Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
MENCOBA BAHAGIA


__ADS_3

Memaafkan dan mengikhlaskan memang bukanlah hal yang mudah dipraktekkan, mulut seringkali tak sejalan dengan hati alias berkhianat.


Eyi menatap ketiga laki-laki itu dari kejauhan yang sedang mengobrol santai berteman coffee dan ice lemon tea.


Bohong jika hanya dalam hitungan detik ia dapat melupakan semua rasa kecewa, rasa bertanya-tanya, dan semua rasa sedihnya yang sudah mendarah daging selama bertahun-tahun.


Tapi setidaknya ia menyingkirkan satu penyakit hati, Eyi hanya ingin hidup damai ke depannya. Meng-usaikan semua mendung yang memayungi dirinya dan berharap dengan memaafkan, berusaha melupakan dendam, sakit hati, benci dan kecewa terhadap opa Gau adalah usaha terakhirnya untuk membahagiakan mama dan papa di atas sana. Sesuai keinginan terakhir mereka di dunia----Rayyan benar, hidup dengan kekecewaan dan rasa sedih tak akan membuat dirinya bahagia di kemudian hari.


"Kak Eirene lovely ya?!" seseorang menegurnya ketika akan kembali ke meja dimana Rayyan, honey dan opa berada.


Eirene tersenyum getir kaya orang nahan mules, "kak boleh minta foto bareng?!" pintanya. Setelah sekian lama masih saja ada yang mengaguminya, ternyata aura bintang belum meninggalkan Eyi. Padahal kontrak iklan telah berakhir, begitupun kontrak brand ambassador, meskipun ia masih sering menerima tawaran endorse.


"Wah, bener nih! Kakak sibuk jadi persit sekarang ya?! Keren kak, makin cantik!" pujinya. Satu jepretan lensa kamera berhasil mengabadikan sang idola.


"Kalo jadi persit gini, karir modelingnya gimana kak, ngga lanjut? Yahh, sayang banget!" pertanyaan itu sedikit menyentil Eyi. Membuatnya bingung harus menjawab apa, yang ia lakukan sekarang adalah berusaha memenuhi kewajiban dan tanggung jawabnya atas takdir yang sudah digariskan untuknya dan mencoba bahagia, "kita liat kedepannya aja ya!" senyuman memang tak pernah hilang dari wajah cantiknya.


"Makasih kak!" Eirene mengangguk. Jikalau Tuhan menggariskan suratan nasibnya menjadi seorang istri prajurit maka akan ia terima dan nikmati, walaupun nantinya rasa rindu akan dunia modeling sudah pasti merundungnya.


Eirene kembali duduk, bukan di kursi tapi langsung menaruh pan tatnya di pangkuan Rayyan, pria itu pun refleks memegang pinggang dan perut Eirene.


"Masih pusing nggak?" tanya nya.


"Emangnya kenapa nih bocah?" tanya honey.


"Kamu sakit? Sudah berobat?" tanya opa.


Eirene menggeleng, "cuma masuk angin biasa."


Wajah pria itu tersenyum hangat, sehangat mentari pagi untuk pertama kalinya, "kalau begitu kita makan sekarang, makanan sudah datang!" tunjuknya dengan dagu pada pelayan yang membawa pesanan opa.


Beberapa piring menu terhidang di atas meja.


"Uhuyyy! Mantap ini mah, kebetulan gue belum makan!" honey menggosokan kedua telapak tangannya dengan mata berbinar melihat pelayan menurunkan satu persatu piring.


"Redi, ubah penampilanmu! Kamu itu lelaki, bukan kaum hawa!" ucap opa tegas pada honey.


Pria itu sedikit manyun, "iya opa. Ini juga lagi dicoba!"


"Ray, ajaklah sekali-sekali--bocah ini wajib militer, pelatihan bela negara biar lurus!" katanya.


Eirene tergelak setengah mengejek, "ini mah bengkoknya bawaan lahir, opa! Yang ada dia jerit-jerit, disuruh berenang atau halang rintang malah rebahan, kaya kasur air!"


