Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
NEGERI INI INDAH, SEINDAH KAMU


__ADS_3

...THE MOST BEAUTIFUL PALACE, LIKE YOU......


...T. RAYYAN ANANTA...


...-----------...


And then, sudah dapat ditebak, Rayyan kena ceramah panjang umi, karena meninggalkan Eyi tanpa asisten atau orang lain di sampingnya.


"Kalo sampe umi sama abi ngga kesini gimana! Kalo Eyi sama kandungannya kenapa-napa gimana, cuma bisa nyesel kamu!" lain dengan Al Fath lain pula berhadapan dengan Rayyan, yang terkadang menguras emosi jiwa. Rayyan dan Zahra memang sepertinya, apa-apa harus pake urat saraf.


"Ini lagi, berat badan segini---udah ada isinya, istri kamu tuh kurang gizi!" omel umi menyamakan Eirene dengan anak-anak gizi buruk.


Eirene sampai melongo, helow to the born! Berat badan segini tuh udah kaya buto! Taukah umi dengan tinggi Eyi yang malah lebih tinggi beberapa centi dari Gigi Hadid dulu saja sebelum menikah dengan Ray berat badannya hanya 59-60 kg, bahkan pernah hanya 55 kg, lalu apa kabar semenjak memutuskan untuk menikah bb naik tak ada ampun, lalu ini----2 bulan sudah mencapai 67 kg masih dibilang kurus, kurang gizi?!


"Terus gendutnya versi umi berapa kilo, mi?" tanya Eyi menatap mertuanya horor.


"Ya, dulu umi juga nyampe lah 70-73 kg, padahal tinggi umi ngga kaya galah!" mata Eyi hampir menggelinding dari tempatnya.


"Ahhh ngga mau! Itu mah gembrot!" ujarnya.


"Jadi mau pulang atau mau ributin berat badan?" tanya Zaky. Rayyan terkekeh mendengar keributan istri dan ibunya mendapatkan ultimatum abi Zaky, setidaknya kuping pria ini aman dari penyakit co ngean kalau abi sudah angkat bicara.


"Abang sudah memesan tiket pesawat kelas bisnis buat kita, 4!" dan ucapan lirih Rayyan membuat Eyi menggeleng kuat, lain halnya dengan umi dan abi yang tak tau dengan kondisi Eyi.


"Nggak, Eyi mau naik kereta aja!" tolaknya membuat umi dan abi bereaksi.


"What's wrong?" tanya abi yang sudah menggenggam handle di kopernya.


"Eyi ada trauma bi sama pesawat," Rayyan segera menangkup wajah istrinya ini.


"Hey, kamu bisa!" ia menyentuhkan ujung hidung keduanya, "abang yakin kamu bisa, kamu udah ngga bisa makan obat sembarangan lagi, ada dedek disana. Yakin sama abang, disini ada umi sama abi juga," lalu pandangan Eyi menyapu ke arah kedua mertuanya.


"Kenapa bisa gitu, ada kejadian apa memangnya?" tanya Salwa.


"Justru itu, karena ada abi sama umi. Eyi jadi bayanginnya kalo papa sama mama---" Rayyan membawanya ke dalam pelukan sebelum Eyi meneruskan kalimatnya.


"Papa sama mama kecelakaan pesawat, HawaAir---" gumam Rayyan pada umi, membuat umi terkejut dan menutup mulutnya, "ya Allah!"


"Abi sama umi sudah keliling nusantara tak terhitung Eyi, dan syukur alhamdulillah kami masih dalam keadaan sehat wal'afiat. Yakinlah jika Allah tak akan menimpakan suatu bencana, kemalangan tanpa hikmah. InsyaAllah mereka para syuhada," abi Zaky turut mengusap kepala Eyi.

__ADS_1


"Sini peluk umi, biar kamu merasakan kalau ibu itu masih ada." Rayyan melepaskan Eirene yang kini beralih memeluk Salwa, hanya berjarak 5 inci saja dengan umi.


"Jadikan kemalangan masa lalu itu pelajaran untuk mawas diri bukan untuk dihindari apalagi ditakuti. Yang namanya takdir dan kecelakaan memang tidak dapat diduga dan dicegah. Tapi setidaknya hal itu tidak harus membuat kita takut akan takdir yang akan menjemput nantinya, karena kematian itu bisa datang kapan saja dan dimana saja," pelukannya mengendur demi melihat wajah menantu modelnya itu.


"Loh, terus waktu kesini kamu naik apa?" tanya umi mengurai pelukannya.


"Dipaksa abang pake pesawat militer," jawab Eirene.


"Nah itu mau, dan sekarang ngga apa-apa kan?"


"Tapi kemaren banyak tentara, jadi ngerasa aman. Kalo komersil ngga ada tentaranya, mama sama papa juga celaka karena naik pesawat komersil---" Umi mengangkat sebelah alisnya.


"Terus kamu anggap suami kamu apa kalo bukan tentara? Tukang somay apa butiran debu?" tanya umi. Rayyan sampai tertawa dibuatnya, "arjuna, mi!"


