Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 22


__ADS_3

Kejadian di cafe waktu itu sudah berlalu beberapa hari ini tetapi bayangan wajah Sevi yang mengkhawatirkannya dan begitu telaten merawat luka di tangannya masih teringat jelas di benak Aksel, Aksel mengusap bekas luka di tangan yang sambil memejamkan matanya.


Selama ini cuma Nanda dan Putra, yang dianggap anak, sedangkan anaknya Heni tidak memiliki tempat sama sekali di hati maupun pikiran, Kalau pu dia berinteraksi dengan Anaknya Heni itu karena sikap .kemanusiaan semata.


Aksel masih betah mengusap tangannya, matanya terpejam membayangkan wajah terkejut sekaligus kwatir putrinya itu.


"Dalah." Ucap Sevi saat melihat tangan Aksel " Natal tan?" Sambungnya membuat Aksel ingin tertawa.


Aksel pun berjongkok di hadapan putrinya " Iya sayang papa terlalu nakal makanya tangannya berdarah." Ucap Aksel dengan wajah senduhnya. " Bisa bantu papa obatin nggak?" Aksel membuat Gadis itu langsung mengangguk. Begitulah Sevi, Ketika di minta memanggil papa, Daddy atau apa pun itu dia akan menurut dan dengan senang hati mengiyakan.


" Ya udah kita duduk di situ yuk." Ajak Aksel. Sevi pun mengikuti jejak sang papa duduk di bangku yang ada di depan cafe, Setelah Aksel mengambil kotak obat yang ada di mobilnya.


Aksel terus larut dalam lamunannya akan pelakuan Sevi, membuat rasa penyesalan semakin mendalam. " Andai saja dulu aku jujur, pasti semuanya tidak akan seperti ini." gumam Aksel! iya mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Driiingg Driiingg


Dering ponsel menyadarkan Aksel dari lamunannya, iya meraih ponsel itu, mengeser Ikon berwarna hijau, lalu meletakkan ponsel pada telinga.


Sekitar 10 menit Aksel berbicara dengan orang yang menelponnya, yang tidak lain adalah bawahannya yang iya minta untuk mencari tahu tempat tinggal Devi. Setelah mendapatkan apa yang dia inginkan dan mengakhiri panggilan itu, Aksel langsung bergegas menuju kamar mandi, iya menyegarkan tubuhnya.


Selesai mandi dan berpakaian, Aksel mengambil kunci mobil dan dompet, Setelah itu iya berjalan keluar rumah dimana mobilnya terparkir.


Sebelum menemui Devi dan Anaknya Aksel mampir terlebih dahulu di salah satu mall Untuk membeli sesuatu buat Sevi.


Lama berputar putar di mall itu, Akhirnya pilihan Aksel jatuh kepada boneka Teddy bear berwarna putih tulanng, Aksel juga membeli Buah, coklat dan Eskrim. Makanan yang disukai kedua putranya dan juga Devi.


Setelah mendapatkan apa yang di butuhkan, Aksel kembali ke mobilnya yang terparkir di parkiran mall itu.

__ADS_1


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Di sisi lain, ruangan keluarga tepatnya di rumah Erik, tampak duduk 6 orang dewasa yang saling berhadapan, Raihan, Devi, Anwar, Rara, Nadia dan juga Erik.


Bukan tanpa sebab keenam orang itu duduk bersama, Masalah Devilah yang menyebabkan mereka semua harus berada disini.


Lama terdiam dan saling memandang, akhirnya Anwar membuka suaranya." Kamu sudah mengingat semuanya kan?" Wajahnya begitu serius. Devi yang melihat keseriusan di wajah Anwar pun langsung mengangguk.


" Kamu sudah mengingat semuanya, berarti kamu sudah tahu apa status kamu." Ulang Anwar lagi, dan Devi kembali mengangguk.


" Tetapi untuk saat ini, aku masih Nyaman seperti ini." Ucap Devi membuat Anwar menggeleng kepalanya.


" Iya kamu yang nyaman? Lalu bagaimana dengan Sevi?" Ucapnya.


" Ya Sevi baik bai saja."