"Enak aja! Gue jantan!" sarkas honey mengibaskan selada air pada Eirene dengan kesal kaya lagi ngibasin ke-sialan.


"Mana ada jantan kecabut bulu kaki sampe jerit-jerit satu gedung apartement!" ejek Eirene tak mau kalah.


"Ya iyalah! Lo nyabutnya cuma satu, Londo! Otomatis langsung bengkak kaya bis ul!" teriak honey, tapi perempuan ini malah tertawa kencang.


"Kalau Redi memang mau, bisa nanti ikut dengan regu atau peleton yang ada di bawah naungan detasemen saya. Nanti biar saya selipkan nama Redi," ujar Rayyan.


"Bener---bener bang! Masukkin aja nama dia, be a man!!!!" seru Eirene begitu mendukung 100 persen ide ini, biar dunia marinir geger sekali-kali kedatengan makhluk jejadian!


"Lo bisa ngga sih duduknya jangan pangkuan gitu! Gatel mata gue liatnya," Eirene terkekeh dan mengambil posisi awalnya.


"Garuk pake garpu rumput!"


Eirene memperhatikan setiap menu yang tersaji di depan dan mengangkat alisnya sebelah, ada hati yang mencelos dan kembali menyendu.


"Scramble egg, bacon sapi sama chicken soup----menu kesukaan papa," ucapnya. Menu campur-campur yang menurut Eirene dan ibunya sedikit aneh saja.


"Ya! Opa masih ingat, bahkan setelah belasan tahun!" balas opa Gau. Rayyan dan honey tak berani menyela demi memberikan waktu untuk Eirene dan opa Gau.


Opa membuka topi yang selalu setia dipakainya menampakkan rambut cepak dengan warna yang sudah memutih, kulit yang mulai keriput bersama beberapa bekas luka robek adalah saksi sejarah seorang Rimba Gauhari.


"Papamu paling senang kalo ada ayam Woku dipakaikan sambal Dabu," ucapnya, meski usianya sudah tergerus jaman, tapi badan tegapnya memang menunjukkan jiwa seorang perwira pernah bersemayam disana.

__ADS_1


"Dan sambal Dabu buatan mama adalah sambal yang paling enak," jawab Eyi.


Honey yang semula akan melahap makanan mengurungkan niatannya dan menaruh kembali sendok berisi nasi, tangannya terulur mengusapi punggung Eirene.


"Next, sambal Dabu kamu yang bakal abang tunggu!"


Eirene menoleh pada Rayyan yang kembali mengusap pipi Eyi lembut dengan punggung telunjuknya, ucapan Rayyan memang selalu terasa manis nan meluluhkan.


Tangan-tangan tua itu ikut mengusap untuk pertama kali tangan cucu perempuannya.


"Maafkan opa---kalau dulu opa tidak..."


"Opa, semua itu udah takdir yang digariskan Allah. Memang sudah jalannya seperti itu," Eirene memotong demi menyudahi drama penyesalan yang tak kunjung usai, karena sejujurnya ia tak suka dengan moment haru seperti ini.


"Oh, iya! Opa kapan ke ibukota? Tinggal dimana?" tanya Eyi mulai menyantap menu yang ada di depannya.


Opa Gau melirik Rayyan, "tanya saja suamimu, dia sudah tau sebelumnya."


Eirene cukup terkejut dengan jawaban opa Gau, ia menoleh Rayyan, "abang tau?" Eirene membulatkan matanya menatap Rayyan seolah bola mata itu sebentar lagi akan menggelinding.


Rayyan yang sudah makan, menelan makanan sedikit sulit, "tau dek. Abang cuma nunggu waktu yang tepat buat nemuin langsung kamu sama opa. Opa baru saja tiba di ibukota kemarin, beliau singgah di hotel lalu ke rumah Laksamana muda," Rayyan menceritakan pertemuannya dengan opa saat peringatan kecelakaan pesawat HawaAir.



Opa Gau sudah pulang beberapa hari yang lalu, meninggalkan semua kebenaran yang sempat Eirene ragukan kebenarannya.



Beberapa toples sambal Dabu siap makan, dan ikan asap mengisi kulkas juga laci dapur mereka.



