Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 7


__ADS_3

Di Rumah Rayhan semua pelayan begitu khawatir dengan Resty, sebab sedari pulang sekolah Resty terus menangis meraung raung mencari keberadaan Devi.


Para Pelayan secara terus berganti membujuknya tetapi tidak ada yang mampu membuat gadis kecil itu tenang Mala semakin menjadi tangisnya.


" Aku mau mom, aku mau Dede Sevi, mana mom dan Dede aku?" Teriaknya di iringi dengan tangisan yang cukup memiluhkan. Sedangkan Rendy terduduk sambil memegang boneka Sevi.


Saat Devi pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu, Randy sudah berusia 6 tahun, dia sudah cukup mengerti bahwa Devi bukanlah ibu kandungnya tetapi Sifat keibuan dan ketulusan Devi, membuat kakak beradik itu begitu bergantung dan sayang kepada Devi.


Dan Untuk kedua kalinya kakak beradik itu kembali merasakan kehilangan sang ibu, pertama saat mama mereka meninggalkan mereka berdua bersama Ray, ketika mengetahui bahwa Ray hanyalah Anak angkat, jadi dia tidak ingin kehilangan semua kemewahan dan hidup melarat bersama Ray. Dan kini Devi juga meninggalkan mereka karena tidak ingin menjadi ibu sambung mereka. sungguh malang nasib kedua anak itu.


" Apa aku Dan Esty begitu nakal sampai tidak ada yang mau menjadi mommy kita." Tanya Anak berusia 8 tahun itu, entah pada siapa pertanyaan itu iya layangkan.


Semua Pelayan terkesiap mendengar pertanyaan anak berusia 8 tahun itu, tidak ada yang berbicara mereka semua terdiam dengan pikirannya masing masing. Kasian mungkin itu yang ada di benak mereka saat ini.


Kepada pelayan yang melihat kesedihan di wajah kedua anak majikannya itu langsung menghubungi Rayhan, menceritakan kepergian Devi, juga Resty yang terus menangis mencarinya.


Mendengar hal itu, Rayhan langsung memutuskan untuk pulang ke rumahnya, Setelah meminta Sekertarisnya untuk mengatur ulang semua Jadwalnya.


...🍀🍀🍀🍀...


Sampainya di rumah, Rayhan langsung bergegas mencari keberadaan Esty, Di lihat Anaknya itu tengah menangis memanggil manggil Devi. Rayhan mendekati Esty, iya berjongkok agar sejajar dengan Esty.


" Daddy, Mommy pergi." Ucapnya lirih saat Rayhan berjongkok di depannya.


" Apa kita terlalu Nakal dad, sampai mommy ninggalin kita?" Suara Randy turut menimpal Ucapan Resty.


" Tidak Sayang, kalian Anak anak Deddy yang baik, mungkin mommy pergi karena ada hal penting yang harus mommy lakukan, sehingga lupa memberi tahu kita." Ucap Rayhan kepada kedua anaknya itu.


" Tapi kenapa mommy membawa Dede Sevi Dad?" Tanya Rendy.


" Karena Dede Sevi masih kecil, tidak bisa di tinggal Sayang. Kalian anak anak yang pintar, kalau kangen sama Mommy, kan bisa di telpon Mommy nya."


" Kapan Mom sama Dede pulang Dad." Tanya Esty. tangisannya mulai rendah hanya sesegukan yang masih terdengar karena terlalu lama menangis.

__ADS_1


" Nanti kalau urusan mom sudah selesai, kalau belum, libur sekolah kalian bisa ketempat mommy." Jawab Rayhan, dia sendiri begitu kecewa dengan sikap Devi yang pergi tanpa pamit, tetapi dia juga sadar, Devi seperti ini karena dia yang terlalu memaksakan Devi untuk menerimanya.


" Janji Ya Dad kita akan mengunjungi mommy?" Tanya Esty, dengan mengarahkan jari kelingkingnya ke hadapan Rayhan.


" Janji." Ucap Rayhan melingkarkan jari kelingkingnya pada Jari Kelingking Esty. Rayhan pun membuka kedua telapak tangannya lebar lebar, Sehingga Kedua Anaknya itu bisa masuk ke dalam pelukannya.


