
Suara jatuhnya bahkan nyaris tak terdengar saking kerasnya bunyi ledakan dan deburan ombak laut. Badan Rayyan menghantam permukaan laut biru perairan Natuna.
Byurrrr!
"Kamu harus pulang,"
Suara Eirene mengalahkan segala rasa sakitnya saat ini, ia harus selamat dan pulang. Luka dan kesendirian Eyi lebih mengerikan ketimbang ganasnya samudra. Ada janji yang harus ia tunaikan, janji mempertemukan Eyi dan opah Gau, rencana yang sudah ia susun terpaksa ia batalkan mengingat merah putih memanggil, opah Gau sangat mengerti itu.
Tak ada waktu untuknya pingsan atau sekedar merasakan panas dan perih luka bakar yang di derita. Rayyan muncul ke permukaan dan meraup nafas.
"Shitttt! Bad jingan emang idupnya lama, Ray!" Jaya mendengus lega.
"Go vlok, gue udah ampir nyebur buat nolong !" ujar Langit.
"Gue oke!" ia mengacungkan jempol ke atas.
Dengan segera beberapa prajurit menolong Rayyan kembali ke Kapal ibu cut. Sementara yang lain menuntaskan tugasnya yang tinggal meng-eksekusi. Jangan pikir Rayyan akan langsung berbaring merasakan sakit di sekujur badannya, ia langsung menarik senjata laras panjang yang dimiliki unit elite Raden Joko, dari kejauhan ia mencecar satu persatu nyawa musuh, Rayyan menurunkan maskernya, "per se tan dengan lo semua. Lo ampir bikin Eyi jadi janda!" gumamnya membidik satu persatu musuh dari kejauhan, melindungi rekan detasemen dengan serbuan timah panasnya.
Sampai-sampai para prajurit junior melihatnya tak berkedip di tengah kondisi luka bakar di lengan dan punggungnya, Rayyan masih sempat mengumpat juga berperang. Tak ada kata sakit dalam kamusnya, hanya 2 pilihan bagi Rayyan, hidup dan terus berjuang, atau mati di medan tempur.
Pshyutttt---
Pshyutttt----
Hentakan senjata laras panjang tak sampai membuat badan Rayyan ikut tersentak, "Jayamahe!" atas nama seluruh prajurit angkatan laut ia menarik pelatuk dan nafasnya, dengan sensor yang memancar lurus macam senjata predator menembus kaca tebal kapal hingga ke arah organ vi tal korban, inilah dia si flying dutchman yang mematikan. Mungkin sepulangnya nanti ia harus membuat karangan cerita tema bebas, karena sudah dapat dipastikan Eyi akan cerewet dan marah-marah melihat luka bakar yang ada di badan Rayyan.
Langit dan Pramudya tak kalah mematikan, tak ada yang begitu dielu-elukan disini. Semuanya memiliki spesifikasi tersendiri. Dipilih berdasarkan kemampuan intelegen yang mumpuni setiap perwiranya.
Si toko emas berjalan yang melancarkan serangan secara mem b4 bee buta terlihat bersembunyi dan mengincar personel, tapi sayangnya ia salah sasaran, yang ia hadapi bukanlah pasukan taruna, melainkan para perwira yang telah terlatih di ganasnya alam.
*Dorr*!
*Dorr*!
*Crattt*!
Cairan kental merah mengalir mewarnai lantai dek kapal feri.
"*Amankan kawanan salmon*!"
Langkah Rendra dan pasukan bak langkah malaikat kematian bagi lawan. Moncong senjata selalu diarahkan ke depan, sikap waspada begitu diperlukan disini.
__ADS_1
"Clear!" Langit membuat gerakan memutar jari pertanda meminta unit untuk kembali memutar dan mencari di ruangan lain.
"Kapt! Ada sinyal yang masuk ke transmisi radio kapal lawan!" lapor salah satu prajurit, Rayyan beranjak dari tempatnya dan melihat ke arah layar yang ditunjukkan, "Oke, waktunya meretas---" senyumnya tersungging sementara sejak tadi prajurit itu tak fokus dengan apa yang dilakukan Rayyan, ia lebih fokus pada luka yang menganga di lengan Rayyan.
"Liat apa kamu?!" pertanyaan Rayyan menyentaknya.
"Siap salah kapt! Ada baiknya luka kapten di obati dulu," ucapnya ragu setengah menunduk. Pasalnya lengan baju dan pelindung sikunya saja sampai koyak, belum lagi air laut yang mengandung garam sudah pasti membuat luka itu perih.
"Lengan saya tak terlalu penting, bagaimana jika ini masalah besar dan mengancam ribuan nyawa warga tanah air---tapi saya lebih mementingkan luka di lengan saya yang tak seberapa?! Mau kamu tanggung jawab?!" bentaknya.
