Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 24


__ADS_3

" Ya udah nanti mommy cariin papi, Abbah dan Abi sekalian! Biar papa Sevi banyak ya." Sahut Devi yang kesal karena melihat Putrinya itu langsung Akrab Dengan Aksel, pada hal dia yang berjuang Sendiri. Tetapi kenapa Sevi langsung lengket sama papanya! apa mungkin Sevi begitu merindukan sosok Ayah?


" Kamu ko ngomongnya gitu Dev.."


" Dav Dev dav Dev, Eeeh jangan so kenal so dekat deh, jijik tau nggak." Ucap Devi iya mulai menaikkan nada bicaranya, Seking kesalnya dia kepada Aksel.


" Mom, to malah! Eman ayah salah pa sama mommy." Tanya gadis kecil yang masih nyaman di pangkuan sang ayah.


" Salah dia itu, karena udah ganggu hidup kita, sayang."


" Tida, Dede tida di ganggu mom sama Ayah, justlu Dede senang ada Ayah Dede sendili." Ucapnya tersenyum Riang " Dede, tida lebut Ayah lagi sama tata Esti, Mom Dede senang Ada Ayah." Ucap Sevi sambil berdiri di atas kedua paha Aksel dan memeluk leher Aksel dengan begitu posesifnya, Seakan iya tidak ingin di pisahkan dari Aksel.


Tanpa sadar butiran, Bening terjatuh dari sudut mata Devi, Hatinya begitu sakit mendengar kata kata Sevi. salahkah jika dia tidak ingin kembali ke pada Aksel? Kenapa dia saja tidak cukup untuk kebahagiaan Sevi? Apa salah jika dia ingin bahagia hanya dengan Sevi dan tanpa adanya lelaki yang ada di hadapannya ini.


" Kata siapa dia Ayahnya Sevi? Dia bukan Ayah Sevi." Seru Devi iya mengusap kedua sudut matanya setelah itu Devi berdiri menghampiri Aksel Mencoba mengambil Sevi tetapi gadis kecilnya itu justru menolak dan semakin mengeratkan pelukannya pada leher Aksel.


" ndaa, Dede tida mau, mommy bohong ini ayah Sevi." Teriak Sevi, Tetapi tidak membuat Devi luluh, iya memaksakan untuk mengambil Sevi. " Tida, Sevi masih mau sama Ayah, kata papa Ano dan mama Lala Ini Ayahnya Sevi." Ucapnya dengan suara yang terputus karena menangis.


" Devi sayang Aku minta maaf! Aku yang salah, tolong jangan seperti ini kepadanya." Pinta Aksel tetapi Devi tidak mengindahkannya, iya tetap berusaha untuk mengambil Sevi. " Kamu akan menyakitinya jika seperti ini." Ucap Aksel lagi.


" Siapa kamu? kamu bukan siapa siapa di sini Lagian Sevi adalah putri aku, mau aku apain dia juga, itu hak Aku, tidak ada urusannya dengan kamu." Saking marahnya kepada Aksel, membuat Devi tidak menyadari jika putrinya tidak bersuara.


" Iya aku tahu dia Anak kamu, tetapi dia masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini, Aku juga tidak akan merebut dia dari kamu Dev, Aku justru berharap kita bisa berkumpul kaya dulu." Ucap Aksel iya mencoba menahan pergelangan tangan Devi yang ada pada pinggang Sevi tetapi Devi langsung menepisnya.


" Kamu jangan mimpi, karena sampai kapan itu tidak akan pernah terjadi..."

__ADS_1


PLAAKK


Satu tamparan Anwar daratkan di pipi mulus Devi, membuat kedua pasangan yang hubungannya seperti kumuran ini tersadar dan menatap kearah Anwar.


" Kenapa kamu menampar pipiku An?" Tanya Devi, tangan Devi mengusap pipinya yang begitu terasa perih dan panas, Akibat tamparan Anwar.


" Kamu masih tanya." Bentak Anwar. " Kamu lihat Sevi sampai membiru begini kalian berdua masih saja berdebat, orang tua macam apa kalian ini haah." Bentak Anwar lagi, iya langsung mengambil Sevi dari Aksel, tubuh Sevi mengejang hebat dan wajah pun mulai membiru, entah sejak kapan Sevi menahan nafas nya.


