Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
KASUS PEMBAJAKAN


__ADS_3

Eirene menatap penuh harap dengan segelas kopi yang tadi sudah ia buat, "siapa bang?"


"Komandan detasemen," Rayyan segera masuk ke dalam kamar dan mengambil satu stel pakaian PDH kantor miliknya, "abang mau kemana?!" ia sudah sewot duluan dengan menyimpan gelas kopi dan mengunci pintu kamar agar Rayyan tak dapat keluar, padahal percuma saja mau bagaimanapun, Rayyan akan memiliki seribu satu akal untuk keluar dari rumah, bahkan mungkin dengan sekali gerakan saja jendela rumah akan menjadi pintu darurat baginya. Badannya ia pakai sebagai tameng pertahanan pintu, direntangkannya kedua tangan agar Rayyan tak dapat keluar lalu mencabut kunci kamar dan memasukkannya ke dalam kacamata kuda tempat bersemayamnya gunung kembar favorit Rayyan, tak peduli jika kunci itu kotor, dengan kata lain Eyi menyekap Rayyan dalam kamar bersama dirinya. Baru kali ini ada kasus istri prajurit menahan suaminya bertugas sampai sebegininya, hanya Eirene sepertinya. Rayyan sampai tertawa, "dek, aduhhh! Itu kuncinya jangan dimasukkin ke situ, keenakan si kunci!"


"Coba ambil kalo abang berani!" tantangnya.


Rayyan mengangkat alisnya sebelah, istrinya ini memang perempuan paling nekat di dunia. Tangannya masih sibuk memasangkan kancing ke dalam lubangnya, lalu memakai celana dan memasang seluruh perintilan tanda kehormatan.


"Kamu pikir abang takut, ngga berani? Lupa kalo tiap malem abang nge-dot disitu?!" tawanya.


"Jangan mancing-mancing di air keruh sayang, bukain pintunya dek."


"Enggak mau! Abang belum minum kopinya, ngga hargain Eyi bikin capek-capek!" padahal nyeduh kopi ngga harus sambil lari-lari keliling gunung, cuma naroin kopi plus gula terus nyeduh pake air panas dari termos, modal aduk-aduk pake sendok ngga pake jari selesai.


"Iya, abang minum! Tapi abis ini buka pintunya ya," ujar Rayyan yang sudah siap hanya dalam beberapa menit saja. Rayyan meraih gelas kopi dan meneguknya setengah.


"Si cantik makin enak bikin kopinya, nanti tutup dulu---biar pulangnya abang abisin," pinta Rayyan.


"Buka dong sayang pintunya," Eyi tetap menggeleng tak mau, rasanya kali ini ia tak ikhlas melepas Rayyan.


"Dek," Rayyan menghampiri namun Eyi menghindar hingga ujungnya sepasang suami istri ini malah bermain kejar-kejaran di dalam kamar.


Jangan tantang seorang personel Raden Joko karena sudah pasti siapapun akan kalah. Rayyan menangkap Eyi dengan memeluknya dari belakang, Eyi yang tertawa-tawa karena Rayyan menggelitiki tengkuknya dengan bibir hanya bisa pasrah. Bukan dengan cara merogoh, Rayyan justru menarik kedua tali surga Eyi dan mengguncang-guncangnya hingga si gunung kembar berguncang memuntahkan kunci dari sana jatuh ke bawah, "abang ngga mau pegang dan langsung ambil, takut kebablasan."


Dengan segera ia memungutnya lalu mencium kening Eyi, "abang cuma sebentar, ada rapat penting. Abang kunci pintu dari luar ya, takut nanti kamu ngga bukain pintu," kekehnya.


Eyi mencebik, "jadi sekarang Eyi yang dikurung sama abang?!"

__ADS_1


Rayyan mengangguk, "bye sayang, assalamualaikum!"


"Wa'alaikumsalam."


Rayyan memakai sepatunya dan pergi setelah sebelumnya mengunci pintu rumah dari luar. Eyi menatap keluar jendela dengan menyingkabkan gorden, langkah Rayyan begitu cepat dan pasti, tanpa menoleh ke lain arah dalam sekejap ia telah hilang bak ditelan malam, secepat bayangan hantu....yap! Hantu laut.


"Go--go get it my flying dutchman!" gumamnya.


