Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
USIL BIN JAHIL


__ADS_3

Bibirnya berkedut saat melihat salah satu lipatan di dalam lemari.


"Kok, Eyi sampe lupa sama nih baju!" serunya, tanpa banyak berpikir ia ikut memasukkannya ke dalam koper. Ditaruhnya ponsel seharga gaji tentara 2 garis selama 5 bulan itu di atas kasur dan kemudian ia menggusur kopernya ke sudut kamar.


"Done!"


Senyumannya tertarik ke atas manakala menyadari perubahannya, padahal biasanya jika akan pergi lama sudah pasti ia akan membawa lebih dari satu koper seperti orang mau pindahan ke Saturnus segala sendal jepit sama keresek dibawa, dalam jangka waktu sebulan lebih berada di lingkungan prajurit membawa perubahan pada diri seorang Eyi.


Tanpa sadar di ambang pintu sepasang mata mengawasinya, "anteng banget liatin kopernya, sampe senyam-senyum sendiri? Bayangin abang lagi telan jang ya?!"


Suara itu membuyarkan lamunannya, "ngapain dibayangin. Ngga usah dibayangin aja orangnya dateng kok!" layaknya wanita penggoda Eyi berdiri dan menyambut si loreng gahar ini, "besok malem Eyi udah ngga tidur di sini lagi," bisiknya menggoda.


Rayyan tertawa, "lagi ngegoda ceritanya? Atau lagi ngomporin abang buat gusur markormar ke Jember?" Eyi menggeleng, "sebenernya sih ngga penting juga Eyi bilang gini, tapi---semua bahan makanan udah penuh di dapur. Untuk 2 hari ke depan setelah Eyi pergi masih ada ayam ungkep di kulkas---ya walaupun cuma pake bumbu instan tapi lumayan bisa abang makan!"


Mendadak hati si playboy ini mencelos, baru kali ini ia merasakan sedih yang teramat akan ditinggal perempuan. Padahal biasanya ia yang meninggalkan perempuan. Eirene berhasil mengobrak-abrik hatinya dengan semua tingkah manja, angkuh dan nyelenehnya. Mungkin mulai besok siang rumah ini akan kembali terasa sepi saat Eyi tak ada.


Ia menarik Eyi lebih menempel lagi, dan merengkuh pinggang kurus itu, "abang pasti makan. Nasi sama garem aja cukup buat abang, justru abang khawatir kamu, disana kamu bakalan susah buat makan karena ngga ada yang nemenin. Abang telfon umi sama Redi ya?!"


Eirene menggeleng, "biarin honey menikmati hidupnya bang, dari dulu dia ngurusin Eyi terus kaya babysitter. Model itu pasti dikasih asisten bang, abang tenang aja!" ujar Eirene.


"Koper udah beres?" tanya Rayyan.


"Udah," Eyi mengangguk.


"Jangan lupa selalu kasih kabar, karena disini akan ada yang selalu nungguin kamu. Vitamin dari umi jangan lupa dibawa. Jangan sampai telat makan cuma karena ngga ada spaghetti, jangan sampai kurang minum cuma karena ngga ada air pure!" ujar Rayyan membuat Eyi tertawa renyah dalam pelukannya mengingat awal pertemuan dengannya. Keduanya saling menatap sayang, awal jumpa tanpa ada rasa apapun dan kini seiring berjalannya waktu keduanya menikmati anugrah perasaan yang mulai mengalir deras.


"Abang jangan genit, jangan jelalatan---" jemari indahnya menari-nari dan menjelajahi dada Rayyan.


"Kamu juga jaga diri. Tunjukkan sikap angkuhmu kalau lagi ngga bareng abang," pinta Rayyan.


"I love you," bisik Ray.


Eirene tertawa, pasalnya baru kali ini si playboy mengatakan ini setelah hampir 2 bulan menikah.


Perempuan itu menggeleng, "no, but i need you."


"Ada yang kamu lupa dek," ujar Rayyan membuat Eyi mengerutkan dahinya, "apa?"


