
Ketiga Anak itu telah tertidur membuat ruang itu berubah hening seketika, padahal kedua orang Dewasa itu tengah berdiri di posisi mereka masing masing, menatap wajah damai Putra putri mereka.
Aksel seolah tidak ada bosannya mengusap kepala putrinya, Sesekali iya mencium kening dan pipi Sevi, tetapi tidak sampai membangunkannya.
Tidak tahan dengan keadaan yang Seperti ini Devi memutuskan untuk pulang. " Aku pulang dulu." Ketika Devi hendak berbalik Aksel langsung menghadangnya.
" Jangan pergi mereka masih merindukan kamu, Bukan mereka saja aku juga sangat merindukan kamu sayang." Pinta Aksel walaupun kata kata terakhir hanya bisa iya ucapkan dalam hati. Bukan karena dia tidak berani mengatakan langsung tetapi dia takut Devi akan pergi jika mendengar hal itu.
" Kamu bisa menghubungi ku jika, mereka menanyakan aku." Tolak Devi yang masih enggan untuk berlama lama berdua dengan Aksel di rumah itu.
" Dev, Aku mohon sekali saja buat mereka merasakan memiliki orang tua yang utuh." Aksel langsung berjongkok di hadapan Devi. " Apa perlu Aku bersujud, agar kamu tetap tinggal walaupun hanya sehari." Selama hidupnya Aksel tidak pernah merendahkan dirinya di hadapan siapapun termasuk kedua orang tuanya, hanya wanita yang berdiri di depannya ini yang merutuhkan segala keteguhan yang Aksel punya.
" Untuk apa kamu melakukan ini Aks, apa kamu ingin menunjukkan keegoisan ku dan tidak bergunanya aku sebagai seorang ibu." Kesalahan yang dia buat membuat dia selalu salah di mata Devi.
" Bukan begitu sayang.."
" Stop jangan mengucapkan kata itu lagi, jika hanya untuk membohongi aku." Tegas Devi.
Aksel berjalan menggunakan lututnya, iya dekati Devi, tangannya langsung melingkar di pinggang Devi membenamkan wajahnya pada perut Devi.
" Aku memang bersalah padamu Dev, aku minta maaf tetapi aku mohon jangan pernah meragukan rasa cintaku padamu."
Devi dapat merasakan tubuh Aksel yang bergetar dan bajunya juga basah, Tetapi Apa yang dia rasakan jauh lebih sakit dari ini.
" Jangan Seperti ini, jika kamu hanya ingin aku tetap tinggal malam ini, aku akan tinggal hanya untuk malam ini saja, sekarang lepaskan tanganmu dari ku." Aksel langsung melepaskan tautannya pada pinggang Devi. Devi langsung berjalan menuju sofa meninggalkan Aksel begitu saja, tanpa rasa ibah sedikit pun.
Devi menduduki Sofa itu Setelah melepaskan Cardigan panjang berwarna Maron dari tubuhnya, menyisakan tanktop hitam dan jeans yang berwarna senada dengan tank top yang iya pakai.
Melihat pemandangan di hadapannya, Membuat Aksel sulit menelan Silvana nya. " Kalau kamu tidak nyaman seperti itu, ganti saja baju kamu! Semua pakaian kamu masih tersimpan dengan Rapi di dalam." Aksel menujuk ke arah walk in closed nya.
Devi tidak menjawab, iya hanya menunjukkan wajah datarnya kepada Aksel. Sikap Devi membuat Aksel semakin frustasi, Sekali ini bolehkah iya memaksakan kehendaknya lagi.
__ADS_1
Aksel mendekat Devi, tetapi wanita itu langsung berdiri, iya menuju kamar mandi, membersihkan dirinya. Seharian di diluar rumah membuat iya merasah gerah.
Setelah selesai dengan ritualnya Devi keluar dari Walk in closed, membawa selimut dan bantal, iya letakkan di Sofa yang berada di hadapan Aksel.
Semenjak kepergian Devi, Adik kecilnya baik baik saja, penurut dan tidak pernah memberontak, tetapi apa ini. Melihat Devi yang mengunakan Lingerie saja, Adiknya mulai menunjukkan keaktifannya.
Devi merebahkan tubuhnya di sofa, Saat iya ingin memejamkan matanya! Devi teringat akan Tasnya yang iya Letakkan di Sofa ruang tamu. " Ya ampun Tas aku." Ucap Devi menepuk jidatnya.
" Biar Aku yang Ambil." Aksel berdiri, iya melangkah ke luar kamar untuk mengambil tas Devi. Sebenarnya Aksel tidak tahan melihat Penampilan Devi sehingga dia memutuskan untuk keluar kamar dengan Alasan mengambil tas Devi.
" Ceklek." Pintu kembali terbuka setelah hampir setengah jam Devi menunggu.
