Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 17


__ADS_3

Mendapatkan surat panggilan dari kepolisian tidak membuat seorang Devi Gentar sedikit, Iya justru menertawai kebiasaan suaminya, " Kamu masih sama Aks, pemaksa!" Gumam Devi saat menerima sebuah surat dari Erik.


" Kamu sih, terlalu bar bar, Akhirnya di laporkan kan!" Seru Erik sembil meneguk air Putih pemberian Nadia.


" Aku bahkan bisa lebih bar bar dari itu jika menyangkut Seviku." Ucap Devi tanpa rasa takut sedikitpun, membuat Nadia dan Erik saling memandang dan menggeleng kepala mereka.


" Apa kamu tidak takut kepada mereka? Bagaimana jika kamu sampai di penjara!" Tanya Nadia.


" Benar tuh Nad, apa wanita berotak separuh ini tidak memikirkan nasib keponakanku yang cantik dan imut Itu." Timpal Erik lagi.


" Kan Ada kalian, ada Anwar juga! Aku yakin Sevi tidak akan sendirian dan kekurangan kasih sayang Selama aku di penjara." Ucapan seenaknya itu kembali keluar dari bibir Devi, dan Hal itu


membuat Erik geram, Iya langsung memeluk pundak Devi.


" Aaauuhhh."Jerit Devi tetapi Erik tidak menunjukkan rasa peduli sedikitpun kepada ibu muda itu.


" Kamu benar benar tidak bisa mengunakan otak kamu dengan baik." Erik menunjuk nunjuk kening Devi yang tengah mengusap pundak bekas tangan Erik " Hai asal kamu tahu ya, sebaik baiknya seorang anak tumbuh dengan kasih sayang orang lain, Akan jauh lebih baik jika iya tumbuh dengan kasih sayang orang tuanya sendiri, Camkan itu di otak separuh mu ini." Erik terus menunjuk kening Devi.


Devi menyingkirkan telunjuk Erik Dengan telunjuknya, " Eh mahluk abstrak, kamu ngomong seakan akan, besok aku bakalan di penjara! Lagi asal kamu tahu dia itu nggak berani penjarahin Aku! kalau pun dia penjarakan Aku pasti bukan di sel tahanan tetapi di kamarnya." Goda Devi sambil menoel pipi Erik.


" Najis lu ah." Erik langsung menyingkirkan tangan Devi.


" Di saat serius begini kalian berdua masih saja becanda! Tahu nggak Kalian berdua itu buat aku pusing Dengan tingkah kalian, yang sok tahu dan sok kecetilan itu." Nadia menunjuk Erik dan Devi secara bergantian, " Lebih baik Kalian istirahat biar otak kalian bisa bekerja dengan benar lagi." Nadia langsung meninggalkan kedua temannya itu, iya masuk kedalam kamarnya.


Beruntung malam ini Sevi nginap di rumah Anwar jadi dia tidak sering sering mendengar perdebatan tak bermanfaat dari mommy dan Aunty jadi jadiannya itu.


" Mbak Nadia kenapa?" Tanya Devi saat Nadia sudah tidak berada di hadapan mereka.


" Nggak tahu, PMS kali." Jawab Erik, iya pun masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


" mungkin."


Setelah kepergian Nadia dan Erik Devi duduk di sofa, Iya nampak berpikir, " Aku tidak tahu apa yang sedang kamu rencanakan, tetapi aku berharap itu semua tidak akan merugikan kita bedua." Ucap Devi pada diri sendiri sambil mebulak balik kertas di tangannya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Pagi itu Sang Surya kembali menjalankan tugas untuk memberikan kehangatan kepada seluruh mahluk yang ada di bumi. Devi yang baru Selesai berolahraga bersama Erik dan Nadia kini tengah bersiap siap untuk mengunjungi cafenya.


Disisi lain, rumah keluarga besar Firmasha, kini Anggota keluarga tengah berkumpul di meja makan, Mama Aisya sedang mengobrol bersama Anak menantu dan cucu cucunya. " Mama Akan berusaha Agar kursi itu kembali di duduki pemiliknya." Ucap mama Aisya melihat Kursi yang telah lama di tinggal Devi.


Kila menepuk meja makan itu, iya berdiri menantang mama Aisya, " Jangan bilang mama Akan menyuruh Heni untuk menepati kursinya ka Devi, Dengar ya ma, sampai kapan pun Kila tidak akan ridho kalau tempat ka Devi di ganti." Kila mulai melayangkan protesnya.