"Ih si umi!" Eyi mencebik, "maksudnya pilotnya kan terlatih kalo tentara---" ralat Eyi.


"Emang pesawat komersil, pilotnya pada pelatihan di tempat kursus jahit? Sampe kamu takut pesawatnya dibawa jatoh," kembali Rayyan tertawa dengan perdebatan umi dan Eyi. Akan jadi apa nanti jika sampai anak mereka perempuan, karena jika menarik faktanya, kaum perempuan anggota keluarga Ananta itu ya begini semua.


"It's oke. Ngga akan terjadi apa-apa." Lanjut umi.


Jika Laksamana dan ibu sudah berangkat sejak subuh, maka Eyi dan Rayyan bersama umi Salwa dan abi Zaky baru saja sampai bandara.


Langkah Eirene mendadak terhenti di awal pintu masuk, mendadak jantungnya kembali berdegup kencang, dan tangannya mendingin, membuat Rayyan ikut terhenti.


"Abang disini," angguknya meyakinkan. Tatapan Eirene mengedar ke sekeliling ruangan bandara namun sorot mata itu seperti kosong dan berada di lorong waktu berbeda.


"Eyi takut bang," belum apa-apa ia sudah sesenggukan.


"Ngga apa-apa, umi juga disini!" Salwa melirik sekilas pada Zaky tanda tak yakin jika meneruskan perjalanan dengan pesawat, ia sungguh tak tega melihat menantunya itu ketakutan begini.


"Ray, umi rasa kita batalkan saja perjalanan dengan pesawat. Biar umi sama Eyi pake kereta," tapi Rayyan menggeleng dan tetap teguh pada pendirian.


"Mi, Ray hanya diberi ijin hari ini saja. Umi tau kan aturan dinas Ray? Kalo naik kereta lama, Ray juga ngga bisa jaga Eyi---apa jadinya kalo Ray balik ke markas tanpa Eyi?"


"Lagipula mau sampai kapan Eyi takut, sekarang atau engga?! Ray itu prajurit, jadi istri Ray harus tangguh juga," Rayyan segera menggendong Eyi ala bridal style tak peduli orang-orang melihatnya geli agar ia tak kabur ataupun berontak.


"Abang ih, malu!" ia menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Rayyan, dan tangannya terulur memeluk manja di leher Rayyan.


"Anak itu! Ck," Salwa berdecak, inilah sifat keras anak-anaknya yang selalu memaksakan kehendak, jika memiliki keinginan selalu kekeh sumekeh, terlebih lagi Rayyan.

__ADS_1


"Jangan disamain sama prajurit, itu istri kamu bukan serdadu!" tembak umi menyusul di belakang bersama abi.


Meski tak setakut saat pertama kalinya, tetap saja Eirene merasakan tremor, sampai tak berani melihat pemandangan yang ada disekelilingnya.


Salwa kembali melihat dengan getir, kehidupan Eirene tak sesempurna kelihatannya, ia justru cukup menderita dengan kesendirian tanpa sosok keluarga. Matanya pun menangkap moment manis yang langka, dimana putranya begitu setia dan sabar membimbing serta menemani Eyi, dekapannya tak lepas memeluk Eirene hangat.


"Hhhhh---" Eirene merasakan ketegangan saat pesawat mulai lepas landas, tangannya mencengkram jemari Rayyan erat hingga berkeringat.


"Cuma sebentar aja---bobo aja gimana?" ia menepuk-nepuk dada bidangnya agar Eyi bersandar.


Eyi terlelap, mungkin karena ia lelah atau memang terlampau takut hingga akhirnya tertidur. Yang jelas sekarang matanya tertutup, sampai-sampai...saat Rayyan mengusap perutnya lama ia tak terusik.


Perwira muda itu terkekeh senyam-senyum sendiri mengingat kini di perut Eyi ada benihnya yang tumbuh.


"Sehat-sehat nak," gumamnya mengecup pucuk kepala Eyi. Kali ini Eyi tertidur hanya sebentar saja, mungkin karena badannya sedang tak enak atau memang sudah cukup istirahat sebelumnya.


Ia mengerjapkan mata, "kok udah bangun lagi?"


"Ngga tau," cicitnya menggeleng enggan untuk membuka mata selebar dunia.


"Coba liat ke bawah sana---itu yang selama ini kamu lewatkan saat terbang tanpa sadar," tunjuk Rayyan ke arah jendela pesawat.


Eyi awalnya ragu ia bahkan memejamkan matanya lekat-lekat, tapi Rayyan memaksanya.


Lelaki itu bahkan sudah mengarahkan kepala Eyi ke dekat jendela dan mendekap tubuhnya dari kursi samping, menaruh dagu di pundak Eyi.


"Coba buka mata kamu sebentar, aja----negri ini indah, seindah kamu..." bisiknya tepat di telinga Eyi.


"As beautiful as you..."


(seindah dirimu)


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2