
Begitu Anak anaknya pergi, papa Bastian mulai mengutarakan rasa penasarannya atas keputusan mama Aisya pagi tadi.
" Ma! Mama serius dengan ucapan mama subuh tadi?" Tanya papa Bastian.
" Ucapan yang mana pa?"
" Itu loh, soal pernikahan Kila dan temanya Devi."
" Serius lah pa! sejak kapan mama main main dengan keputusan mama di rumah ini."
" Tapi apa mama tidak khawatir, kita nggak tahu seperti apa dia, bagaimana keluarganya! Ma Kila itu anak perempuan kita satu satunya, biar bagaimanapun kita harus melihat bibit bebet bobot lelaki yang akan menjadi pasangannya. Papa Nggak mau akibat kecerobohan mama anak kita jadi menderita lahir batin."
" Ingat jangan pernah menilai sesuatu hanya dari sampulnya saja. Papa ingat dulu waktu mama berencana untuk menikahkan Aksel dengan Devi, papa juga nggak mau bantuin mama! Karena penampilannya. sekarang apa dia jadi menantu kesayangan papa juga kan! jadi jangan meragukan insting mama. Mama yakin Erik orangnya baik dan bisa jagain Kila, buktinya dia bisa jagain Devi selama Devi tinggal di rumahnya."
" Bukan itu masalahnya! papa takut dia itu menyimpang."
" Kalau pun iya! ya nggak papa, siapa tahu dengan mengenal Kila dia bisa lurus lagi, nggak ada yang nggak mungkin pa di dunia ini kalau Tuhan sudah berkehendak.
" Tapi Ma!"
" Papa ingat, keputusan di rumah ini mama yang buat! Kalau papa mau kesejahteraan pusaka papa diam dan ikuti kalau nggak silahkan jajan di luar Tapi ingat mesin penggiling daging mama masih baru loh kali aja papa mau coba di buat cilok rasa Batang." Ucap mama Aisya begitu Akwrd.
" Terserah mama aja! papa ikut mana baiknya."
Inilah sisi lain dari mama Aisya yang tidak di ketahui anak anak dan menantunya! kelicikannya berlaku tidak hanya untuk anak anak dan menantunya saja tetapi suaminya juga! Sisi lainnya akan keluar ketika ia hanya berdua dengan suaminya, Mama Aisya selalu menjunjung kehormatan suaminya di depan anak anaknya maupun khalayak umum.
" Mama, mama! Tolong perut Aku sakit." Teriakkan Umeng samar samar terdengar di telinga pasangan paruh bayah itu. " Mama."
" Pa! itu bukannya suara Umeng ya."
" Iya bener ma! Ayo kita lihat." Mama Aisya langsung bergegas menuju kamar Reza dan Umeng di ikuti papa Bastian.
Beruntung semenjak hamil besar, Umeng dan Reza pindah kamar, mereka menepati salah satu kamar tamu. Agar Umeng tidak naik turun tangan, bisa bahaya kalau terpeleset apalagi sampai terjatuh. Tentu Reza tidak ingin hal buruk menimpa istri dan calon anaknya.
" Kamu kenapa Nak?" Tanya mama Aisya Setelah membuka pintu kamar anak dan menantunya.
" Perut aku sakit ma." Ucap Dede, Setengah berjongkok di samping tempat tidur, tangannya menggenggam erat sisi ranjang! Bulir keringat dingin mulai bercucuran membasahi dahinya.
" Tarik nafas melalui hidung, terus keluarkan melalui mulut, Dede tenang terus lakukan seperti yang mama ajarkan." Ucap mama Aisya Sambil mengusap pinggul menantunya. " Pa, tolong minta supir siapkan mobil, sekalian suruh ina ambil keperluan bayi dan beberapa sarung dan baju gantinya di kamar atas." Mama Aisya dan papa Bastian terlihat begitu tenang, Karena ini bukan pertama kalinya untuk mereka berdua, keempat anaknya lahir normal begitu juga dengan Istrinya Aryan jadi sedikit sedikit mereka sudah paham langkah dan sikap apa yang harus mereka ambil.
" Masih sakit."
__ADS_1
" Udah hilang mah! Sakitnya datang datang, Setiap lima menit Ma."
" Dari kapan sakitnya nak."
" Semalam Ma! tapi nggak sesering ini."
