Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 25


__ADS_3

" Bhaahhahhhah." Erik langsung tertawa terbahak bahak ketika melihat wajah sembab Devi. " Aduh ternyata wajah kamu bisa jelek juga ya." Ejek Erik.


" Apaan sih nggak lucu tahu."


" Buat Aku, Dira yang aku kenal begitu lucu dan menggemaskan, Sifatnya Dewasa, baik hati, penyayang walaupun kadang Egois dan begitu menyebalkan, tetapi Aku bersyukur bisa menjadi bagian dari Cerita Hidup seorang DEVINA ALDIRA." Ucapnya begitu serius kepada Devi.


Di tatap wajah sembab temannya itu, Hatinya sakit melihat Devi seperti ini, Bukan karena dia mencintai Devi tetapi murni karena rasa sayangnya sebagai seorang teman yang pernah sama sama berjuang untuk bertahan hidup.


" Jangan lihatin aku seperti itu kalau aku jatuh cinta sama kamu gimana." Devi melebarkan telapak tangannya lalu menempelkan kewajah Erik dan mendorong wajah Erik kebelakang.


" Eeh peak, Aku mah Amit amit ya di cintai wanita kaya kamu." Erik membalas Dengan mendorong kepala Devi mengunakan jarinya " Lagian Aku Harman sama tuh laki dan sih Rai, Apa sih bagusnya kamu, sampai mereka ngebet banget sama kamu, mending sama Aku udah kalem, penyayang suka menampung pula, Huuff." Ucap Erik dengan gaya ngondeknya.


"Menampung apa? Dan Kenapa juga lu harus Herman, Aku kan cantik..." Ucap Desvi sedikit membanggakan dirinya.


" Hooeek, Mau muntah Aku dengar kamu ngomong kaya gitu! Eehh Dira sayang, Aku tahu otak kamu tinggal separuh tetapi jangan di pamerin donk, ngomong Heran aja jadinya Herman, Hadeeh! Kamu sama mbak Nadia itu kan numpang tinggal di rumah aku, jadi aku termasuk orang yang suka menampung donk."


"Emangnya Air di tampung! Eee Jubaedah kamu kan yang ngomong duluan, kalau kamu itu Herman sama mereka, ya Aku mah cuma ngikutin doang sarap." Ucap Devi Dengan kesalnya.


" Gini nih kalau otaknya tinggal separuh, Bisanya copy paste aja." Balas Erik lagi, Ada saja cara Kedua orang ini untuk saling menjahili tetapi Dengan cara seperti ini Devi bisa melupakan masalahnya dan rasa sakit yang ada di hatinya. Bahagia itu tidak selamanya dengan uang dan Pengakuan cinta serta pemandangan indah, dihiasi dari kehidupan yang mewah, dengan hal sekecil ini pun mereka bisa tertawa tanpa beban.


" Mau copy paste ke, kopi susu ke Aku mah bodoh amaat, Lagian Aku nggak merasa tuh, kalau Aku numpang disini." Ucap Devi dengan tidak tahu malunya.


" Ya iyalah kamu nggak Merasa kaya gitu, Kan kamu nggak punya malu."


" Eriiikk, Bilang aja kamu sirikkan sama Aku yang cantik dan mempesona ini." Teriak Devi sambil menjambak rambutnya.


" Iya kamu cantik Ra, kalau di lihat dari Monas pakai sedotan." Erik terus membalas ucapan Devi tidak peduli rasa sakit di kepalanya karena rambutnya masih di Jambak Devi.


" Erik kamu ko makin nyebelin." Devi menguncang kepala Erik, membuatnya semakin menjerit.


"Aduh duh ahh, Ampun, Ampun Ampun Ra, lepas sakit ini." pinta Erik, Devi pun melepas tangannya dari rambut Erik. " Penganiayaan ini mah, Eeh tapi ko Kamu nggak di panggil sama pak polisi lagi, Emang kasus penganiayaan itu udah di tutup." Tanya Erik sambil mengusap kepala, iya kembali teringat ketika Devi di panggil pihak berwajib beberapa waktu lalu.


" Tahu." Ucap Devi sambil menaikkan bahunya. " ngapain sih nanya sesuatu yang nggak penting kaya gitu, mending kamu keluar gih, Aku ngantuk mau bocan dulu." sambung Devi lagi.


" Jangan tidur donk Ra, Mending kamu mandi terus ganti baju, aku tunggu di depan." Pinta Erik.


" Buat apa."

__ADS_1


" Hari ini aku ingin kamu nemanin aku nonton sekalian kita ngemall, Oke aku nggak terima penolakan loh Ra." Ucap Erik sebelum meninggal Devi.


" Dasar manusia jadi jadian, suka banget maksa." Devi berdiri lalu berjalan menuju kamar mandi untuk menyegarkan tubuh dan pikiran.


