Dermaga Hati Sang Marinir

Dermaga Hati Sang Marinir
ANAK-ANAK PUNGUT UMI


__ADS_3

"Kacang polong---dimana nih nyarinya?! Ck," ia menthesah lirih membuat Maliq tertawa dalam diam. Pada akhirnya Rayyan ditemani Maliq ngubek-ngubek pasar tradisional dan supermarket.


"Demi nutrisi anak nih, Liq. Perhatiin bapak teladan! Lo nanti kalo dah merit gini nih!" ujarnya terus saja meracau seperti orang mabuk di sepanjang jalanan pasar. Kebayang kan dua prajurit tangguh dengan badan tegap dan otot kekar ngubek-ngubek pasar, ulalala ! Idaman banget gusti!


"Iya bang," angguk Maliq mengiyakan ucapan atasannya ini, tadi saja ia ogah-ogahan dan malah memaksa dirinya untuk belanja sendiri.


"Nih conto gue Liq, ngga mau sampe istri sama calon anak gue kurang gizi, isi lautan aja gue beli!" jumawa'nya, tapi sedetik kemudian....


"Ah, mahal banget bu! Kurangin lah goceng," Rayyan menawar sedikit ngebet.


Maliq sampai menunduk di belakang Rayyan, lihatlah kaptennya sedang tawar menawar dengan pedagang di pasar, kalau sampai duo ubur-ubur lihat pasti sudah ketawa guling-guling mereka. Kadang ia tak percaya jika kaptennya itu orang kaya, sudah bekerja sama selama 3 tahun dan ia hafal betul keseharian Rayyan seperti apa. Bahkan ia pernah juga sampai dikejar-kejar oleh mantan-mantan Rayyan demi bisa bertemu dengan atasan ganteng nan kacroet-nya ini, tapi tak tau apa yang bikin ia betah bersama Rayyan selain dari memang pengabdian pada kesatuan.


"Liq, abis ini ke rumah umi dulu. Ntar ikut makan lah! Ternyata capek juga ngubek pasar gini," ujarnya setelah selesai berbelanja.


"Iya bang," jawabnya mengangguk singkat. Rayyan naik ke atas motor bersama Maliq yang membawa serta belanjaan pesanan Eyi. Mbak Vega membelah jalanan ibukota menuju rumah keluarga Ananta yang berada di ibukota.


Maliq pernah beberapa kali kesini, dan inilah yang meruntuhkan semua keraguannya, gerbang besar menjulang dengan isian barang mewah.


"Mi, assalamualaikum!"


"Masuk Liq," ajak Rayyan.


"Siap bang!" Maliq masuk mengekor di belakang Rayyan.


"Waalaikumsalam, Ray---Eyi mana? Loh kirain sama Eyi?" tanya umi, umi ini memang begitu, yang ditanyain sekarang ya mantu-mantunya dulu bukan anak-anaknya.


"Di rumah."


"Eh, ada Maliq. Masuk Liq, makan dulu--udah makan belum?!" Maliq hanya mengangguk segan.


Sementara atasannya itu sudah menyerbu duluan meja makan, tenaganya langsung terkuras tadi saat berbelanja.


"Gue mendingan piket alutsista lah Liq, ketimbang belanja gini!" dumelnya hampir samar karena langkahnya menjauh menuju ruang makan.


"Sini Liq! Kaya sama siapa aja, makan---makan---ngga terima penolakan! Sekalian nanti bawa bekal ya ke asrama!" ujar Salwa.


"Iya bu, terimakasih."


"Mana Eyi, Ray?" tanya abi Zaky.


"Di rumah, bi!" ia sudah menyendok makanan diatas meja makan kaya anak kelaparan seminggu.


"Liq! Buru! Prajurit ngga boleh buang-buang waktu, takut ada perang dadakan," teriak Rayyan.


