
Sepanjang perjalanan menuju Cafe yang telah di sepakati antara Kila dan Devi untuk bertemu.
Kila Terlihat begitu Kesal dan marah! bagaimana tidak, niatnya hanya untuk mengajak si kembar, kini berujung semua anggota keluarga yang ikut dengan alasan ingin merayakan kepulangan Kila kembali ke rumah.
Sepanjang perjalanan Kila terus saja mengomel, membuat Dede menggeleng geleng kepalanya.
" Kamu kenapa si Dek?" Tanya Aryan dengan melirik Kila dari kaca spion yang ada di depannya.
Aryan kini sedang menyetir, sedangkan Yasmin bersama anaknya duduk di samping Anwar. Dede, Kila dan si kembar duduk di jok belakang.
" Nggak papa aku malas aja sama kalian." Jawab Kila, iya membuang pandangannya ke arah luar jendela.
" Harusnya kamu senang kita bisa bareng kaya gini, Bukannya malas! kapan lagi kita sekeluarga kumpul, kalau bukan sekarang mumpung ka Aksel dan ka Reza ada di cafe itu." Timpal Yasmin membuat Kila mengerutkan Dahinya.
" Ngapain Ka Eza sama Ka Aksel di situ?" Tanya Kila.
" Ada hal penting yang ingin mereka urus." Jawab Dede.
" Iya." Yasmin pun turut mengiyakan Ucap Dede.
" Oooh! Pantesan wanita yang nggak punya urat malu itu, ngasih ide buat kita kumpul di cafe itu, pake alasan mau ngerayain kepulangan aku segala, tahunya dia udah gatel pengen dekat dekat sama Ka Aksel." Ucapan tak berfilter itu kembali keluar dari bibir ranum Kila.
" Dek kamu kenapa sih benci banget sama dia, padahal dia juga kakak kamu, ibu dari keponakan kamu, Anaknya sama kamu sedarah loh dek." Ucap Aryan, Mungkin jika orang lain yang mendengar ucapan Aryan, berpikir bahwa Aryan sedang memberikan nasihat untuk adiknya itu, tetapi tanpa di sadari ucapan itu layaknya Bensin yang akan digunakan Untuk memadamkan api.
" Apa? Nggak salah tuh, Ka Aryan ngomong kaya gitu?" Tanya Kila.
" Ya nggaklah, emang kenyataannya gitu."
" Asal kakak tahu ya, sampai mati pun, Kila nggak Sudi nganggap dia Kakak, Dan Satu lagi keponakan Aku emang ada 4, karena satu lagi masih calon." Ucap Kila sambil mengelus perut Dede yang berada di sampingnya " keempat keponakan aku itu nggak ada nama anaknya sebagai daftar keponakan Aku, Karena cuma. Nanda, Putra, Arlen dan Sevi keponakan Aku." Ucap Kila membuat Aryan langsung menghentikan mobilnya secara mendadak, syukur jalan itu sedikit sepi.
" Sevi siapa." Tanya ketiganya secara bersamaan.
" Ada pokoknya! dia nggak berasal dari keluarga kita, tapi aku terlanjur sayang sama dia nggak tahu kenapa." Jawab Kila, dan mereka hanya nanggapinya dengan ber O ria.
Aryan kembali melajukan mobilnya, menuju cafe itu, 10 menit kemudian mereka tiba di cafe itu, Aryan memarkirkan mobilnya, Setelah itu mereka keluar dan melangkah masuk ke dalam Cafe.
__ADS_1
Di dalam Cafe Gilang, Nana, Heni dan Anaknya telah duduk di satu meja yang tak Jauh dari Reza dan Aksel.
Kedua kakak beradik itu tengah serius menatap kearah Gadis kecil yang mengikuti langkah seorang pelayan sambil membawa buku menu di pelukannya.
Darah Aksel berdesir, jantungnya berdetak semakin tak menentu, bagaikan orang yang memiliki riwayat penyakit jantung, bahkan tanpa Aksel sadari butiran bening lolos dari kedua sudut matanya.
" Kakak menangis?" Tanya Reza membuat Aksel mengalihkan pandangannya dan menatap ke arah Reza.
