
"Bye baby!"
"Bye!"
Eirene turun dari mobil honey tepat di depan gerbang markormar.
Penjaga serambi mengangguk singkat pada model terkenal yang sekarang memilih menanggalkan karirnya demi menjadi istri sang kapten unit elite Raden Joko ini. Perlahan-lahan wajah Eirene akan menghilang seiring waktu dari layar tv, Lamban namun pasti namanya akan menghilang sebagai publik figur dengan menyandang nama model, berganti menjadi seorang istri prajurit.
"Siang bu, baru pulang?" tanya mereka.
"Iya," jawab Eirene, netranya memandang nyalang ke arah jalanan markormar, jika dipikir-pikir kalo jalan kaki lumayan bikin badannya kaya sapi wahyu, bukan wahyu min waghyu! Suka-sukalah 😋
"Suttt, om! Ini dari gerbang ke dalem ngga ada ojek apa taksi gitu yang bisa ditumpangin?" tanya nya sukses membuat kedua prajurit serambi dengan senjata laras panjang ini melongo, dipikir ini terminal.
"Kenapa memang bu, jauh ya?!" tebak mereka.
Eirene mengangguk cepat, "iyalah! Sejauh mata memandang, rumah dinas suami saya tuh ngga keliatan mirip sebuah kesalahan, tak nampak!" keluhnya mengomel.
"Ibu mau dianter apa gimana? Biar nanti kita hubungin kapten?" tanya salah satunya.
"Oh ngga usah! Takut ganggu, takut nantinya kapal jadi nabrak karang lagi gara-gara telfonan," jawabnya asal jeplak kebanyakan nonton film titanic. Baru 3 menit saja keduanya bersama Eirene, tapi kedutan di bibir semakin tak dapat tertahankan.
"Heran deh! Harusnya disini tuh disediain taksi online kek--atau ojek gitu minimal, jalan kaki ke rumah yang bener aja---dateng ke rumah kaki Eyi jadi isian pentol!"
"Ya udah deh! Eyi pamit ya om-om sekalian, takut ada orang yang mau benerin mesin pompa air, mari!" pamitnya.
"Monggo bu," angguk mereka singkat.
Eirene berjalan kaki dari gerbang depan menuju blok rumahnya. Tapi rasanya kok ya, ngga nyampe-nyampe. Apa sebenarnya ia hanya jalan di tempat saja?!
Hari cukup terik untuknya siang ini, ditambah jaraknya lumayan jauh menuju blok rumah dimana ia tinggal, wanita itu berjalan setengah mengomel. Maklum saja, mana pernah ia berpanas-panas ria macam kerupuk jengkol yang di jemur di lapangan.
"Hofft!" ia menyeka kilauan keringat yang muncul dari kepala sampai garis wajah. Setelah ini ia akan berendam di bak mandi, bahkan kalo mau ia akan tidur disana sekalian!
"Panas gilak ih!" keluhnya manyun. Kakinya sudah lelah berjalan, mana baru di perawanin udah gitu ditinggal di depan gerbang, ya jalan jauh di bawah panas teriknya matahari ditambah ia memakai heels setinggi 8 centi, salah kostum!
"Huwakkk! Rayyan minta digantung!" teriaknya diantara cuaca panas.
"Argghh damnnn!" ia mengumpat saat dirasa kakinya keseleo. Ingin rasanya ia menjerit dan menangis lalu meminta pada langit untuk mengganti kakinya dengan kaki gajah.
Dibukanya heels itu, sehingga ia bertelanjang kaki. Ia meringis saat telapak kaki bersih nan putihnya menginjak jalanan beraspal, "panas," desisnya. Ia berlari kecil sedikit berjinjit,
"Siang bu!" sapa para junior Rayyan, begitupun ibu-ibu kesatuan yang rumahnya terlintasi oleh Eirene.
"Siang," jawab Eirene.
"Loh, bu Rayyan kok ngga pake alas kaki? Ngga sakit kakinya, ini panas loh bu!"
Dah tau nanya.
Eirene nyengir lebar, baru kali ini model sekelas dirinya jalan jauh, panas, udah gitu ngga pake alas kaki kaya lagi lewatin padang mahsyar!
"Ngga apa-apa bu, olahraga sekalian latihan buat atraksi debus, injek bara api!" jawab asal.
"Mari bu," Eirene berlalu demi cepat sampai di rumah. Ibu yang sedang me-momong anak itu mengerutkan dahinya, "orang tenar begitu, kok ya kelakuannya aneh-aneh!"
Eirene segera membuka pagar rumah lalu menutupnya kembali mencari kunci rumah dan masuk.
"Huwakkkk! Ngga suka!" ia menjatuhkan dirinya di kursi dengan keringat yang sudah bercucuran, belum lagi kakinya yang kotor dan panas. Baru saja ia merehatkan sejenak beban hidup, suara orang mengucap permisi terdengar dari luar.
__ADS_1
"Siang bu, assalamualaikum!"
Ia berdecak dan memejamkan mata, "arggh!"
"Iya sebentar!" mau tak mau dengan sikap malas, Eirene bangkit dan membuka pintu.
Wajah malas Eirene langsung disuguhkan oleh pemandangan dua orang prajurit muda yang nyengir lebar mirip brand ambassador pasta gigi Siwak entah Luwak. Matanya jatuh pada mesin pompa air yang ada di tangan salah seorang prajurit.
"Maaf bu, kami berdua mau pasang kembali mesin pompa air yang sudah dibetulkan,"
"Iya tau, ya udah masuk aja om! Udah tau kan sumurnya dimana?" Eirene melebarkan pintu, membiarkan keduanya masuk ke dalam, sementara ka mengekor di belakang mereka.
