
Kila berjalan keluar dari kamar Aksel Setelah melihat kakaknya tertidur bersama putra putrinya, Wajah kakaknya itu terlihat begitu Lelah entah apa yang di pikirannya, padahal kakaknya itu tidak mau menjalankan tanggung jawab yang di berikan papa Bastian sebagai pemimpin perusahaan firma groub.
Semenjak kepergian Devi, Aksel melepas semua tanggung jawabnya dan memberikan tanggung jawab itu kepada Reza, Gilang dan Aryan, walaupun papa Bastian dan mama Aisya menolaknya, tetapi tekat Aksel sudah bulat! dia hanya Akan fokus kepada 1 pekerjaan saja. Kurangnya komunikasi satu sama lain dan terlalu sibuk serta tidak jujur membuatnya kehilangan cintanya. Nasi sudah menjadi bubur, bukan berarti tidak bisa di makan kan? Untuk menebus rasa bersalahnya iya selalu mengutamakan kedua jagoannya, sekali pun mereka tinggal di rumah nenek mereka.
Tidur Aksel terusik ketika ada yang menggoyang tubuhnya. " Ayah bangun." suara itu samar samar terdengar ditelinga Aksel.
" hhmmm." Aksel hanya melenguh tanpa membuka matanya.
" Ya udah kalau Ayah, ndaa mau bangun, Dede mau pulang aja! bial Aunty Tila yang Antelin." Sevi beranjak turun dari tubuh Ayahnya.
" Haaap, mau kemana?" Aksel mengangkat tubuh putrinya itu kemudian menggelitik perutnya, membuat Sevi tertawa.
Aksel menghentikan Aksinya ketika melihat putrinya itu mulai kelelahan karena tertawa, " Kamu sama seperti mommy sayang, nggak sabaran." serunya sambil menoel hidung Sevi.
" Kamu kenapa nggak main sama kakak Nanda dan kakak putra?" Tanya Aksel, iya duduk sambil memangku Sevi.
" Ndaa, Dede tatut, talau Dede di dolong lagi gimana?" Jawab Sevi, iya melingkarkan tangan pada leher Aksel, " Ayo tita pulang aja telumah ayah." Pintanya.
" Baiklah, Sekarang kita mandi dulu baru kita pulang, Oke?"
" Ndaa."
" Kenapa?"
" Dede ndaa ada baju Ayah! Dede ndaa suta patai baju Olang!" Jelasnya membuat Aksel sadar dia hanya membawa Sevi tetapi tidak membawa baju gantinya.
" Ayah lupa! Ya udah kita pulang Aja kerumah Ayah nanti kita singgah beli baju buat Dede ya!"
" Ndaa, tata mommy baju yang balu di beli halus di cuci dulu."
" Terus Ayah harus gimana sayang." Aksel mulai di buat bingung dengan Aturan yang di terapkan Devi buat putrinya, tetapi herannya anak sekecil Sevi begitu hafal betul dengan semua aturan mommy nya.
" Telepon mommy, Suluh bawah baju Dede kelumah ayah."
" Ide bagus, kamu memang pintar sayang." Aksel mencium pipi putrinya itu, setelah itu iya mengambil ponselnya. baru beberapa detik menatap layar ponsel itu, tubuh Aksel langsung lemas ketika mengingat dia tidak mempunyai nomor Devi. " Ayah Nggak punya nomor mommy kamu sayang." Ucapnya penuh penyesalan.
Anwar mengizinkan Sevi untuk ikut dengannya selama 2 hari saja, tetapi belum sehari dia harus mengembalikan Sevi hanya karena tidak membawa bajunya.
" Ya udah Dede pulang Aja." Ucap gadis kecil itu sambil melipat tangannya di dada.
"Ceklek." suara pintu yang terbuka.
" Papa." Teriak kedua anak laki laki itu, mereka berlari ke arah ranjang dimana Sevi dan Aksel duduk.
__ADS_1
" Kakak kenapa? koh nggak semangat gitu?" Tanya Kila yang berada di belakang 2 keponakannya itu.
" Dede mau pulang Aunty! Dede ndaa jadi tidul di lumah Ayah." Jelas Sevi dengan wajah cemberutnya.
" Loh, kenapa? Bukannya papa Ano Udah izinin Sevi bobo sama Ayah?" Kila mengusap kepala Sevi.
