Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 16


__ADS_3

"Katakan, Kanapa kamu kembali tanpa memberitahu aku? Apa Kamu sudah mengingat semuanya? Apa kamu sudah tidak menganggap Aku Ada atau kamu sudah kehilangan sopan santun kamu! Devina Aldira Firmasha." Bukan pertanyaan atau pun tuduhan yang membuat hati Devi nyeri, tetapi kata terakhirlah yang membuat Luka yang telah lama lama sembuh kini terasa sakit lagi walaupun tak berdarah.


Devi memilih tidak menjawab dan masuk kedalam rumah begitu saja membiarkan pintu rumah itu tetap terbuka.


Dia kembali berbaring di tempat semula, Melanjutkan film yang iya tonton sejak tadi, Sungguh Devi tidak bermaksud kurang ngajar kepada Anwar, tetapi dia tidak suka ketika Anwar menyebut namanya seperti itu.


" Kenapa? Hmmm." Anwar mengikuti langkah Devi, Iya duduk di samping Devi menatap wanita yang selalu membuatnya khawatir " Kamu tidak suka, Aku memanggil Nama kamu seperti itu? Jadi benar kamu sudah ingat semua tentang dia." Anwar terus bertanya iya tidak peduli dengan Devi yang sejak tadi diam dan tidak merespon kata katanya.


" Sebesar itu kah perasaan kamu kepada dia," Anwar Tersenyum di iringi tawa Ejekannya kepada Devi. " Jangan bertingkah seolah kamu kurang belaian atau tak laku laku." Ucapan Anwar kali ini berhasil menarik perhatian Devi, iya menatap tak suka kepada lelaki yang di sebut Kaka itu.


" Apa sikap Aku menunjukkan seperti itu?" Tanya Devi, membuat Anwar menggeleng kepalanya.


" Kamu adalah wanita yang hebat setelah ibuk dan Amma. Aku bersyukur bisa mengenal kamu, bahkan sangat bangga karena kamu adalah adikku, tetapi kenapa kamu harus melakukan ini semua, pergi tanpa izin bahkan tanpa mengucapkan terima kasih." Anwar menjeda ucapannya, " Aku tidak pernah marah kepadamu, sekali pun kamu membuat aku kecewa tetapi Aku mohon jangan pernah berubah, jangan membuat orang lain membenci sikapmu hanya karena ulahnya."


" Aku tidak akan pernah melakukan hal itu, Aku pergi dari rumah Raihan bukan karena aku sudah mengingatnya, tetapi aku tidak ingin menyakiti kedua anak Raihan lebih lama lagi." Ucap Devi sambil memainkan jari jari tangannya.


" Apa maksud kamu Dev?"


" Raihan dan kedua anaknya selalu meminta aku untuk menjadi bagian dari mereka tetapi aku selalu menolaknya dan itu menyebabkan kedua anak itu uring uringan kadang mereka tidak mau makan, Sekolah dan lainnya, Aku tidak keberatan membujuk mereka ko jika itu cuma sekali dua kali, tetapi makin kesini mereka semakin menjadi jadi dan itu membuat aku tidak nyaman sehingga aku pergi dari sana." Devi menjelaskan semuanya kepada Anwar berharap lelaki itu mengerti.


" Kenapa kamu tidak ceritakan semuanya kepada aku Dev, dan kalau pun Raihan tulus terhadap kamu dan Sevi kenapa kamu tidak mempertimbangkannya dulu."


" Tidak An, aku tidak bisa!"

__ADS_1


" Tapi kenapa Dev! apa kurangnya Raihan di bandingkan dia?" Tanya Anwar.


