
Kamu terlambat memberi tahu aku Ray, Maaf karena aku sudah sejak lama mencintai kamu! Semoga dengan menjadi istri kamu Tuhan bisa melembutkan hatimu untuk menerima aku. Nadia.
Setelah kembali dari Apertemen Ray, Nadia tampak termenung! Keraguan serta rasa takut mulai menyelimuti hatinya. Ragu aku hubungannya dengan Ray, takut jika keputusan yang iya ambil salah. " Apa aku batalin aja ya? berarti Selamanya aku hanya bisa menganggumi Ray aja? Nggak ini kesempatan aku! aku yakin suatu saat Ray akan mencintai aku!" Bagaikan dua sisi dari Nadia yang tengah berdebat di kepalanya.
" Ayo tidur Nadia semuanya akan baik baik saja." Nadia bermonolog sendiri, Ia merebahkan tubuhnya di kasur, menarik selimut untuk menutupi sebagian tubuhnya. Perlahan matanya pun mulai terpejam menyambut mimpinya.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
Pagi hari Ray terbangun seperti biasanya, ia mulai menyiapkan sarapan untuk kedua anaknya Sebelum membangunkan mereka untuk mandi setelah itu sarapan bersama.
Selesai dengan sarapan mereka, Ray pamit kepada kedua anaknya itu, ia kembali meninggalkan Randy dan Resty di apartemen bersama seorang wanita paruh baya yang iya sewah untuk membersihkan Apertemennya.
Hari ini Ray ingin ke cafe, iya berharap Bisa bertemu dengan Devi disana, di saat dia tengah mengendarai mobilnya Ray mulai Ingat dengan kesepakatannya bersama Nadia semalam.
" Apa Devi akan cemburu jika dia tahu aku meminta Nadia menjadi ibu sambung untuk Randy dan Resty?" Mobil Ray mulai menepi di jalan yang sedikit sepi. " Aku harus membuktikan apa yang di katakan Anwar kemarin, jika Devi cemburu berarti aku punya peluang untuk mendapatkannya! Jika tidak berarti apa yang di katakan Anwar benar! kalau Devi tidak mudah berpaling." Ray Terus berbicara sendiri layaknya orang yang kehilangan kewarasannya.
" Sebaiknya Aku telpon Devi, untuk memastikan dia ke cafe atau tidak." Gumam Rayhan, iya mulai mengeluarkan benda pipi yang ada di sakunya.
Tut... Tut.. Tut..
" Assalamualaikum Ray." Ucap Devi dari seberang telepon itu, membuat bibir Ray melengkung sempurna.
" Waalaikumsalam Ra, Gimana kabar kamu."
" Alhamdulillah aku baik Ray, Resty sama Randy gimana?"
" Mereka juga baik Ra, Kamu hari ini sibuk Nggak?"
" Nggak Tuh Ray! emangnya ada apa Ray?"
" Apa ya! Kasih tahu nggak ya?" Terlalu bahagia, membuat Ray berbicara sedikit Ambigu.
" Ray malu donk sama umur! kaya ABG labil yang lagi kasmaran aja."
'Aku mungkin bukan ABG tetapi setiap dekat dengan kamu, aku selalu melupakan umurku.' Tentu saja kata kata itu hanya ada dalam hatinya.
" Iya deh! Yang udah jadi ibu ibu susahnya di becandain. Tapi ngomong ngomong hari ini kamu ke cafekan?"
" Iya nih udah di jalan menuju cafe."
" Ya udah, entar siang aku ke cafe ya! aku punya kejutan buat kamu, Aku harap kamu mau menerimanya."
" Kejutan apa Ray?"
__ADS_1
" Jangan terlalu bawel dan banyak tanya! lagian kalau aku kasih tau kamu, itu bukan kejutan lagi Ra. Udah ya Ra Assalamualaikum."
" Waalaikumsalam." Panggilan itu pun berakhir.
Ray segera melajukan mobilnya menuju rumah Erik. Begitu sampai di rumah Erik, Nadia tampak akan keluar rumah bersama Erik.
" Mau kemana?" Tanya Ray kepada Nadia.
" Kecafe, mau ngecek bahan bahan yang masuk hari ini." Jawab Nadia.
" Bisa temani aku nggak?"
" Mau kemana?"
" Beli cincin."
" Pergi aja mbak, nanti biar aku yang bantuin Devi di cafe." Ucap Erik menyelah, Ia berada tak jauh dari tempat keduanya.
" Kamu yakin." Tanya Nadia kepada Erik.
