
Bijak dalam memilih bacaan 21+++⚠️⚠️
Devi langsung diam begitu melihat wajah kesal Aksel. " Maaf Aks." Ucap Devi masih dengan tawa di bibir ranum itu. " Kamu serius banget! lagian mana mau aku di gendong suami orang." Devi mencubit kedua pipi Aksel dengan gemasnya.
" Udah puas ketawanya." Aksel memasang wajah datar kepada Devi, membuat hati Devi semakin menggelitik.
Bukannya menjawab pertanyaan Aksel, Devi Mala semakin tertawa." Udah Aks, aku lapar."Devi merangkul lengan Aksel. Tanpa peduli Tampang datar yang ditujukan Devi
"Makanya jangan ketawa, lapar-kan." Sindir Akse. " Yuk masuk! Tadi aku sudah minta sama istrinya pak Kardi untuk masak dan siapakan kamar buat kita."
" Kamar Aks! Jangan bilang kita nginap."
" Emang iya." Ucap Aksel Sambil berjalan bergandengan tangan dengan Devi.
" Aks, kita pulang ya! kasian Sevi, baru datang udah aku tinggal." Bujuk Devi. Sudah tiga bulan ia tidak bertemu dengan gadis kecilnya baru semalam mereka bersama bahkan untuk mendengarkannya cerita saja belum, kini Devi harus berpisah lagi dengan Sevi, walaupun hanya sehari tetapi Devi tidak tega dengan putrinya itu.
" Sayang, Dengarkan aku! Sevi juga memiliki Kila, Dede, Nana dan Lee! jika dia terus dekat dan bergantung sama kamu! bagaimana mereka bisa Dekat dengannya. Berikan dia waktu bersama mereka, karena sekarang kalian tidak berdua saja, ada kita disini." Aksel mendekap tubuh Devi. " Aku janji hanya sehari, besok pagi akan kembali." Aksel berusaha meyakinkan Devi.
" Baiklah, hanya sehari tidak lebih! sampai kamu berani ingkar. Aku tidak akan mau kamu ajak pergi lagi, ingat itu." Tegas Devi.
" Sesuai keputusanmu Ratuku." Aksel berjongkok sambil memberi hormat kepada Devi. " Silahkan duduk." Ucap Aksel sambil menarik kursi, mempersilahkan Devi untuk duduk.
Hidangan yang terjadi di meja makan itu, terlihat begitu sederhana khas masakan rumahan. Ada tumis kangkung, sayur Asem, Ayam goreng, ikan asin dan sambal.
Seorang wanita paruh bayah keluar dari dapur sambil membawa Nasi. " Maaf ya Non, kalau makannya tidak sesuai selera non! soalnya ini menu yang di pesan Den Aksel setiap mampir kesini." Ucap wanita itu begitu sungkan dengan Devi.
" Nggak papa ko Bu! Justru ini semua makan kesukaan Devi." Ucap Devi dengan wajah berbinar.
" Berarti selerah makan non sama seperti mendiang istrinya Den Aksel."
" Astaghfirullah, Amit amit." Devi mengetuk meja kemudian mengetuk Kepalanya sendiri.
" Ini dia istri yang sering saya ceritakan sama ibu."
" Bukannya istri Aden sudah..."
__ADS_1
" Belum Bu! Yang di lakukan kakak aku itu cuman hukum kecil untuk suami yang tidak setia." Jelas Devi sambil menyendok nasi kepitingnya dan Aksel. " Masih mending cuma kematianku yang di palsukan, kalau seandainya hari itu aku benar benar tiada gimana."
" Maaf ya Non, ibu nggak tahu." Ucap wanita paruh baya itu, tidak enak hati dengan ucapannya barusan.
" Nggak papa ko Bu."
" Ibu permisi kebelakang, silahkan di nikmati hidangannya! semoga sesuai dengan selera non."
" Iya pasti donk Bu, Soalnya Devi bukan orang yang pemilih! Makasih ya Bu, udah repot repot masak buat kita."
" Sama sama non! harusnya bibi yang ngucapin makasih kalau bukan karena den Aksel, mungkin ibu dan bapak sudah Luntang Lantung di jalanan." Setelah mengucapkan kalimat yang membuat Devi penasaran, Wanita paruh baya itupun pergi meninggalkan Aksel dan Devi.
