
Tidak peduli setiap tatapan mata dari Sahabatnya ! sebab yang dia pedulikan, ketiga buah hatinya tidak melihat kekejamannya saat ini.
Heni terduduk di lantai itu, Menatap tajam kearah Devi. Pelajaran yang di berikan seorang Devina tidak membuat Heni menyerah begitu saja.
" Obat pereda rasa nyeri, penghambat pertumbuhan sel kanker dan obat untuk penderita epilepsi." Ucap Devi Sambil menunjuk satu persatu butir obat yang ada di tangannya. " An bisa jelaskan manfaat obat ini."
" Obat itu sedikit membantu penderita kanker otak, obat itu juga memiliki efek samping untuk penggunaannya. Setiap mengkonsumsi obat itu, si penderita akan mengalami halusinasi secara perlahan.."
" Bagaimana jika yang mengkonsumsi obat ini, mereka yang tidak memiliki riwayat penyakit kanker otak! apa akan ada efeknya?" Tanya Devi.
" Kalau hanya sekali tidak akan ada efeknya, tetapi jika sering di konsumsi dengan dosis yang tinggi dapat menyebabkan kegilaan."
Devi mencekam rahang Heni. " Kamu sudah mendengar manfaat obat yang kamu beli untuk aku." Ucap Devi dengan senyum devilnya. " Setahu aku orang yang nggak punya malu itu, orang yang kehilangaan kewarasannya! Karena kamu nggak punya malu dan cuma jadi parasit di keluargaku! bagaimana kalau kamu yang mengkonsumsi obat ini dengan teratur 3 kali sehari.."
" Maaf nyonya Firmasha yang terhormat, aku bukan parasit di keluarga kamu! karena ayah dari anakku adalah bagian dari keluarga yang anda banggakan ini dan saya harap anda tidak lupa, bahwa putriku lahir dalam ikatan pernikahan antara aku dengan suamimu." Ucap Heni menantang Devi.
" Ya ya ya! kamu benar sekali. Kenapa aku bisa lupa ya?"
" Tuuuhh." Heni meludahi wajah Devi. " Karena kamu wanita penyakitan." Tangan Devi langsung melepaskan cengkramannya pada rahang Heni.
Devi mencuci Wajahnya dengan Air mineral pemberian Aksel. " Jangan sentuh dia, cukup lihat saja." Ucap Devi saat Aksel ingin menampar Heni. " Kenapa kamu begitu bangga menjadi perusak hubungan serta kebahagiaan orang lain." Tanya Devi, belum sempat Heni menjawab.
Bhuugg.
Kaki Devi lebih dulu mendarat dengan indah pada tengkuk leher Heni. Heni langsung terjatuh tidak sadarkan diri.
" Devi." Teriak Gilang dan Aksel, sebenarnya bukan Gilang dan Aksel saja yang berteriak, sahabat Devi yang lain pun meneriaki Namanya, bukan karena mereka khawatir kepada Heni tetapi mereka takut Devi akan merugikan diri sendiri dengan membunuh wanita itu.
" Kenapa Kalian berdua tidak suka aku menyakiti Istri dan ibu anak kalian.." Ucap Devi menunjuk Gilang dan Aksel. " Sekarang kalian berdua pilih aku atau dia yang ada di rumah ini."
" Tentu saja aku akan memilih kamu, Istriku." Sahut Aksel. Mana mungkin dia mau melakukan kesalahan yang sama lagi, sudah cukup dia tersiksa Selama tiga tahun terakhir ini.
" Aku tetap akan bertanggung jawab untuk anakku, tetapi tidak dengan wanita ini." Gilang menunjuk Heni.
" Tolong usir dia dari sini, anaknya biar aku yang urus." Ucap Nana.
__ADS_1
" Keputusan yang sangat bagus." Ucap Devi kepada Gilang, Nana dan Aksel, Devi memanggil security dan pelayanan di rumah itu. "Tolong usir wanita ini dari rumah ini sejauh mungkin, kalau perlu sekalian kelaut merah. Jangan sampai aku melihat wajahnya lagi, kalau sampai aku masih ketemu sama dia! kalian yang akan di pecat." tunjuk Devi Kepada Pelayan dan security. Setelah itu ia kembali duduk di tempatnya semula. Acara ulang tahun pun kembali di lanjutkan, Sementara Heni di seret keluar.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Nana, Lee dan Anwar telah kembali ke rumah mereka masing masing, Tinggal Erik seorang yang masih betah bercerita dengan Kila, Entah sejak kapan hubungan keduanya dekat Devi juga tidak tahu.
