Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
SURVIVAL


__ADS_3

Hampir di ujung keputusasaan mereka dikejutkan dengan kehadiran si mata garuda.


"Lapor! Letnan kolonel Al Fath siap bertugas dalam operasi pencarian Kapt. Mar. Teuku Al- Rayyan Ananta dan Lettu Arizal Budianto," bahkan tenggorokannya saja terasa tercekat saat nama sang adik harus ia ucapkan sebagai misi pencarian.


Badji ngan harus selamat Ray, kamu tega ninggalin perempuan yang sudah kamu ikat dalam kondisi hamil.


"Bang?!"


"Abanggg pulang!" bukan Rayyan atau Fara apalagi Eyi, tapi tim XXXX yang melihat kedatangan Al Fath langsung menghambur dan memeluk Al Fath.


"Abang betah amat di timur bang, anak butuh popok bang," ujar Gentra.


"Dasar ngga waras!" desis Yosef. Al Fath melirik sinis, "lo, kalo kerja yang bener! Mau sampai kapan adik saya dibiarkan di luar?!" Al Fath berjalan menuju barak ditemani unit san dha.


"Lagian babang betah amat disana, jangan dekepin matoa mulu."


"Gue turut berduka atas hilangnya kapten Rayyan---" ujar Andre diangguki Al Fath.


Baru saja mereka berjalan setengah jalan, pendengaran mereka sudah dikejutkan oleh helikopter lain yang mendarat di pangkalan.


"Siapa lagi? Unit baru?" tanya Regan.


Jaya dan Pramudya berlari menyambut tepat di depan pintu dan membantunya turun.


"Mayor Infanteri Rimba Gauhari," gumam Al Fath. Sesosok mantan perwira yang namanya melegenda itu turun dari helikopter dengan mengomel, "jangan dibantu! Saya masih sanggup sendiri!" sentaknya pada Pramudya.


"Siap salah pak!"


"Salah lagi gue," bisik Pram pada Jaya yang melipat bibirnya, "lo kan gudangnya kesalahan Pram, idup aja salah."


"Sue!" desis Pramudya.


Al Fath membelokkan kakinya demi menghampiri mantan perwira itu, "assalamu'alaikum, mayor..."


Tatapan tajamnya masih berkharisma menatap Al Fath sepaket wajah sangarnya, "wa'alaikumsalam," ia lantas menyunggingkan senyumannya.


"Apa Eyi dan kedua orangtuamu tau?" tanya nya. Al Fath mengangguk, "tau pak. Maaf---saya belum bisa menjaga informasi ini dari keluarga,"


Hanya tepukan di pundak Al Fath saja yang menjadi jawaban pria tua itu, lantas ia kemudian berjalan dengan tertatih bertumpukan tongkat menuju barak Laks. diekori Pramudya dan Jaya.


"Siapa bro?" tanya Dilar.


"Opanya Eirene, kakek mertua Ray---" sontak saja biji mata tim San dha menggelinding keluar dari tempatnya kecuali Regan.


"Ah yang bener! Modelan cucunya begitoo?!" tanya Gentra, dihadiahi dorongan keras dari Yosef dan tatapan sinis mendelik dari Al Fath, "begitu gimana?"


"Macam mana kau cakap!" sarkas Yo.


"Sorry--sorry maksudnya model gitu," ralat Gentra.


"Anjayyyyy! No kaleng-kaleng lah keluarga Ananta dapet besan! Yang atu mantan pahlawan Trimandraguna sohibnya jendral, yang atu perwira legenda!" ujar Dilar.


"Nah ntar besan bokap lo siapa?" tanya Andre.


"Tukang cimin kali!" jawab Gentra.

__ADS_1


"Saravvv!" sahut Yosef, Regan sampai menyemburkan tawanya.


"Sab leng!" ujar Dilar tak terima.


"Maksud gue tukang cimin yang jualannya pas lagi ada kerusuhan Trimandraguna, terus tukang cimin langganannya jendral besar!" jelas Gentra.


"Ngaco lo berdua!"


Masih ingat di benaknya saat dulu melakukan operasi dan sempat dinyatakan gugur. Ia terombang-ambing di lautan lepas berteman satu papan kayu dan burung camar, padahal di bawah kaki sana, dalamnya lautan siap menelan, begitupun keganasan ombak dan hewan-hewan laut yang lapar. Terdampar di pesisir yang ia pun bahkan sudah tak ingat bahwa ia masih bernafas.



"*Apakah kamu masih hidup*?" tanya nya melihat satu kaki yang sudah hancur. Ia ditolong oleh nelayan ikan saat sedang mencari ikan lebih jauh dari biasanya. Belum lagi jarak ia terdampar begitu dekat dengan musuh, persis seperti yang Rayyan alami sekarang.


"Selamat datang bang!" mereka berjabat tangan.


"Terimakasih sudah datang, untuk sedikit berbagi pengalaman dan cara abang berpikir saat itu---" mantan perwira untuk dikenal cukup mengenal medan yang saat ini menjadi letak hilangnya Rayyan dan Rizal.


"Sama-sama," ia duduk dengan menaruh tongkat penyanggah di sampingnya.


