
Tidak terasa 3 hari sudah berlalu sejak kejadian di cafe waktu itu, Dan Devi sangat bersyukur karena kejadian itu, tidak mempengaruhi Omset cafe mereka.
Masih teringat jelas di benak Devi ketika 2 Anaknya itu tidak mau melepaskan pelukan mereka dari tubuh Devi, bahkan Sevi sampai dibuat menangis, Karena memperebutkan Devi dengan kedua kakaknya.
" Lepas! ini mommy nya Dede." Ucap Sevi Sambil melepaskan kedua kakaknya.
" Bukan ini mama kita! kamu yang Ambil mama kita." Ucap Nanda sambil mendorong tubuh Sevi. Erik dengan sigap menahan tubuh Sevi, membawa gadis kecil itu kedalam gendongannya.
" Sayang, kasian loh mereka sudah nggak punya mommy, Anak bunda Kan, Anak baik, Pinjamin dulu ya mommy nya ? " Ucap Nadia agar Sevi tidak menangis.
" Pulang lagi?" Tanya Sevi. Nadia dan Erik langsung mengangguk.
Setelah mendapatkan Izin dari Sevi, Devi pun memeluk dan mencium kedua anaknya secara bergantian. " Mulai sekarang kalian bisa panggil mommy juga, walaupun mommy bukan mommy kalian! mommy akan Sayangi kalian sama seperti Sevi." Ucap Devi membuat kedua anaknya itu begitu bahagia.
...ππππππ...
" Kamu belum mau ke cafe?" Tanya Nadia membuyarkan lamunan Devi, mereka kini tengah duduk bersantai di taman belakang sambil melihat Erik yang sedang berenang bersama Sevi, Taman belakang itu di desain langsung dengan kolam renangnya.
" Aku malas Ketemu dengan papanya Anak anak itu." Devi menjawab setelah menggeleng kepalanya.
" Sampai kapan kamu kaya gini, kamu yang minta mereka berdua menganggap kamu sebagai mommy nya mereka! tapi sekarang kamu malah menghindari mereka."
" Aku juga tidak ingin seperti ini, tetapi aku nggak suka di ganggu sama papa mereka." Ucap Devi.
" Dia menganggu kamu ya Pasti ada alasan nya."
" Iya, Alasan nya karena wajah aku mirip sama salah satu keluarga mereka itu aja, lagian mbak tahu sendiri setiap manusia mempunyai 7 kemiripan wajah, mungkin Aku dan kerabat mereka salah satunya." Ucap Devi yang terlihat biasa biasa saja.
" Tapi apa kamu yakin nggak kenal sama mereka?" Nadia menatap Devi dalam, dia tahu betul Devi kehilangan separuh Ingatnya, Tetapi dia sengaja bertanya Seperti itu, " Bukannya mbak so tahu Ra, tapi masa sih kedua anak kecil itu manggil Kamu mama gitu aja! pasti adA udang di balik bakwan donk." Bukan tanpa sebab Nadia kembali bertanya seperti itu, pasalnya dari Awal dia dan Erik melihat Sikembar, mereka berdua sudah curiga kalau kedua Anak itu ada hubungannya dengan Devi dan Sevi.
__ADS_1
" Udah lah mbak jangan bahas mereka Mulu, emang di dunia ini cuma ada mereka aja." Jawab Devi yang sengaja mengalihkan pembicaraan mereka.
" Bagaimana perasaan kamu tentang Kedua Anak itu! bibir mungkin bisa berbohong, pikiran pun bisa melupakan Tetapi Hati dan naluri seorang ibu pasti tidak bisa berbohong apalagi sampai melupakan." Nadia pun tidak mau mengalah, dia yakin Devi pasti mengingat salah satu dari mereka, Nadia tidak bermaksud menuduh atau tidak percaya kepada Devi tetapi Janda beranak satu ini ingat, bahwa dokter mengatakan Devi kehilangan separuh Ingatnya, Separuh bukan semua.
