
"Ya Allah dek," kasihan sekali si jas loreng, yang biasanya ia dipakai untuk menerjang hujan demi menyelamatkan seseorang atau sesuatu dalam misi kemanusiaan dan kedaulatan, sekarang harus turun derajat jadi tameng minyak goreng.
Eirene memang belajar dari kesalahan sebelumnya. Jika sebelumnya ia berperang tanpa perlindungan maka kini ia sudah siap menumbalkan semua milik Rayyan jadi garda terdepannya untuk menghalau cipratan minyak dan panasnya wajan.
Rayyan hanya bisa menghela nafasnya seraya mengelus dada, ia kembali meneruskan pekerjaannya demi dikejar waktu.
Eirene memekik tertahan. Senang, bangga, bahagia...rasanya mirip-mirip dapet piala award melihat tampilan telur ceploknya lebih baik sekarang. Tidak lagi gosong dan berantakan seperti kemarin, kalau yang kemarin kan telurnya kaya abis diamuk badai. Minyak yang ia tuangkan pun sedikit berperasaan.
Dapur sudah kembali ke bentuknya semula, kamar mandi pun sudah bersih dengan bak mandi terisi air bersih dan itu semua Rayyan yang membersihkan, setelah sebelumnya mendapatkan multivitamin tambahan semalam meski sedikit dengan drama pemaksaan dan wajah dipenuhi salep.
Ternyata menikah lebih enak ketimbang cuma pacaran dan gombalin wanita, mau colak-colek takut dosa, mau icip-icip takut dicoret dari daftar antrian penghuni surga. Ya---meskipun tak kebagian tempat di dalamnya, minimal di emperannya juga ngga apa-apa asalkan tidak terpeleset ke lubang neraka.
"Besok, belajar goreng yang lain ya?!" Rayyan merayu Eirene.
Eirene dengan wajah sumringahnya mendongak, "engga ah! Baru juga akur sama telur masa harus cari temen lagi," jawabnya se-bestie itu.
"Biar temennya ngga cuma satu, nanti setelah kamu pertemuan sama ibu-ibu kesatuan, kita belanja!" ajak Rayyan.
"Bang---" Eyi hanya mengaduk dan menusuk-nusuk saja kuning telur di piringnya. Jangan di tanya nasinya kemana, terbiasa dengan roti dan karbo yang sedikit membuat Eirene harus beradaptasi pelan-pelan. Berbeda dengan Rayyan yang sudah dengan lahap memakan sarapan paginya kaya orang anis puasa 7 hari, meski menurutnya rasa telur keasinan.
"Hm?" gumaman itu mewakili balasannya.
"Eyi kan biasa olahraga kardio rutin, kalo kebiasaan langsung dihilangkan 'kan ngga bagus juga, bolehkan kalo nanti Eyi tetep---" belum ia menyelesaikan ucapannya, Rayyan sudah mengangguk memperbolehkan tanpa tau Eirene akan bicara apa. Palingan olahraga kaya biasa emak-emak lakuin kaya aerobik sama zumba, pikir Rayyan sudah dapat menebak.
Eirene tersenyum lebar, "beneran?! Nanti instrukturnya datang kesini deh! Biar abang percaya Eyi olahraga, ngga harus ke tempat dia!"
"Iya, kalo gitu abang mau siap-siap dinas. Biar biaya senam kamu abang yang bayar, kalo bisa ajak sekalian kak Wiwit, biar sehat--- kalo kamu mau latihan aja di lapang yang biasa dipakai voli ngga apa-apa, siapa tau nanti ibu kesatuan yang lain mau ikutan," jelas Rayyan mengijinkan.
Eirene tak percaya bisa secepat ini ijin turun dari pak suami, alisnya sedikit berkerut karena tebakan Rayyan sedikit salah, tapi bo do amatttt! Yang penting ijin sudah turun. Perempuan itu cukup senang.
"Kalo gitu Eyi telfon dulu instruktur pribadi Eyi. Kalo sekarang tempat Eyi latihan disini, dia boleh masuk kan bang?" tanya nya beranjak hendak mengambil ponsel.
"Tetep harus ikut aturan, lewatin dulu pemeriksaan di depan. Nanti bilang aja mau ketemu istri kapten Rayyan," jawab Rayyan menekankan kata istri kapten seraya berdiri dari kursi kayu, ruang makan yang menyatu bersama dapur.
Eirene mengangguk paham, "siap! Sini Eyi kasih kiss dulu buat bekel!" balasnya ikut berdiri, tentu saja si pangeran biawak ini mau, jika hanya ijin begini saja dapat kiss ia rela kasih ijin tiap hari. Cinta? Entahlah, yang jelas mereka menikmatinya, dan membutuhkannya. Yap! Hubungan yang in tim begini memang nikmat dan dibutuhkan untuk setiap manusia yang sudah menikah. Lain Al Fath lain Rayyan, jika Al Fath terkesan sweet-sweet datar. Jika Rayyan konyol-konyol ngangenin, suka modus pula.
Cup!
__ADS_1
Eirene mengecup pipi Rayyan dengan mudahnya tanpa harus berjinjit, tapi justru pria berseragam ini menarik pinggang istrinya untuk merapat, ia menginginkan lebih dari sekedar pipi saja, yang ia lakukan adalah melu m4t benda kenyal yang sering mengomel itu. Eirene mengalungkan kedua tangannya di leher Rayyan.
Hanya sebentar, karena Rayyan harus segera mengakhirinya jika tidak ia bisa terlambat.
"Kalau mau kasih bekel itu jangan tanggung-tanggung!" kekehnya.