" Devi." panggil mama Aisya! Devi yang sedang duduk menatap teman dan adik iparnya, berbalik menatap kearah mertuanya.
" Ada apa Ma." Ucap Devi.
" Ini teman papa ingin mengucapkan selamat kepada kamu nak."
Mama Aisya menghampiri Devi di ikuti seorang wanita yang masih terlihat begitu cantik, dari penampilannya Devi yakin wanita itu hanya berbeda satu atau dua tahun darinya, wanita dengan penampilan mencolok layaknya wanita panggilan itu berjalan berlenggak lenggok Sambil merangkul lengan lelaki seumur papa Bastian.
" Sya ternyata menantumu sangat cantik." Ucap Lelaki paruh baya yang bernama Hendro itu.
" Om bisa aja." Sahut Devi Sambil menyalami tangan Om Hendro.
" Kenalin ini Sahabatnya papa dan Istrinya." Ucap Mama Aisya.
" Devi Om, Tante."
" Terima kasih Tante, om! Kanapa repot repot segala." Devi sedikit sungkan dengan pasangan beda usia ini.
Disaat Devi tengah bercengkrama dengan om Hendro dan Istrinya, Erik yang berada di belakangnya tampak gelisah layaknya cacing tanah yang di kasih sprite bercampur Mentos.
" Kak Erik kenapa sih." Ucap Kila, saat Erik menarik lengannya membawa Kila duduk di pangkuan Erik. " Kila Nggak nyaman kak."
" Kila sayang sebentar aja." Seru Erik, ia menyembunyikan wajahnya di balik punggung Kila.
" Tapi kak.."
" Shhhtttt." Erik meletakkan jarinya pada belahan bibir Kila, membuat tumbuh kila semakin panas dingin dibuatnya. " Hadap depan jangan melihat kearahku." Pinta Erik sedikit berbisik, Kila hanya menuruti saja.
Tanpa Erik maupun Kila sadari pasangan beda usia itu telah pergi. " Kalian berdua kenapa." Tanya Devi, mengagetkan Kila dan Erik.
__ADS_1
" Haah apa kak?" Ucap Kila sedikit gugup. Sedangkan Erik hanya mengintip dari balik tubuh Kila, tanpa memindahkan posisi duduk mereka yang begitu intim.
" Nyaman ya?" Pertanyaan yang begitu Ambigu dari seorang kakak untuk Adik iparnya.
" Maksudnya." Kila balik bertanya.
Bukannya menjawab Devi justru memanggil mama Aisya dan papa Bastian. " Ma, Pa! Kila minta di nikahkan dengan Erik nih." Seru Devi membuat Erik dan Kila langsung kalang kabut! kembali ke tempat duduk mereka sebelumnya. " Nggak usah salah tingkah gitu kakak cuma becanda! kalau kalian nyaman silahkan di lanjutkan! tapi ingat jangan sampai Hamidun ya." Setelah menggoda Kila dan Erik Devi meninggalkan mereka berdua, karena anggota keluarga yang lain telah lebih dulu masuk ke dalam rumah.
Devi masuk kedalam kamarnya dan Aksel, Ketiga buah hatinya telah menguasai tempat tidur mereka! mau tidak mau malam ini Devi dan Aksel harus melantai.
" Kamu mau mandi." Tanya Aksel yang baru saja keluar dari kamar mandi.
" Iya! aku gerah banget."
" Ya udah kamu mandi dulu! Aku mau minta bibi siapin kamar untuk mereka."
" Nggak usah Aks, Kita melantai aja."
" Tapi yank! Gimana sama adik aku."
" Adik kamu yang mana." Tanya Devi pura pura bodoh.
" Adik aku yang memproduksi mereka."
" Oh itu, suruh puasa dulu! Nggak seru donk, pas lagi enak enaknya dicabut karena mereka terbangun." Ucap Devi tanpa dosa, tubuhnya telah menghilang di balik pintu kamar mandi.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
Maaf ya aku Upnya 2 hari sekali. Untuk Luna dan Icha nanti aku lanjutkan Setelah Cerita ini tamat. Untuk emak emak yang punya Anak SD Kelas 3 kebawah pasti ngerti gimana ribetnya daring.🙏🙏🙏
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