Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
BAGI-BAGI WARISAN


__ADS_3

Eirene menyeka keringatnya, pagi-pagi udah lari dari kenyataan--- kenyataan kalo dia rebutan sosis sama guguk pula, hello apa kata dunia? Ia sampai celingukan, takut jika disini ada wartawan yang menyusup untuk meliput drama kejar-kejaran barusan.


"Masih ada yang perlu dibantu kah bu? Kalau tidak saya pamit undur diri melanjutkan tugas?" tanya Maliq.


"Udah engga ada, oh iya---ini buat om Maliq, buat sarapan--makasih ya!" Wanita itu menyerahkan paksa paper bag kecil berisi kentang goreng dan hot dog ke tangan ajudan suaminya ini tanpa mau mendengar dulu ia menerima atau tidak, dan berlalu masuk ke dalam pagar rumahnya.


Sang ajudan menatap paper bag yang diterimanya, baru kali ini ada orang ngasih maksa gini, ia menggelengkan kepalanya, Eirene memang unik---meskipun selalu seenaknya, mungkin itulah yang membuat Rayyan kecantol, padahal mantan-mantannya tak kalah cantik dan mandiri...sudah pasti tangguh pula.


Dilihatnya sudah banyak sandal jepit, sandal selop dan sandal---tayo di teras rumah malah sampe berceceran ke keset, itu artinya pasukan istri prajurit sudah ada di rumahnya, karena ngga mungkin kan sandal tayo milik Rayyan.


Dari luar saja suara cekikikan mereka mengalahkan sirine mobil patwal.


"Hay girlsss!" sapa Eirene seperti sedang menyapa kaum sosialita yang mau arisan berlian atau ngga tas mewah, padahal nyatanya mereka hanya emak-emak berdaster pendamping para ksatria.


"Makanan datang!!!" serunya menunjukkan kotak pizza dan paper bag.


Mereka mendongak dan mengucapkan salam pada si tuan rumah.


"Bu Rayyan, maaf loh barusan langsung masuk. Kirain ibu di belakang rumah?"


"Oh engga apa-apa. Anggap aja rumah punya kesatuan!" jawab Eirene, Wiwit terkekeh--dasar model crazy! Emang ini rumah punya kesatuan, kata siapa rumah tukang cendol.


"Kak, bisa minta tolong. Ini di tata aja di piring biar makannya rame-rame!" ujar Eirene melepaskan paper bag dan kardus pizza yang sejak tadi ada di tangannya dan diterima Wiwit.


"Oh oke,"


"Kamu main dulu sama yang lain nak," pintanya pada Rengga yang sejak tadi nyemilin coklat ngga berenti-berenti.


"Wah! Opo itu bu Rayyan?" tanya bu Nani menatap barang bawaan Eirene.


"Ini---bisa appetizer, bisa main course, bisa dessert juga!" jawab Eyi.


"Ohh, asikk! Makan-makan atuh!" seru yang lain, tubuh yang lelah setelah mengurus rumah, anak dan dapur harus dimanjakan meski hanya makan-makan bersama teman se-nasib se-perantauan, sudah cukup senang, bagi mereka tetangga dan kesatuan adalah saudara merangkap keluarga mereka.


Mereka membawa serta para anak karena di rumah tak ada yang menjaga. Sementara para ibu sedang ngerumpi di dalam, para bocil asik mainan tanah dan rumput di halaman rumah Rayyan.


"Mbak Eirene maaf ya bawa anak-anak?" ucap salah seorangnya tak enak hati, takutnya Eirene yang notabenenya seorang model ternama tak biasa dengan kondisi yang hectic, ramai, risih, dan cranky'nya anak-anak.

__ADS_1


"Oh ngga apa-apa, biar rame rumahnya! Ngga sepi mirip tempat terku tuk," jawabnya. Bahkan Eirene mengeluarkan cemilan lain khusus untuk anak-anak. Tak tau kenapa ada rasa senang melihat situasi ramai nan hangat begini, mungkin karena sejak dulu Eirene selalu sendiri, paling-paling berdua bersama honey.


Wiwit tersenyum melihat Eirene, ia memang aga gesrek, tapi sangat terlihat Eirene begitu tulus sampai-sampai semua miliknya ia keluarkan untuk orang lain meski ia baru mengenalnya.


"Kelak bakalan banyak yang sayang sama kamu Eyi, ya---walaupun kamu suka seenaknya," ia terkikik sendiri di dapur.


Satu bundel map tugas kantor masih teronggok di pojokan dekat tv macam obat nyamuk, belum tersentuh sama sekali karena ujung-ujungnya Eirene bersama ibu-ibu kesatuan malah sibuk bergosip dan makan. Kasian sekali si tugas jadi alasan padahal kertas hvs masih kosong, bersih nan suci, sesuci idul fitri.


Aji mumpung nih, biasanya kan kalo ngumpul gini paling-paling adanya kalo ngga getuk, bolu kukus ya kacang mirip-mirip cemilan gajah. Ini tuan rumahnya agak hedon, jadi ibu-ibu naik kelas makannya pizza dan teman-teman.


Mulai dari sabang sampai merauke tak luput jadi bahan obrolan, mulai dari atasan sampe bawahan mereka babat habis tak bersisa. Perempuan kalo udah ngumpul ya ngga jauh-jauh dari ngomongin orang ampe mulutnya berbusa, kering dan kehabisan nafas, si anak yang minta boker aja di skip.