"Siap salah kapt!" jawabnya, detasemen elite Raden Joko melegenda memang bukan tanpa alasan.
"*Bantuan akan segera datang, apakah kalian bisa menyelesaikan masalah yang ada. Beri waktu setengah jam! Berikan saja semua muatan pada mereka tapi jangan bocorkan apapun, agar saya bisa mengeluarkanmu dari penjara, dan pemerintah akan melakukan perjanjian dengan pemerintah negri pertiwi*,"
Rayyan tersenyum devil, "jangankan setengah jam, sekarang saja anak buahmu sudah habis, tak ada kata damai jika kalian sudah menginjak-injak harga diri bumi pertiwi!"
Rayyan memakai kembali masker, rasanya tak seru jika hero sepertinya tak ikut dalam euforia pertempuran--- Ia kembali menembakkan sling tali ke kapal feri tadi, anggap saja yang tadi ia sedang si al dan mimpi dicium dugong.
*Slinggggg*! Ia meluncur bebas dan menjejakkan kakinya di kapal feri, dimana para unit gabungan sedang menodongkan senjata pada para lawan dan mengumpulkannya di dek utama.
"Angkat tanganmu di atas kepala!!" bentak bang Jaya menodongkan mon cong senjata ke arah kepala para abk kapal ini yang masih selamat dan menyerahkan diri.
Terlihat pula para gadis yang masih polos nan lugu dengan lelehan air matanya berjalan keluar dari salah satu ruangan yang ada di kapal, mereka nampak tremor karena berada di situasi baku tembak. Puluhan kilo ko kain dan ganja dikumpulkan sebagai barang bukti pula. Kapal tongkang penangkap ikan ilegal tak luput ikut merapat untuk selanjutnya di tenggelamkan sesuai perintah kementrian.
"Pahlawan bertopeng datang! Abang ganteng pujaan kaum hawa hadir!" serunya membuat mereka yang mendengar menoleh.
__ADS_1
"Kamvrettt!" umpat mereka.
"Si alan lu!" Langit dan Pramudya memeluk sohibnya yang aga tak waras ini. Hampir saja mereka lemah jantung melihat salah satu personel ubur-ubur jatuh dan gugur, tapi ternyata Allah masih menyayangi Rayyan, do'a keluarga memang mujarab apalagi do'a seorang ibu dan istri pastinya.
"Bapak, saya tidak akan ditembak juga kah?" tanya salah seorang gadis bergetar menangis, sudah pasti ia dan para gadis lainnya dilanda syok yang teramat.
"Tidak, kami akan membawa kamu pulang!" jawab salah satu perwira laut. Terlihat jelas sorot mata ketakutan ada pada mereka. Kasihan sekali, di usia muda ini mereka dijanjikan bekerja dengan di luar negri demi kehidupan keluarga yang lebih layak namun nyatanya mereka adalah calon-calon korban human trafi cking, Rayyan jadi mengingat Eyinya, jika dulu Eyi tak angkuh, manja, tangguh, dan bermimpi ketinggian mungkin nasibnya akan seperti mereka. Tapi Eyi cukup angkuh untuk jadi seorang tkw. Mungkin ia akan berdecih geli---jangankan untuk kerja kasar, memegang piring kotor saja ia ogah-ogahan setengah mamposss.
"Gue kira hari ini bakalan bawa kantong jenazah sama hormat senjata, kamvrett!"
"Ngga ada ceritanya pahlawan bertopeng mati duluan sebelum si sinchan! Nah si sinchan aja ngga gede-gede, belom kawin, belom punya cucu. Di markas, Eyi nunggu gue buat bikin bayi--" jawabnya tak disaring.
"Saravvv!" Pram sudah mendorong kepala Rayyan.
"Luka lo obatin dulu, nanti Eirene bisa semaput liat lakinya mirip ikan baraccuda bakar, tinggal dicolek sambel matah!" bang Jaya ikut bergabung.
"Ha! Gue udah kangen bini, mana dari sini perjalanannya mesti 2 sampe 3 hari, bisa minta heli buat jemput gue ngga bang?!" tanya Rayyan.
"Kagak akan gue kasih ijin!" dengan teganya bang Jaya menjawab.
"Gue prajurit yang luka bang, masa ngga ada toleransi?!"
Bang Jaya melengos, "lo masih bisa becanda, itu artinya lo baik-baik aja! Ibu Cut lengkap tuh pengobatannya, ada personel kompi markas unit kesehatan juga disana,"
"Gue butuh obat yang bawah bang!" Rayyan mengekori membujuk Jaya.
.
.
.
__ADS_1
.
.