Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
MINDER


__ADS_3

Tangan-tangan yang sudah sepenuhnya bersih dari nail art merangkul Rayyan memasuki ruangan dokter militer. Jam digital yang ada di ruangan dokter menunjukkan angka 16.00 WIB.


Eyi duduk kembali di kursi ber-rangka besi, sementara Rayyan berbaring di atas ranjang yang hanya berukuran satu badan saja, cat bernuansakan biru dan putih penegas jika ini adalah rumah sakit militer tempat Rayyan bernaung. Entah sampai pukul berapa pemeriksaan dan serangkaian tes ini akan berakhir, yang jelas Eyi tetap setia mendampingi Rayyan hanya berbekal dompet, ponsel dan sebotol air mineral di dalam tas selempangnya, seolah tak ingin kehilangan lelaki-nya lagi, kemanapun ia pergi Eyi harus ikut.


"Ke kantin dulu deh dek, kamu belum makan lagi kan? Kasian anak abang," bisiknya lembut di depan dokter, seolah dokter hanya figura yang tak dapat bicara dan tak punya telinga.


"Iya nanti aja, bareng sama abang," jawabnya.


Dokter kembali menjelaskan, menganalisa dan memberikan saran pengobatan untuk Rayyan, tapi bola mata Rayyan tak fokus padanya melainkan terbagi pula pada istri yang sejak tadi tak bisa diam. Terkadang ia menegakkan badannya, benar-benar tegak sambil menggeser-geser pan tat di sofa kursi---sepertinya sang janin menggeliat di dalam sana, mendorong ke arah ulu hati dan tulang rusuk. Dari matanya, Eyi nampak berusaha menahan dengan sesekali memejam dan mengusap-usap perut tanpa banyak mengeluh seperti saat awal kehamilan.


Rayyan dapat lihat itu, cimoy memenuhi Eyi, calon anaknya itu membuat Eyi terkadang berkeringat dan kegerahan juga membuat Eyi merasa sesak, tapi kembali...Eyi tak banyak mengeluh soal itu, seolah ia begitu menikmati setiap fasenya.


"Dek," bujuknya tak menerima penolakan.


"Makannya bareng abang aja disini," balas Eyi tak mau kalah. Rayyan menghembuskan nafasnya lelah, jika sudah begini istrinya ini memang tak mau mengalah, dan tak akan ada yang mau mengalah demi si cimoy. Nyengirnya lebar menampakkan deretan gigi rapi nan putih Eyi.


"Dok, saya bisa tinggal sebentar kan---mau nemenin dulu istri makan di kantin?" tanya Rayyan.


"Oh bisa pak, sambil nunggu antrian cek lab dan rontgen ya," Rayyan mengangguk menerima seberkas riwayat medis dan pengantar dari dokter menuju ruang-ruang tindakan yang diperlukan.


Gemerisik dedaunan pohon tanjung tertebak angin sepoi-sepoi, menemani langkah pelan sepasang suami istri ini menuju kantin rumah sakit, sengaja mereka pelankan untuk menikmati suasana. Begitu pula sang pohon pucuk merah yang berdiri setia satu lingkup dengannya. Suasana ramai dan suara cicitan roda troli yang di dorong akibat kurang oli tak mengganggu langkah keduanya menikmati kebersamaan di ujung senja.


Eyi terlihat tengah memesan makanan, setelah beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa satu nampan menu pesanannya.


"Minumnya mana?" tanya Rayyan.


"Nanti jusnya dianterin," jawab Eyi menggeser kursi dan duduk. Seperti biasa, wanita ini selalu higienis, ia menyingkirkan sendok garpu yang diberikan pihak penjual mengganti dengan sendok garpu yang ia bawa sendiri dari rumah, ternyata pouch alat makan itu selalu ia bawa kemanapun, tak pernah ketinggalan. Jika umumnya alat makan yang dipakai adalah mangkuk seragam dengan pemesan lain, pesanan Eyi paling berbeda sendiri karena mangkuk dan piringnya milik sendiri. Rayyan terkekeh kecil demi melihat kebiasaan Eyi yang tak bisa hilang itu.


"Abang juga makan," ucap mulut manis itu.


"Suruh pak Janu bawain baju ganti dari rumah umi aja dek, biar nanti minta tolong umi buat ambilin dari dalem lemari, sekalian susu bumil sama cemilan kamu kalo kamu memang kekeh mau nunggu disini," keputusan dokter memang sudah mengarah pada operasi, hanya saja belum tau entah itu pemasangan pen tulang, ataukah hanya pemindahan sendi yang bergeser saja.


Eyi hanya mengangguk, pasalnya mulutnya penuh dengan makanan.


Seorang pelayan kantin datang membawakan jus strawberry dan ice lemon tea ke hadapan Rayyan dan Eyi.


"Ice lemon tea?" lirihnya menaruh gelas tinggi berisi es teh manis dengan potongan jeruk lemon, dimana dinding gelas itu mengembun karena dingin.


"Jus Strawberry ngga pake susu?" ucap si pelayan memastikan kembali pesanan.


Eyi mengangguk, "makasih."



Rayyan masuk ruang rawat inap, untuk kemudian esoknya masuk meja operasi.



"Mulai besok pagi bapak sudah puasa ya, petang soalnya masuk ruang tindakan---" pesan suster.



"Berapa lama sus, puasanya?" tanya Eyi.



"Sekitar 6-8 jam bu," senyumnya ramah ciri khas perawat.



"Oh," wanita itu mengangguk paham.