" Lama sekali, Kirain tasnya udah kamu bawah kabur." Ucap Devi begitu ketus.
" Emangnya Aku maling, Hmmm."
" Mungkin." Devi menaikkan bahu kanannya, dengan bibir bagian bawah yang dimajukan.
Aksel kembali duduk di hadapan Devi, iya mengeluarkan ponsel dari saku celananya, mencari sesuatu yang bisa iya cari agar pandangan tidak tertujuh kepada Devi seorang. Lama lama menatap Devi hanya akan membuatnya bersolo karir, jadi sebisa mungkin Aksel menjaga pandangannya dari Devi.
Devi kembali duduk, iya mengikat rambutnya keatas, membuat Aksel semakin kalang kabut. " Dev , urai rambut mu." pintah Aksel tanpa menatap kepadanya.
" Kenapa? Nggak tahan." Ejek Devi.
" Kalau sudah tahu, kenapa kamu lakukan?" Akhirnya Iya berani menatap kearah Devi.
" Hmmm kebiasaan."
" Itu hanya berlaku untuk kamu tidak kepada orang lain."
" Kamu sedang menipu siapa Aks, mana mungkin Adik kamu itu akan berpuasa."
" Terserah apa kata kamu, pada kenyataannya cuma kamu yang bisa mengusik ketenangan Adikku."
__ADS_1
" sekarang kamu pandai bergurau ya Aks." Devi tersenyum manis iya melangkah mendekati Aksel, bersikap seolah olah tidak ada masalah di antara keduanya. Devi naik kepangkuan Aksel, iya duduk menghadap kearah Aksel, membuat lingerie terangkat dan tampaklah pahanya. "tetapi jangan lupa jika hanya aku seorang tidak mungkin ada wanita lain di keluarga mu!" Bisik Devi dengan sengaja mengusap rahang Aksel, " Atau jangan jangan kamu bersyukur waktu itu aku sakit, jadi kamu mulai menunjukkan dia hadapan."
" Jangan menuduh ku, karena aku tidak pernah melakukan hal itu." Bentak Aksel tidak terima dengan tuduhan Devi kepadanya.
" Kenapa membentak, santai saja Aks, Disini yang harus marah itu aku bukan kamu." Ucap Devi sambil menunjuk nunjuk dada bidang Aksel.
" Maaf Dev, tetapi aku punya alasan untuk itu semua. tetapi aku tidak pernah menunjukkan dia kepada siapapun." Suara Aksel mulai pelan.
" Oh jadi kalau aku tidak tahu hubungan kalian, kamu tetap menjalani hubungan diam diam di belakang aku." Sekali salah Selamanya akan begitu. begitu lah nasib Aksel di mata Devi sekarang ini.
" Bukan begitu! maksud aku..."
" Apa, mendatangkan dia, tepat di hari pernikahan Reza dan Dede, berkenalan dengan mama Aisya dan papa Bastian dan Anggota keluarga yang lain, begitu maksud kamu. Jangan berpikir aku diam berarti aku tidak tahu segalanya! Tetapi tidak perlu di bahas lagi, lagian Aku ini sudah mati Dimata kalian kan."
Devi turun dari pangkuan Aksel, iya kembali duduk di tempat semula, memainkan kuku kukunya sambil tersenyum simpul kepada Aksel. " Kamu tahu Kalau tidak ada mereka bertiga, aku tidak akan duduk berhadapan dengan kamu seperti ini, jika bukan karena mereka bertiga Aku tidak akan hidup sampai hari ini. Dulu aku menolakmu bukan karena aku tidak suka dengan kamu, tetapi aku tidak ingin merasakan lagi apa yang aku rasakan saat ditinggalkan oleh Raaz, tetapi kamu dengan bangga menyakinkan aku, membuat aku membuka hatiku untukmu dan melambungkan aku setinggi langit setelah itu kau hempaskan, ini lebih sakit dari pada aku kehilangan Raaz dulu, tetapi bagaimana lagi inikan jalan hidupku." Devi menjeda ucapannya untuk menghirup udara segar ke paru parunya.
" Setidaknya dengan begini aku sadar, bahwa aku juga bisa di bohongi, Kamu tahu Aks bagaimana rasanya saat kamu hamil besar dan menderita penyakit yang mungkin bisa membunuh kamu kapan saja. tetapi masih bisa menyaksikan suami kamu tersenyum bersama wanita lain di hadapan kamu.Rasanya ssstthhhm Lumayan." Devi memejamkan matanya sambil tersenyum di ikuti desisnya.
Seketika Aksel menjadi orang bisu, seluruh rongga mulutnya terasah pahit.
.
.
.
.
Bersambung.
Satu kata Buat ;
DEVINA
__ADS_1
AKSEL
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