" Raihan cukup sempurna untuk menjadi suami idaman jika aku belum memiliki Sevi, walaupun pada kenyataannya dia juga sangat mencintai Sevi layaknya anak sendiri, tetapi hidup tidak akan berhenti di masa ini saja, Hidup masih terus berlanjut An, dan dalam masa masa lanjutan itu bukan hanya manis kehidupan yang akan aku dan Sevi rasakan, tetapi pahitnya juga. dalam proses itu siapa yang bisa menjamin jika Sevi dan Resty bisa Akur selamanya apa kamu yakin kedua anak itu tidak akan ada perdebatannya! Dalam hidup kita harus realistis An, terkadang Uang seribu dan memecahkan belah hubungan darah apa lagi mereka yang tidak memiliki itu. dan pada saat hal itu terjadi siapa yang akan aku belah? tolong katakan padaku. Jika kamu menyuruhku membelah Sevi apa itu adil untuk Resty begitu pun sebaliknya dan ketika aku tidak membelah siapapun. Aku tetap akan salah di mata Raihan, Sevi dan Resty, kalau hal itu benar terjadi bukan hubungan aku, Raihan dan anak anak ku saja yang renggang tetapi hubunganmu dengan ku bahkan hubungan kamu dan Raihan juga." Jawab Devi panjang kali lebar kali tinggi.


Dalam diamnya Anwar iya membenarkan semua Ucapan Devi, Terlalu sering membantu Devi, membuat lelaki itu lupa jika wanita yang ada di sampingnya itu adalah wanita yang cerdas.


Anwar menatap Devi, iya tersenyum kepada adiknya. " Kenapa? " Tanya Devi dengan kening yang berkerut.


" Tidak, aku hanya sedikit berpikir, apa waktu itu kamu juga berpikir sejauh ini."


" Waktu itu." Devi mengulang kembali kata kata Anwar.


" Ya waktu kamu menerima dia sebagai suami kamu."


" Walaupun pada akhirnya kamu jatuh cinta kepadanya." Timpal Anwar, dan langsung mendapatkan lemparan bantal dari Devi. Anwar dengan sigap menahan bantal itu dan meletakkan di sampingnya " Kemarilah Aku sangat merindukan mu." Lanjut Anwar sambil merentangkan tangannya.


Devi langsung memeluk Anwar, " Aku juga sangat merindukan kamu, terima kasih sudah menjadi kakak yang baik buat aku."


" Berterima kasihlah dengan tidak sakit lagi, karena bukan hanya Aku, Abbah dan Fhiza saja yang khawatir, tetapi Sevi dan Kedua kakaknya juga." Ucapnya sambil mengusap punggung Devi.


" Iya kakakku yang bawel." Obrolan kakak beradik itu terus berlanjut.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...

__ADS_1


Disaat kakak Beradik tengah berbahagia karena baru bertemu kembali saat beberapa bulan tidak bertemu, Semua lelaki justru tengah frustasi karena sudah 3 hari tidak bertemu dengan wanita pujaannya. Lelaki itu adalah Aksel, iya terus datang ke cafe agar bisa berjumpa lagi dengan Devi, tetapi semuanya itu sia sia karena Devi tidak pernah mengunjungi cafenya selama tiga hari ini.


Dalam keadaan Frustasi Aksel tidak habis Akal, iya kembali ke Polsek untuk meminta salah satu temannya untuk membuat surat panggilan kepada Devi atas penganiayaan terhadap Heni dan meminta Anak buahnya untuk mengantar surat itu ke Cafe.


" Andai saja kau tidak menghindari aku, aku yakin kamu adalah orang lain, tetapi kata katamu waktu itu serta caramu menghindariku saat ini membuat aku harus memaksa kamu untuk menemui Aku, Devina Aldira." Gumam Aksel saat melihat nama yang tertera pada surat yang iya berikan kepada bawahannya itu.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Mama Aisya telah menyerahkan Sempel rambut Sevi, Nanda, Putra dan juga Sempel rambutnya kepada Dokter.


Dokter meminta kepada ibu mertuanya Devi, untuk menunggu Hasil dalam waktu satu hari, walaupun pada umumnya waktu tes DNA bisa memakan waktu 1 sampai 2 Minggu, tetapi karena mama Aisya mengatakan ini darurat, membuat Dokter Terpaksa harus berkerja keras agar hasil itu keluar dalam waktu satu hari.


Setelah Urusannya selesai Dengan Sempel Sempel rambut itu! mama Aisya memutuskan untuk pulang ke rumah dan akan kembali lagi besoknya.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2