__ADS_1


"Kalau tak ada yang perlu ditanyakan lagi saya tinggal dulu pak--bu," pamitnya diangguki Rayyan dan Eyi.



Seiring dengan kepergian perawat, pak Janu datang bersama Maliq membawa tas besar dan tas jinjing.



"Assalamu'alaikum," salamnya.



"Wa'alaikumsalam," membuat keduanya menoleh.



"Bu, kalau memang lelah istirahat saja, biar kapten saya yang jaga. Bukankah wanita hamil tidak boleh menunggu?" tanya Maliq.



"Ngga ah! Eyi mau disini aja bareng abang!" kekeh sumekehnya, sudah berulang kali ia mengatakan itu, termasuk pada dokter sampai-sampai ia pusing sendiri dengan bantahan Eyi, seumur-umur menjadi tenaga medis baru kali ini ia menemukan keluarga pasien sengeyel Eyi.



"Udah deh, om Maliq tuh pulang aja. Ngga ada kerjaan apa di markormar?" dengusnya berniat mengusur Maliq secara halus.



"Ngga ada bu, makanya saya mau gangguin ibu sama kapten disini," ia terkekeh, bisa sedikit bercanda membuat Rayyan tertawa. Belum usai dengan gangguan Maliq, dari luar pintu dihebohkan dengan tawa sejumlah pria.



"Assalamu'alaikum!"




"Ya ibu, masa orang mau nengok aja ngga boleh!" Pramudya datang dan menghampiri membawa buah, sementara Langit, Rendra dan Jaya diekori Wiwit membawa sejumlah bolu dan kue kering juga cemilan.



Wiwit menaruh kotak berwarna coklat , ***bolu pisang Bu Wita***, lalu kemudian sekotak lapis legit ***Si Legit***, dan cemilan yang di packing perplastik dengan merk-merk tersendiri terkumpul dalam satu kresek putih.



"Ngga usah manyun bu, ini kita nengok ngga kosong loh!" Langit mengangkat tangannya tinggi-tinggi kalo bisa setinggi angkasa agar Eyi dapat melihatnya dengan jelas kalau mereka bawa *berkat*.



"Ngga usah tinggi-tinggi gitu! Tuh lalat pada nyamperin ketek om Langit," ejek Eyi.



"Ha-ha-ha, kali ini lo berdua nemu lawan sepadan!" tawa Jaya. Rendra sejak tadi tak berani *cuap-cuap* takut kena smash Eyi.



"Pantes aja bang Ray sekarang diem kalo depan bini, takut di *back hand*!" tawa Rendra, "suee! Ya engga lah, gue mah tak terkalahkan, bukan suami takut istri," Rayyan buka suara.



Bukannya semakin sepi, ruangan Rayyan malah bertambah ramai dengan kedatang umi, abi, Zahra dan Fath yang berpamitan karena esok ia sudah harus kembali ke batalyon timur.

__ADS_1



Hingga akhirnya tepat pukul 9 malam, ruangan Rayyan benar-benar sepi. Eyi sudah menguap beberapa kali.



*Puk--puk*!



"Sini bobo sama abang," tidak mungkin ia membiarkan istrinya bergeletakan di bawah hanya beralaskan karpet atau menekuk kaki di atas sofa apalagi tidur sambil duduk di kursi, **oh tidak**!



Ia menggeser badan bidangnya sedikit memiringkan badan agar Eyi merasa nyaman, selain itu agar dapat melihat wajah cantik bumil sepenuhnya secara dekat.



Tak menolak, karena Eyi pun tak mau sampai tidur menekuk-nekuk. Ia naik dan merangkak di atas kasur yang tak seluas kasur mereka di rumah. Dengan sedikit mengepas-kan posisi, keduanya bisa tidur dengan Eyi yang menyamping.



"Tidur dek," pinta Rayyan, bahkan hawa nafasnya saja terasa begitu lembut menyentuh kulit Eyi.



"Bang, Eyi baru tau---kalo abang punya gelar sarjana," Eyi mengingat nama Rayyan yang tertera lengkap berikut gelar sarjana hukumnya saat umi memberikan wasiat Rayyan tempo hari.



Rayyan tersenyum miring, "niat hati pengen ngikuti jejak yah bit, dan gabung di firmanya beliau---tapi ternyata passion hidup lebih menjurus ke hal yang berbau action fisik. Usia 22 tahun bisa wisuda ya---harusnya sih paling lama tuh pendidikan hukum 7 tahun, tapi alhamdulillah abang bisa lulus cepet, dilanjut coba-coba daftar Dikma eh lolos ikut akmil--- pendidikan lagi, kenyang sama pendidikan," kekeh Rayyan mengingat betapa ia digembleng hingga muntah. Eyi memandang menunduk ke arah dada Rayyan, ada sesuatu yang ia pikirkan dan membuat ja sedikit minder. Eyi tersenyum kecut.



"Kenapa?" tanya Ray.



"Semua anggota keluarga abang punya gelar sarjana, termasuk kak Fara---cuma Eyi yang ngga sekolah bang---" ucapnya tersenyum kecut merasa kerdil.



"Apa nanti kata cimoy, kok cuma nama Eyi yang ngga punya gelar di belakang nama?"



"Sejak kapan seorang Eirene jadi minder gini?" tanya Rayyan mengangkat dagu Eyi.



"Sejak tau keluarga abang,"



"Jadi hanya karena liat gelar anggota keluarga doang nih mindernya," Rayyan mengangkat sebelah alisnya.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2