" Aku nggak tahu." Jawab Aksel sambil mengusap sudut matanya, Reza pun mengangguk.
" Ka, kenapa mereka disini?" Ucap Reza sambil melirik kearah Gilang, Heni dan Nana.
" Nggak tahu." Jawab Aksel sambil mengangkat kedua bahunya.
Tidak lama setelah itu Kila dan yang lainnya masuk! mereka langsung duduk di bangku yang sama dengan Aksel dan Reza.
" Kalian disini juga?" Tanya Reza.
" Iya, ini semua idenya Mak lampir." Jawab Kila.
Di tengah pembicaraan mereka, Kira mengirim pesan kepada Devi kalau dia sudah sampai di cafe, dan memberitahu no mejanya.
...ππππππ...
Saat semua orang dewasa tengah sibuk dengan pekerjaan dan pikiran mereka masing masing.
Mata seorang Sevi justru berpusat kepada seorang anak kecil yang tengah duduk di kursi yang didesain khusus untuknya begitu juga dengan bantal yang menjadi sandarannya.
Tidak tahu apa yang di pikirkan anak yang belum genap 4 tahun itu, Iya berjalan mendekat ke arah objek yang mengusik perhatiannya.
" Tamu satit?" Tanya Sevi dengan cadel khas miliknya, iya meletakkan punggung tangannya pada dahi Anak itu.
" Ta panass." Ucapnya lagi membuat anak itu sedikit risih dengan perlakuan Sevi.
Sevi bukannya ingin menghina atau mengusik, dia hanya peduli, karena anak itu tidak sedikit pun berpindah dari tempat duduknya, layaknya balita yang pernah dia lihat sebelum sebelumnya.
__ADS_1
Sevi mengulurkan tangannya, kepada Anak yang iya maupun Vi_via belum tahu siapa namanya itu.
Mungkin karena belum terbiasa dengan sesuatu yang baru anak itu pun langsung menangis, membuat Heni yang sedang mencuri curi Padang kepada Aksel langsung beralih kepada Putrinya saat mendengar tangisannya.
Tanpa memandang dan bertanya Heni langsung membentak dan mendorong tubuh Sevi " Kamu apakan Anak Saya."
Semua pengunjung yang ada di cafe itu langsung melihat ke arah sumber suara Heni, dan tangis putrinya itu semakin menjadi.
Sikap Heni itu, Jelas membuat Sevi Histeris dan menangis sejadi jadinya, bukan karena Sevi yang cengeng, tapi karena iya terjatuh dan Terbentur sudut kursi pengunjung lain sehingga pelipisnya lebam dengan warna biru keunguan.
" Daddy... papa Ano." Tangis Sepi membuat Erik yang tengah berada di meja kasir tersadar bahwa Sevi sudah tidak berada di sisinya, iya berlari ke arah Sevi, dan langsung menggendong keponakannya itu tanpa bertanya apa yang terjadi karena fokusnya di harus ke Sevi dulu.
Erik tahu betul sifat anak yang ada di dalam gendongannya itu, karena Sevi bukanlah anak yang gampang menangis, tetapi Jika dia menangis dia akan menahan nafasnya, itu kebiasaan dia dari bayi! harusnya sudah hilang tetapi Entah mengapa kebiasaan itu belum juga hilang, membuat Devi selalu berusaha agar Sevi tidak menangis seperti itu lagi.
Anggota keluarga Firmasha membujuk Anak Heni dan menenangkan mamanya tanpa mereka tahu yang terluka adalah anak kecil yang sedari tadi mengusik pikiran mereka.
Jauh dari meja mereka Erik duduk sambil memangku Sevi yang sedang menangis histeris dengan menahan nafas bahkan sudah bibir sampai pipinya mulai membiru.
" Panggilkan Dira dan Nadia." Teriak Erik pada pelayan yang tidak jauh darinya.
Tidak butuh waktu lama Devi datang dengan tergesa gesa, iya langsung berjongkok di hadapan Erik yang tengah memangku Sevi.
" Apa yang terjadi?" Tanya Devi mulai panik.
.
.
.
.
Bersambung.
Jangan marah marah ya, ingat nggak bagus buat kesehatan πππππ
__ADS_1
πTinggalkan jejak ya kalau kalian suka π