
Tepukan lembut terasa di pipi Eyi, bahkan kini penciumannya telah penuh dengan aroma mint dari minyak kayu putih.
"Ha, sadar juga." Botol itu dibawa menjauh.
"Coba itu di gosokin dek," ujar Zaky menunjuk pelipis Eyi dari samping Salwa.
"Iya bang," jawabnya menempelkan bibir botol minyak kayu putih di telunjuk dan membuat usapan memutar di pelipis Eyi.
"Bau," gumamnya lemah seraya mengerjap beberapa kali.
"Nah, udah bisa bilang bau berarti udah bener-bener bangun. Minum dulu," pinta Salwa meraih segelas air hangat di nakas yang sudah sejak tadi disiapkan.
Entah apa yang dirasakannya, Eyi tiba-tiba saja ambruk saat membuka pintu kamar hotel, padahal belum sempat ia menyapa.
Wanita itu bangun dibantu mertuanya demi meminum air, "masih pusing?" pertanyaan pertama umi Salwa untuk Eirene begitu lembut.
"Dikit," Eyi kembali merebahkan badannya berbalut selimut hotel yang tebal, wajah pucatnya kini jelas terlihat tanpa make up yang menutupi.
"Rayyan sudah terbang kesini," ucap Salwa datar.
Eyi hanya bisa memijit pangkal hidung yang masih terasa pening, "umi nelfon abang?"
Salwa mengangguk, ia menaruh punggung tangannya di atas kening Eirene demi merasai suhu badan Eyi, padahal menurut catatan medis cara itu keliru karena yang benar adalah dengan alat termometer, sementara Zaky mencari sofa untuk duduk tanpa mau menyela obrolan sepasang mertua-menantu ini. Memang sudah adatnya begitu, abi Zaky hanya akan bicara saat ia harus bicara, selebihnya ia hanya menjadi penyimak saja. Salwa memutar bola mata perlahan dengan alis yang berkerut, "ngga panas," gumamnya.
"Iyalah, mana mungkin umi ngga telfon anak bandel itu!" jawab umi Salwa. Eirene mengangkat kedua alis dan melengkungkan bibir acuh, ia amat yakin jika nyuruhnya versi umi itu sambil ngomel-ngomel.
Tebakan Eirene memang benar.
🍂 25 menit yang lalu
Gubrakkk!
"Astagfirullah Eyi! Bang Za!" tepuknya di pundak sang suami demi mendapati menantu yang tiba-tiba pingsan di depan mata.
"Ya Allah!" Zaky ikut terkejut dan masuk.
"Coba diangkat bang!" ujar Salwa.
Meski sudah cukup tua, Zaky masih mampu mengangkat seorang Eirene yang berbobot 67 kg, dibantu Salwa.
Tubuh ramping itu ditaruh di atas kasur dan diselimuti.
Perempuan itu mengeluarkan botol kecil berwarna hijau, minyak kayu putih dengan logo daun kayu putih, lalu menggosokkannya di kaki Eyi. Kaki-kaki yang semalam berjalan melenggok itu terasa dingin. Lalu ia mendekatkan bibir botol di depan hidung Eirene.
"Eyi bangun nak,"
Sementara Zaky sudah menempelkan ponselnya di telinga meski ekspresinya tenang-tenang saja.
"Assalamualaikum abi,"
"Waalaikumsalam, Ray---" Salwa langsung menyambar ponsel Zaky, merebutnya seperti copet.
"Kamu gimana sih! Istri kamu sakit, kamu masih anteng disana! Eyi sampe pingsan gini, untung umi sama abi datang! Kalo Eyi sendirian gimana?!" bahkan nada bicaranya kini meninggi.
"Astagfirullah! Eyi pingsan umi,"
__ADS_1
"Ngga usah kebanyakan nanya atau kaget. Tugas lagi sibuk engga?! Jemput istri kamu!"
Tuutt! Tuut!
🍂🍂🍂🍂🍂
"Kamu sarapan dulu, umi udah minta pegawai hotel buat bawa kesini!" balas Salwa tanpa ampun, jelas ia bukan sedang meminta jawaban Eyi, langsung saja ia mengambil nampan berisi menu sarapan.
"Mi, Eyi belum mau," jawabnya menolak, karena sejak tadi lidahnya ini tak bersahabat.
"Umi tebak, kamu belum haid? Dan umi tebak kamu sekarang lagi morning sickness!" tembaknya, ia adalah seorang ibu 3 orang anak, sudah pasti pengalamannya mengalami kehamilan tak perlu diragukan lagi.
Eyi terdiam sejenak, "iya gitu?"
Tak!
Salwa menepuk pelan kepala Eyi, "kamu gimana sih, masa belum di cek? Mau kapan, sampe perutnya buncit dulu? Umi minta supir buat beliin tespeck barusan. Nanti coba kamu cek," ujarnya.
"Ya kan rencananya nanti kalo udah JFC nya selesai, mi. Tapi malah keburu pingsan duluan," alibi Eirene sedikit merengut.
Salwa memotong lauk dan menyendokkannya bersama nasi, mendorong itu semua ke dalam mulut Eirene. Menghadapi Eirene ia seperti kembali mengurusi Zahra yang manja-manja nakal.
Rayyan baru saja tiba di kantor, tapi kini ia sedang meminta ijin untuk menjemput Eirene. Untung saja pihak kesatuan memberinya kesempatan meski waktu yang diberikan hanya hari ini saja. Bagi seorang prajurit sepertinya cuti itu bukanlah sesuatu yang mudah didapatkan.
