
"Eyi, allahu---kamu lagi dicariin ibu ketua,"
Eirene sedikit berdecak, ikhlas ngga ikhlas, "kenapa harus Eyi kak, kan ibu Jala banyak---bilangin ibu Komandan, Eyi mau gantian sama bu Nani bagian bagiin konsumsi!" ujarnya.
"Ini sih beneran kloningnya bu Far! Maunya barengan konsumsi," bisik Gentra pada Regan.
"Lagian nanti mata Eyi ternodai ah! Gini aja, kak Wiwit mau apa deh?! Nanti Eyi kasih---tapi bilangin sama ibu, Eyi lagi kebelet gitu!" pintanya.
Wiwit terkekeh sumbang, "kebelet makan gitu maksudnya?"
Yang satu itungan, yang satu doyan nyogok---lengkap sudah menantu Salwa, lantas nanti jodoh Zahra macam apa?
"Kalo memang lapar ngga apa bu Eirene, bisa melimpir dulu ke dapur," bu Fani memang selalu bijak dan baik hati macam ibu peri sejak dulu.
"Nah ini---ini yang bener!" tunjuk Eirene.
"Cuma sebentar Eyi, itu kamu dicariin."
Tapi hanya berselang beberapa detik, bu Nani menyusul teman-temannya itu.
"Oalah bu Rayyan sampeyan iki piye to? Kok malah disini, itu loh---bu Laksamana nyariin ta ubek-ubek kuuaabeh ruangan malah njoprak disini," bu Nani sepaket dengan ke-sewotannya menghampiri.
Eyi yang sudah dilanda lapar malah semakin ruwet dan mumet mendengar kembali bahasa campuran versi bu Nani, ia bahkan menggosok-gosok kening siapa tau bisa langsung pinter seribu bahasa abis ini, "aduh! Eyi melambaikan tangan ke kamera deh, ngga ngerti suer! Kalo bu Nani ngomong bawaannya pengen nyemil ban truk Reo, sama nge-moet granat!" Eirene berlalu dari mereka semua dan lebih memilih kembali demi menemui bu ketua, padahal perutnya sudah keroncongan.
"Bu Fani, bu Gina ibu-ibu nanti disambung lagi ya. Kalo bisa di dapur biar afdol ngobrolnya! Om-om sekalian, Eyi permisi, " ujar Eirene berlalu diekori bu Nani. Eyi hanya tak mengerti, terkadang ia selalu dilibatkan jika wajah ibu kesatuan hendak masuk lensa kamera, padahal masih banyak ibu kesatuan lainnya yang terbilang sudah lebih senior daripada dirinya.
"Apa gue harus siapin ransum tentara buat bu Rayyan?" tanya Gentra, dikekehi Regan.
"Ntar dulu, yang itu kan perutnya perut keju---ntar dia mules-mules dikasih makanan serdadu!" tawa Dilar.
"Maaf atas sikap Eirene barusan om-om, ibu---beliau memang sedikit..."
"Absurd, konyol?" tembak Gina tertawa.
"Tenang aja bu Wiwit, kita juga punya satu yang kaya gitu. Dan entah kebetulan atau memang sudah dapat milih, beliau adalah kakak ipar dari bu Eirene, istri Letnan Kolonel Al Fath, kakak dari kapten Rayyan sendiri, Faranisa---" jawab Fani.
"Oh iyakah? Ya, saya pernah mendengar nama Faranisa, saya juga pernah melihat beliau sekali saat pernikahan kapten Rayyan dan bu Eirene, saya kira beliau di timur?"
"Mereka memang sedang bertugas di timur. Tapi sebelumnya disini---"
"Kalau gitu mari ibu-ibu," ajak Wiwit.
"Om, kami pamit."
Eirene memasang tampang memelas namun ia berusaha semaksimal mungkin untuk tenang dan tersenyum, membantu semampunya. Dapat ia lihat wajah-wajah gembira dan terharu dari keluarga, orangtua dan anak su nat itu sendiri, mungkin bagi sebagian orang, uang bukanlah masalah tapi bagi sebagian lainnya? Ada rasa hangat dan terharu ikut menyeruak, seperti ini rasanya berbagi, sederhana, bahagia bersama dan membumi diantara masyarakat. Selama ini ia selalu menempatkan dirinya di atas orang lain, menutup tempat untuk orang lain berada di sampingnya.
*Terimakasih bu, pak*!
Hanya kalimat itu yang lolos dari beberapa orangtua para peserta khitanan massal, tapi itu cukup sukses membuat Eyi merasa menjadi orang yang berguna, menjadi sosok bermanfaat untuk sesama, dan ia bangga akan itu---
...***Rasa bangga bukan pasal kilauan emas, uang melimpah atau tahta tertinggi yang didapat, tapi lebih dari itu suatu kebangaan adalah bisa bermanfaat untuk insan hidup lain***....