" Mbak nggak tahu kamu yang dulu seperti apa? mbak juga nggak tahu apa yang kamu alami! dan sesakit apa kamu pada saat itu, mbak juga nggak tahu." Nadia menggenggam tangan Devi sebelum melanjutkan ucapannya, " Tapi mbak minta jangan pernah menyamakan individu atau semua orang sama atas perlakuan perorangan, Kerena setiap orang memiliki sifat yang berbeda beda. Satu hal yang harus kamu ingat! Kamu itu bukan tuhan yang harus terus mendengarkan dan memberi apa yang mereka butuhkan. kamu itu manusia biasa, kamu juga butuh didengar, belajarlah mempercayai orang lain Ra, karena selama kita masih memiliki nafas kita saling membutuhkan. Mbak yakin sebagian kecil dari ingatanmu kamu tahu siapa mereka, Jangan lupa Ra, Mbak ini juga seorang ibu dan sikap kamu kepada 2 Anak lelaki itu bukan karena kasian, melainkan itu tulus dari hati kamu, sebab kamu ibunya mereka." Ucap Nadia panjang kali Lebar, dan Devi hanya diam.
POV Nadia
Masih teringat jelas malam itu ketika Anwar mengantarkan kamu dalam keadaan yang tidak sadarkan diri, bahkan aku yang berpapasan dengan kamu yang di dorong oleh beberapa perawat berpikir kamu sudah meninggal, wajah kamu begitu pucat bahkan sekujur tubuh kamu juga.
Tapi pikiran itu sirna saat aku melihat air mata di sudut kanan mata kamu, Apa sebesar itu luka yang kamu tahan sampai dalam keadaan tidak sadar pun, Air matamu masih sempat membasahi pipi, Aku bertanya pada diriku sendiri dan Dari situ aku peduli sama kamu, karena kita sama sama perempuan.
Setiap Ada waktu Aku terus datang ke ruangan kamu, untuk sekedar melihat keadaan kamu.
Dan untuk pertama kalinya Aku kagum dengan seorang lelaki yang begitu berjuang untuk Seorang wanita! Aku pikir dia suami kamu, Aku merasa kamu paling beruntung, karena memiliki suami seperti dia, sayangnya aku salah dia adalah kakak kamu.
" Mbak tahu, Aku pernah mengancam akan membuat Adiknya tidak bisa berkerja dengan baik lagi, Sehingga tidak bisa menghasil, sudahlah aku malas menyebut namanya." Ucap Dira menghentikan ucapannya. Dan berdiri meninggalkan Aku, tetapi sebelum langkahnya menjauh.
POV Vi_via
" Apa benar mereka Anak anakmu?" Tanya Nadia membuat langkah Devi terhenti.
" Aku tidak pernah lupa siapa orang tua ku, kakak, Adikku, Anak anakku dan dia yang aku serahkan jiwa dan ragaku." Ucap Devi dengan terus melangkah meninggalkan Nadia yang masih menatap tidak percaya kepada nya.
" Apa sih yang terjadi sampai kamu tidak ingin menyebut namanya." Tanya Nadia pada diri sendiri.
" Ndaa." Teriak Sevi.
Sevi Dan Erik berjalan menghampiri Nadia yang tersenyum kepada mereka. " Iya sayang sini bunda keringin dulu badannya." Nadia mengerikan tubuh Sevi dengan handuk yang telah di sediakan Devi.
__ADS_1
" Dira mana Mbak?" Tanya Erik, menduduki bangku tepat di samping Nadia.
" Sudah masuk kedalam."
" Terus kapan dia mau ke cafe?" Tanya Erik lagi.
" Kalau suaminya atau mantan suaminya itu nggak datang lagi ke cafe." Jawab Nadia.
" Emang suaminya hidup lagi mbak."
" Dasar B*doh mana mungkin orang mati hidup lagi." Nadia memukul lengan Erik.
" Aduh mbak sakit tahu, lagian mbak ngomong nggak jelas, Ambigu banget." Ucap Erik sambil mengusap lengannya.
" Jangan kan kamu aku juga binggung sendiri." πNadia kalau binggung baca aja Novel bukan wanita penggoda, pasti kamu nggak binggung lagi.βοΈβοΈ
.
.
.
.
Bersambung.
π Maaf kan daku yang tidak up kemarin.βοΈβοΈβοΈ
π Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka π
__ADS_1