"Saya datang atas nama pengabdian dan-----karena ia adalah cucu mantu saya."


Al Fath ikut bergabung dalam pembicaraan ini, merumuskan SOP pencarian Rayyan sesegera mungkin.


Rayyan dan Rizal berjalan menjauh sedikit demi sedikit nan perlahan, setelah dirasa jarak cukup aman keduanya membalur seluruh tubuh dengan sisa-sisa lumpur yang ada di sekitar hutan bakau lalu menenggelamkan diri diantara hutan bakau, setelah sebelumnya mengubur terlebih dahulu pistol dan sisa-sisa kehidupan seperti bekas mereka makan dan jejak-jejak kehidupan. Keduanya sudah mati rasa merasakan luka-luka dan sendi yang patah, yang terpenting adalah caranya bertahan semampu mereka untuk mengulur waktu hidup.



Rayyan hampir lupa dengan aroma tubuh Eyi, bagaimana lembutnya perempuan ia saat sedang ia kecup.




Si alnya kedua orang ini malah melangkah mendekati posisi Rayyan dan Rizal. Keduanya saling lirik, jika memang terpaksa maka mereka akan melakukan penyerangan dengan kondisi badan yang hampir remuk.



Degupan jantung mereka semakin cepat saat kedua orang tadi menemukan sesuatu yang sempat jatuh dan luput dari kesadaran Rayyan dan Rizal, sebuah kain hitam yang Rizal sobek demi membalut luka dan masih terdapat noda darah segar.



"*What*?!" keduanya memungut itu dan meneliti dengan seksama.



"*Blood*?!" keduanya saling pandang menyadari jika itu baru saja ditinggalkan, Rayyan menajamkan alisnya saat kedua manusia di depan ternyata mengeluarkan senjata laras panjang.



*Shitttt*! Umpat Rayyan dalam benaknya.



"*Yuhhuuu! Sergeant where are you*!" teriak mereka. Langkah mereka semakin dekat penuh waspada.

__ADS_1



Mereka berbicara dalam bahasa mereka yang artinya, "*panggil yang lain, beritahu kalau disini ada tentara yang terdampar*!"



Rayyan dan Rizal melotot, langsung saja mereka bangkit dari sana, "bank sadhhh!" Rayyan menarik pisau belati di dalam saku celana dan melempar langsung tepat ke arah jantung salah satunya sebelum ia menembak, khawatirnya suara tembakan itu malah mengundang yang lain untuk berdatangan.



Begitu pun Rizal melakukan hal sama. Setelah cukup lumpuh meski tak sampai menikam ke jantung, ia langsung menjatuhkan senjatanya.



Rayyan berlari meski tangannya tak dapat bergerak sebelah karena ia sanggah, ia langsung menendang senjata, demi penuntasan Rizal memelintir lehernya hingga sarafnya putus. Keduanya menghela nafas lega, dan menyenderkan badan di badan pohon serta batuan karang.



"Harus disembunyiin bang, takutnya ada yang liat," Rayyan mengangguk dengan satu tangan yang masih terbalut sarung tangan ia menggusur badan salah satunya, menenggelamkannya di dalam lumpur, "sorry, gue bukan malaikat pencabut nyawa. Tapi kalo gue ngga bu nuh lo, yang ada gue mati konyol, anak bini gue gimana?!" Rayyan bermonolog.



"KRI Ha*li*m kembali melakukan penyisiran, kita berangkatkan juga helikopter pengangkut personel hingga perbatasan, dari sana kita melakukan pencarian dengan berjalan."


"Siapkan stamina!"


"Siap!"


Ada harapan umi dan abi, ada harapan Eyi dan si kecil, ada harapan Zahra dan juga opa Gau di pundaknya.


🍃🍃


Rizal sudah tak bisa lagi menelan saliva, karena memang sepertinya salivanya sudah kering tak bersisa.


"Menu makan malam ini ikan mentah atau kerang mentah lagi bang?"


"Kayanya, bersyukur lo---tuh!" tunjuk Rayyan ke atas pohon menunjukkan buah-buah kecil yang berjatuhan mungkin sisa-sisa mon yet makan.


"Kalo mo nyet aja doyan, itu artinya aman!" tambah Rayyan.


"Bang, gue salut sama lo. Mental lo baja!" ujar Rizal.


"Gue cuma mau menghibur diri sendiri, takut balik-balik bini minta cerai---gara-gara gue jadi gila," jawab Rayyan beranjak kepayahan demi memunguti buah-buah itu, membaginya dengan Rizal. Pemandangan malam yang indah jika di nikmati bersama keluarga atau orang terkasih. Keduanya hanya bisa memandangi tanpa tau bisa pulang atau tidak.


"Emh, lumayan Zal, bikin saliva lo melimpah! Asem gila! Eyi bakal suka nih kayanya! Apa gue bekel aja ya buat balik?!" Rizal dapat sedikit tertawa meski mereka tak tau apakah esok masih dapat bernafas.


"Anggap aja lo lagi jadi host acara adventure, ikuti jejak saya! Jejak Si Dora!" ucap Rayyan berkelakar membuat Rizal kembali terkekeh.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2