" Kila Duduk." Bentak Gilang. tetapi Kila tidak menghiraukan ucapan Gilang sedikit pun.


" Kila sayang , tenang ya dengarkan kata kata mama dulu." Mama Aisya mencoba menenangkan Kila yang salah menafsirkan kata katanya barusan, " Tidak ada yang akan Menganti posisi kakakmu di rumah ini, bahkan wanita itu pun tidak cukup pantas untuk di bandingkan dengan menantu mama."


" Syukur lah Kalau mama berpikir begitu." Ucap Kila iya kembali duduk pada tempatnya.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Siang hari tepat jam 11 Devi didampingi Erik untuk memenuhi panggilan polisi, mereka hanya berdua, padahal Anwar sudah menawarkan pengacara handal untuk membelahnya, tetapi Devi menolak, Alasan Devi memilih Erik untuk mendampinginya karena dia tidak Ingin terlihat sebagai orang lain.


Devi Kini telah Berada di hadapan Aksel dan salah seorang Anggota Polisi yang Devi tidak kenal siapa dia, tetapi Name Tag nya Tertulis M, Saiful.


Lelaki itu menjalankan prosedur penyidikan sebagaimana mestinya, memberikan Devi Berbagai macam pertanyaan dan hasilnya di rangkum Dalam BAP ( Berita Acara pemeriksaan), Saat lelaki itu meminta Devi untuk menandatangani BAP itu, Aksel langsung menarik Berkas itu dan meminta Bawahnya itu keluar bersama Erik walaupun Erik dengan keras menolaknya, iya akhir nya menurut hanya karena Anggukan Devi.


Untuk sesaat ruangan itu hening Sebelum Devi membuka suaranya, " Kenapa pak?" Tanya Devi yang mulai tidak tahan Dengan tatapan Aksel.


" Tidak ada."

__ADS_1


" Kalau tidak ada, berikan berkas itu saya ingin menandatanganinya dan segera keluar dari ruangan ini." Ucap Devi semakin tidak nyaman berhadapan dengan Aksel.


" Kalau saya tidak mau memberikan Berkas ini, apa yang akan kamu lakukan?" Tanya Aksel sambil mengetuk ngetuk jarinya di atas berkas yang ada di atas meja itu.


" Maaf ya Bapak polisi yang terhormat, saya dari tadi sudah berkerja sama dengan baik, bahkan saya su berusaha sopan Dengan Bapak, tetapi bapak seakan akan sedang mempermainkan saya." Devi membentak Aksel dan mengebrak meja kerjanya. Tetapi Aksel hanya tersenyum, dia merasa menang karena bisa mengeluarkan sisi Devi yang sebenarnya.


" Saya sudah memenuhi panggilan polisi atas kasus penganiayaan Istri Anda, jadi saya Harap Anda Dapat berkerja dengan profesional." Walaupun kesal Devi tetap berbicara formal.


" Istri? Kenapa kamu berpikir kalau dia adalah istri saya, padahal waktu itu saya dan dia duduk di meja yang berbeda?" Aksel berdiri, iya berjalan menghampiri tempat duduk Devi mengusap rambut Devi, membuat Devi Terkejut dan langsung menepis tangan Aksel.


" Anda jangan kurang ngajar ya, Anda pikir saya buta dari cara anda membelahnya waktu itu cukup membuktikan kalau dia istri anda." Ucap Devi tanpa dia sadari perkataannya itu menunjukkan dia yang membutuhkan penjelasan Aksel, kenapa Aksel membela Heni waktu itu.


" Aku tidak membelahnya, aku hanya tidak ingin wanita yang kucintai menjadi seorang pembunuh, apa lagi dia ibu dari Anak anakku."


" Aku tidak mengenal siapa kamu, jangan bersikap seolah aku begitu berarti untukmu." Tangan Devi meraih tasnya dan memukuli Aksel dengan tas itu, setelah puas Dengan itu Devi mendorong Aksel, iya langsung bergegas keluar ruangan itu.


Aksel tidak marah sedikit pun, dia hanya tersenyum menatap punggung Devi yang telah menghilangkan di balik pintu ruangannya, " Terlalu lama membiarkan Kucingku berkeliaran di luar membuatmu kembali liar bagaimana macan."


.


.


.


.


Bersambung.


Selamat Hari Emak, buat emak emak sejagat NT 🤗🤗🤗🤗

__ADS_1


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2