
" Sayang tolong jangan seperti ini, kalau kamu seperti ini, kamu buat mommy kwatir Nak, mommy Nggak sanggup hidup lagi sayang, kalau sampai kamu kenapa napa." Ucap Devi sambil mengusap telapak tangan Sevi. Takut! itulah yang Devi rasakan saat ini, Tubuh kembali bergetar, iya menangis sambil memanggil manggil nama Sevi.
Nadia yang baru saja datang sesaat setelah Devi, turut mengusap Kedua pipi Sevi dengan minyak telon yang di bawakan seorang pelayan, hal yang sama juga di lakukan Devi pada telapak tangan putrinya itu. Nadia pun sama khawatir dengan Devi.
" Jangan ngomong seperti itu Ra, Sevi pasti Akan baik baik saja." Ucap Nadia menenangkan Devi, iya tak suka dengan ucapan Devi barusan.
" Tapi sudah lama mbak, Sevi nggak pernah nangis kaya gini." Devi tidak begitu saja tenang, hati ibu mana yang bisa tenang jika melihat anaknya seperti ini.
" Ya wajarlah Ra, Pelipisnya sampai memar gini, jangan kan dia, aku pun akan menangis jika di posisi Sevi." Ucap Nadia sambil menunjukkan memar yang ad di pelipis Devi.
Devi yang melihat itu, mukanya langsung merah, tetapi sebisa mungkin dia menahannya, karena iya masih fokus untuk Sevi.
Setelah beberapa saat membujuk Sevi, Akhirnya tangisan dia pun Redah. Sevi kembali memanggil Ray dan Anwar, " Dady, Papa Ano." Ucap Sevi dengan sesegukan. Hati Devi begitu legah, dia langsung mengecup seluruh wajahnya Sevi, perasaan marah untuk sesaat Redah, tetapi semua itu tidak bertahan lama.
" Siapa yang buat Sevi nangis?" Tanya Devi Lembut dan setenang mungkin, Tangannya mengusap Rambut Sevi, merapikan setiap helai yang menutupi lebamnya.
" Aunty tu mom." Jawabannya sambil menunjuk ke arah Heni.
" Ko bisa dia buat Sevi nangis, emangnya Sevi salah Apa? Apa Sevi nakal." Tanya Devi lagi Dan Sevi hanya menggeleng gelang.
Devi bertanya seperti itu bukan untuk menyalahkan Sevi atau memaafkan Heni, dia hanya ingin tahu yang sebenarnya langsung dari Sevi. sekalipun Sevi salah, Devi akan tetap membuat perhitungan Dengan Heni.
Seenaknya Heni memperlakukan Sevi seperti itu, susah payah iya merawat dan membesarkan buah hatinya, dengan seenak jidat, dia mendorong anaknya sampai memar bahkan Devi tidak pernah mencubit atau membentak putrinya.
" Dede tasian mom, Dede uma mau bantu dia jalan mom." Ucap Sevi sambil menunjuk Anaknya Heni. " Dia ta gelat di itu aja, Dede tasian mom." Jelas Sevi membuat Erik, Nadia dan Devi tercengang, umur Sevi masih terlalu kecil untuk mengerti kondisi Anak Heni.
" Sekarang Sevi ikut Aunty sama Bunda dulu ya mom mau ngomong sama mereka." Ucap Devi.
" Noo mom." Tolak Sevi membuat Devi bingung.
" Kenapa sayang?" Tanya Nadia.
__ADS_1
" Dede belum minta maaf ndah, Dede da buat dia naiis." Jelas Sevi membuat ketidak orang dewasa itu menitihkan Air mata mereka.
" Mereka juga buat kamu nangis sayang." Ucap Erik.
" Ta papa, tan Sevi yang sala, Tata mom, Olang sala halus minta maaf aunty." Ucap Sevi lagi.
" Iya nanti habis ini Sevi minta maaf ya sama dia, tapi obati dulu keningnya." Bujuk Devi.
" Iya mom."
Erik dan Nadia langsung membawa Sevi keruangan Nadia. Setelah kepergian Nadia, Erik dan Sevi. Devi pun berdiri, iya merapikan Dress, Setelah itu mengikat rambutnya berbentuk Bun, Dengan langkah yang cukup santai Devi mendekat kearah keluarga yang pernah menyisakan suka dan Duka untuknya.