Anwar meletakkan tubuh Sevi di Sofa, Rara Raihan dan Aksel begitu Panik sedang Erik, Nadia dan Anwar terlihat biasa saja, bukan karena mereka tidak khawatir akan kondisi Sevi tetapi mereka sudah sering mendapati Sevi yang seperti ini. " Sevi, Dede, Sayang." mereka terus memanggil Sevi dengan Panggilannya masing masing, tangan mereka mengusap kedua kaki dan tangan Sevi, sedangkan Anwar dan Aksel mengusap pipi dan rambut Sevi.


Sedangkan Devi sendiri, tubuhnya lemas melihat Sevi yang seperti ini. iya langsung terduduk di lantai memandang kearah Mereka yang sedang menenangkan Anak anaknya, wajah ibu muda itu kini sudah berlinang air mata. Iya sungguh menyesal bahkan rasa sakit yang di berikan Anwar di pipinya, tidak Devi rasakan lagi.


Dia yang terlalu mengikuti hawa nafsunya karena takut Sevi di Ambil Aksel jadi melupakan kebiasaan putrinya itu, padahal selama ini dia begitu menjaga agar Sevi tidak pernah melakukan hal itu lagi, tetapi apa sekarang yang terjadi karena keegoisannya Sevi berakhir seperti ini bahkan tanpa dia menyadarinya.


" Ayah, haa." Tangisannya itu akhirnya terdengar membuat semua orang bernafas lega. " ndaa aahh Dede mau Ayah." Tolaknya ketika Anwar ingin mengendongnya.


" Udah donk sayang, jangan nangis lagi ya." Bujuknya tetapi tidak membuat Sevi tenang, " Dede Sayang jangan nangis lagi, ini Ayah bawah hadiah buat Sevi." Aksel menyerahkan boneka Teddy bear kepada Sevi. Setelah itu keduanya duduk di sofa tepat menghadap ke arah Devi.


" Mom lihat, boneta Dede lucu, Dede suta." Seru Sevi iya menujuk Boneka itu kearah Devi, membuat hati Devi semakin sakit, rasa takut mulai mengrogoti pikirannya.


Devi yang tidak Tahan dengan semua yang ada di hadapannya, Iya memilih berdiri dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya.


" Devi." Panggil Anwar tetapi tidak membuat Devi berhenti.


" Udah sayang, kasih dia waktu." pinta Rara, iya menahan pergelangan tangan Anwar yang hendak mengikuti Devi.

__ADS_1


Sementara itu di dalam kamar Devi kembali menangis, iya kembali duduk di lantai samping tempat tidurnya, kedua tangan Devi meremas, Selimut yang terlipat di atas ranjangnya " Ahhhhh, Kenapa Aku harus mengingatnya lagi? kenapa Hati aku sakit seperti ini? Apa salah aku? kenapa selalu dia yang di untungkan Aaaahhhh." Devi menunduk dan kembali menangis.


Erik masuk ke kamar Devi, Iya ikut duduk di samping Devi. " Ra, Anwar mengizinkan Sevi pergi sama Ayahnya." Ucap Erik sambil mengusap rambut Devi. " kamu tidak marah kan Ra." Sambungnya lagi, tetapi Devi tidak pernah merespon Ucapan Erik.


" Ra kenapa kamu tidak mau kembali sama dia, apa kamu tidak merindukan kedua putramu? Sevi saja sangat merindukan sosok Ayahnya, mereka pun pasti sama seperti Sevi." Ucap Erik lagi.


" Aku nggak mau Rik."


" Lalu bagaimana dengan anak anakmu?"


" Ntalah, biarkan waktu yang menentukan semuanya." Devi mulai mengangkat wajahnya, iya menatap kearah Erik.


" Bhaahhahhhah." Erik langsung tertawa terbahak bahak ketika melihat wajah sembab Devi. " Aduh ternyata wajah kamu bisa jelek juga ya." Ejek Erik.


" Apa an sih nggak lucu tahu."


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2