" Tapi yang aku lihat, tidak begitu Dev? Sevi sangat merindukan sosok papa! Apa kamu tidak menyadarinya?" Anwar Dan Devi saling bertanya dan menjawab, lain halnya dengan Rai, Rara, Nadia dan Erik! Mereka hanya menjadi pendengar setia karena baik Nadia Ataupun Erik mereka tidak mengetahui masalalu Devi.


" Jangan Berteriak di depanku Dev, sebab aku tidak pernah mengatakan bahwa kamu herus kembali ke padanya." Tegas Anwar.


" Terus apa maksud kamu mengingatkan aku, akan status ku dan perasaan Sevi? Aku sadar An Sevi begitu menginginkan Ayahnya sendiri tetapi untuk saat ini Aku tidak ingin kembali ke padanya."


" Aku tidak bermaksud apa apa, hanya saja kamu tidak berada pada satu pilihan tetapi 2 atau mungkin 3 dan kamu bisa memilih salah satunya. Tetapi maaf untuk pilihan Ketiga aku tidak akan menyetujuinya." Mendengar kata kata Anwar membuat kening Devi berkerut.


Anwar maupun mereka yang sejak tadi berada di ruangan itu pun menyadari tatapan kebingungan Devi


" Pilihan pertama kembali bersama suami dan anak anak mu, Kedua Ceraikan dia dan jadi mommy sambungnya Resty dan Rendy dan Terakhir menceraikannya dan hidup berdua dengan Sevi saja, Dan untuk pilihan yang ketiga aku tidak akan pernah setuju." Anwar sadar dengan apa yang dia ucapkan, tetapi di sini dia harus tegas kepada Devi sesuai perintah Abbahnya.

__ADS_1


" Aku memilih pilihan yang ketiga." Seru Devi, membuat Anwar menatap kearah Devi sambil menggeleng geleng kepalanya.


" Kamu tidak dengar, jika aku tidak menyetujui pilihan yang ketiga, Pilih Rai atau Aksel, titik."


" Kenapa kamu harus memaksaku An? Oke aku sadar selama ini kalian selalu ada untuk membantu aku, tetapi kalian tidak berhak memaksaku untuk memilih." Devi menjeda ucapannya. " Karena tidak ada di anatara kalian yang benar benar tahu apa yang aku alami, kalian mungkin pernah melihat dan mendengar cerita aku. tetapi pada kenyataannya kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan pada saat itu." Ucapnya. membuat mulut Anwar bungkam seketika. Tangan Devi berulang kali menarik rambutnya sendiri.


" Maaf karena telah memaksamu! Dan kau benar, aku tidak tahu segalanya! akupun tidak merasakan apa yang kamu rasakan Dev, tetapi satu hal yang harus kamu tahu. Aku sedang menebus dosaku untukmu dan juga Sevi." Selama ini Anwar tidak begitu terbeban dengan apa yang di lakukannya 3 tahun lalu, tetapi Melihat Sevi yang begitu merindukan kasih sayang seorang ayah membuat, iya semakin merasa berdosa karena telah memisahkan Sevi dengan Ayahnya, sekali pun apa yang di lakukannya baik tetapi tetap saja salah.


Mendengar kata kata yang keluar dari bibir Anwar membuat Devi sameakin kesal, Devi yang kesal seperti biasa dia berjalan meninggalkan mereka yang masih terdiam dengan pikirannya masing masing.


Devi masuk ke dalam kamarnya, iya menutup pintu itu dengan kesat sehingga bunyi nya terdengar sampai ke telinga mereka yang tengah duduk di ruang keluarga itu.


Setelah kepergian Devi, bel rumah Erik berbunyi, " Rai tolong buka pintu nya." Pinta Anwar, Rai pun menurut, iya berdiri dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama rumah itu.


" Siapa?" Tanya Erik sambil membuka pintu rumah Erik.


Aksel berdiri tepat di hadapan Rai Sambil membawa boneka di tangan kanannya dan juga satu buah paperbag di tangan kini.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


🍀 Maaf ya, jadi buat kalian nunggu dan buat yang nanya jadwal up, jadwalnya sih pagi, tetapi entah kenapa Akhir akhir ini aku susah banget buat 1 Bab, aku sendiri juga binggung.😧😧😧


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2