" Astaga Nak, kenapa nggak bilang! kamu masih bisa jalankan."
" Bisa Ma, Maaf ya ma! Dede jadi nggak bilang sama mama! soalnya Dede takut ini cuma kontraksi palsu seperti kemarin kemarin."
" Iya mama juga ngerti ini pengalaman pertama buat kamu." Mama Aisya mulai menuntut Dede keluar kamar setelah salah seorang pelayan memberitahu mobil dan segala keperluan Dede telah siap di mobil.
Sepanjang perjalanan menuju rumah Sakit! Kontraksi yang di rasakan Dede semakin sering! membuat mama Aisya dan papa Bastian yang awalnya tenang kini mulai di selimuti rasa khawatir.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
Setelah dari dokter, Aksel mengajak Devi Ke sebuah Villanya yang terletak di pinggir kota. Perjalanan dari rumah sakit ke villa memakan waktu tiga jam.
" Ini Villa siapa Aks." Tanya Devi, Keduanya Kini telah berada di depan sebuah bangunan yang bergaya Eropa clasik dengan hamparan tanah yang luas di tanami beberapa jenis bunga serta pohon Pinus dan beberapa pohon lainnya.
" Ini salah satu Aset aku dan ada beberapa lagi." Aksel melingkar tangannya pada pinggang Devi. Dagunya ia letakkan pada pundak istrinya. " Kita masih punya banyak waktu untuk mengunjungi Aset aset aku yang lain." Ucap Aksel sambil mencium pipi Devi.
" Mama tahu soal villa kamu ini?" Aksel menggeleng kepalanya.
" Kenapa nggak kasih tahu?"
" Aku nggak kasih tahu mama! karena ada alasannya sayang."
" Apa alasannya."
" Alasannya, Karena Aku nggak mau semua kerja keras Reza, Bang Gilang dan Aryan di pandang sia sia hanya karena apa yang aku miliki saat ini, kamu tahu rasanya di bandingkan tuh nggak enak." Devi memutar tubuhnya, Ia menatap dalam kedua manik suaminya." Kenapa makin cinta." Tanya Aksel. Devi langsung mengangguk.
" Hanya karena Aku memiliki Aset yang lebih dari saudara saudaraku! kamu jadi makin cinta."
" Bukan karena Aset kamu, tapi kepedulian kamulah, yang membuat aku kagum dan makin sayang." Jelasnya sambil memainkan kancing kemeja Aksel.
" Kalau sayang! kenapa cuek dan tidak peduli."
" Aku bukannya tidak peduli, Cuma lagi jaim aja biar nggak kesan ganjen aja dan soal Cuek itu udah bawaan aku."
" Ganjen sama suami sendiri nggak papa! dapat pahala jugakan."
__ADS_1
" Mungkin." Tangan Devi berpindah pada rambut Aksel. " Gendong Yank." Pinta Devi untuk pertama kalinya di embeli dengan kata sayang.
Aksel mengangkat tubuh Istrinya, " Aku mencintaimu, suamiku." Devi mencium kening Aksel.
" Aku juga sangat mencintaimu."
" Aks! Kalau aku dan Sevi siapa yang lebih kalian cintai." Tanya Devi.
" Kalian berdua sangat aku cintai, aku tidak bisa memilih di antara kalian berdua."
" Bohong."
" Demi tuhan aku sayang sama kalian berdua."
" Yakin."
" Iya sayang! yakin seyakin yakinnya."
" Kalau Sevi di Gendong sama suami Tante Tika kamu marah Nggak." 🍀 Tante Rika tetangganya Mama Aisya.
" Nggaklah, malahan aku ucapin makasih udah mau Gendong anak aku."
" Kalau aku yang di Gendong suaminya Tante Rika, kamu marah?"
" Ya marahlah, kamu kan istri aku.."
" Tuh kan kamu lebih sayang sama Sevi dari pada aku."
" Haaahh." Aksel langsung melongo mendengar ucapan Devi. Kalau Rasa sayang di ukur dari sini! Aksel Nggak papa di bilang nggak sayang dari pada istrinya di gendong orang lain.
" Bhaahhahhhah." Tawa Devi langsung pecah melihat wajah kebingungan suaminya.
.
.
.
.
Bersambung.
__ADS_1
🍀 Tinggalkan jejak kalau kalian suka 👍