"Oh ya, abang sampe kelupaan, besok---ada yang mau ketemu sama kamu." Ucap Rayyan belum melepaskan pinggang Eirene, bahkan helaan nafas saat ia bicara saja masih menyapu kulit wajah Eirene.
Eirene mengerutkan dahinya, "siapa?"
"Pasti kamu bakal suka, abang pergi dulu."
Ia segera melepaskan pinggang Eirene dan meraih baret lalu memakainya. Langkah kaki Eirene mengikuti Rayyan sampai pagar rumah, "bye!"
Eirene berlari kecil ke arah pintu rumah tapi langkahnya terhenti oleh sapaan tetangganya, "mbak Eirene!" selama jadi istri Rayyan ia belum berkenalan dengan siapapun selain kak Wiwit istri bang Jaya.
"Eh, iya?" Eirene membalikkan arah berjalannya.
"Kenalin--saya Nani, istri Lettu Sigit."
Perempuan yang usianya jelas di atas Eirene ini mengulurkan tangannya.
"Selamat yo mbak! Tak kirain masih ndak ada di rumah. Makanya belum ta ajakin kenalan," ujarnya.
Eirene tersenyum bingung harus menjawab apa, "oh ya mbak. Sejak sebulan yang lalu to, kesatuan sudah rame kalo kormar bakal kemasukan artis terkenal. Kirain saya cuma gosip bohong, taunya sekarang jadi tetangga saya."
"Kemasukan, kaya kemasukan se tan gitu maksudnya?!" Eirene bertanya dalam hati dengan sedikit kebingungan.
"Kalo ada perlu apa-apa jangan sungkan loh mbak sama saya! Saya sudah lumayan lama tinggal disini, sudah senior!" jelasnya tertawa garing padahal Eirene tak melihat ada yang lucu disini. Jika menarik kenyataan, beliau memang sudah lama menjadi istri prajurit, tapi untuk urusan pangkat Rayyan jelas lebih tinggi ketimbang Lettu Sigit.
"Ah iya oke,"
"Mbak Eirene cuantik loh! Apalagi pas tampil di iklan make up itu loh! Kok bisa sih mbak punya muka kaya begini! Mirip bapau yang keringetan pas lagi anget-angetnya, pantes aja om Rayyan kepincut, padahal mantan-mantannya om Ray juga cantik-cantik--" cerocosnya. Oke! Sejauh ini dapat Eirene simpulkan jika bu Nani itu orangnya hobby ngomong---sampe-sampe dari kaler aja bisa muter ke kidul dengan kecepatan bicara 80 knot, ia juga dapat simpulkan jika perempuan ini talang bocor, tanpa saringan, hingga semuanya ia loloskan tanpa sensor.
"Mak!"
"Opo sih le?! Mbok ya sebentar to--lagi nyapa tetangga baru!" teriaknya sengit menoleh pada anak yang memanggilnya.
__ADS_1
"Gendis b3rak mak!" adu si kakak, membuat Eirene bergidik.
"Oalah! Yo wes!"
"Mbak Eirene, nuwun sewu loh! Mohon maaf, bukannya ndak mau ngobrol panjang lebar, tapi anak saya ituloh---"
"Iya ngga apa-apa bu," jawab Eirene menghela nafas lega obrolan yang membuatnya pusing itu akhirnya berakhir.
...Saya sudah di depan Markormar, Eyi....
...Oke, kak Hans! Nanti Eyi kesana. Sekalian pemanasan. Soalnya kata suami Eyi bisa latihan di lapangan kormar....
Eirene menaruh ponselnya, segera berganti pakaian. Tak lupa ia membawa serta Hand Wrap miliknya. Dengan stelan legging hitam, sepatu, sport bra dan jaket parasut tipis. Ia mengunci pintu dan memulai berlari dari rumahnya sampai depan gerbang, demi menjemput instruktur kickboxing-nya.
Jika seorang Eirene sudah keluar maka bumi pasti akan berguncang, hanya sekedar berlari pagi tapi warga markormar hebohnya bukan main terutama para prajurit muda yang baru netes dari pendidikan, tak taukah mereka suaminya ini bisa saja merujak mereka saat nanti latihan rutin?
"Ck! Ck! Cantiknya istri orang!"
Rayyan sedang bertugas di dalam ruangan bersama yang lain. Tapi berulang kali fokusnya terpecah oleh rekan kerja, junior bahkan seniornya melintas di depan ruangan begitu sibuk, mirip ibu-ibu lagi nguber diskonan.
"Ini hari kok pada aneh, pada seliweran ngga jelas ke luar kantor?" bisik Pramudya berbisik.
"Mana gue tau, tempe!" balas Langit.
Awalnya ia menganggap biasa saja, namun saat seorang berteriak jika pagi ini Tuhan begitu baik dengan mengirimkan bidadari jatuh ke Markormar ia mulai curiga sampai----
"Bang--- ibu gahar juga, lo berdua ngga akan percaya ini!" Rendra menunjukkan ponselnya pada Rayyan, namun nyatanya bukan hanya Rayyan saja yang melongokkan kepalanya, Rayyan terkejut, matanya saja sudah keluar dari tempatnya.
"Wah, ngga beres nih!!!" Rayyan segera beranjak dan berlari, salahnya yang tak mendengar ucapan Eyi hingga tuntas tadi pagi karena kesirep aura kissing.
Langit dan Pramudya tertawa, melihat si buaya bisa kelabakan.
"Badass lah! Gue kira Eirene manja-manja lemah. Taunya gaharrr!"
.
.
__ADS_1
.
.