Langkah besarnya kini membawa Rayyan memesan tiket pesawat komersil agar bisa langsung menuju Jember. Ia sampai harus berlarian menuju bandara karena jadwal penerbangan yang sebentar lagi akan take off, ia sengaja memilih waktu penerbangan tercepat agar bisa cepat menemui sang tulang rusuk.
Gertakan kecil kaki Salwa menunjukkan jika ibu 3 orang anak dan satu cucu ini tengah tak sabar menunggu Eyi keluar dari kamar mandi.
Setelah supir yang disuruh Salwa membeli tespek itu kembali dengan membawa 2 buah alat tes kehamilan berbeda merk, Salwa langsung meminta menantunya itu mencobanya.
"Nih," tangan-tangan yang telah menggendong Rayyan sejak dalam buaian itu sampai membukakan bungkusannya untuk Eirene.
Eirene berkali-kali meloloskan nafasnya gugup, dua alat pipih itu masih berada di tangannya sementara yang ia lakukan adalah mondar-mandir di kamar mandi saking gugupnya.
"Ini gimana kalo gue hamil?" ia memegang keningnya setengah berpikir.
Hofft!
"Kalo hamil kan ada bapaknya! Tapi----aduh! Gue takut lah," kok nervous gini sih!" ujarnya menaruh tangan dipinggang lalu menggigiti kuku jarinya.
Ia lantas membuka plastik penutup cup air mineral dengan kuku juga telunjuknya, dan membuang isinya hingga kosong lalu meme lorotkan celana sebatas lutut dan mulai membuang air kecil, beberapa mili ia masukkan ke dalam bekas cup itu.
Dipandangnya cairan setengah bening di tangannya.
Ia membenamkan setengah dari kedua alat itu ke dalamnya, sesuai perintah lantas Eyi menunggu beberapa menit hingga kini terlihat hasilnya.
Satu garis merah begitu jelas-----
__ADS_1
Lalu sedikit demi sedikit, pelan namun pasti bak magic---garis kedua ikut muncul meskipun samar, kedua alis Eyi terangkat. Ia menutup mulutnya, apa artinya ini?!
"Umiiiii!" teriaknya dari dalam. Dengan segera ia membuang air kotor itu, dan membasuh asal kedua alat itu sebelum dipegang.
Ceklek!
Belum pun pintu terbuka lebar, Salwa sudah berada di depannya dengan wajah yang penuh dengan rasa penasaran dan tak sabar.
"Apa, gimana?!" tanya nya ikut hectic.
Eirene menunjukkan hasil kedua alat itu di depan Salwa, " tadaaa--"
Salwa berteriak, "Ha?! MasyaAllah! Abangggg! Cucu Salwa udah mau nambah!!!" menggegerkan seluruh penjuru bumi.
Zaky ikut berdiri dari duduknya, pengusaha kopi itu kini semakin bersyukur karena di usia yang sudah semakin tua ini Allah kembali memberikan keluarganya rezeki berlimpah.
"Alhamdulillah!" gumamnya tersenyum, keluarga besarnya akan kembali bertambah personel.
Eirene tersenyum bukan karena dirinya yang senang, tapi melihat senyum kedua mertuanya. Tak pernah menyangka membuat orang lain bahagia itu kok ya ikut membuatnya senang.
"Udah!" sentaknya, "mulai sekarang ngga usah terima-terima kerjaan yang beginian lagi! Banyakin istirahat, banyakin makan yang sehat. Ngga usah diet-diet segala, umi kasian di dalem sana nanti kekurangan gizi! Untuk sekarang anteng aja kamu di rumah, ngga usah kemana-mana, kalo mau apa-apa bilang Ray!"
Jika sudah begini Eyi hanya bisa nyengir saja, kalau umi sudah bertitah jangankan ia, presiden aja angkat tangan dan berkata monggo.
Kini umi Salwa sedang membantu Eyi berkemas, hari ini juga ia akan membawa menantunya ini kembali ke ibukota.
"Ada lagi barang kamu yang ketinggalan?"
"Ngga ada mi, biar Eyi aja yang beresin, umi sama abi kan masih capek, jauh-jauh dari Aceh kesini---" balasnya, ia cukup khawatir dan tak enak hati dengan keduanya. Di usia yang seharusnya diam di rumah, menikmati masa tua, malah harus bolak-balik keliling negri demi menyusul putra-putrinya, tiba-tiba saja Eyi menghambur memeluk Salwa dengan mata berkaca-kaca, "umi, abi makasih!" ucapnya membuat Salwa menghentikkan aktivitasnya, "eh!" tapi tak urung Salwa menyambut dan membalas pelukan Eyi, "sama-sama nak, maafin umi yang suka ngomel-ngomel."
Eyi menggeleng, "kalo bukan ngomel bukan umi Salwa," tawanya.
"Sehat-sehat umi sama abi," lanjutnya.
"Aamiin," jawab keduanya.
"Nanti kalo udah nyampe ibukota langsung periksa ke dokter kandungan," imbuh umi.
"Iya mi, biar nanti bareng bang Ray aja."
"Umi juga mau beresin dulu barang umi sama abi, deh!" Eyi mengurai pelukannya.
Tap--tap--tap!
Tubuh Eyi tiba-tiba di rengkuh ke dalam pelukan, "alhamdulillah!"
Aroma parfum yang khas kini menjadi pengobat rasa rindu yang sudah bersarang beberapa hari ini.
Eyi menenggelamkan wajahnya di ceruk leher pria-nya.
.
.
.
__ADS_1
.