"Siap bang!" Maliq berjalan menyusuri ruang tengah keluarga Ananta, dari deretan foto keluarga ini ada yang baru disana---foto Eirene sebesar papan baligho yang tengah bergaya cantik, anggun nan seksi memamerkan badan mulusnya---eh maksudnya pakaian merk ternama dunia.


"Astagfirullah!" Maliq menggelengkan kepalanya dan berlalu cepat ke ruang makan.


Maliq menyapu pandangan, orang segini dikitnya, tapi makanan persis orang sukuran. Ia sudah tak aneh, jika ibunda atasannya itu jika sedang berada di ibukota memang selalu bagi-bagi makanan termasuk padanya dan beberapa asisten rumah tangga dan supir.


"Permisi, sepadaaaa!" suara honey menggelegar masuk begitu saja.


"Masuk, Di!" jawab abi Zaky.


"Redi! Sini, di ruang makan!" teriak umi.


"Uhuy, abi---umi!"


Sesosok pria gemulai yang ia tau adalah asisten pribadi Eirene dulu kini ada sedikit perubahan, ia jadi lebih----cowok!


"Eh, ada calon bapak! Bang, mana Eyi-nya gue?!" ia kemudian langsung duduk saja bergabung di ruang makan.


"Di rumah, tuh! Gue abis belanja buat Eyi." tuduhnya ke arah ruang tengah dimana kresek belanjaannya teronggok begitu saja.


"Belanja apa? Eyi ngidam?" tanya Umi.


"Engga mi, katanya sih dia liat google, berbagai jenis makanan yang sehat dan bagus buat ibu hamil!" jawab Rayyan bicara saat makanan sudah selesai ia kunyah dan telan.


"Oh, bagus lah itu! Umi kira dia bakalan ngga terima kehamilannya," jawab umi memasukkan beberapa masakannya ke dalam beberapa kotak makan bening khusus microwave. Ia selalu prepare kotak makan begini untuk tempatnya membagikan makanan. Entah kenapa, memiliki anak-anak abdi negara ia menganggap rekan kerja Rayyan, Al Fath maupun teman kuliah Zahra adalah anaknya juga, mungkin karena mereka perantau jauh dari keluarga. Jadinya jiwa keibuannya itu loh! Ikutan bekerja. Ia hanya merasa jika anak-anaknya pun dimana mereka berada nasibnya sama---begitu, seperti Al Fath dan Rayyan sebelum menikah, apakah mereka selalu merasakan masakan enak?


"Nih, nanti ini buat Langit sama Pram. Ini buat Maliq, ini buat kamu di apartement Red," Salwa menunjuk satu persatu kotak makan bening.


"Asikkk! Udah dapet makan, dibekel pula! Makasih, mi! Emang rejeki banget si Eyi dapet jodoh!" Honey mengambil sendok dan garpu bersiap menyantap hidangan, Zaky tak pernah merasa keberatan, ia justru bersyukur Salwa yang dulunya manja, keras kepala, tak pernah memikirkan orang lain, kini ibu bagi semua orang. Menikah selama lebih dari 30 tahun pernikahan mereka meski ngga adem-adem banget tapi mereka lalui dengan banyak keseruan.


"Dan ini, yang ukurannya gede buat bumil sama calon cucu umi!" lanjutnya memasukkan kotak berukuran 3 kali lipat dari yang lain.


"Liq, bungkus! Bisa ngga lo bawanya?" tanya Rayyan.

__ADS_1


"InsyaAllah bisa bang," Maliq menyantap makanan di piringnya, dan inilah jawabannya kenapa ia selalu betah bersama Rayyan---ia selalu dianggap seperti keluarga, jadi inget si mbok di rumah.


"Eyi ada ngidam apa gitu Ray?" tanya umi ikut duduk bergabung.


Rayyan menggeleng, "belum. Semoga engga."


"Ah, percaya gue deh! Ngidam aja Eyi ngga tau artinya apa!" ujar Redi.


"Masa?" tanya umi.



Mbak Vega membawa mereka kembali ke markormar. Rayyan menghentikan sepeda motornya tepat di depan mes Maliq, "ini gimana bang?"