" Iya Aunty, tapi Ayah ndaa bawa baju Sevi."
" Kan Tinggal di beli sama ayah."
Sevi mengeleng kepalanya! membuat Kila mengerutkan Keningnya. " Halus cuci dulu."
" Ya udah telpon aja mommy, suruh bawah ke rumah ayah."
" Tapi kita nggak punya nomor Devi." sahut Aksel.
" Kila punya nomor ka Devi." Mendengar itu Sevi langsung bersorak gembira. Kila pun memberikan nomor ponsel Devi kepada Aksel.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Untuk pertama kalinya Devi Nonton dan ke mall, setelah Devi kembali ke negara asalnya ini, Selama Sebulan disini dia Jarang sekali keluar rumah, kalaupun iya keluar pasti hanya ke cafe Setelah itu balik lagi ke rumah! oh iya satu lagi dia pernah ke kantor polisi.
Erik membawah mereka ke klinik kecantikan untuk melakukan perawatan lengkap yang tersedia di mall tempat mereka berada saat ini.
Draaarrrtt Draaarrrtt
Ponsel yang Devi letakkan di atas meja, bergetar menandakan Ada panggilan masuk di ponsel itu, Devi melihat layar ponselnya sebuah no yang tidak di kenal membuat Devi mengabaikan panggilan itu.
Ponsel itu terus bergetar berulang ulang tetapi Devi masih enggan untuk menjawabnya, " Angkat dulu Ra, siapa tahu penting." Usul Nadia tetapi Devi tetap mengabaikannya.
" Ayolah Ra di Angkat, kalau nggak Aku yang Angkat nih! kamu nggak lihat, mata semua pengunjung restoran ini melihat kita karena dering ponsel kamu." Sahut Erik, Devi pun melihat kesekitarnya, benar saja semua orang kini tengah menatap mereka.
Assalamualaikum, Ucap Devi tetapi tidak mendapatkan jawaban dari sih penelpon membuat Devi menatap secara bergantian Erik dan Nadia. " Siapa." Tanya Erik tanpa mengeluarkan suara. Devi menjawab dengan menaikan bahunya, bahwa dia tidak tahu.
" Hallo, Hallo." Ucap Devi lagi, tetapi sih penelpon masih Asyik membisa, " Maaf kalau anda tidak punya pekerjaan jangan menganggu saya."
" Tut."
Devi langsung mematikan sambungan teleponnya, dan kembali meletakkan ponselnya di tempat yang sama, Belum cukup satu menit ponselnya kembali berdering.
" Siapa sih nggak punya kerjaan banget." Ucapnya, iya kembali mengambil ponselnya, menjawab sambung telpon itu.
" Kamu Sebenarnya siapa sih haah! kalau nggak punya kerjaan jangan ganggu aku!" Bentak Devi tidak peduli semua mata yang melihat ke arahnya.
__ADS_1
" Ini Aku." Jawab Aksel Sedikit menjauh ponsel dari telinganya.
" Aks?"
"Ya."
" Ada apa?"
" Bisa bawa baju gantinya Sevi, Aku tidak sempat mengambilnya tadi."
" ngeropetin Aja!"
" Maaf ya! kalau Aku ngeropetin kamu."
" Iya! nggak aku maafin ko."
" haaah, Dev ini masih kamukan?"
" Bukan! Udah Nanti Aku minta Erik anterin ke tempat kamu, kirim Aja alamatnya."
" Dev, bisa kamu sendiri yang Anterin! Kamu bukan cuma punya Sevi Aja, kamu juga punya Nanda dan Putra! mereka berdua disini juga sangat merindukan kamu!"
" Iya iya aku kesitu, nggak usah banyak ngomong! Assalamualaikum." Devi langsung mematikan sambungan teleponnya.
Setelah itu iya mengecek kembali nomor yang menghubungkannya, dan ternyata nonya berbeda.
" Suami kamu Ra?" Tanya Erik.
" Bukan Ayahnya Sevi." Jawab Devi, iya kembali menyimpan ponselnya di tasnya, setelah di silent.
" Sama aja oon." Erik melempar Devi dengan selembar tisu yang sudah iya remas remas.
.
.
.
.
Bersambung.
Makasih buat kalian semua yang masih setia dengan cerita Devi.🙏🙏🙏🙏
__ADS_1
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