
Acara olahraga pagi akhirnya di-bubar paksa oleh Rayyan si pengganggu kesenangan.
Eirene kembali ke rumah, ia melirik jam di dinding yang selalu berdetak meski tak memiliki hati. Ia mengangguk, waktunya cukup untuk ia mandi dan siap-siap sebelum pertemuan istri kesatuan untuk pertama kalinya.
Kumpulan ibu Jala, adalah kumpulan yang wajib Eirene ikuti disini selama ia menjadi istri Rayyan. Seragam biru, adalah seragam kebanggaannya setelah gantung sepatu dari karirnya, ia memang tidak secara gamblang keluar dari dunia modeling namun dengan aktivitas dan segala aturan yang mengikatnya sekarang, cepat atau lambat ia akan mengucapkan kata hengkang dari dunia yang sudah membesarkan namanya itu.
Berkali-kali ia melihat pantulan diri di depan cermin, tapi bibirnya melengkung kurang suka, "kok kaya udah tua gitu ya kesannya. Mana kegedean, kaya baju dapet pinjem, ck!" decaknya.
Eirene menyematkan peniti di balik bajunya agar sedikit mengurangi ruang berlebih di dalam pakaian. Jika dulu jam tangan mahal, perhiasan mewah dan sepatu heels setinggi-tinggi egrang menghiasi badannya, sekarang semua itu ia tanggalkan demi aturan yang mengikat dan sebuah kata membumi.
Eirene tetap cantik meskipun bergaya sederhana, justru lebih cantik begini, ia terlihat seperti wanita kalangan kelas atas yang bertata krama. Rok span selutut dan baju semi jas, cikal bakal Ratu Elizabeth ini mah! Pake baju beginian.
Diraihnya tas tangan merk Hermes dan jam tangan senilai harga mobil angkot, mungkin hanya inilah barang mewah yang menempel di badannya sekarang yang harganya jarang diketahui orang. Dan mungkin mulai saat ini ia harus benar-benar merawat semua barangnya karena Rayyan tak akan membelikannya lagi dalam waktu dekat.
"Eyi," kak Wiwit mengetuk pintu rumahnya, perempuan itu menoleh saat sedang memasang sepatu.
"Iya kak, sebentar!"
Eirene keluar dengan wajah suram dan bibir manyun.
"Kenapa?" tanya perempuan satu orang anak ini.
"Bajunya! Kok gini sih, ngga ada model lain gitu? Warna biru pula! Eyi ngga suka, pengen warna pink!" dumelnya mengunci pintu.
"Cantik Eyi," jawab Wiwit memuji.
"Ngga suka, berasa jadi mama smurf!" omelnya, keluar bersama dari pagar rumah.
"Mbak Eyi, mbak Wiwit!" sapa bu Nani setengah berjalan cepat.
"Mak, uang jajan ning ndi?" tanya anaknya berteriak. (dimana)
"Ngono to! Di atas tv!"
Eirene mengernyitkan dahi, apakah memiliki anak seheboh itu, wanita jadi sering teriak-teriak pake nyolot? Pasalnya beberapa jam ia mengenal bu Nani ini kerjaannya teriak-teriak sama anaknya sepaket dengan kehebohan.
Dan satu yang jadi pertanyaannya, ning ndi itu siapa?
Dengan wajah yang di dempul sampai batas leher setebal iqro 6 jilid dan keringat yang memiliki dunianya sendiri di atas bedak dasar menjadikan tampilan bu Nani sukses membuat Eyi meringis prihatin, mungkin nanti ia akan menyumbangkan salah satu bedak miliknya untuk dipakai ibu Nani.
"Bu Nani ngga takut ninggalin anak-anak sendiri bu?" tanya Eirene, ia kok jadi worry sekaligus sangsi dengan keadaan kedua anak bu Nani yang masih bocil jika ditinggalkan berdua saja.
"Ah engga, sudah biasa. Lagipula ngga ada barang yang berbahaya, makanan sudah disiapkan di meja," jawabnya, mungkin maksudnya adalah sudah membiasakan diri, sebagai keluarga prajurit itu ya tak ada kata merengek dan manja, kata mandiri harus ditanamkan sedari kecil.
Eirene mengangguk mengerti, apakah ia pun nantinya akan begitu? Orang bilang Rayyan adalah personil salah satu unit elit khusus di kesatuan yang jarang ada di rumah, ia tak tau dan tak mengerti apa artinya itu. Tapi melihat keseharian bu Nani yang selalu sibuk sendiri di rumah membuatnya jadi berpikir keras, apakah nanti ia pun akan sama?
Sampai tak sadar langkah ketiganya sudah berada di depan sebuah bangunan dimana para istri prajurit lainnya ternyata sudah hadir dan menyambutnya dengan ramah.
Satu kesan di benaknya, BIRU! Sejauh mata memandang yang ada warna biru kaya lagi mandangin samudra, apakah nanti jika ia keluar markas matanya hanya akan ada warna biru kaya avatar dari planet Pandora?
"Oalah sudah ramai to!" seru bu Nani.
Ibu ketua yang merupakan istri laksamana menyambut Eirene ramah, "selamat datang Eirene,"
"Ibu Rayyan, boleh perkenalkan diri?"
Eirene mengerjap, rupanya seperti ini yang namanya perkumpulan kesatuan, rame!
Wiwit menyenggol Eirene, "kenalin diri Eyi. Sebutkan nama, nama suami, kompi, infanteri---"
"Hah? Selengkap itu, mana Eyi tau yang begituan kak. Selama nikah Eyi ngga pernah nanya bang Rayyan kerjanya apa, dimana, di kesatuan apa," jawabnya berbisik, membuat Wiwit menepuk jidatnya.