Eirene sebagai orang paling be go disini, cuma bisa angguk-angguk burung beo, "ooo---"


Rupanya memang enak jadi netizen, modal co cot saja udah bahagia. Baru kali ini Eirene begitu bahagia meski terdengar jahat! Padahal dulu semasa ia jadi publik figur netizen begini pengennya ta lelepin ke dasar jurang.


"Mbak Eirene, ini kok bisa sih kulit semulus ini. Pasti kosmetik sama skin carenya mahal !" sejak tadi bu Nani gemas juga melihat Eirene yang tampak sempurna bak dewi kayangan lagi nyemil kentang. Kulitnya itu loh mirip sutra yang baru dicuci terus dipakein pelembut satu drum.


"Ah engga juga. Justru Eyi jarang pake skin care atau perawatan sekarang. Soalnya kan sekarang udah gantung sepatu dari catwalk, kalo dulu badan itu di push terus buat berstamina belum lagi AC, sorot lampu, sama polusi. Kalo sekarang kan sama abang udah dibatasin kegiatannya. Gampang aja sih bu, sebenernya kulit itu mirip organ tubuh kita yang lain, butuh makan, nutrisi, sama vitamin, kalo itu semua udah dipenuhin maka dia pun akan sehat," jawab Eirene.


"Oalah mbak Eyi sih bisa ngomong kaya begitu soalnya udah cantik dari orok. Coba aku to mbak?" tukas bu Nani cepat meski pandangannya kini teralihkan pada kedua anaknya yang berada di luar, "Panji!!! Mbok ya adikmu di jaga to---itu sampe nyusruk-nyusruk gitu!" teriaknya.


"Bungkus mbak Nan---nih sekalian sama kardus-kardusnya biar tau merk!" sahut Tita istri Letda Naran.


"Eh, iya! Eyi mau ada kasih sesuatu deh buat bu Nani!" ia sampai lupa dengan niatannya untuk memberikan sebagian make-up miliknya yang jumlahnya berjubel.


"Ha? Kasih apa mbak? Oalah pantesan mata saya kedutan, mau dapet rejeki ternyata!" tawanya gemas.


Eirene masuk ke dalam kamar, membuka salah satu kopernya dan mengambil salah satu tas pouch miliknya dimana isinya bedak dan lipstik dari berbagai merk ternama hasil endorsenya di akun sosial media, Eyi memang tak benar-benar vakum, ia masih sering menerima jasa endorse untuk sejumlah barang, tentunya bayarannya pun tak kaleng-kaleng.


Tas pouch beludru berwarna pink fanta ia bawa ke ruang tamu, lantas mereka mengernyitkan dahinya, "ini masih baru tapi Eyi ngga pernah pake. Lumayan sih daripada mubadzir hasil endorse!" Eirene membukanya dan menggelar kosmetik-kosmetik mahal itu di karpet mirip lagi bagi-bagi warisan.


Tangannya meraih salah satu bedak dengan wadah hitam bertuliskan Channel, dan lipstik dengan brand ternama milik salah satu artis hollywood Kylie.


"Yang ini buat bu Nani, lumayan bisa buat kondangan atau pertemuan biar ngga usah pake bedak dasar tebel-tebel. Cocok buat kulit berminyak! Yang ini waterproof," ia menyerahkannya dengan entengnya bedak dan lipstik seharga jutaan itu, kaya lagi buang ing us.


Sontak saja perempuan dengan dua orang anak itu melongo, "beneran mbak?" tanya nya, Eirene mengangguk.

__ADS_1


"Wah, mbak Nani dapat tips sekaligus hadiahnya dari bu Rayyan!"


"Wait bu!" ujar Sasmita, istri Lettu Syahril.


"Itu lipstik produk mbak Kylie Jenner yang bibirnya tebel itu?" tanya nya, Eirene mengangguk.


"OMG! Itu harga satunya sampe jutaan!" serunya membuat yang lain ikut tercekat, kalau sudah begini jiwa miss queen kelojotan pengen guling-guling di lumpur tempat latihan para taruna di batalyon.


"Ya Allah, serius mbak?"


"Udah, ngga penting kalo masalah harga. Toh Eyi dapetnya gratis kok! Ini--dipilih aja buat yang lain! Ini cocok buat semua jenis kulit kok!" ujarnya seperti sales, sepertinya Eirene cocok jika bekerja jadi sales door to door.


"Beneran mbak?!" jika sudah begini, apalah daya jiwa perempuan---mereka langsung saling serobot untuk mengambilnya, anak jatuh pun jadi nomor 2.


"Kak Wiwit, kayanya yang ini cocok buat kakak!"


"Ya Allah Eyi, ini mahal---"


"Ck! Ngga akan Eyi tagih kok, tenang aja!" tawanya.


🌟 Lain di kesatuan lain pula di belahan samudra.


Sebuah helikopter apache berteknologi mesin canggih sudah sampai titik koordinat yang sesuai,


"Kami hanya bisa menjangkau sampai titik ini, untuk selebihnya detasemen bisa berangkat dengan kapal motor. Koordinat penjemputan akan di infokan kembali nanti."


Rayyan dan detasemen melakukan teknik pasroping dengan perlengkapan senjata lengkap, kemarin kesatuan menerima laporan penangkapan kapal tongkang pencuri ikan dari negri naga biru. Namun beberapa kali kapal itu selalu berhasil lolos tanpa cedera serius. Hasil temuan prajurit angkatan laut begitu mengejutkan, selain ikan yang dicuri mereka pun menyelundupkan nar koba dan melakukan human trafi cking, beberapa diantaranya bahkan berusia dibawah umur.


.


.


.


.


Note :

__ADS_1


* teknik pasroping : turun dengan tali dari helikopter dilengkapi persenjataan lengkap.


__ADS_2