Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
Bonus 5


__ADS_3

Mobil Aksel sampai di parkiran rumah mereka, Aksel yang ingin mengendong Sevi, Langsung terkejut begitu melihat, gelang yang melingkar di pergelangan tangan putrinya.


" Yank ini punya siapa." Aksel bertanya kepada Devi dengan menunjuk gelang di tangan Sevi.


" Nggak tahu Aks."


" Bukan punya Erik kah?"


" Kayanya bukan deh Aks, soalnya aku nggak pernah lihat Erik pakai gelang seperti ini."


" Mom, Abang udah ngantuk." Suara Nanda menyudahi rasa penasaran mereka.


" Maaf ya! ya udah kita masuk yuk." Ajak Devi begitu Sevi berpindah dalam gendongan Aksel.


Nanda dan Putra pun mengikuti langkah Devi masuk ke dalam rumah! di susul Aksel. kakak beradik itu masuk kedalam kamar mereka, sedangkan Devi mengikuti langkah Aksel menujuh kamar sevi.


Rasa cemas mulai menyelimuti Hatinya. Ia berjalan menuju walk in closed, dimana pakaian putrinya itu disimpan, Devi mengambil Baju tidur bergambar Kuda pony. Ya gadis kecilnya itu begitu menyukai kuda pony dan berbie sama seperti gadis gadis kecil pada umumnya.


Devi meletakkan pakaian Sevi diatas nakas, Ia mengambil pergelangan tangan Sevi lalu mengendusnya. " Kamu ngapain yank?" Tanya Aksel.


" Aku hanya ingin tahu siapa pemilik gelang ini dari bau parfumnya."


" Emangnya bau parfum bisa menebak siapa pemilik gelang ini." Tunjuknya pada gelang yang masih melingkar di tangan Sevi.


" Setidaknya dari bau parfum, kita bisa tahu cewe atau cowo yang punya gelang ini, Aku khawatir Aks! aku takut."


" Sayang jangan berlebihan donk! itu cuma gelang, mungkin dia suka sama gelang itu terus di kasih sama yang punya."


" Aks jangan berpikir kolot deh Aks, mana ada di jaman sekarang ini, orang memberikan perhiasan mahal secara cuma cuma kepada anak kecil. Bagaimana jika dia mengiming imingi Sevi dengan Gelang terus dia melecehkannya. Apa kamu tahu." Devi mulai tersulut emosi, Padahal apa yang ia pikirkan belum tentu benar. 🍀 Sikap Arsen termasuk pelecehan Nggak sih! Tau ah 🍀 SKIP.


Aksel mendesah, " Maaf! Kamu jangan marah lagi, aku janji akan mencari tahu siapa pemilik gelang ini." Aksel menarik tubuh Devi lalu mendekapnya, sesekali mengusap punggung istrinya itu, membuat Devi sedikit tenang. " Soal apa yang di lakukan orang itu! kita tunggu Sevi bangun, baru kita tanya sama dia." Sebuah kecupan mendarat di Kening Devi.


" Aku takut Aks."


" Jangan takut, Sevi akan baik baik saja! Karena dia mempunyai mommy yang hebat." Devi mendongak keatas menatap dalam dalam mata Suaminya.


Aksel Tersenyum, ia membalas tatapan Devi. " Ganti bajunya, agar tidurnya nyaman." Ucap Aksel di sertai kecupan lembut pada belahan bibir Devi.


Sebelum keluar kamar, Aksel menghampiri Sevi, di kecup keningnya." Mimpi indah syang." Ucapnya.


Setelah Aksel keluar, Devi langsung mengganti baju Sevi dengan baju yang telah ia ambil tadi.


Pagi ini tidak seperti biasanya untuk Devi, jika Biasanya ia akan langsung membuat sarapan begitu selesai sholat Subuh, tetapi tidak dengan pagi ini.


Begitu Selesai sholat Devi langsung mengajak Sang putri, kekamarnya! Devi meletakkan Sevi di pangkuannya.


" Ade, Mommy boleh tanyap." Devi mengusap rambut Sevi.

__ADS_1


" Mommy mau tanya Dede apa."


" Semalam, waktu di pesta! Ade pergi ke mana."


" Matan estlim."


" Telus kalau gelang ini punya siapa." Devi memperlihatkan Gelang yang di pakai Sevi semalam.


Gadis kecil itu, mengerutkan keningnya! bibir bagian bawahnya ia majukan sedikit, nampak seperti orang yang sedang mencoba mengingat sesuatu. Sikapnya itu terlihat begitu menggemaskan di mata Devi, jika tidak ada masalah gelang itu, Devi mungkin sudah mengigit pipinya.


" Alsen." Ucapnya, sungguh ingatan Sevi sangat bagus untuk ukuran anak seusianya.


