
Disaat dia tengah berusaha mengiklaskan wanita yang ia cintai, hanya untuk sebuah kata ( kebahagiaan) yang keluar dari bibir wanita itu beberapa hari Lalu. Matanya kini di hadapkan pada kenyataan yang sebenarnya.
Membuat Kekesalan serta keterkejutannya Kembali menerpa hatinya, Kesal karena selalu saja kalah dengan perasaannya dan terkejut ketika mengetahui bukan istrinya yang menikah melainkan Temannya.
Walaupun jauh dalam lubuk hatinya, Aksel bersyukur karena apa yang di takutkan Selama tiga bulan ini, hanyalah sebuah pemain istri liciknya itu, Tetap saja itu melukai egonya.
" Assalamu'alaikum Ma, Pa! Apa kabar." Ucap Devi begitu ramah! Setelah menyelesaikan nyanyiannya, ia langsung menghampiri Keluarga Suaminya itu. "Waalaikumsalam." Jawab mereka secara serempak. Devi mencium punggung tangan mama Aisya dan papa Bastian secara bergantian.
" Alhamdulillah Kita semua baik Nak! mama begitu bersyukur, ternyata apa yang mama takutkan tidak benar benar terjadi." Ucap Mama Aisya memeluk tubuh Devi.
" Maaf ya Ma." Ucap Devi dengan rasa bersalah kepada mertuanya itu.
" Sudah nggak papa, mama nggak marah sama kamu! emang suami tuh kudu harus di beri sedikit pelajaran biar kapok." Bisik mama Aisya, Tetapi Dengan suara yang sedikit di naikan volumenya, Sengaja biar suami dan anak itu dengar.
" Gimana kabar kamu Nak? beberapa bulan ini kamu tinggal dimana?"
" Alhamdulillah Aku juga baik Mah! Aku tinggal di rumah teman aku."
" Duduk sini."
" Sebentar ya Ma, pa aku sudah di panggil." Ucap Devi menunjuk kearah Erik yang memanggilnya.
" Iya Nak."
Devi berjalan menghampiri Erik! Sebenarnya Devi ingin sekali duduk bergabung bersama keluarga Firmasha, tetapi melihat sikap Aksel hanya diam saja, membuat Devi takut juga binggung.
Tidak biasanya dia melihat Aksel dalam ekspresi wajah yang tak terbaca seperti itu. Entah Semua hanya perasaan Devi saja atau mungkin Aksel yang sudah lelah dan tidak peduli lagi dengan apa yang akan di lakukan Devi.
Devi Duduk di tempat semula! tepat di samping Erik. Sejak Kembali dari tempat duduk mertua dan suaminya itu, Devi hanya diam. Ramainya pesta itu tidak mampu mengusik seorang DEVINA yang terbuai dalam lamunannya, pandangannya tidak lepas dari lelaki yang tengah duduk sambil memutar telunjuknya pada permukaan gelas piala, membentuk pola lingkaran.
" Kenapa sih Ra? Tumben diam aja! sariawan mendadak haah?" Erik menyikuh pergelangan Devi.
__ADS_1
" Apa sih."
" Makanya Jangan diam aja, Kesambet arwah pelayanan hotel baru tahu rasa." Ucap Erik lagi masih dengan nada julidnya. " Lagi kamu kenapa sih lihat ayahnya Sevi gitu amat! Udah gatel banget ya."
" Eehh bisa nggak kalau ngomong itu, lihat situasi. Tuh saringan rusah haa?"
" Makanya jangan bengong aja."
" Bodoh." Perdebat keduanya pun terhenti karena ada beberapa Tamu undangan Ray yang naik ke pelaminan.
Malam semakin larut tamu undangan pun semakin berkurang! Saat di rasa suasana mulai Sepi, Aksel beranjak dari duduknya, iya menghampiri kedua mempelai yang sudah bersiap siap untuk turun dari singgasana sehari mereka itu.
" Selamat menempuh hidup baru, Semoga berbahagia untuk kalian berdua! Maaf." Ucapnya menjabat tangan Rayhan dan Nadia Secara bergantian.
" Terima kasih! Tapi maaf untuk apa ya." Tanya Ray.
Tetapi Aksel tidak menjawab pertanyaannya. Saat Aksel berhadapan dengan Devi, ia melewatinya begitu saja! membuat Devi menghampiri Aksel, menarik pergelangan tangannya. Aksel bebalik melirik Devi sekilas. " Lepaskan." Ucap Aksel, ia menghempaskan Tangan Devi.