" Anggap saja aku sedang memberikan kamu Waktu Ra untuk berpikir. Aku harap kamu mendapatkan apa yang kamu cari dan dimana pun kamu berada, semoga kalian berdua baik baik saja." Gumam Ray dalam hatinya. Sungguh dia tidak menyalakan Devi, tetapi justru menyalahkan dirinya sendiri.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Devi baru saja tiba di rumah Erik, iya masih mengendong Sevi walaupun tubuhnya terasa remuk, tetapi selama Sevi merasa nyaman, Devi tidak masalah dengan semua itu.


Nadia membukakan pintu untuk mereka, Iya langsung mengambil Sevi dari Gendongan Devi.


" Mbak Nadia disini juga." Tanya Devi, karena yang dia tahu Nadia tinggal di Apartemen pemberian mantan suaminya dulu.


" Udah lama ko, dia tinggal disini." Ucap Erik sambil membawa koper Devi yang baru iya keluarkan dari bagasi mobilnya.


" Tapi bentar lagi Sevinya bangun." Sesungguhnya Devi sangat lelah tetapi dia tidak ingin Sevi mencarinya saat terbangun nanti.


" Biar Sevi, mbak yang urus! sebaiknya kamu masuk bersihkan tubuh kamu, terus sholat subuh baru sekalian Istirahat." Pinta Nadia kepada Devi.


" Tapi mbak.."


" Udah nggak usah tapi tapi lu, sana Istirahat, buat gue kesel aja." Ucap Erik setelah meletakkan koper Devi di kamar yang telah disiapkan Nadia.


" Dasar lu emak emak kompleks, Badan security hati hello Kitty." Ucap Devi membuat Nadia menggeleng geleng kepalanya.


" Kalian berdua berantem aja terus, Aku sumpahin jodoh kalian berdua." Ucap Nadia sedikit menaiki nada bicaranya.


" Amiin ya Allah." Devi langsung mengamininya Sedangkan Erik, menatap tak Sudi kepada Devi.


" Amit amit cabang bayi yang nggak pernah dilahirkan, jangan sampe gue berjodoh sama wanita berotak separuh kaya lu gini." Ucap Erik dengan gaya jijiknya.

__ADS_1


" Di luar sana, cadangan gue ganteng ganteng, gue nggak Sudi ya nyentuh lu walaupun cuma sekedar kasihan." Lanjut Erik lagi membuat Devi ingin tertawa.


" Ya udah kalau nggak mau kasihan, setidaknya sedekahin aja tongkat saktinya buat janda ini, sekalian cari pahala." Ucap Devi melirik Sel*ngk*ngan Erik sambil mengedipkan mata sebelah kanannya dan mengigit bibirnya agar terlihat mengoda di mata Erik.


Perlakuan Devi, bukannya membuat Erik tergoda, dia justru merinding. sedangkan Nadia terus saja menertawai Erik yang di kerjai Devi.


Begitu kalau Erik dan Devi sudah bertemu, Devi selalu menggoda Erik, berharap temannya itu bisa lurus lagi walaupun sampai sekarang usahanya masih di bilang sia sia.


" Udah aku nggak kuat, sebaiknya kalian kembali ke kamar masing masing atau aku kurang kalian berdua dalam 1 kamar." Ancam Nadia, membuat Erik berlari masuk ke kamar dan langsung mengunci pintu kamarnya dari dalam. Sedangkan Nadia dan Devi tertawa melihat tingkah Erik yang begitu takut di l*cehkan oleh Devi.


" Semakin lama, dia semakin parah ya mbak" Ucap Devi sambil menatap pintu kamar Erik yang tertutup rapat itu.


" Sudahlah, kamu mending istirahat gih." Ucap Nadia, yang masih betah mengendong Sevi.


" Makasih ya mbak, Dira titip Sevi."


" Nggak usah berterima kasih, Sevi sudah mbak Anggap anak sendiri koh."


Devi langsung berlalu ke kamarnya, Iya mandi, sholat, selesai sholat dia langsung tidur, Sedangkan Sevi di urus oleh Nadia. mulai dari memandikan Sevi sampai menyuapi gadis kecil itu.


Nadia melihat kamar Erik. Pintu kamar masih tertutup di pergi kekamar dia lihatnya Devi sudah terlelap dalam tidurnya.


.


.


.


.


Bersambung.


🍀 ******Tinggalkan****** jejak ya kalau kalian suka 👍

__ADS_1


__ADS_2