
" Sama aja oon." Erik melempar Devi dengan selembar tisu yang sudah iya remas remas.
" Kamu bilang sama? Sama dari mana haaah!" Protes Devi. Iya mulai menyuapi makanan ke mulutnya. " Mana Ada suami Istri yang suaminya tinggal di barat Istrinya tinggal Timur."
" Kamu buktinya."
" Terserah, Aku lapar." Devi kembali menikmati makanannya, sedang Nadia dan Erik menantap tidak percaya kepada wanita yang baru mereka kenal 3 tahun ini.
Selama ini Devi selalu menunjukkan sisi baik dan tangguhnya dia, bahkan Devi yang mereka kenal ini cerdas juga Dewasa, tetapi ketika bersangkutan dengan Ayah nya Sevi! Devi menjadi orang yang Egois dan bisa di bilang kekanak Kanakan.
Nadia mau pun Erik tidak ada yang berkomentar lagi, mereka ikut menikmati makanan mereka tanpa Ada yang membuka suaranya.
" Rik Aku nggak ikut nonton ya." Ucap Devi sedikit menyesal, pasalnya iya sudah janji Akan Nonton bersama mereka, dia yakin di bioskop Raihan dan kedua anaknya sudah menunggu tetapi mau bagaimana lagi.
" Kenapa Ra! kamu kan udah janji buat nonton sama Rendy dan Resty Ra." Keluh Erik Iya menatap wajah Devi berharap Devi tidak membatalkan Rencana nonton ini.
" Benar tuh apa kata Erik, mereka jauh jauh datang kesini, biar bisa selalu bersama kamu, Ra! Ayolah Ra jangan buat mereka Kecewa kepadamu." Nadia turut menyuarakan pendapatnya.
" Aku tahu, tetapi Sevi Aku jauh lebih penting dari siapapun."
" Sevi kenapa? Apa dia sakit." Tanya Nadia mulai khawatir.
Devi menggeleng kepalanya. " Ayah Sevi tidak membawa baju gantungnya! Kalian tahu sendiri dari dia bayi sampai sekarang ini kulitnya Sensitif, Jadi Aku harus mengantar bajunya dulu." Jelas Devi.
" Aku aja Ra yang Anterin, Sini Alamatnya." Sahut Erik," Kasian Resty sama Rendy! mereka juga butuh perhatian kamu."
" Tapi Rik..."
" Nggak usah tapi tapi, atau jangan kamu yang kangen sama papa Sevi, makanya pengen segera kesana." Erik mulai menggoda Devi, membangkitkan sisi Egoisnya hingga iya lupa! bukan cuma Sevi Seorang yang membutuhkan dia tetapi kedua anak laki lakinya juga! bahkan mereka jauh lebih merindukan kehadirannya ketimbang Resty dan Randy.
" Sorry ya!" Ucap Devi, iya mulai mengambil dan mengotak atik layar ponselnya. Beberapa detik kemudian ponsel Erik bergerak, tanda ada pesan yang masuk. " Itu Alamatnya."
" Oke Aku duluan ya Mbak, Ra!" Erik berdiri meninggalkan Nadia dan Devi.
Setelah kepergian Erik! Devi dan Nadia menuju kasir untuk membayar makanan mereka. Keduanya pun segera menuju bioskop.
Begitu masuk kedalam bioskop mereka langsung mencari keberadaan Raihan dan anak anaknya! " Ra, itu mereka." Nadia menujuk kearah Raihan dan anak anaknya.
__ADS_1
" Mommy." Teriak Resty, gadis kecil itu berlari ke arah Devi. Devi sedikit berjongkok, iya merentangkan tangannya, memudahkan Resty untuk masuk kedalam dekapannya.
" Aku pikir kamu nggak ikut!" Seru Raihan yang begitu bahagia melihat senyum di wajah kedua Anaknya. " Aku udah beli tiket, popcorn dan minuman udah aku beli, tinggal nunggu pintu teaternya di buka aja." Raihan mengambil minuman dan popcorn yang iya letakkan di atas meja, tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Sekitar 10 menit menunggu Akhirnya pintu teaternya di buka, mereka segera masuk dan duduk di kursi yang sesuai dengan tiket mereka.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Erik melaju kan mobil, menujuh rumahnya, Sekitar Setengah jam berada diantara macetnya jalan, Akhirnya Erik sampai di rumahnya.
Iya segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, iya menujuk kamar Devi mengambil beberapa lembar baju Sevi dan meletakkan kedalam paper bag.
Setelah mendapatkan apa yang iya cari Erik, kembali ke mobilnya! iya kembali melakukan mobil itu ke alamat yang di berikan Devi.