" Iya mbak, seratus persen yakni, sebaiknya kalian pergi deh! siapa tahu dengan begitu kalian berjodoh."
" Apaan sih Rik! nggak lucu tahu nggak."
" Siapa juga yang lagi ngelawak mbak! Lagian janda dan duda itu di ciptakan untuk bersama! kalian aja yang nggak sadar." Seperti biasa mulut seorang Erik mampu membuat suasana menjadi cair, sekaligus tegangan, seperti sekarang ini.
" Nggak di pulangin juga nggak papa ko! kan belum ada tuannya." Nadia hanya mampu mengeleng kepalanya, iya tau lidah memang tidak bertulang tetapi lidah lelaki yang satu ini sungguh sangat terlalu.
Setelah berpamitan, mobil Erik berlalu menuju cafe, sedangkan Ray dan Nadia menuju sebuah mall untuk membeli cincin.
Karena jalan yang kebetulan bebas dari macet itu, cukup setengah jam untuk Nadia dan Ray sampai di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di ibukota. Ray dan Nadia langsung menuju toko perhiasan. Cukup lama mereka melihat lihat akhir Pilihan Ray jatuh kepada sebuah cincin yang terbuat dari emas putih Dan berlian diatasnya. Iya juga membeli satu set perhiasan.
" Itu." Tanya Nadia! Ia menunjuk paper bag yang ada di tangan Ray.
" Buat Devi."
" Haah." Nadia sedikit terkejut.
" Jangan terkejut seperti itu, biasakan diri mu! bukannya kamu sudah tahu kemana hati ku berlabuh."
Mendengar ucapan Ray membuat hati Nadia sedikit sakit, tetapi dia tidak marah kepada Ray ataupun benci kepada Devi, sebab dari awal dia sudah tahu semuanya tetapi dia tetap melangkah masuk kedalam hidupnya Ray. Tidak bermaksud munafik di depan Ray, Nadia hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik baik saja dan dia sudah siap dengan segala konsekuensinya termasuk sakit hati yang akan iya dapatkan di kemudian hari.
" Pakai cincinnya dan tunjukkan kepada Devi kalau kamu bahagia karena aku melamarmu." Ucap Ray begitu mereka berada di dalam mobil. Nadia mengangguk tanda ia mengerti dengan apa yang di katakan Ray.
__ADS_1
" Bagus." Ucap Ray, iya mulai melajukan mobilnya menuju cafe Devi.
...🍀🍀🍀🍀🍀...
Tapat pukul 11 Nadia dan Ray masuk keruang Devi, diikuti Erik. Devi menghentikan aktivitasnya dan menatap mereka secara bergantian. Dari sorotan matanya seolah bertanya " Ada apa?"
Ray hanya diam, sedangkan Nadia memberi kode dengan menunjuk cincin di jari tangannya. Devi yang tidak mengerti maksud Nadia semakin di buat binggung.
" Maksud Nadia, dia baru saja di lamar, wajar si kamu tidak mengerti! Karena Aku yakin suami kamu pasti belum pernah melamar kamu di depan banyak orang kan." Ucap Erik sedikit sewot." Maaf! Anwar sudah menceritakan kepada kita." Lanjutnya lagi.
" Terus aku harus apa? Mengemis untuk di lamar di depan umum gitu?" sahut Devi. tak kalah Sewotnya dengan Erik.
Erik keluar dari ruangan Devi, ia tidak ingin merusak kebahagiaan Nadia dengan perdebatannya dan Devi.
Nadia menarik Nafas panjang begitu Erik keluar dari ruangan itu. Ia berjalan menghampiri Devi membisikkan sesuatu di telinga temannya itu. " Ray melamar aku."
" Serius." Tanya Devi begitu antusias. Nadia mengangguk.
" Kamu tidak marah kan?" Tanya Nadia lagi.
" Untuk apa aku marah, aku justru bahagia untuk kalian berdua."
" Terima kasih ya Ra."
" Sama sama! tapi kamu bahagiakan?"
" Iya donk! Aku bahagia. kebahagiaan aku bertambah melihat kamu sebahagia ini." Ucap Nadia, Ia memeluk tubuh Devi.
" Ray jangan bilang ini kejutannya." Tanya Devi kepada Ray tanpa melepaskan pelukannya dengan Nadia.
" Ya."
" Kejutan yang luar biasa Ray."
" sebahagia itukah dirimu melihat aku bersanding dengan orang lain! apa tidak ada sedikit saja rasa di hati kamu untuk aku Ra?" Tanpa Nadia dan Devi sadari butiran bening lolos dari sudut mata Ray.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