Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
HARI MALAS


__ADS_3

"Pergilah sejauh ukuran luas samudera, tunaikan janji bakti dan pulanglah saat kamu rindu, karena akulah dermaga tempat hatimu bersandar, marinir!" lanjut Eyi mengecup punggung tangan Rayyan lama dan dalam.


"Sejauh apapun aku berlayar, pada akhirnya semua perasaan akan berlabuh di kamu, karena kamu adalah dermaga hatiku," jawab Rayyan mengecup pucuk kepala Eyi.


Pesan Rayyan, "Mi, titip Eyi--- dinas luar kali ini cukup beresiko dan tak tau kapan pulang. Ray minta do'a umi sama abi--semoga misi kali ini diberikan kelancaran dan keselamatan."


Dan benar saja, setelah pembicaraan tadi subuh saat Eirene sedang mandi, umi Salwa langsung menjemput Eyi di Markas besar.



Eyi tetap memilih tidur di rumah dinas, katanya biar berasa ada Rayyan, hanya sesekali ia pulang ke rumah saat ia kesepian. Tapi sudah 2 hari belakangan ini ia dilanda rasa rindu.



"Mbak Eyi, mau ke rumah mertua?" suara bu Nani dari samping rumah sukses membuat Eyi menoleh. Seperti biasa, kegiatannya, momong anak sambil menyapu halaman. Matanya sedikit menyipit dengan alis mengerut menghalau sinar matahari demi melihat Eyi.



"Iya bu, kebetulan kan hari ini weekend. Adek ipar sama mertua lagi pada ngumpul---" jawab Eyi, ia tak perlu repot-repot membawa pakaian karena di rumah umi ada pakaiannya untuk ganti. Terhitung sudah seminggu Rayyan pergi, oke...firasatnya ternyata salah! Namanya juga manusia ye kannn, apa-apa tuh suka suudzon duluan sama takdir! Orang keselek golok aja dibilang takdir, mati kepeleset ee ayam aja nyebutnya *because of takdir*, apalagi pria, punya bini 3 nyebutnya udah jodoh yang dikasih Allah, *mata lo* *pi cek*! Orang ngasih pesen, dianggapnya wasiat, mentang-mentang mau pergi jauh ke medan perang! Setelah selesai beres-beres rumah yang engga kotor-kotor amat, Eyi keluar dari rumah.



Rayyan sering mengabarinya di sela latihan fisik, katanya sih untuk persiapan perang, entah perang apa. Cuma menurut Eyi suaminya itu sudah mirip po cong! Menclok sana menclok sini. Kadang latihan di daerah tertentu, lalu kemudian berpindah camp lagi ke daerah lainnya mirip kawanan salmon, yang senang berpindah-pindah.



"Mari bu!" Eyi berlalu.



"Mari!"



Dengan diantar oleh Maliq ia menyusuri jalanan ibukota menuju rumah umi. Jalanan terlihat mundur, dari sudut matanya, tak ada pekerjaan lain lagi selain mandangin pemandangan di luar kaca mobil.



"Bu, nanti saya langsung pulang saja ya. Kalau nanti ibu mau pulang ke Markormar tinggal telfon saja," ucap Maliq menoleh singkat ke belakang.



"Iya om, kalau engga juga paling dianter pak Janu!" Jawab Eyi.



"Om," panggil Eyi dari jok belakang mobil.



"Iya bu?" Maliq membalas menatap Eyi dari kaca spion.

__ADS_1



"Kira-kira menurut om Maliq, kerjaan abang tuh kaya gimana sih?" tanya Eyi jadi teringat si manusia salmon ganteng tukang gombal-nya. Ia meloloskan nafas jengah ke arah kaca mobil mengeluarkan energi negatif dalam tubuh.



Maliq bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Eirene, karena itu tidaklah se simpel yang dibayangkan, "ya---gitu bu. Seperti yang ibu sering liat latihannya di Markas besar. Emangnya kapten ngga pernah bilang sama ibu?" Eyi menggeleng.



"Abang kalo ditanya kerjaannya apa, pasti jawabnya ngitungin juniornya yang lagi pada push up." Jawab Eyi dengan pandangan lurus nan jauh ke depan. Maliq menyunggingkan senyuman miring, atasannya itu memang terkenal sebagai instruktur para perwira yang akan menjadi cikal bakal personel elite Raden Joko yang terkenal killer, meskipun terkesan absurd juga.



"Makanya Eyi nanya sama om Maliq, kalo tau ngga mungkin nanya, gimana sih om!" cebiknya kesal.



"Om, sebentar deh! Mampir dulu ke Route 78 ya, Eyi lagi doyan sama paketan roti manis sama kopinya," Maliq mengangguk patuh, ia memutar stirnya ke arah dimana cafe yang cukup ramai itu berada. Ia melepas kacamata gelap dan menaruhnya diatas kepala sehingga ia bertengger manis diantara rambut yang dicepol asal.