"Bekel yang onoh mana? Kan mau ditinggal agak lama, kasian dek kalo puasa kelamaan!" tanpa menunggu lama Rayyan langsung menggendong Eyi.


"Tunggu! Bau apa ini ihhh?" teriak Eyi di dalam sana.


"Iya dek, hari ini abang jadi instruktur pengganti buat perwira muda yang lagi pendidikan di arena pelatihan kawah candradimuka,"


"Ihhhh! Sana ahh, mandi dulu! Ngga mau lah, berasa digituin kuda nil!"


"Hey, mana ada kuda nil ganteng sayang---anggap aja suami kamu ini tarzan!"


"Ihh engga mau ah, uwekkk bau!"


"Ini jadinya gimana, abang udah te lan jang, ahhh ngga bisa harus tuntas!"




Berbeda dengan Rayyan yang memakai seragam kebanggaan, Eyi lebih memilih memakai baju casualnya dan membekal seragam ibu Jala miliknya di dalam koper, begitu nampak sekali aura bintang masih menempel lekat di diri wanita ini.



Eyi keluar dari kamar dan menggeret koper, "abang cepetan ih nanti telat!"



"Yuk!" Eyi melirik Rayyan dari atas hingga bawah yang sudah rapi dengan seragam dinas, alisnya berkerut, dan ia terhenyak melongo seketika, "abang mau dinas? Terus ngga jadi anter Eyi ke Jember?" tanya nya dengan sorot mata kecewa dan getir.



"Maaf ya dek, hari ini ternyata komandan ngasih surat tugas." Jawabnya dengan wajah getir lalu nyengir.



"Biar abang anter sampe pangkalan, kesatuan ngasih fasilitas pesawat militer kan buat ke Jember?" wanita itu mengangguk lesu dan menelan salivanya pahit.


__ADS_1


"Yaaa---kok gitu sih," manusia mana yang tak kecewa jika ternyata kenyataannya tak sesuai rencana awal, apalagi seorang Eirene.



"Ya udah ngga usah repot-repot! Abang pergi aja tugas. Kita kerjain tugas masing-masing! Kalo gitu Eyi pergi," ujarnya ketus sarat akan kekecewaan tanpa mau melihat lagi suaminya dengan menggusur koper keluar rumah secara kasar.



"Dek, maaf."



Wanita itu berjalan cepat tanpa mau berbalik, sementara Rayyan setengah berlari mengejar Eirene karena harus mengunci pintu terlebih dahulu.



"Dek---Eyiii!" susulnya.



"Tega! Jahat banget sih, ngga punya perasaan dasar!!!" omelnya menggerutu sepanjang berjalan.



"Kalo gue di apa-apain orang gimana! Udah tau istrinya tuh mesti di dopping obat tidur dan ngga sadar selama di pesawat! Kalo sampe gue dile ceh in orang atau di bunuh orang gimana!" hampir saja matanya becek, mendadak langkahnya cepat padahal koper yang dibawa Eirene cukup besar, wanita kalo lagi marah dan kecewa suka mendadak *wonder women*! Batu aja dilibas tanpa ampun.



"Dek, Eyiii! Tunggu dulu, dengerin abang dulu sebentar!" Rayyan merapikan baretnya sambil sesekali terkekeh.



"Ngga perlu, sana aja pergi! Eyi bisa sendiri!" ketusnya marah.



"Maksudnya kamu salah arah jalan dek, harusnya belok ke kanan kalo mau ke pangkalan!" balas Rayyan.



Wajahnya makin keruh saja mirip air com beran, Eyi menoleh pada Rayyan memasang tampang emak gorilla ngga kebagian Set Top Box gratis dari pemerintah, "bilang dong dari tadi!" sengitnya, lantas Eyi berbalik dan kembali berjalan cepat dengan wajah menatap Rayyan tak bersahabat, laki-laki ini malah tertawa.




