
Sekali pun terkejut dengan keadaan yang Ada, dan pikiran yang bertanya tanya, sebisa mungkin Devi menyingkirkan semua itu dan mencoba menguasai perasaannya.
Devi berjalan menghampiri Abbahnya. Lelaki paruh bayah yang mengajarkan dia bagaimana caranya menjadi wanita tangguh. Dan dari cinta pertamanya inilah iya belajar bertahan di atas kejamnya dunia.
Devi mencium punggung tangan Abbahnya, tidak peduli kebingungan dari setiap mata yang memandangnya. Devi beralih mencium kedua kaki Abbah " Devi minta Ampun sama Abbah. Terima kasih Abbah sudah mau berjuang untuk Devi." Ucapnya di ikuti Airmata yang mengalir membasahi kedua kaki lelaki paruh bayah yang Devi panggil Abbahnya.
" Abbah yang harus berterima kasih, karena kamu sudah bertahan, setidaknya pengorbanan Abbah untuk kamu tidak sia sia. " Ucap Abbah Sambil mengusap kepala Devi. Abbah meminta Devi berdiri dan duduk di pangkuannya, Devi pun menurut.
" Makasih ya Abbah." Ucap Devi begitu tulus iya kembali memeluk tubuh Abbah dengan begitu eratnya.
" Abbah, Dede bilang juga apa, mommy udah bisa jalan Tan." Suara sikecil Sevi turut menimpal, gadis kecil itu tidak mau kalah dengan sang mommy, Ia naik di pangkuan Devi. Sevi langsung memeluk Abbah dan menghujaninya dengan ciuman di seluruh wajah tua dan keriput itu. " Abbah tenapa nda datang lagi, Dede tangen sama Abbah." Devi tertawa mendengar ocehan Sevi kepada Abbahnya.
" Abbah tinggalin Sevi sendili sama Daddy Esty, papa Ano, bunda juga." Ucapnya lagi, sedikit merengek. Jelas saja apa yang di katakan Sevi benar begitu mommynya sadar mereka seolah lupa dengan Devi, padahal selama Devi koma baik Abbah mau pun Anwar selalu mengunjungi dan mengecek kondisi Devi, Sebulan 2 kali, kalau kondisinya menurun bisa lebih dari empat kali mereka bulak balik.
" Maaf ya kesayangan Abbah." Ucap Abbah Devi. Entah kenapa cucunya itu semakin hari semakin cerewet saja.
" Udah peluk pelukannya, sekarang turun." Devi mencoba melepaskan tangan Sevi yang melingkar di leher Abbahnya. " Abbah itu ayahnya mommy, jadi biarkan mommy kangen dulu." Sambungnya.
" Ndaa mau, Abbah juga Ayahnya Dede." Sevi semakin mengeratkan pelukannya, iya tidak mau mengalah begitu saja dengan mommynya." Iya Tan Abba." Sevi meminta dukungan dari Abbah. membuat lelaki paruh baya itu tertawa, melihat wajah Sevi, Ia begitu gemas dibuatnya.
" Iya sayang."
" Nggak, tuh ayah kamu." Devi menunjuk Aksel, " kalau Abbah ayahnya mommy." lanjutnya.
" Ini juga Abbah nya Dede, iya kan Abbah." Devi tidak begitu saja mengalah dengan mommynya. Abbah pun kembali mengangguk kepalanya.
" Dede sini sama nenek." Ucap mama menyadarkan ibu dan anak itu. Sedari tadi mama Aisya terus memperhatikan cucu dan menantunya, sekalipun Keduanya lupa akan keberadaannya di sini.
__ADS_1
Devi mengeser sedikit tubuh Sevi, sehingga memudahkan ia berdiri untuk menghampiri mama Aisya dan papa Bastian, ia mencium punggung tangan kedua mertuanya itu. Inilah Devi walaupun keras kepala tetapi seorang Devi tidak kehilangaan sopan santunnya.
" Apa kabar Ma, Pa?" Tanya Devi.
" Alhamdulillah papa baik Nak,! Tapi kenapa kamu begitu curang." Ucap papa Bastian begitu Ambigu.
" Maksud papa." Devi Tersenyum menatap papa mertuanya itu. papa Bastian membalas senyum Devi sambil melirik kearah Sevi.