" Aks." Panggil Devi.
" Tapi Aks."
" Aku bilang cukup! Apa kamu tidak mengerti." Bentak Aksel, Suaranya begitu menggelegar di ruangan itu. tangannya mencengkeram Rambut Devi. " Aku sudah menuruti semua mau kamu, Jadi jangan mengganggu aku lagi." Tekan Aksel tanpa menurunkan nada bicaranya.
Melihat sikap Aksel serta tatapan sinisnya, Membuat rasa takutnya semakin menjadi jadi, Ia takut hubungannya dengan Aksel tidak akan bisa kembali seperti semula, di karena kebodohannya.
" Aks, Maaf tolong maafkan aku." Ucap Devi.
" Tidak! Lagian Aku sudah merelakan kamu, sekarang Carilah kebahagiaanmu sendiri, maaf jika selama bersamaku, aku tidak bisa membuatmu bahagia." Aksel melepaskan cengkeramannya di rambut Devi. Tangannya berpindah mengusap pipi Devi, " Aku terus meminta kesempatan kedua tetapi kamu tidak pernah memberikannya, Kamu terus salahkan aku.."
" Tidak Aks, aku tidak pernah menyalahkan kamu, aku hanya butuh waktu."
__ADS_1
" Untuk apa? Hmmm! Kalau selamanya kau tetap akan kembali meragukan perasaan aku! Mungkin dulu aku terlalu Naif, sehingga aku berpikir cintaku saja cukup untuk kita berdua. Sekarang aku sadar dalam sebuah hubungan butuh peran kita berdua untuk membuat hubungan ini tetap utuh. Kamu tahu Hidup itu tidak selamanya tentang pembuktian dan pencarian saja, terkadang kita harus bersyukur untuk menikmati apa yang Tuhan berikan kepada kita karena aku sudah tidak berada di fase pembuktian atau pun mencari, jika kamu masih ingin bermain main dengan fase itu silahkan Aku bebaskan kamu. Aku cuma ingin berpesan sama kamu, jika dalam pencarian kamu, kamu tidak bisa menemukan bahu sehangat bahu aku, untuk kamu bersandar serta pembuktian Cinta setulus cinta aku untuk kamu, Sebaiknya jangan kembali, sebab pada saat itu aku akan menutup rapat hatiku untukmu sekalipun itu sulit."
Devi terdiam! dia benar benar terperosok ke dalam permainannya sendiri. Entah dia yang terlalu bangga dengan cinta Aksel atau lupa bahwa Aksel juga seorang manusia, dimana ia juga memiliki batas kesabaran sertah titik jenuh dengan perasaan yang tak terbalaskan.
Kalau sudah seperti ini siapa yang harus disalahkan, Aksel kah? Devi atau hubungan mereka yang di awali tanpa rasa cinta! Aksel berbalik meninggalkan Devi. " Aks, maaf."
Teriakkan Devi di serta Ucapan maafnya, tidak membuat langkah Aksel terhenti. Devi pun tidak tinggal diam dan melihat saja, ia berlari mengikuti Aksel Sampai di parkiran. Begitu Aksel membuka pintu mobilnya Devi pun membuka sisi satunya, ia langsung duduk tepat di samping Aksel.
" Keluar." Pintah Aksel, Devi menggelengkan kepalanya. " DEVINA ALDIRA KELUUUAAR." Teriak Aksel.
" Nggak aku nggak mau."
" Sebaiknya kamu keluar jika tidak.."
" Jika tidak apa? kamu ingin menyakiti aku silahkan?"
" Jangan keras kepala! jangan sampai aku kehilangan kesabaranku. Sebaiknya kamu keluar." Aksel mulai menurunkan nada bicaranya.
" Terserah apa yang akan kamu lakukan! kau bunuh aku sekalipun aku tidak akan keluar dari mobil kamu."
Aksel memukul setir mobilnya, Setelah itu ia menginjak gas mobilnya, ia melaju dengan kecepatan tinggi, meninggalkan hotel tempat dilangsungkan resepsi pernikahan Nadia dan Rayhan.
Aksel melajukan mobilnya dengan ugal ugalan di jalan, tidak tahu kemana arah tujuannya saat ini, sampai ia teringat suatu tempat di mana istrinya itu tidak akan Sudi menginjakkan kaki di tempat itu.
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