
Terbayang-bayang noda len dir darah tadi di segitiga bermudanya pantas saja terasa becek.
Hati yang sudah ditahan sedemikian rupa akhirnya tak bisa terbendung lagi saat matanya menangkap sosok Rayyan di ujung sana. Terjarak halang rintang, ia berdiri dengan peluitnya dan berkacak pinggang diantara panas matahari seraya berteriak-teriak. Apakah sosok Rayyan semenyedihkan dompet akhir bulan sampe-sampe Eyi menangis melihatnya?
Eyi sesenggukan, semakin lama semakin keras dan terisak memancing perhatian semua prajurit yang ada disana.
"Bu, ibu kenapa?" jelas saja mereka khawatir, tak ada angin tak ada hujan di tengah cuaca siang hari begini seorang perempuan tiba-tiba menangis, apa jin penunggu puslatpur merasuki bumil ini?
Eyi memegang kuat di tiang penyangga bangunan.
"Loh itu ibu?" Pram melihat dari kejauhan dengan menyipitkan matanya. Sontak saja mata Rayyan mengikuti arahan Pramudya.
"Abanngggg!" teriak Eyi.
"Eyi udah ngga kuaatttt!" jeritnya.
Seketika mereka berhamburan menghampiri Eyi. Kain tas berisi bekal Rayyan jatuh tepat di samping kaki Eyi, meski tak membuatnya berhamburan keluar.
Rayyan berlari dan melompat secepat kilat demi meraih Eyi.
"Bu!" mereka panik, mungkin bukan hiu atau serbuan peluru tapi ini berhasil jadi panic attack untuk Rayyan.
"Kenapa?! Kamu mau lahiran?!" Rayyan panik setengah mati melihat Eyi yang sudah banjir keringat dan menangis, ternyata sejak tadi ia menahannya dan hanya ingin menangis saat sudah menemukan Rayyan.
"Udah dari tadi ditahan tapi, udah ngga kuat!" ia sesenggukan. Rayyan meraih istrinya dan membawanya dalam posisi memeluk, membiarkan Eirene menyalurkan rasa sakit padanya, Rayyan hanya berharap aroma tubuhnya dapat menenangkan Eirene begitupun cengkraman kuat tangan Eyi di baju Rayyan dapat sedikitnya menjadi tumpuan. Beberapa kali ia mengusap lembut punggung hingga ke pinggang, ia juga mengusap cimoy dan membisikkan kata manis.
"Tenang dek, tenang!"
"Cimoy---nak, lancar ya sayang----uminya juga kuat dan tangguh, abi ada disini buat umi sama cimoy ngga kemana-mana, kalo cimoy udah mau lahir, yuk lahiran sayang---bantu uminya ya nak,"
"Maliq! Mana si Maliq!" teriak Rayyan ikut panik.
"Tenang--tenang tapi lo sendiri yang panik," ujar Pramudya.
Rayyan segera merogoh ponselnya mencari nomor kontak Maliq.
"Liq! Istri saya mau melahirkan, tolong bawa mobil kesini saya di pusat pelatihan tempur gedung B, buruan! ! 15 menit Liq!"
"Abang ! ! Jangan marah-marah! Berisik! Bikin kuping pengang tau ngga?!" Eyi bahkan sudah mencomot mulut Rayyan.
"Huu huuu aduhhh----" Eyi merintih.
"Iya dek maaf---maaf," ia bingung harus seperti apa men-treat ibu yang sedang mengalami kontraksi, itu terlihat dari tingkahnya yang serba salah.
__ADS_1
Pramudya tertawa tertahan melihatnya, diantara kepanikan ada saja moment kamvreett yang terjadi.
"Mana yang sakit sayang?" tanya Rayyan.
"Pinggang Eyi pegel bang, perut Eyi sakit kaya diperes, diubek-ubek, ini tuh sampe kapan sih----perasaan udah lama banget, Eyi sampe lemes gini, tapi ngga lahir-lahir," keluhnya terisak.
"Iya dek iya, sabar ya sayang---" Rayyan celingukan mencari sesuatu untuk menenangkan namun tak jua menemukan, iya kaleee di tempat latihan begini ada bola besar untuk Eyi duduki atau sekedar ranjang empuk dan ruangan spa. Jika biasanya di rumah sudah pasti Eyi akan berendam.
"Sshhhh---" Eyi menthesah, mulutnya komat-kamit dan sesekali terisak menahan sakit.
"Ngapain kalian disini?! Bubar! ! Ini bukan tontonan?!" sentak Rayyan meminta para juniornya untuk membubarkan diri.
Plak!
Tangannya itu menampar pipi Rayyan.
"Bisa ngga, ngga usah bentak-bentak gitu?! Suara abang tuh kaya kaleng rombeng kalo dijatohin! Bikin berdengung,"
Pramudya yang disana kembali tertawa, mbok ya lagi panik gini ngga usah pada ngelawak gitu kan jadinya ia kesiksa nahan tawa.