" Oh, maaf Pa! Devi juga tidak tahu kalau dia ada, Sebab yang terlihat hanya Nanda dan Putra. Dia itu bonus buat Devi, bukan hanya bonus tetapi malaikat kecil yang Allah sisipkan untuk memberi semangat hidup baru, ketika tuhan memberikan Devi kesempatan kedua ini." Ucap Devi sedikit bergurau. Apa yang di ucapkan Devi memang benar adanya. Karena tanpa adanya Sevi Devi tidak mungkin bertahan dan berdiri di tengah tengah keluarga besar ini lagi.
" Alhamdulillah! Mama bersyukur bisa jumpa lagi dengan kamu nak." Mama Aisya begitu tulus, wanita paruh baya itu langsung memeluk tubuh Devi. walaupun Selama ini mama Aisya tidak begitu menunjukkan kasih sayangnya kepada Devi, tetapi pada kenyataannya Devilah menantu kesayangannya.
" Devi juga kangen sama mama. Bagaimana kabar mama? Sehat kan?" Tanya Devi Setelah mengurai pelukannya dengan mama Aisya. Mama Aisya mengangguk sebagai jawaban untuk menantunya. " Ini ada apa ma? kenapa semua orang berkumpul disini." Tanya Devi, Sebenarnya Devi ingin bertanya sejak tadi, tetapi karena terlalu bahagia bisa melihat Abbahnya, Devi jadi pula niatnya itu.
" Mama juga tidak tahu Nak? Tanya saja sama suami kamu dia yang ingin kita berkumpul disini." Jawab mama Aisya.
" Aku sudah janjikan sama kamu? Aku ingin semua ini selesai." Jelas Aksel.
" Tapi semua tidak segampang itu, banyak yang kamu belum mengerti dengan situasi yang ada."
" Apa maksud kamu Dev? tolong jangan menganggap bodoh diriku lagi karena Aku cukup mengerti Semuanya Dev." Aksel mengusap pipi Devi, " Percaya sama aku! Semuanya akan baik baik saja." Sambungnya.
Aksel menuntun Devi untuk duduk di samping Abbah, " Sayang ikut Ayah sebentar ya." Pintah Aksel kepada Sevi, Gadis kecilnya itu mengangguk.
Aksel mengantar Sevi kekamar Kila, tak lupa Aksel juga meminta Kila untuk menjemput Nanda dan Putra di sekolah mereka, Setelah itu mereka ke cafe buat bantuin Erik.
Aksel kembali keruang dimana semua anggota keluarganya berada, Ketika beada di tengah tengah mereka Aksel bisa melihat tatapan semua anggota keluarga yang penuh tanya kepadanya, begitu pun dengan Devi.
__ADS_1
" Ada apa ini, kenapa kamu mengumpulkan kita semua disini." Tanya papa Bastian.
" Maaf jika Aks mengangguk waktu, mama, papa dan Abbah." Ucap Aksel menatap silih berganti kepada orang tua serta mertuanya. " Aksel ingin mengembalikan semua kepada tempatnya masing, dimana Devi tetapi menjadi istri aku satu satunya, tanpa ada gangguan dari pihak luar seperti dia." Aksel menunjuk Heni, " Dan Satu lagi, Aksel sudah talak tiga dia, jadi bang Gilang bisa kembalikan dia kekampung halamannya, Karena permainan kalian sudah berakhir."
" Kamu menundu aku ada main dengan Istri muda kamu ini." Bentak Gilang, yang tidak terima begitu saja tuduhan Aksel kepadanya. Disisi lain Anwar dan Devi saling melirik dengan seringai halus mereka.
" Ya mungkin bisa saja." Balas Aksel begitu santai, tetapi berbeda dengan Gilang yang sudah tersulut emosinya.
" Jangan kurang ngajar kamu, Aks." Teriak Gilang " Aku tidak suka kamu menuduhku seperti ini."
"Aku bukan orang bodoh yang berbicara tanpa bukti bang." Aksel mengambil selembar kertas yang tersimpan di saku celananya. " Kalau Abang nggak ada main kenapa sama dia, kenapa DNA bang gila bisa cocok dengan Anaknya Heni, Haaah bisa Abang jelaskan kepada kita semua yang ada di sini." Pinta Aksel sambil menempelkan kertas itu pada dada Gilang.
Semua orang di kaget dengan kenyataan yang baru saja Aksel buka termasuk Nana Istrinya Gilang.
.
.
.
.
Bersambung.
Udah ah ngantuk 😪😪😪
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍
__ADS_1