"Ah iya," Eirene berjalan anggun ke depan ruangan, "Bonjour, selamat siang--- Perkenalkan saya Eirene Michaela Larasati, istri dari Kapten Teuku Al Rayyan Ananta, unit detasemen Raden Joko, kalo ngga salah sih---mohon bimbingan dan pemaklumannya," ucapnya nyengir lebar lalu membungkuk sopan.
Beberapa istri prajurit mengerutkan dahinya, "naon bonjor? Lainna bonjor teh jenis pempek? Naha jadi ngomongin pempek?!" (apa bonjor? Bukannya bonjor tuh jenis bentukan pempek? Kenapa jadi ngomongin pempek)
__ADS_1
"Lah, bonjor opo to?" (Lah, bonjor apa sih?)
Ibu ketua mengulum bibirnya, ingin tertawa tapi ia urungkan.
Mungkin hanya sekedar sajian penyambut saja, namun bagi Eirene keramahan mereka membuatnya merasa diterima disini.
Ia ralat perkataan ramah karena kenyataannya Eirene pulang dengan pekerjaan kesatuan yang menurutnya di luar nalar, baginya satu bundel map itu sama dengan seabrek-abrek! Biarkan ia membakar seluruh kertas yang ada di tangannya sekarang juga. Baru pertama masuk sudah disuguhi oleh yang beginian.
Wiwit tertawa puas melihat wajah Eirene yang sudah seperti rendaman cucian seminggu, belum lagi sejak tadi bu Nani bicara tak habis-habis. Niatnya sih sudah baik ingin membantu Eyi, tapi PERCUMAAA! Toh Eirene tak mengerti apa yang ia ucapkan. Malah membuat mantan model ini semakin stress saja.
"Gini to mbak Eirene, *ta preteli* satu-satu dari map terus dipelajari biar *mudeng* gitu loh, Nanti *nganu*---itu tugasnya dibagikan ke *bojone* danki per satu lembar. Terus dikerjain, *ojo* *kesusu* mbak, *alon-alon wae sing penting bener*! *Ngono to mbak*, ngertos kan sampe sini?" percayalah alis Eirene sudah mengeriting, otaknya berputar begitu kencang kaya gasing.
*What are you say, arghhhhhh*! Eirene menjerit dalam hati. Langkah ketiganya terhenti saat bu Nani akhirnya pamit undur diri karena suami beserta anak-anaknya datang menjemput di tengah jalan.
"Mak!"
"Le, bapak? Wes jemput to?! Mbak Eirene, mbak Wiwit, saya duluan nggeh? Mari," pamitnya.
"Mari bu," balas mereka.
"Sabar Eyi, nanti saya coba bantu!" balasnya.
"Ada bagusnya kamu ngga ngerti sama bahasa ibu-ibu, setidaknya kamu ngga usah denger kalo mereka gosip yang macem-macem," kekeh Wiwit.
"Ngga bisa kak---Eyi tuh ngga biasa ngerjain beginian, ini apa? Kaya ujian sekolah aja---tulisannya bikin pusing!" keluhnya.
"Coba tanya om Rayyan, atau tanya kakak iparmu? Bukannya beliau istri danyon kan?" ujar Wiwit.
"Hoffft!" Eirene berjalan lunglai.
"Eirene?"
"Ma, baru pulang?" sapa Jaya pada istrinya.
__ADS_1
"Ini kenapa nih mukanya ditekuk gini?" tanya Rayyan mendongakkan dagu Eirene.
"Eyi mau ngeluh sama kamu! Pertama, Eyi mau request baju kesatuan, bisa ngga sih warnanya pink gitu atau lavender! Berasa makhluk dari planet Pandora tau ngga,"
"Wah, kalo gitu salah nikahin orang bu!" tawa Langit.
"Harusnya sama polisi kalo engga sayap garuda, alias angkatan udara! Wes lah, kalo gitu mendingan nikah lagi aja bu," balas Pramudya memberikan saran.
"Kedua?" tanya Rayyan.
"Bisa ngga kamu ngomong sama ibu-ibu, buat berbahasa Indonesia yang benar? Eyi ngga ngerti---" Wiwit tertawa paling keras, pasalnya ia paling tau bagaimana kisutnya wajah Eirene macam kisutnya kismis demi mengerti bahasa mereka yang beragam, niat hati bicara baku nan tanah air banget, tapi apalah daya kalau sudah cinta tanah kelahiran dan kota asal, bahasa daerah suka nyempil-nyempil kaya choco cips di kue kering.
"Maksudnya?" tanya Rayyan.
Wiwit menirukan gaya bicara para istri kesatuan yang mengajak Eyi bicara sampai ia hafal satu persatu saking lucunya. Dan hal itu pula yang membuat para perwira itu tertawa termasuk Rayyan.
*Bughhh*!
Eirene meninju lengan Rayyan, "malah ikut ketawa!"
"Ketiga! Ini baru pertama ikut kumpulan loh, tugasnya seabrek-abrek gini! Mana Eyi ngerti,"
"Emangnya mereka ngga jelasin?" tanya Rayyan.
"Jelasin om Ray, tapi ya gitu yang barusan--- Nanti biar saya coba bantu ya," ucap Wiwit.
"Bo do! Eyi mau minta pensiun dini aja dari istri prajurit!" ancamnya.
"Bawainnn!" kepalang ngambek perempuan ini berbalik badan setelah sebelumnya memasukkan tali tas ke lengan Rayyan lalu berjalan menghentak menuju rumah dinas mereka.
Bang Jaya, Langit, Pram, dan Rendra tertawa tergelak, "karmanya si kadal nih!"
.
.
__ADS_1
.
.