliq di dekat kantor Rayyan. Ulfa membubarkan beberapa prajurit yang melihat aksi Eirene, meski mereka pun sudah beranjak dari sana.




"Sudah jadi keharusan untuk kita untuk tetap tabah, berpikir jernih, dan selalu mendo'akan yang terbaik. Rayyan belum tentu gugur---dia hanya dinyatakan hilang kontak saja, dan semua sedang melakukan pencarian,"



Eirene menunduk dengan air mata yang mengalir begitu deras, tak akan ada yang mengerti, ia pernah merasakan kehilangan dan kejadiannya hampir sama, hilang kontak di lautan lepas. Apakah kali ini ia akan kembali sendirian? Diusapnya perut dengan bahu dan badan yang bergetar.



"*Kamu adalah wanita tangguh, dan sekali lagi abang minta kamu jadi si tangguh itu*,"



Diana mengulas senyuman dan menyerahkan segelas teh manis hangat pada Eirene sambil berjongkok, "Rayyan pasti kembali kalo kamu yakin,"



Eirene mendongak meski terlihat buram ia dapat melihat jika itu adalah Diana. Ia meraup nafas rakus dan membuangnya kasar, benar! Ia adalah istri prajurit, ia adalah calon ibu, dia adalah menantu keluarga Ananta, dan dia adalah Eirene Michaela Larasati.



Wanita itu mengusap seluruh jejak-jejak air matanya dan meraih segelas teh hangat itu lalu meneguknya, *gue Eirene Lovely, perempuan paling tangguh yang Rayyan kenal*.



"Thanks," ucap Eyi.



"Kita pulang yuk, aku temenin di rumah bareng Rengga." Wiwit tersenyum mengulurkan tangan hangatnya. Dengan diantar Maliq dan Wiwit, Eyi pulang ke rumah dinas.



🍂 Sementara di Timur


"Abang harus berangkat ke ibukota dek," ujar Al Fath di suasana sore setelah selesai bekerja. Berulang kali ia berpikir dan solat meminta petunjuk, dan tetap jawabannya ia tak tenang jika tak ikut mencari. Semua pekerjaan batalyon ia serahkan ssmentara pada wadanyon.


"Iya, hati-hati abang. Abang Saga salim dulu sama abi," ucap Fara mengulurkan tangan mungil Saga yang belum mengerti.


"Abang--- abi pergi dulu cari om Ray, abang baik-baik sama umi di rumah."


Hati-hati bang, bawa Rayyan kembali. Hatinya mencelos mengingat bagaimana rasanya jadi Eyi.




"Letnan Kolonel Al Fath melapor untuk bertugas, ijinkan saya turut andil dalam operasi pencarian perwira yang hilang di perairan sekitar Soma," lapor Al Fath. Meski harus melalui serentetan perdebatan, turunnya ijin cukup alot, tapi Al Fath berhasil meyakinkan komandan resimen matra darat dan komandan kopassus agar ia turut dilibatkan.



Saat itu pula Al Fath terbang ke ibukota.



"Pak, tolong dibuka gerbangnya," pinta Al Fath pada security yang menjaga kediaman Ananta di ibukota.

__ADS_1



Keningnya sempat berkerut mendapati sesosok pria tegap yang ia kenali di atas motor maticnya, "eh, pak Fath?!" serunya menyapa sang majikan yang sudah lama menetap di timur negri.



"Assalamu'alaikum," langkah tegap berpakaian casual namun memakai jaket kesatuan.



"Wa'alaikumsalam, loh?!" umi terlihat terkejut melihat kedatangan Al Fath secara tiba-tiba tanpa kabar berita apapun sebelumnya. Padahal kan biasanya jika akan ke ibukota Al Fath akan mengabarinya.



"Bang Fath? Kok tumben, mana kak Fara---dekgam mana?" tanya Zahra celingukan.



Al Fath menaruh tasnya di sofa tengah, menatap sekilas foto keluarga dimana adik lelakinya terlihat gagah dalam balutan seragam kebesaran navy dan baret ungu di samping Eirene yang berada di samping umi. Foto itu mereka ambil saat pernikahan Rayyan, sengaja melakukan foto shot mendadak karena faktor waktu yang menjadi kendala mereka untuk berkumpul kembali secara lengkap.