"Sini, biar digantung aja disini!" Rayyan meraih belanjaan milik Eyi dan mencantolkannya di depan.



"Kalo gitu makasih bang, saya duluan."



"Sip. Thanks Liq," ia tak pernah sampai lupa mengucapkan kalimat *magic* itu pada ajudan yang setia padanya, meski terkadang Rayyan menyalahi aturan, karena seharusnya ajudan itu hanya untuk pekerjaan administratif kantor, tapi Rayyan seringkali melibatkan Maliq dalam pekerjaan non kantornya alias pribadi.



Ia merogoh ponsel terlebih dahulu, "*bray ke rumah, ada titipan dari nyonya Zaky*!" Rayyan lantas mematikan panggilannya lalu pulang.



"Assalamualaikum sayang!" salamnya membuka pintu rumah.



*Bugghhh*!



Sebuah bantal sofa melayang tepat ke dada Rayyan, bibirnya merengut kesal, "abang lama!"




"Wah, ibunya dedek baru mandi, coba sini abang cium---beneran mandi apa cuma keramasan doang? Harusnya adek jangan keramas dulu," kekehnya tanpa menjawab pertanyaan Eirene tadi, ia membuka sepatunya lalu masuk.



"Masa belanja sampe malem gini, pasti pacaran dulu!" ketusnya.



"Kan tadi adek nyuruh abang buat belanja? Ngga inget ya?" ia duduk di samping Eyi lalu menaruh kresek belanjaan di bawah kaki.



"Done! Nutrisi buat bunda sama dedek udah ayah penuhin. Sehat-sehat di dalem sana sayang---" ujarnya mengusap perut rata Eyi lalu mengecupnya.



"Masa selama ini? Kata om Pram tadi abang pacaran dulu," ujar Eyi.



"Kamvrett si Pram-- masa pacaran bawa belanjaan istri gini? Ngaco."



"Katanya abang pacaran sama om Maliq. Eyi cemburu, abang lebih lama bareng om Maliq ketimbang istri sendiri," jawabnya menggemaskan. Rayyan tertawa renyah, "udah bilang makasih sama Maliq belum? Kasian loh dia nyari pesenan kamu kaya nyari jarum di tumpukan jerami."



"Iya, nanti Eyi ucapin makasih. Mana titipan umi buat Eyi. Lama tau nungguinnya?" tagih Eyi.


__ADS_1


"Nih, titipan mie Aceh ngga pedes buat menantu tersayang---" Rayyan menyerahkan kotak milik Eyi.



"Loh, ini punya siapa?" tunjuknya pada 2 kotak lainnya.



"Punya anak pungut umi," jawab Rayyan membuka satu persatu kancing seragam.



"Siapa?" tanya Eyi, tapi tangannya sudah membuka penutup kotak, menciumi bau mie Aceh yang kaya akan rempah.



"*Emhhh, wangi*!"



"Bentar lagi juga dateng!" jawab Rayyan. Benar saja tak berapa lama suara dua orang lelaki terdengar dari luar pintu rumah.



"Tuh kan!" tembaknya.



"Om Pram, sama om Langit?" tanya Eyi.



"Bukain pintunya dek, abang ganti baju dulu," titahnya.



"Abang ngga mandi?" ia beranjak dari kursi.



"Ntar aja tengah malem. Emangnya ngga ada niatan buat olahraga malem gitu dek?" goda Rayyan.



*Bughhh*!


Bantal sofa kembali melayang dari Eirene ke arah Rayyan.



"Ray---bu! Misi, nih anak onta mau minta makan!" teriak mereka.



"Iya sebentar!" Eirene membuka handuk yang membelit rambutnya, niat hati ingin sisiran tapi tamu di luar sana tak sabar ingin segera dipersilahkan masuk.



"Ray--Eyi! Lagi inde hoy lo berdua ya!"



"Ck, ngga sabar!" decak Eyi.



Ceklek!



"Allahuakbar!!!! Setannnn!"


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2