Mereka tersenyum, "tau bu." Wong sebelum Eirene datang saja mereka udah sempet obrak-abrik rumah Rayyan kok. Mereka tersenyum penuh makna, memang benar! Model ini secantik itu, malah lebih cantik kalo liat aslinya ketimbang dari tv, sungguh beruntung sang kapten dapat mempersuntingnya. Sepertinya model ini menerima kapten pas lagi kelelep di Selat Karimata.
Eirene memperhatikan keduanya di ambang pintu dapur menuju halaman belakang dimana sumur itu berada.
Ia sejenak berpikir bagaimana cara mereka memasang kembali mesin pompa air itu.
"Agak sedikit di dalam bu, karena memang posisi awalnya disitu," jawab salah seorangnya.
"Oh," Eirene mengangguk paham, tapi sejurus kemudian salah satu dari mereka membuka alas kaki dan melinting celana nya, membuka seragam loreng yang ia pakai.
"Eh," Eirene bereaksi.
Ia mulai bersiap dengan tambang dan peralatannya.
Dan
*Wush*!
Wanita itu tersentak, ia menghampiri setengah berlari, "eh! Aduhhhh somebody help us! Eh panggil polisi, pemadam kebakaran! Itu nanti kecemplung mati gimana sih !!" hebohnya berteriak seraya mengibas-ngibaskan tangannya.
__ADS_1
Tentara yang berada di atas sampai tertawa, dan Eirene memukul lengannya, "jangan becanda sama nyawa, itu temen kamu kalo mati di bawah sana kelelep gimana?!"
Apa Eirene lupa apa emang tulalit, mereka prajurit angkatan marinir, ngga ada ceritanya kelelep di sumur yang dalemnya cuma belasan meter. Mereka terbiasa berenang dan menyelam di kedalaman puluhan bahkan mencapai hampir ratusan meter, terombang ambing diantara lautan lepas, jadi kalau cuma sumur yang 15 meter begini ngga akan sampai bikin mereka kelelep.
" InsyaAllah engga bu, bang Rayyan malah bisa masuk sumur bor berhari-hari,"
Meski dengan sedikit ketakutan Eirene melongokkan kepalanya ke dalam sana, dan memang benar, si tentara yang satu hanya memasang mesin di dekat bibir sumur.
Eirene mengelus dadanya, "hah, syukur deh! Kirain mau mati konyol di dalem,"
Sebuah laporan sampai ke ponsel Rayyan.
Lapor bang, ibu datang jam 2 siang. Diantar mobil berplat B h0n31 warna hitam, sambil ngomel-ngomel minta diadain ojek atau taksi pangkalan di depan provos soalnya jarak gerbang ke rumah jauh, beliau juga bilang rumah dinas abang itu kaya kesalahan, tak nampak.
Rayyan tertawa atas laporan lengkap dari penjaga serambi, ia sendiri yang meminta laporan lengkap dari mereka demi memantau Eirene.
"Nih, ternyata menikah membuat perwira gila!" Rayyan mendongak saat kehadiran rekan-rekannya, mengetahui jika dirinya sedang cekikikan sendiri.
"Buktinya sang kapten ketawa ketiwi sendiri mirip orang ngga waras!" Langit duduk di samping Rayyan memanjangkan lehernya agar bisa melihat benda pipih yang sedari tadi mampu membuat Rayyan tertawa bak orang stress, tapi lelaki itu langsung memasukkannya ke dalam saku.
"Serah loe deh mau bilang gue apa, yang jelas gue bahagia sekarang, bisa lepas dari bayang-bayang single kaya loe berdua---" jawab Rayyan menggeser duduknya, emang nih ya kalo geng ubur-uburnya sudah ngumpul duduk aja berasa di angkot, mesti geser sana-sini.
"Mohon ijin mengganggu! Bang Rayyan, komandan memanggil ada yang ingin bertemu," seorang prajurit memecah keramaian mereka.
"Oh iya,"
"Gue tinggal dulu," Rayyan undur diri dari sana, mengikuti prajurit barusan turun dari anjungan menuju deck utama.
Langkahnya sedikit melambat saat melihat komandannya menengok bersama Mayor inf. Rimba Gauhari atas kehadirannya.
Ia memberi hormat bersikap tegap, "mohon ijin menghadap ndan!"
Jendral itu mengangguk singkat, "bang Rimba, ini kapten Rayyan---perwira muda berprestasi, salah satu personel unit elite Raden Joko kebangaan negri,"
Sorot matanya begitu tajam menusuk, alisnya bahkan menukik dan air mukanya tak ada keramahan sama sekali. Ia meneliti Rayyan dari ujung baret, menganalisa satu persatu bervet yang menempel hingga ke ujung sepatu.
"Kalau begitu saya tinggalkan kalian berdua," ujar jendral Samudra berlalu.
"Siapa namamu perwira?"
"Siap! Kapten Marinir Teuku Al-Rayyan Ananta, pak!" jawabnya lantang, bahkan karena suara lantangnya orang di sekeliling mereka sampai menoleh dan memutar lehernya.
Ia menghembuskan nafas berat, lalu melihat jauh ke lautan lepas sana, angin laut berhembus membawa serta kepedihan dan kerinduan, rasa bersalah yang semakin lama semakin menumpuk.
"Begitu caramu memperkenalkan diri pada kakek mertuamu?" gumamnya terdengar Rayyan.
"Ya?" Rayyan membeo.
.
.
.
__ADS_1
.