"Iya dek, maaf---maaf, ngga sengaja!"
Ternyata benar, ibu yang tengah merasakan kontraksi itu galak-galak mengerikan, mungkin pengennya nyemilin batu pondasi.
"Subhanallah shhhh---" kembali Eyi menthesah. Rayyan membawa rambut Eyi, mengumpulkannya jadi satu lalu mengikatnya dengan ikat rambut di pergelangan tangan Eyi.
"Abanngg----kaki Eyi keram aduhhh, perut Eyi sakitttt---" rintihnya sesenggukan semakin membuat Rayyan khawatir.
"Iya sayang sebentar lagi---sebentar lagi!"
"Suruh berendam aja Ray, setau gue gitu kalo ada yang ngerasain kontraksi biar relax, kok gue ikutan mules ini!" ujar Pram.
"Berendem dimana? Lo pikir ini kolam renang?!" sarkas Rayyan, telinganya terasa seperti terbakar mendengar rintihan Eyi, wanitanya itu tak henti-hentinya mere mas baju bagian belakang Rayyan hingga kusut tak jarang juga badan Rayyan ikut ia re mas.
Ting!
Kata kolam renang membuat keduanya memiliki ide sama dengan saling pandang.
Maliq segera berlari mengambil kunci mobil milik kesatuan dengan panik, "Kemana Liq," tanya Langit.
"Ibu--- bang, ibu Eirene mau melahirkan, sekarang sedang berada di pusat pelatihan di gedung B,"
Langit yang terkejut ikut dalam mobil itu, "gue ikut deh! Emang mau kesana juga gue,"
__ADS_1
Keduanya berjalan cepat malah Maliq setengah berlari masuk ke dalam, mencari-cari dimana keberadaan atasan dan istrinya berada. Lama mereka mencari sampai suara dering telfon Maliq berbunyi.
"Lo dimana?! Buru gue di kolam,"
"Siap ndan! Maaf saya lam-- astagfirullah?" Langit dan Maliq terkejut melihat pemandangan di depannya.
Sejak kapan Eirene mendaftarkan diri akademi militer?
"Busettt! Lagi pada berenang bareng?" Langit berseru membuat Pramudya tertawa, bagaimana tidak sepasang suami istri ini sedang berendam bersama di dalam kolam tempat prajurit latihan, dengan pakaian lengkap meski Rayyan berbalut kaos kesatuan dan celana loreng keduanya berendam. Eyi memang meringis tapi tak separah tadi. Setidaknya air dingin sedikit banyak membantu mengurangi rasa sakit. Sementara sahabat gokil yang mencetuskan ide asik saja berjongkok di pinggir kolam.
"Oh, jadi ini yang namanya waterbirth? Bilang dong dari tadi, kalo gitu ngga usah ke rumah sakit, di markas besar juga ada bu, mana di rumah sakit mah mahal lagi, berapa puluh juta tuh Ray, lu booking?" ujar Langit bikin Eyi emosi jiwa padahal Rayyan sudah tertawa-tawa dengan kepolosan Langit.
"Ck, kampungan banget! Om Langit mending diem deh, kalo ngga tau ngga usah cuap-cuap!" sengit Eyi.
"Ya kan water tuh air, birth tuh lahir, lahiran di air, mentang-mentang lakinya marinir semua mesti berair. Kurang banyak segimana lagi bu, apa mesti kakanda mu itu bawain air laut biar makin jos lahirannya?" Tanya Langit malah jadi berdebat dengan ibu yang sedang kontraksi.
"Heuh! Susah kalo ngobrol sama titisan ikan dugong, bawaannya pengen suntik mati!" omel Eyi.
"Ya bukan kaya gini juga om, airnya pun khusus, tempatnya khusus! Ada tenaga medis sama alat-alat medisnya," debat Eyi si manusia yang tak mau kalah.
"Kurang khusus gimana bu, ini udah khusus, ngga bisa sembarangan warga sipil masuk, sepi tuh!" alibinya lagi membuat Rayyan dan Pram terpingkal dan Maliq tertawa renyah.
"Gue tembak juga nih perwira, abang dia ngapain ada disini sih?! Aahh---" Rasa sakit itu kini berubah jadi rasa ingin buang hajat.
"Abaaanggg----" Eyi sudah ingin mengejan-ngejan saja.
"Hhh----"
"Eh, jangan disini dek. Masa cimoy lahiran disini?!" Rayyan ikut panik.
"Abang, Eyi udah bener-bener ngga kuat. Kaki udah kram banget!"
"Angkat!! Angkat!" Pramudya dan Langit ikut panik mengangkat Eyi dari dalam kolam.
"Ampun gue! Cs sih cs tapi gue ngga sangka se-cs ini kita brother!" imbuh Langit.
.
.
.
.
__ADS_1