Tetap pukul 7 malam, Erik tiba di rumah Aksel, iya menekan bel rumah itu.
" Ceklek." Pintu itupun terbuka, Nampak Seorang wanita paruh baya keluar menghampiri Erik.
" Maaf mas cari siapa ya?" Tanya wanita paruh bayah itu ramah.
" Kamu jangan ngaco ya! Nyonya itu udah meninggal. jangan jangan kamu maling ya." Tuduh wanita paruh bayah itu. Sebab yang dia tahu Devi sudah meninggal.
" Enak aja, aku dikatain maling! mana teman aku di bilang meninggal lagi." protes Erik yang tidak terima di katai maling.
" Siapa Bi?" Suara Aksel membuat keduanya menoleh ke arahnya.
Aksel berjalan menghampiri Erik dan pembantunya di ikuti Sevi juga kedua kakaknya.
" Aunty mommy mana?" belum sempat Aksel mebuka mulutnya! Sevi Sudah lebih dulu menanyakan hal yang ingin dia tanyakan.
" Mommy sama Bunda Nadia." Jawab Erik.
" Tata Ayah mommy yang datang, Tenapa jadi Aunty! man mommy lagi apa?" Tanya gadis kecil itu lagi.
" Mommy lagi jalan jalan sama Bunda, Kakak Esty dan Kakak Randy juga ikut Ada Daddy Juga loh." Jelas Erik sukses menyakiti hati Kedua anak yang sejak tadi menunggu kehadiran Mommy mereka. Erik memang tidak bermaksud apa apa.
Nanda memegang tangan Putra, " Mommy nggak pernah sayang sama kita! Ayah bohong, kata ayah mommy sayang sama kita, mau datang buat kita! tapi mommy nggak datang! mommy jahat Aku nggak mau lagi punya Mommy." Ucap sang kakak sulung, yang begitu berharap kedatangan Devi.
__ADS_1
Bibir Aksel keluh, seluruh tubuhnya lemas seketika. " Bisakah hanya aku yang menanggung dosa aku, kenapa kedua anakku juga ikut tersakiti." Gumam Aksel iya mengusap wajahnya kasar, tangannya terkepal lalu menghantam dinding didepan.
Disisi lain Eri baru menyadari kesalahan yang iya buat, membuat hubungan keluarga yang harusnya bersatu kini semakin menjauh.
Tanpa permisi Aksel meninggalkan Devi, putra, dan Erik begitu saja. sedangkan Nanda sendiri sudah masuk ke kamarnya.
Aksel mencari ponselnya setelah mendapatkan apa yang iya cari Aksel langsung menghubungi Devi.
Tut... Tut... Tut
Sambung pertama tidak ada yang menjawab, begitu pun seterusnya. Entah sudah berapa puluh kali Aksel menghubungi Devi tetapi tidak di jawabnya, Aksel terus mencoba dan Akhirnya Devi yang baru selesai nonton itu menjawab panggilannya.
" Ada apa lagi sih Aks." Jawab Devi masih dengan mode juteknya.
" Terimakasih.."
" Sama sama." belum selesai Aksel berbicara Devi sudah memotong Ucapan Aksel.
" Dengar kan AKU DEVINA." bentak Aksel membuat Devi terdiam seketika. " Jangan memotong ucapan ku! Aku tahu disini yang salah karena aku telah menyakiti kamu, Tetapi jika kamu membalas dengan menyakiti anakku, aku tidak akan menerimanya! 3 tahun aku hidup tersiksa dengan rasa bersalahku memang tidak akan cukup untuk menebus rasa sakit yang kamu rasakan selama 3 bulan! Dev hukum Aku tapi jangan hukum putra putraku, jangan jangan Dev, mereka tidak salah! Akulah yang salah Aku yang harus di hukum bukan Anak anakku."
" Secuil saja aku tidak pernah berpikir untuk menyakiti mereka Aks! Apalagi sampai harus menyakiti mereka itu tidak mungkin."
" Tapi pada kenyataannya kamu menyakiti mereka, Aku bahkan ragu dengan rasa sayang kamu untuk mereka. Dev apa sekali saja kamu pernah merindukan mereka atau mungkin kebencianmu terhadap aku membuat kamu melupakan mereka, Jika iya aku mohon maaf dari Unjung rambut sampai ujung kuku kakimu.Tapi jangan sakiti mereka lagi sudah cukup mereka memelas kasih sayang seorang ibu sudah cukup Dev. Satu yang ingin aku tanyakan kepadamu, Jika Aku begitu jahat di matamu kenapa Dulu kamu mempertahankan mereka DEVINA."
Aksel langsung memutuskan sambungan telepon seluler itu secara sepihak.
.
.
.
.
Bersambung.
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍
__ADS_1