Bangunan besar berwarna biru berdiri kokoh, diantara luasnya pangkalan seperti *landing system* pesawat. Angin cukup kencang berhembus, banyak juga prajurit berlalu lalang, entah itu baru datang bertugas di luar atau memang akan pergi, pengecekan dan perawatan alutsista. Suara-suara deru mesin terdengar bersahutan meski dari kejauhan, begitu perkasa-nya negri ini dengan segala alutsista dan prajuritnya.



"Bu Eirene, sudah ditunggu ibu ketua Jala dan Laksamana," lapir salah seorang prajurit.



"Kapt," hormatnya pada Rayyan yang berada di samping Eirene.



Melihat beberapa mobil dan pesawat juga heli terparkir mendadak Eirene merasakan ketakutan yang mendalam. Tangannya mendingin dan bergetar.



"Dek,"



"Eyi ngga apa-apa---" tukasnya ragu lalu ia berjalan menemui ibu ketua Jala dan Laksamana yang sudah berada disana.



Ternyata bukan hanya keduanya saja, ada Wiwit beserta ibu-ibu Jala yang memakai baju kesatuan dan bang Jaya juga Pram dan Langit disana.



"Mbak Eyi!"

__ADS_1



"Bu Eirene, selamat bertugas. Sehat selalu selama disana," Eyi mengatupkan kedua tangannya saat Laksamana mengucapkan kalimat selamat berjuangnya.



"Terima kasih sudah mempercayakan ini pada saya om--pak---jendral---atau apa ya?" Eirene berbalik pada Rayyan yang mengulum bibirnya, "Laksamana muda," bisik Rayyan.



"Bapak saja bu," jawab ibu ketua Jala sambil tertawa.



"Iya, bapak," angguk Eyi singkat, yang dibalas anggukan dan senyuman hangat jendral.



"Bu Eirene, selamat bertugas. Sehat-sehat disana. Nanti saya dan jendral menyusul setelah undangan dikirim pelaksana," ia mengulurkan tangannya yang langsung dijabat Eyi. Setelah keduanya undur diri dari sana, ibu Jala lain turut mengucapkan selamat jalan pada Eirene.



"Bu Eirene ndak apa-apa to?" tanya salah satu ibu Jala melihat rasa cemas Eyi, membuat Eirene membeo, "Hah? Engga--engga bu, saya ngga apa-apa, cuma ngga bestie'an aja sama apapun yang berbau pesawat," jawabnya nyengir kuda.



"Oalah gimana to kalo gini?! Apa mau naik kereta saja? Atau bus?" tanya bu Nani.



"Lah, macam mana pula kau Eyi? Ray---istri kau tak bisa naik pesawat?" tanya bang Jaya.



"Loh, ibu ngga suka naik pesawat?" tanya Langit.



"Dia ada trauma," jawab Rayyan.



"It's oke! Eyi ngga apa-apa. Cuma tinggal minum obat tidur aja biar nanti pas bangun pas nyampe!" jawabnya enteng.



"Lah, gimana itu coba?" tanya Pram.



Eirene memberanikan diri menoleh pada Rayyan, ia memang kecewa tapi apa boleh buat, "abang mau nugas kan? Ya udah pergi sana!" ucap Eirene ketus dan bersiap menarik handle koper. Rayyan menyunggingkan senyumannya.



Tiba-tiba saja Rayyan memotong langkah Eirene kemudian menghormat di depan Eirene saat wanita itu hendak melangkah membuat Eyi tersentak seketika,



"Lapor! Kapten Marinir Teuku Al-Rayyan Ananta siap bertugas mengawal perwakilan kesatuan Jalasena menuju Jember Timur Java dengan selamat sampai tujuan, laporan selesai!"



Eirene hanya bisa melongo dibuatnya, hampir saja mulutnya kemasukan lalat jika ia tak segera mengatupkannya.



"Hahaha, kamvretttt! Bini sendiri di usilin!" tawa Pramudya yang melihat reaksi keterkejutan Eirene.



"Saravv, dasar!!!!" jerit Eyi di wajah Rayyan dan melemparkan tas selempang yang semula ia sampirkan di pundak pada suami akhlaklessnya itu, hampir saja Eyi menangis karena sudah menahan kekecewaan sedari tadi.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2