*Kapan-kapan, jika Rayyan diberi cuti setelah dinas luarnya mainlah ke Mana ado, kunjungi Bunaken seperti yang biasa papamu lakukan ketika remaja. Temuilah pria tua nan pincang ini yang sudah tak lama hidup lagi*,




...💐💐...



"Eheeekkk---ehekkkk!"



"Oh sayang--sayang! Mau minum ya cutbang-nya ummah! Umi mu suruh ambil minum ya nak,"



"*Ra, kayanya Saga mau minum*!"



"*Iya umi, ini diambilin dulu*!" teriak Fara.



Eirene terkekeh seraya memasukkan pakaian ke dalam koper, emak-emak suka hectic kalo ngurusin anak.



Sepucuk surat undangan yang sudah ia terima dari panitia JFC yang tembus ke kesatuan dan persatuan ibu Jala sudah ia terima dan tergeletak di meja kamar, terhitung 2 minggu sejak kedatangan mas Dudi waktu itu Eirene sudah harus terbang ke Jember esok hari.


__ADS_1


Sementara perhatiannya terbagi dengan layar ponsel yang menampilkan umi Salwa tengah menggendong Saga yang menangis, yaa--umi Salwa sedang berada di timur menyambangi anak, menantu dan cucunya disana.



"Eyi, sari kurma yang umi kirim sama vitamin jangan lupa dimakan! Biar jaga stamina, badan kamu tuh! Dikira orang ngga dinafkahin sama anak umi, abis ini ngga ada terima job modeling yang mengharuskan kamu kurus, terus pergi-pergian lagi!" ucapnya dari sebrang telfon.



"Iya umiiiii," jawab Eyi, selalu dan selalu begitu pesan umi Salwa padanya.



Kini terlihat pula wajah Fara disana, "dek Eyi berapa lama di Jember?"



"Emhh, kurang tau kak. Tapi kayanya lumayan lama. Padahal ibu-ibu kesatuan lagi adain lomba antar kompi disini, jadinya Eyi absen!" jawab Eirene memilah-milah t shirt, jika dulu ia terbiasa memasukkan semua tanpa berpikir itu akan menyusahkan orang lain, beda halnya dengan sekarang, ditambah nanti ia akan sendiri disana tanpa Rayyan ataupun honey hanya ada asisten yang disediakan oleh panitia.



"Iya engga apa-apa, ibu resimen juga pasti ngerti. Lagian itu kan bagian tugas persit juga kan?! Ngga harus melulu ngikut yang lain kaya kawanan kecebong!"



"Emang kalo mau nyambut kemerdekaan gini, sibuk banget ya kak?" tanya Eirene kini duduk di tepian ranjang memperhatikan ponsel sepenuhnya.



"Iya, ini juga batalyon abang udah mulai adain pertandingan futsal, voli, tenis meja, tumpeng kaya biasalah! Belum lagi bikin ucapan buat negara," ujar Fara menyerahkan *Sippy cup* berisi air putih pada Saga.



"Umi disana berapa lama?" tanya Eyi.



"1 minggu kayanya, umi cuma mau liat kerjaan tukang!" jawabnya membuat Eirene mengerutkan dahi, "umi bangun rumah di timur?"



"Engga, umi bikin taman bermain buat Saga. Kasian kan cucu umi! Abi sama uminya sibuk ngurus negara, cucu umi suka ditinggal bareng ajudan kaya anak dapet mungut!" jawaban umi membuat Eyi tertawa. Lantas ia memperhatikan Saga.



"Kak, itu dek gam kenapa ngen'ces terus?"



"Mau tumbuh gigi lagi kayanya,"



"Iya, nih udah pada bengkak gini!" tunjuk umi membuka mulut balita gemoy nan tampan itu. Melihat Saga ia jadi mengingat dan melirik perutnya sendiri, kapan terakhir ia kedatangan tamu bulanan?


.


.


.


.


Note :


__ADS_1


\*Sippy cup : gelas atau cangkir untuk balita yang sedang dalam tahap transisi dari dot ke gelas.


__ADS_2