Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 40


__ADS_3

" Mau tidak mau, dia harus mau jika Aku hamil."


" Maksud kamu?" Gilang Bukannya tidak mengerti apa yang di maksud Heni, tetapi dia hanya ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak bermasalah.


" Aku mohon bantu aku." Heni langsung berlutut di bawah kaki Gilang,


" Oh tidak bisa! aku juga punya Istri, kalau pun aku mau mengkhianati istriku, maka aku akan melakukannya dengan wanita yang aku cintai saja tidak yang lainnya."


" Aku berjanji istrimu tidak akan pernah tahu apa pun yang terjadi nanti dan aku berjanji akan membantu kamu untuk mendapatkan wanita yang kamu cintai itu." Heni Masih Mencoba memaksa Gilang. Dengan menawarkan kerjasama. " Jika kamu mencintai wanita itu harusnya kamu berjuang untuk mendapatkannya, bukan menyerah sebelum bertarung." Entah itu sebuah tantangan atau Ejekan.


Kata kata terakhir Heni, bagaikan doktrin yang masuk ke otak Gilang, sehingga membangkitkan perasaan Gilang lagi " Mendapatkan, mendapatkan , mendapatkan." itu yang terngiang ngiang di kepala Gilang saat itu.


" Aku akan membantu kamu, tetapi tidak dengan menyentuhmu." Ucap Gilang Setelah itu ia meninggal Heni.


Heni Tersenyum, Usahanya untuk membujuk Gilang tidak sia sia, dengan begitu dia bisa mendapatkan Aksel tidak peduli siapa dia sebenarnya dan apa statusnya, yang dia tahu dia ingin memiliki suaminya itu.


Besoknya Gilang datang Ia mengajak Heni kedokter, melakukan pengecekan kesehatan Rahim, dokter juga memberikan Heni obat kesuburan.


Setelah melakukan proses yang cukup panjang Akhirnya Heni bisa hamil melalui proses bayi tabung. Heni ingin segera mencari Aksel tetapi Gilang menahannya, " jika kamu ingin mendapatkan suami Kamu, tunggu sampai kandunganmu benar benar kuat." Heni pun menurut. Bukan tanpa sengaja Gilang menghalangi Heni untuk mencari Aksel, itu karena dia tahu Devi sedang sakit saat itu dan bisa membahayakan Devi maupun kandungannya.


Selama 4 bulan Gilang terus menghalangi Heni untuk mencari Aksel, itu semua dia lakukan bukan untuk menutupi kesalahan Aksel Tetapi dia tidak ingin hal buruk menimpa wanita yang di cintainya.


Heni yang tidak tahan dengan ulah Gilang yang terus menahannya di situ, memutuskan untuk pergi ke perusahaan Firman Group, iya meminta untuk bertemu dengan suaminya dengan menunjukkan foto dia dan Aksel kepada 2 resepsionis itu. Resepsionis langsung menghubungi Gilang, sesuai permintaan Gilang, jika Heni datang ke perusahaan itu lagi. Gilang langsung turun menemui Heni, menyeret wanita itu pergi dari perusahaan itu, lima belas menit setelah kepergian Heni dan Gilang, Anwar datang ke perusahaan Firman Group untuk mengajak Devi makan siang bersama, Anwar tidak sengaja mendengar ucapan kedua resepsionis itu.


" Kenapa wajah suami wanita itu begitu mirip dengan Pak Aksel, apa mungkin pak Aksel punya kembaran ya!" Ucap salah satu Resepsionis sambil melihat foto yang di berikan Heni, mereka tidak menyadari jika Anwar kini tengah berdiri di hadapan mereka.


" Apa kalian di gaji untuk bergosip tentang bos kalian?" Tanya Anwar sekaligus menghentikan omongan kedua Resepsionis itu. " Wanita mana yang kalian bicarakan." Tanya Anwar lagi.

__ADS_1


" Bapak sia siapa?" Tanya salah seorang Resepsionis sedikit gugup.


" Jawab saja pertanyaan saya dan jangan balik bertanya! atau kalian berdua mau saya laporkan ke atas kalian." Bentak Anwar, salah satu Resepsionis itu langsung menyerahkan foto yang di berikan Heni. Begitu melihat foto itu Anwar langsung pergi tanpa berbicara sepatah kata pun.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


" Kenapa kamu terus menahan Aku disini, apa yang sedang kamu sembunyikan?" Ucap Heni Setelah mereka tiba di kontrakan.