Eyi harus cukup bersabar antri di depan meja kasir, lumayan ramai karena ini masih pukul 10 pagi. Orang-orang yang terlampau sibuk dan terlambat sarapan memilih waktu ini untuk makan.


Matanya mengedar, untung saja tempatnya cukup cozy dan nyaman di pandang. Eyi mengangguk-anggukan kepalanya sambil ikut bersenandung.


Today i don't feel like doing anything


I just wanna lay in my bed


So leave a message at the tone


'Cause today i swear i'm not doing anything


Suara Bruno Mars memenuhi setiap sudut ruangan ber-AC, sepertinya memang cocok untuk Eyi saat ini, aga sedikit malas--- percayalah apa yang sedang bumil ini pakai sekarang, akhir-akhir ini ia tak lagi peduli dengan outfit yang dipakai, tak seperti dulu yang harus nampak terlihat perfect di mata dunia. Ia hanya memakai celana selutut berbahan stretch dan t shirt hitam milik Rayyan 'Venom' dilengkapi jaket kesatuan milik suaminya itu. Mungkin inilah salah satu usahanya jika sedang merindukan Rayyan. Lelaki itu sukses bikin Eyi ter-Rayyan-Rayyan. Jika ada, ia sungguh menyebalkan tapi jika tak ada sangat terasa sekali kehilangannya. Ditambah, kehamilan ternyata membuatnya se-cuek ini.


"Bang Arga, mas Andro kapan balik?" seorang karyawan perempuan dengan appron keluar dari dapur dan bertanya.


"Ngga tau, dia lagi survey tempat di Cianjur," jawab si pria dengan kemeja flanel namun terdapat bordelan ROUTE '78.


"Aku mau hunting foto disini---" tunjuk pengunjung wanita dengan rambut pendek menunjuk ponselnya.


"Ntar pesenin satu paket dibawa pulang ya," ujar satunya lagi menciumi aroma roti manis.


"Padahal Pawon Kurawa kan disebelah kalo cuma mau beli rotinya doang?!" pinta rekannya seraya menikmati roti manis yang menjadi incaran Eyi juga.


Semua obrolan orang yang berada di dekatnya menjadi pelengkap suasana cafe.


Akhirnya beberapa roti manis dan 5 cup latte andalan cafe sudah Eyi dapatkan.


"Om, ini nanti om bawa aja buat ngemil," Maliq mengangguk, "makasih bu." Jika urusan perut Maliq merdeka bersama Eyi tak ubahnya bersama ibu Salwa, menantunya ini begitu royal dan baik.


__ADS_1


Setelah Maliq berpamitan, Eyi menyerahkan kopi dan roti manis di meja tengah agar kedua mertua dan adik iparnya bisa menikmati.



"Rayyan ada kabar?" tanya umi.



"Semalem mi, katanya hari ini pindah camp. Dan mungkin mulai besok bakal susah ngabarin," jawab Eyi.



"Bi---bi baca deh berita bi," heboh Zahra tiba-tiba saja duduk di samping sang ayah demi memperlihatkan layar ponsel dengan kabar berita perompakan sebuah kapal yang membawa Nikel senilai 1 triliun rupiah milik PT. Tambang Aneka.



"Wah, langsung kaya tuh!" sahut Eyi mendorong suapan roti terakhir ke dalam mulut.



"Gila! Ini sii ngga maen-maen, kak. Perompak sadis yang namanya udah melegenda! Udah sii--ini mah setor nyawa deh, ngga tau selamet ngga tau engga nih ABK nya,"



"Ngga akan mereka lepasin lah itu, sumber uang!" sahut abi Zaky.



Umi Salwa menyipitkan matanya di balik lensa kacamata, "alahhh! Yang begini doang, liat perawakan perompaknya aja kurus kering gini mana item! Masih kalah sama si Rambo!" ujarnya.



Eirene tertawa, "si umi---Rambo perang Vieth, lagian itu tuntutan peran mi, kalo nyata-nya mah ya udah innalillahi lah!"



"Kurus bukan sembarang kurus mi, item bukan sembarang item. Kecap aja item bikin enak kok!" jawab abi.



Zahra ikut tertawa, "tau nih si umi! Korban gamonnya Sylvester Stalone! Padahal kan abi ngga kaya Rambo ya, bi?!" Eirene sampai tersedak dengan candaan keluarga Rayyan. Tapi sejurus kemudian kenapa hatinya terasa berdenyut.



"Eyi ke kamar dulu deh, kok kalo jam segini bawaannya ngantuk ya mi?!" kilahnya beralasan membuat ketiganya mendongak.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2