Acara sudah selesai tepat pukul 2 siang. Satu persatu masyarakat sudah meninggalkan markas elite pasukan khusus, menyisakkan tempat acara yang berantakan. Para ibu kesatuan masih berada di tempat acara untuk rapat evaluasi dan sekedar silaturahmi seraya menikmati hidangan yang disiapkan sang tuan rumah. Sebagai pengerat rasa kekeluargaan antar sesama istri prajurit mereka memilih karokean bersama.
"Ayo bu, perwakilan dari matra udara monggo waktu dan tempat dipersilahkan!" ucap mereka berkelakar.
"Mau lagu apa nih?!" para ibu tadi terlihat begitu gembira, seolah lepas semua beban di pundak meski ini hanya hiburan sederhana.
__ADS_1
"Kopi dangdut aja!"
"Mendung tanpo udan!"
"Cinta berbeza kasta!"
Sementara Eyi hanya duduk tak begitu hafal dengan lagu-lagu genre dangdut yang mereka sebutkan, mungkin ada beberapa lagu dangdut remix yang ia tau itupun berkat aplikasi tok-tok.
Meski suara mereka tak seindah suara diva negri tapi lumayan untuk menghibur hati yang tengah lelah dan gundah gulana.
"Yo siapa lagi, disawer deh sawer!"
"Eirene! Bu Eirene!" tanpa aba-aba ataupun sambutan tangannya tiba-tiba ditarik oleh ibu-ibu kesatuan dan istri prajurit lain, tentu saja mereka ingin melihat penampilan seorang model Internasional ini seperti apa, apakah ia jago bernyanyi dangdut?
"Eh, tapi Eyi ngga hafal lagu dangdut!" ucapnya.
"Moso sih mbak! Kan mbak Eyi sering liat tok-tok! Pasti ada satu dua yang hafal," ujar bu Nani membuat Eyi terdesak.
"Ini lagu adat melayu loh bu, ciei khas rakyat negri kita!"
"Ha? Masa?!" alisnya mengernyit, terus ngga berarti istrinya mesti jago juga kan?
"Bu Eirene! Bu Eirene!" Seketika namanya bergema begitu kencang disini. Mendengar ribut-ribut dari kumpulan istri prajurit membuat prajurit yang ada di sekitar penasaran.
"Ayo bu! Jangan permalukan kesatuan laut!"
"***Jayamahe***!" seruan berteriak para ibu Jala seolah menggaungkan nama militer laut yang harga mati.
"***Jaya\_mahe*** !!!!" para ibu itu seolah menggemakan himne.
Oke, suaranya memang tak seindah Celine Dion tapi pun tak buruk-buruk amat sampe bikin telinga mengeluarkan co nge.
"Oke!" ia beranjak maju dan mengambil mik.
"Hidup ibu kesatuan!"
__ADS_1
"Ayo om Rayyan we love you!" teriak bu Nani dan yang lain berkelakar memancing tawa mereka, Fani saja sampai tersedak semangka, ia lantas menaruh terlebih dahulu piring kertasnya demi menyaksikan adik ipar Fara, ia dengan sengaja menghubungi Fara untuk memperlihatkan aksi Eyi.
Pada saat yang bersamaan Jaya memanggil istrinya untuk menanyakan waktu pulang.
"Sebentar, Eyi hafal nada satu lagu dangdut tapi ngga hafal lirik. Sambil liat di ponsel ya, ngga apa-apa kan?!"
"Iya ngga apa-apa bu!"
"*Wes mbak, sakarepmu wae*,"
"Oke!" Eyo berbisik pada salah seorang ibu yang memegang sound dan mengatur musik.
"Siap bu!" angguknya singkat.
Musik mulai berdendang kencang memenuhi setiap sudut panggung dan bekas tempat acara. Dangdut remix milik Melinda terputar memancing riuh suasana dan riak para istri tentara ini, tempo yang nge-beat tak bisa untuk siapapun tak ikut bergoyang. Eyi mulai bergoyang sesuka hati layaknya ia sedang berada di lantai dansa diskotik.
\# *Walau cinta kita sementara, aku merasa bahagia*
*Kala kau kecup mesra di keningku, kurasa bagai di surga*.
*Cinta satu malam oh indahnya, cinta satu malam buatku melayang, walau satu malam akan slalu ku kenang dalam hidupku*...
*Sentuhanmu membuatku terlena, aku tlah terbuai mesra, yang kurasa hanya indahnya cinta, has\_ratku kian membara* !!!!
"Wohoooo bu Eirene!!!" teriakan dan suitan mereka.
"*Bu Wiwit, itu bini saya lagi ngapain*?!"
"*Dek! Turunnn*!"
"*Abang susul juga nih*!"
Wiwit tertawa di sambungan video call-nya dan sang suami nyempil Rayyan yang secara tak sengaja melihat Eyi sedang jadi biduan, pria itu tampak terkejut dan terbakar.
"*Ha-ha-ha, Eyi...suaranya bagus juga. Abang! Liat adek ipar abang, di bikin geger markas pasukan khusus*!" teriak Fara di layar pipih ponsel milik Fani.
.
.
.
.
__ADS_1