Butuh waktu 30 menit untuk Devi menyelesaikan ritual mandi dan bersiap siap, Setelah itu iya keluar menemui Erik yang telah menunggunya sejak tadi.


" Masya Allah Cantiknya." Ucap Erik ketika melihat Devi.


" Lama lama Aku tabok ya." Sahut Devi.


" Erik, Dira cukup jangan mulai." Tegur Nadia.


" Dia tuh Mbak, dari tadi ngeselin banget, tadi aja dia ngomong kalau aku ini cantik kalau di lihat pakai sedotan dari Monas, sekarang apa coba muji muji kaya gitu." Tutur Devi kepada Nadia.


" Udahlah Ra, kamu kaya nggak tahu dia Aja." Ucap Nadia " Mending kita pergi sekarang." Lanjutnya lagi.


" Mbak Nadia ikut juga?" Tanya Devi yang baru sadar penampilan kedua temannya, " Kirain cuma kita berdua doank."


" Mana berani aku jalan berdua sama kamu! Aku nggak mau ya pulang pulang tinggal Nama.."


" Erik."


" Ya udah ayo jalan." Pinta Nadia, Keduanya pun mengangguk dan mengikuti langkah Nadia yang lebih dulu keluar rumah itu.


...πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€...


Di dalam mobil, Aksel begitu bahagia karena dia di izinkan membawa Sevi, Dalam perjalanan pulang ke rumahnya bersama Devi, Sevi terus bercerita, sesekali dia turut menimpal Ucapan Devi ketika gadis itu bertanya.


" Ayah tahu nda! tata Esti, punya Tata namanya tata Lendy."


" Oh yah!"


" Iya Ayah."


" Dede juga punya kakak, sama seperti Esti, Malah kakak Dede lebih banyak dari Esti." Ucap Aksel membuat gadis kecilnya itu menatap kearahnya. seolah iya meminta penjelasan lebih dari itu. " Kakak nya Dede 2 namanya Ka Nanda dan ka putra." Sambung Aksel lagi.


" To mom nda pelna celita, sama Dede?" Tanya gadis kecil itu.

__ADS_1


" Mungkin mommy kamu lupa sayang." Jawab Aksel.


" Mommy gitu suta Lupa, ihh Dede tesal sama mommy." Ucap gadis itu seolah dia mengerti apa yang dia ucap barusan. Gadis kecil itu melipat kedua tangannya di dada sambil memanyunkan bibirnya.


Tingkah Sevi sungguh membuat Aksel gemas kepadanya, iya melirik sebentar kearah Sevi, kemudian tangannya mengacak rambut Sevi.


" Jangan gitu biar bagaimanapun, mommy tetap mommy nya Sevi, Sevi nggak boleh kesal sama Mommy! Oke sayang? Lebih baik kita Jemput kakak Nanda sama kakak putra gimana?" Bujuk Aksel langsung mendapatkan Anggukan dari putrinya.


Setelah mendapatkan Anggukan dari Sevi Aksel langsung melajukan mobilnya menuju kediaman orang tuanya untuk menjemput kedua Nanda dan Putra.


Beberapa saat kemudian mobil Aksel telah memasuki halaman rumah yang begitu luas itu, " Ini lumah siapa Ayah?" Tanyanya sambil melihat ke luar jendela. " Sama taya lumah Dady loh." serunya lagi.


" Ini rumah kakek sama Nenek! Kakak Nanda sama putra tinggal disini." Jawab Aksel, tangannya membuka sabuk pengaman yang di pakai Sevi. Setelah itu iya membuka pintu mobil dan keluar dari mobil itu sambil mengendong Sevi.


Begitu melewati taman yang ada di halaman depan rumah itu, Sevi melihat Heni sedang duduk bersama putrinya, Iya langsung mengerat pelukannya pada leher Aksel. " Dede mau pulang aja, Dede tatut Ayah." Ucap Sevi membuat Aksel menghentikan langkahnya.


Iya merenggangkan pelukannya dengan Sevi, " Takut sama siapa?" Tanya Aksel sambil menatap wajah Sevi, Gadis kecilnya itu menggeleng tetapi pandangan tidak lepas dari Heni. Aksel mengikuti arah pandang Sevi, kini ia mengerti siapa yang Sevi takuti.


" Dede di apain sama dia?" Tanya Aksel Iya menujuk kearah Heni.


" Dede di dolong, telus jatuh, luta." Jawabannya sambil menunjuk jidatnya. membuat darah Aksel mendidih seketika.


.


.


.


.


Bersambung.


πŸ€ Selamat tahun baru ya semua, semoga di tahun yang baru ini kita menjadi orang yang lebih baik dari tahun sebelumnya Amin.πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Aku mau promo Nih☺️ Kali aja kalian suka, Mampir yuk di cerita Aku yang baru.


__ADS_1


πŸ€ Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka πŸ‘


__ADS_2