" Sayang, aku nggak suka kamu ngomong kaya tadi. Tolong Maaf kan kesalahan aku waktu itu."Kata Aksel dengan raut penuh penyesalan. Hati Aksel sedikit tersentil mendengar Devi mengungkit kematian yang di buat buat tiga tahun lalu.
"Apaan sih Aks, kenapa jadi melow gini." Devi berdiri dari duduknya, ia berjalan menuju wastafel yang ada didekat dapur, mencuci kedua tangannya Setelah itu ia Kembali duduk di tempatnya. " Ayo makan."
" Pakai tangan." Tanya Aksel.
" Ya iyalah Aks, sejak kapan orang makan pake kaki."
" Bukan itu maksud aku! kenapa kamu makanya nggak pakai sendok."
" Nggak yank."
" Kamu jijik sama aku Aks."
" Bukan begitu sayang, tapi aku nggak biasa makan langsung pakai tangan."
" Mulai sekarang biasakan."
" Baiklah tapi suapi aku." Devi mengangguk. Keduanya pun makan dengan Devi yang menyuapi Aksel.
Selesai makan Aksel dan Devi berdiri di balkon kamar menghirup udara segar yang masih begitu asri, Aksel mendekap tubuh Devi dari belakang sesekali mencium pipi, rambut serta tengkuk leher Devi.
" Yank." Panggil Aksel dengan hidungnya yang terus menyusuri pipi, tengkuk dan pundak Devi.
__ADS_1
" Hmmmm." Gumam Devi sambil menahan Sensasi geli geli nikmat yang di berikan Aksel. Devi memejamkan kedua matanya.
" Aku ingin melakukan kewajibanku sebagai suami kamu! Apa boleh." Tangan Aksel mulai bergerak dengan liar, mengusap dari perut Devi samakin naik keatas.
" Harus sekarang ya Aks." Pertanyaan yang tidak tetap di waktu yang tidak tepat pula.
" Kalau kamu belum siap! Aku nggak akan maksain kamu." Aksel menghentikan aksinya tanpa melepaskan dekapannya pada tubuh Devi.
Devi memutar tubuhnya menghadap Aksel.
" Aku bukannya tidak tidak siap Aks, tapi aku sedikit takut." Aksel menautkan alisnya.
" Yank ini bukan pertama kalinya buat kamu.."
" Ia aku tahu Aks, tapi Aku sudah lama tidak melakukan hal itu."
" Justru karena sudah lama tidak melakukannya, ini Waktu yang tepat untuk mengasahnya lagi." Ucap Aksel.
Aksel mengangkat tubuh Devi, perlahan ia baringkan tubuh Devi pada ranjang King size nya.
Aksel mencium kening Devi untuk memulai permainanya. Walaupun sudah tiga tahun tidak menjelajahi tubuh wanita, tetapi kepandaian Aksel dalam memberikan feroplay masih sama seperti tiga tahun yang lalu. Devi mulai kehilangan Aksel sehatnya karena pemain Aksel, dengan lihainya Aksel melepas seluruh pakaiannya dan Devi, tubuh keduanya kini benar benar polos.
Aksel mulai membuka kedua paha Devi, mencari celah untuk Mr p nya, Gesekan kepala Mr p pada permukaan celah Devi, Membuat tubuhnya menggelinjang. Aksel mengecup puncak payu dara milik Devi, sesekali menggigit kecil pada puncak itu, sebagai bukti kepemilikannya.
" Ahhhhh, Aks." Teriak Devi begitu Mr p masuk dan bersemayam pada lembah miliknya.
Suara suara rintihan manja memenuhi ruangan bernuansa Silver dan gold itu. peluh terus bercucuran membasahi tubuh keduanya, Seolah tidak ada lelahnya Aksel mengaduk aduk lembah istrinya. Devi terus dibuat mengarungi nirwana berkali kali, Tangannya bergerak kesana kemari mencari apa saja yang bisa ia raih untuk menyalurkan sensasi yang dia rasakan saat ini.
Cukup lama pergulatan itu terjadi, akhirnya Aksel sampai pada puncak, Cair hangat menyembur kedalam tubuh Devi, Aksel sedikit menahan tubuhnya agar tidak menindih tubuh Devi, mengecup kening devi begitu lama. " Terima kasih sayang." Bisiknya, Setelah itu berbaring di samping Devi.
.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung.