Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 53


__ADS_3

Pagi harinya setelah selesai sholat Devi berjalan menuruni tangga, ia ingin membuat sarapan seperti kemarin.


" ASTAGA APA YANG KALIAN LAKUKAN." Teriak Devi begitu heboh, saat berada di anak tangga terakhir, beberapa pelayan yang mendengar suara teriak Devi langsung menghampirinya.


" Ada apa mbak." Tanya bi Ina, mewakili perasaan cemas Pelayan yang lain.


" Bangunkan mama dan papa." Pintanya tanpa menjawab pertanyaan Ina. Devi Tersenyum smirik, ia tidak sabar untuk melihat wajah tegang Erik.


Dengan wajah kebingungan, Ina pergi ke kamar mama Aisya dan papa Bastian. Sedangkan Devi masih berdiri ditempatnya, mengawasi Kila dan Erik yang terlelap sambil berpegangan tangan, bibirnya tersenyum simpul.


Tak berselang lama Mama Aisya pun datang di ikuti papa Bastian. " Ada apa nak." tanya mama Aisya kepada Devi yang sedang berdiri sambil melihat tangannya di dada.


" Maaf Ma, Pa! Devi ganggu ya." Devi merasa tidak enak dengan kedua orangtuanya.


" Tidak ko sayang! Tapi ada apa kamu panggil mama Sama papa sepagi ini." Tanya mama Aisya, kedua pasangan paruh baya itu belum menyadari situasi sekitar mereka.


" Maaf ya Ma! Devi cuma mau nunjukin itu." Jawab Devi cengengesan, Ia menunjuk ke arah Kila dan Erik yang tertidur di sofa yang sama Sambil berpegangan tangan layaknya lansia yang ingin menyeberang.


" Astaghfirullah, Kila." Mama Aisya menarik tubuh Kila, Membuat kedua sejoli yang Vivia tidak tahu apa hubungan mereka langsung terbangun dari tidur mereka yang nyaman. " Apa yang kalian lakukan?"


" Ma, mama! Pa ini tidak seperti yang kalian pikirkan." Ucap Kila saat kesadaran mulai kembali seutuhnya.


" Maaf om Tante! Aku bisa jelasin." Sahut Erik.


" Ya Allah Erik! Aku nggak nyangka kamu manfaatin keluguan adikku." Entah sengaja atau tidak, kata kata Devi semakin memperkeruh suasana.


" Devi please jangan ngomong seperti itu! ini bukan waktunya bercanda. Kata kata kamu barusan seakan mendorong aku kedalam jurang." Protes Erik. Meskipun Ucapan Devi hanya candaan tetapi demi raja Neptunus Erik sedang tidak berada di situasi bercanda saat ini.

__ADS_1


" Mama nggak mau dengar apapun alasan kalian berdua! apa yang kalian berdua lakukan membuat mama malu." Ucap mama Aisya, " Selama ini mama khawatir sama kakakmu! mama takut mereka akan mempermalukan mama tetapi mama salah justru kamu yang melempar kotoran kewajah mama." Mama Aisya menangis sambil menunjuk Kila.


" Demi tuhan Ma! Kila nggak melakukan apapun dengan ka Erik, Semalam kita berdua cuma ngobrol aja! tahu tahunya kita ketiduran ma, mama percayakan sama Kila." Kila berusaha menjelaskan kesalahan paham yang terjadi, bersujud dibawah kaki mama Aisya.


" Benar Tante, aku sama Kila tidak melakukan apapun! Seburuk buruknya aku, aku sangat menghargai seorang wanita! aku nggak mungkin melakukan sesuatu yang dapat merugikan kita berdua." Erik pun turut menjelaskan.


" Alah alasan! katanya menghargai wanita tetapi nyatanya apa! nyelam sambil minum air juga kan." Andai saja pada saat ini Erik tidak dalam situasi tertekan pasti rambut Devi sudah habis ia cabuti.


" Papa menjodohkan kamu agar kamu tidak terjerumus ke hal hal seperti ini, tapi apa! kamu malah menyalahkan papa. Kali ini papa Bastian yang bersuara. " Kalau ada Lelaki yang kamu cintai, harusnya kamu ngomong sama papa! papa tidak masalah mau laki laki itu jelek miskin atau apapun itu! Selama kalian seiman dan kamu bahagia! papa pasti akan nikah kalian." Tegas papa Bastian.