" Aku tidak ingin kamu membuat kekacauan di perusahaan keluargaku."


" Jika kamu tidak ingin aku membuat kekacauan maka pertemukan aku dengan suamiku! Jika tidak aku akan terus datang ke perusahaan itu dan menyebarkan foto pernikahan aku dan mas Rudi disana."


" Hentikan kegilaan kamu! aku janji akan mempertemukan kamu dengan suami kamu itu nanti di pesta pernikahan Adikku."


" Aku pegang kata katamu, kalau sampai kamu berani mengingkarinya, kamu akan melihat kegilaan ku yang lebih dari ini, coba saja kalau kamu ingin melihatnya."


PLAAKK


" Itu yang kamu sebut cinta?" Tanya Devi kepada Gilang.


" Aku minta maaf , Aku Khilaf! karena rasa ingin memilikimu seutuhnya."


" Karena obsesimu, kamu hampir membuat aku dan anak anak mati, kamu ingat."


" Aku tahu aku salah, aku ingin memperbaiki semuanya waktu itu. Maka dari itu aku meminta kepada Aksel untuk menemani Heni kerumah sakit, agar dia tahu usia kandungan Heni yang sebenarnya." Teriak Gilang.


" Tapi kamu merusak segalanya bang." Sahut Aksel, " Aku pikir kamu memang tulus membantu aku bang! Tetapi aku tidak menyangka kamu akan sejahat ini."

__ADS_1


" Cukup sudah, mau kalian berdua berdebat seperti apa pun tidak akan bisa mengembalikannya, tidak akan bisa hapus rasa sakit yang aku rasakan waktu itu, Kalian tidak pernah tulus mencintai aku, Mau itu Aksel, Nana atau pun kamu bang." Devi menujuk mereka secara bergantian. " Sesuatu yang kalian anggap baik untuk aku, itu belum tentu baik untukku. Jadi berhenti sok peduli jika pada akhirnya kalian lah yang menyakiti aku."


Devi maju beberapa langkah kepada Gilang, " Bang! Jangan mencintai seseorang karena penampilannya, tetapi cintailah dia yang punya hati, yang tidak akan pernah lari darimu seberat apapun cobaan itu, Dia yang mampu bertahan di saat susah." Devi menatap kepada Nana dan Tersenyum kepada sahabat yang dianggap adiknya itu. " Dia yang sabar di saat ada masalah dan mampu tersenyum di depanmu walaupun keadaannya tidak baik baik saja. Aku tahu memang tidak mudah perpaling disaat hati telah menentukan pilihannya, tetapi jika berusaha dan bersikap Dewasa, semua akan baik baik saja! Dan aku yakin bang Gilang sudah menemukan orang itu, harusnya bang Gilang Berjalan besamanya bukan meletakkan dia di belakang hanya untuk mengejar sesuatu yang tidak pasti, Jika bang Gilang tidak melakukan itu, suatu saat bang Gilang akan menyadari betapa berharganya dia ketika dia sudah tidak ada untuk bang Gilang lagi. Aku tidak sebaik itu kalian perebutkan."


" Assalamualaikum." Ucap Devi, ia mencium punggung tangan kedua mertuanya Setelah itu ia mencium bibir Aksel," Aku harap besok kamu tidak telat."


Devi, Anwar dan Abbah meninggalkan rumah keluarga besar itu, sepanjang perjalanan ke rumah Anwar Devi hanya diam menatap kearah luar Jendela.


" Apa kamu akan kembali kepada keluarga itu lagi?" Tanya Abbah membuyurkan lamunan Devi.


" Haah."


" Apa kamu akan kembali kepada keluarga itu lagi?" Tanya Abbah sekali lagi.


" Aku nggak tahu, bah! mendengar penjelasan mereka aku jadi takut, kembali ke sana."


" Kamu tidak perlu takut sama mereka, karena aku akan selalu melindungi kamu walaupun aku berada jauh dari kamu." Ucap Anwar. " Semua keputusan ada di tangan kamu, kembali atau mencari jalan yang baru! Sebab apapun keputusanmu nanti, Aku dan Abbah akan selalu mendukung kamu." Lanjutnya lagi. Devi hanya mengangguk kelapanya saja.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2