Al Fath tidak mengatakan apapun pada keluarganya, namun kedatangannya membuat mereka curiga. Ia pun mewanti-wanti Fara untuk tak mengatakannya pada umi dan abi sampai semua jelas.



"Engga mi, cuma ada panggilan dari resimen pusat aja sebentar, terus sekarang mampir kesini dulu," jawabnya.



"Oh iya, Eirene mana mi?" tanya Al Fath.



"Nah itu, umi mau nyusul dia ke rumah dinas Rayyan. Tuh anak kemaren katanya mau ke Makkopas ketemu sama ibu per sit disana, kalo ngga salah rekan-rekan Fara dulu, siapa tuh namanya---Fani kalo ngga salah ya, tetangga Fath dulu!" jawab umi. Al Fath sempat terkejut dengan penjelasan umi.



"Oh, terus?"



"Sampai sekarang ngga ada kabar lagi tuh, padahal pak Janu udah nunggu buat jemput kemaren sore. Umi telfonin juga ngga diangkat-angkat. Heran deh! Tuh anak kemana lagi, ngga tau apa---mertua khawatir," omel umi.



"Coba---coba deh Ra, telfon lagi Eyi pake hape umi!" pinta Salwa pada Zahra.



"Tidur siang kali, mi." Jawab Zahra yang baru saja pulang ngampus.



"Ah masa sih tidur mulu seharian mirip ke bo," cibir umi Salwa pada Eyi.



"Udah beberapa hari ke belakang, kok umi tuh ngerasa kaya ngga enak hati gitu ya---padahal perasaan ngga ada yang lupa deh," Salwa mengutarakan perasaan tak enaknya pada si sulung yang kini duduk menyalami abi Zaky. Ia sampai mengurut dadanya



"Eirene lagi sibuk tugas kesatuan kayanya, mi. Ngga usah suudzon dulu..." ujar abi yang baru saja keluar dari ruang kerjanya.



Dari arah luar rumah terdengar deru mesin mobil yang baru saja datang, "mobil siapa itu yang masuk, kaya kenal deh?"



"Tuh! Orang yang diomongin datang,"



"Panjang umur!"



"Palingan ka Eyi dianter om Maliq," ujar Zahra duduk santai menaruh kembali ponsel umi di meja. Zahra memang benar, siapa lagi yang bisa masuk begitu saja tanpa persetujuan terlebih dahulu si empunya rumah jika bukan anggota keluarga.



Eyi masuk dengan wajah yang sudah kusut, tak ada make up yang dipoleskan membuat muka pucatnya semakin terlihat macam mayat hidup, mata sembab terkesan bengkak.



"Kamu tuh di telfonin kema--- Eyi?" umi yang awalnya berniat melemparkan omelan pada Eirene mendadak menatapnya mengerut nan khawatir, terlebih lagi saat ini menantunya itu memeluk ia erat dengan menumpahkan seluruh kesedihan, bahunya saja sampai bergetar.



"Eh---eh---eh! Kenapa ini?!"


Abi Zaky dan Zahra sampai terheran-heran melihat Eyi.



"Kenapa nak?" tanya abi, Al Fath yang sudah bisa menebak apa yang terjadi hanya bisa menghela nafas lelah, mungkin Tuhan memang selalu memberikan firasat serta celah untuk seorang ibu tau dengan kondisi anak-anaknya.



Ia mengusap lembut bahu Eyi, "Eyi, percayakan semuanya pada yang Kuasa---semua tidak diam, terus panjatkan do'a untuk Rayyan," Al Fath angkat bicara, ketiga lainnya mengerutkan dahi.



"Maksudnya apa?!" tanya umi terbengong-bengong.



"Ada apa ini?!" tanya abi bereaksi. Dan Zahra ikut beranjak, namun serempak perasaan mereka mulai dilanda khawatir tak berkesudahan.



"Rayyan----Kapten Marinir Teuku Al-Rayyan Ananta, dikabarkan hilang kontak 4 hari 3 malam yang lalu di perairan lepas... laut negri Soma, seusai melakukan operasi Red and White dalam misi pembebasan MV Cahaya Koedus dari perompak bersenjata Soma," ucap Al Fath dengan kegetiran di tenggorokannya.



Gubrakkk!



"Umiii!"


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2