" kamu sudah dengar yang di katakan papa! Tanya mama Aisya dia angguki Kila. " Sekarang juga kamu nikahi putri Tante, Tante nggak mau dengar penolakan dari Kila maupun kamu." Setelah mengatakan itu mama Aisya langsung berlalu meninggalkan mereka.


Ucap mama Aisya membuat Kila terkejut bahkan bukan hanya Kila Seorang Devi pun sama terkejutnya! ia tidak menyangka niatnya untuk bercanda berakhir serius seperti ini. Erik terduduk di lantai, ia menekuk lututnya menandakan dia yang begitu Frustasi dengan keputusan mama mertua dari Sahabatnya yang mungkin akan merangkap menjadi mama mertuanya.


Mungkin untuk lelaki lain di luar sana mereka akan bersyukur menjadi bagian dari keluarga ini, tetapi Erik berbeda! ia telah lama menyimpang. Tentu saja ini sangat berat buat Erik dan untuk sembuh dari masalahnya itu tidak mudah dan butuh waktu juga.


Devi menghampiri Erik. " Erik Maaf! Aku tidak tahu akan seperti ini jadinya." Ucap Devi penuh penyesalan. " Kamu jangan khawatir aku akan coba bicara sama mama." Ucap Devi lagi.


" Percuma saja." Ucap Nana, entah sejak kapan dia berada diantara mereka. " Apa kamu lupa? Kamu saja tidak bisa membatalkan pernikahan kamu saat itu! Kenapa kamu begitu percaya diri mama akan menurut dan menarik ucapannya. Ingatlah Mak! ucap mama adalah mutlak, itu peraturan yang berlaku dirumah ini, dulu maupun sekarang." Jelas Nana panjang Kali lebar Membuat tubuh Devi lemas.


" Erik." Panggil Devi. Erik tidak menjawab, ia terus menarik nafas dalam dala lalu menghembuskannya, terus seperti itu seolah pasokan oksigen diruangan itu akan habis saat itu juga.


" Erik." Panggil Devi lagi.


" Ra, Aku mohon jangan ganggu aku! biarkan aku berpikir." Ucap Erik.


" Maaf."

__ADS_1


" Apa dengan minta maaf! mertua kamu bisa menarik kata katanya? tidak kan." Erik berdiri, ia berjalan melewati Devi dan Kila.


" Tapi semua ini terjadi karena aku." Ucap Devi, ia menahan lengan Erik." Mau kemana?" Tanyanya.


" Mau pulanglah! Apalagi?" Jawab Erik, " Tolong jangan salahkan diri kalian, mungkin ini sudah jalan yang Tuhan berikan untuk aku kembali berjalan pada jalan yang semestinya aku lewati."


" Tapi tetap saja, ini akan berat untuk kamu."


" Mau bagaimana lagi, aku tidak punya jalan dan pilihan disini."


" Itu yang dinamakan lelaki, saat ada masalah berani menghadapi bersama sama! bukan lari dan menghadapinya seorang diri." Ucap Nana, mengandung sindiran untuk Devi. " Kamu sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarga ini, sebaiknya sarapan dulu baru pulang." Pinta Nana. sebelum meninggalkan mereka, untuk mengurus anaknya.


" Ka Erik Maafkan Kila! Andai saja Kila tidak menahan kakak untuk bercerita pasti semua ini tidak akan terjadi.


" Sudahlah lupakan."


" Rik, sebaiknya kamu bersihkan dulu diri kamu di kamar tamu! biar seger! Nanti kita akan coba bicara sama mama, semoga mama mau ngerti." Ucap Devi tetapi tidak di tanggapi Erik. " Kila Antar ka Erik kekamar tamu ya! nanti biar ka Devi cariin baju dan celana ka Aksel buat dia. Devi kembali kekamarnya begitu tubuh Kila dan Erik telah berlalu dari hadapannya.


Baju kaos berwarna abu abu dengan celana pendek berwarna coklat muda menjadi pilihan Devi untuk Sahabatnya itu.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2