" Arsen." Devi kembali menyebut sebuah nama yang di ucapkan Sevi barusan.


" Ade minta Gelang ini sama dia." Sevi dengan cepat menggeleng kepalanya.


" Terus kenapa Gelang dia ada di tangan Ade." Dan gadis kecil itu pun menceritakan tentang sosok Arsen yang menciumnya.


" Tata Alsen bilang sayang sama Dede , jadi Dede bolehin, tata Alsen cium Dede."


" Ciumnya dimana." Tanya Devi. Sevi langsung memajukan bibirnya. " Di bibir."


" Iya! Tan tata mommy bilang, yang boleh cium Dede Olang olang yang sayang Dede, tata Alsen juga sayang Dede." Rasanya Devi ingin Menarik kata katanya, jika tahu putrinya itu akan di manfaatkan hanya karena larangan yang dia buat.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka, " Sudah tahu siapa pemilik gelang itu." Tanya Aksel yang baru saja masuk.


" Nanti siang aku akan keperusahan, Pak Aldrich, aku akan bertanya tentang lelaki itu, akan ku beri pelajaran kepada orang yang telah berani bersikap kurang ngajar kepada Seviku."


" Aks aku tidak ingin hal ini terulang lagi."


" Iya sayang, itu pasti."


" Mommy! Dede mau mandi." Ucap Sevi. Membuat kedua orangtuanya menatap kearahnya.


" Ayo mommy bantu." Devi pun membantu Sevi seperti biasanya.


Di lain tempat dengan waktu yang sama! Anggara masuk kedalam kamar putranya. " Kamu sudah siap." Tanya kepada sang putra.


" Sudah Pi, tinggal berangkat aja." Jawab Arsen Sambil memasankan jam tangan bermerek Gucci di pergelangan tangan kirinya.


" Nak gelang kamu mana." Mungkin pertanyaan Anggara terdengar begitu aneh, tetapi tidak ada yang salah dengan pertanyaan itu, sebab ia tahu gelang yang di pakai Arsen itu tidak pernah arsen lepaskan sekali pun ia mandi. Gelang itu pemberian Neneknya, ibu dari Anggara, tepat di ulang tahun Arsen yang ke 12. Sejak hari itu Gelangnya itu tidak pernah arsen lepaskan tapi hari ini, Ntahlah.


" Aku pakai untuk menandai milikku yang berharga." Jawabnya Membuat Anggara semakin binggung.


" Milikmu."

__ADS_1


" Iya Pi, Jika suatu saat aku kembali lagi kesini aku akan mencarinya."


" Wanita." Arsen hanya tersenyum, tanpa berbicara. Tetapi itu cukup untuk menjawab rasa penasarannya.


" Ayo Papi antar ke bandara." Arsen mengangguk, ia menyeret dua koper besarnya, menuju parkiran.


Dua jam telah berlalu, Arsen kini telah duduk di dalam pesawat. " Selamat tinggal SEVIKU, semoga suatu hari kita bertemu lagi."


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Usai mengantar Arsen, Anggara Kembali keperusahan, Baru saja ia duduk di kursi kebesarannya, Suara ketukan pintu dari Sekertarisnya menyapa Indra pendengaran.


" Masuk."


" Maaf Pak! Pak Aksel dari perusahaan Firma Groub, ingin menemui bapak." Lapornya begitu tiba di depan meja Anggara.


" Suruh beliau masuk."


" Baik pak." Wanita itupun keluar. Tak lama berselang, Aksel masuk.


" Apa kabar Pak Aksel." Keduanya berjabat tangan lalu duduk di sofa.


" Seperti yang anda lihat." Ucap Aksel begitu ramah. " Apa Saya mengganggu waktu ada."


" Tentu tidak! Aku yang ada hal yang penting sehingga orang sesibuk bapak mau menemui saya." Ucap Anggara, walaupun umurnya jauh lebih tua dari Aksel tetapi ia begitu segang dengan Aksel. " Apa yang bisa saya bantu." Tanya begitu to the point.


" Maaf sebelumnya, Aku hanya ingin bertanya tentang tamu undangan di pesta anda semalam. Namanya Arsen." Aksel mengeluarkan gelang Arsen, meletakkan gelang itu di hadapan Anggara.


" Gelang itu Aku dapat melingkar di pergelangan tangan putriku."


Terkejut, tentu saja Anggara terkejut! baru beberapa jam ia membahas Gelang itu dengan putranya, bahka di sempat ingin mencari tahu siapa wanita itu, tetapi tuhan sudah mempermudah suamanya. Tetapi yang lebih membuatnya terkejut, umur dari gadis itu sendiri, Apa putranya itu gila! Entahlah.


.


.


.


.


Bersambung.


Bonus visual Sevi dan Arsen



__ADS_1


Semoga kalian suka 😘😘😘


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2