Eyi menyalakan televisi demi mengusir rasa sepi, kembali akan seperti ini selama Rayyan bertugas, ia sempat beberapa kali mengingat desas-desus para ibu Jala bicara, jika Rayyan adalah salah satu personel detasemen khusus yang dimiliki militer laut. Unit yang diakui dunia karena kemampuannya dan paling ditakuti. Apakah pekerjaan detasemen ini begitu membahayakan sampai-sampai segala tentang unit itu dirahasiakan? Wanita itu meneguk susu bumilnya selagi masih hangat.


🍃 1 Jam Sebelumnya.


"Telah terjadi pembajakan Kapal Cahaya Koedus oleh para perompak Soma bersenjata di perairan timur laut pulau So'cotra 350 mil laut tenggara negri Mutiara Arab. Kapal itu berisi 20 ABK dan mengangkut delapan ribu feronikel yang akan menuju pelabuhan Rotterdam, negri kincir angin. Unit detasemen Raden Joko siagakan, bukan tidak mungkin operasi ini akan melibatkan pula Komando pasukan khusus, dan Komando pasukan kodok. Perintah ini langsung diturunkan dari presiden."


"Siap Laksamana!"


Komandan detasemen segera memanggil semua perwira untuk melakukan perencanaan cepat.


"Ijin bergabung ndan!"


"Silahkan!" Rayyan masuk ke dalam dan duduk bergabung.


"Baru saja saya mendapat berita jika----"



Langkahnya tegap walaupun pikirannya kini bercabang, mungkin kali ini ia akan pergi tanpa tau kapan akan kembali karena jujur saja, ia tak dapat memprediksi akan berapa lama. Pekerjaan kali ini pun lebih beresiko dimana lawan yang ia hadapi, namanya telah melegenda di mata dunia. Ada hati yang sedikit berat karena kini ia sudah tak sendiri, di dalam perut Eyi pun ada calon buah hati yang sedang mereka nantikan kelahirannya.

__ADS_1



Gerakan tangan Rayyan memutar, membuka lubang kunci, keadaan sudah cukup sepi--itu artinya Eyi sudah tidur.



Dan benar saja, bumil cantiknya sudah terlelap berbalutkan selimut pink miliknya dengan tidur menyamping membuat sebagian wajahnya tertutup helaian rambut. Diperhatikannya wajah Eyi selama ia melepas pakaian, rasanya ingin selalu berlama-lama menatap istrinya itu.



Sisa kopi yang ada di nakas sudah tak ada, apa Eyi membuangnya? Lantas Rayyan berlalu ke area belakang untuk menggosok gigi. Ternyata Eyi menaruh gelas kopi itu di atas meja makan dan menutupnya dengan penutup gelas. Rayyan terkekeh, ia lupa Eyi adalah miss higienis, tak mau sampai nanti meja kamar dikerubutin semut.



Setelah selesai bersih-bersih, ia merangkak naik ke atas ranjang, dengan usilnya ia membalikkan posisi tidur Eyi agar menyamping ke arahnya, "abang mau wajah kamu kebawa sampe mimpi dek," tapi sepertinya wanita itu sudah melanglang buana ke alam mimpi, sampai-sampai tindakan Rayyan tak mengganggu tidurnya, bahkan berkali-kali Rayyan menyarangkan kecupannya di seluruh inci wajah Eyi tak terkecuali, memang usil suami satu ini.



"Pelatihan akan diadakan secara bertahap dan berlanjut tanpa jeda, tim dari elite pasukan Khusus dan Pasukan kodok akan segera mengirimkan tim inteligen demi pengumpulan informasi data inteligen kapal, posisi, berapa kekuatan personil dan armada yang mereka miliki, serta tentu saja medan yang akan kita hadapi. Musuh yang kita hadapi tidak main-main, sudah dikenal di seluruh penjuru negri, persenjataan sudah pasti lengkap dan canggih, belum lagi camp-camp yang didirikan di pesisir negri mereka sendiri begitu rawan dimasuki pihak asing apalagi tentara. Mereka menggunakan kapal Cahaya Koedus untuk membajak kapal-kapal lain, dengan kata lain, kapal Cahaya Koedus dijadikan kapal induk dalam pembajakan!"



Rayyan kembali menatap wajah tenang Eyi, "*kamu istri kuat dek. Cimoy, bantu abi*---" lirikan matanya berpindah ke arah perut Eyi.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2