" Permisi." Ucap Devi membuat Gilang dan Nana yang sedang membelakanginya, sedikit menyinkir memberi jalan sekaligus menatap tak percaya kepada Devi.
Bukan hanya Gilang dan Nana, Anggota keluarga yang lain pun begitu, hanya Kila yang terlihat biasa saja.
Devi menyunggingkan senyum termanis membuat mereka melongo tanpa hitung 123 tangan Devi mendarat dengan indah di pipi Heni. Mereka sampai terkejut melihat sikap Devi yang begitu bar bar.
Anehnya, semua pelanggan yang melihat kejadian itu bukannya membantu, mereka justru menonton seolah itu sebuah tontonan. begitu juga Anggota keluarga Firmasha bahkan Dede dan Kila Dengan sengaja menutup mata dan telinga si Kembar, Seolah memberi dukungan agar Devi melanjutkan Aksinya itu.
Devi berjongkok dan kembali menjambak rambut Heni, " Plak, Plak! Baru 4." Ucap Devi di Setelah suara tamparan itu terdengar. Devi pun melanjutkan menampar pipi sebanyak 4 kali sampai sudut bibir Heni mengeluarkan cairan berwarna merah.
" Kamu memberikan 1 luka untuk anakku, akan aku kembalikan 10 kali lipat untuk mu" Ucap Devi dengan begitu kejamnya. Belum Redah rasa sakit di pipinya, Kini tangan Devi kembali menjambak dan membenturkan kepalanya pada sudut kursi yang tak jauh dari tempatnya berjongkok, membuat Heni pusing seketika.
Tetapi Devi tidak melepaskan Heni begitu saja, dia ingin memberikan pelajaran sedikit lagi untuk Heni tetapi tangan Aksel lebih dulu mencegah Devi saat akan membenturkan kembali kepalanya.
" Kamu bisa membunuhnya." Ucap Aksel sambil membantu untuk berdiri.
Bukannya mengucapkan terima kasih Devi justru Menampar Aksel, " Sepuluh." Ucap di ikuti dengan segelas minuman yang menguyur wajahnya, siapa lagi pelakunya kalau bukan Devi.
" Kalau kalian mau melaporkan ini kepada pihak berwajib silahkan, aku menunggu surat Panggilannya, Karena jika menyangkut Anak seorang ibu bisa kehilangan Akal sehatnya." Ucap Devi Den berlalu meninggalkan mereka.
__ADS_1
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Devi masuk ke ruangan Nadia, " Apa masih sakit sayang?" Tanya Devi Setelah duduk di sofa yang sama dengan Erik.
Sevi menggeleng kepala sebagai jawaban, " Mom , Dede belum minta maaf." Lanjutnya.
" Baiklah, ayo kita temui mereka." Ajak Devi Setelah cukup lama terdiam. Ibu dan anak itu berjalan keluar dari ruangan Nadia di ikuti Erik di belakangnya. mereka menuju kursi dimana keluarga Firmasha duduk.
Devi menurunkan Sevi dari gendongannya tepat di depan Anaknya Heni. Keluarga itu kembali di buat tercengang dengan kehadiran Sevi, bahkan Nadia sengaja menguncir tinggi rambut Sevi agar lebamnya terlihat oleh mereka.
" Maaf Dede dah buat tamu naiis." Ucap Gadis belum cukup 4 tahun itu sambil mengulurkan tangannya kepada Anak Heni.
Disaat Sevi orang fokus dengan Sevi yang tengah meminta maaf, Sikembar justru memandang tidak percaya ke arah mama mereka.
" Mama, mama." Teriak keduanya kompak mereka berdua langsung memeluk tubuh Devi, hampir saja Devi terjatuh, tetapi dengan sigap Aksel Ikut berjongkok dan menehah tubuh Devi yang sejak tadi iya sejajarkan Dengan Sevi.
" Jangan Kurang Ajar ya kamu." Ucap Devi saat merasakan tangan Aksel di tubuhnya.
.
.
.
.
Bersambung.
🍀 Maaf jika banyak typo, maklum aja! Aku minta libur ya.🤣🤣🤣
🍀 Tinggalkan jejak ya jika kalian suka 👍
__ADS_1