
Erik langsung membawa Heni kerumah sakit, untuk mendapatkan perawatan. Iya belum bisa mengkondisikan jantungnya sebab Hari ini Devi membuat Erik kaget, bingung dan takut! perasaannya bagaikan roller coaster saat melihat sisi lain ibu tiga anak ini. Jika Selama ini dia hanya melihat sisi lembut, keibuan serta keegoisan Devi, tetapi untuk melihat Devi yang semengerikan tadi, sungguh baru pertama kalinya Selama mengenal Devi! walaupun dia sudah pernah melihat Devi menghajar Heni karena menyakiti Sevi.
Erik pikir itu hanya kemarahan Seorang ibu yang tidak terima putrinya disakiti, tetapi tindakan Devi yang barusan itu apa? Tersenyum dan begitu tenang saat menyiksa apa itu bisa di katagorikan sebagai seorang psikopat. Entahlah Erik tidak mau ambil pusing dengan semua itu. jantung dan pikirannya saja belum kembali berfungsi dengan baik setelah menyaksikan perbuatan Devi.
Setelah Heni di tangani perawat dan dokter, Erik duduk pada kursi panjang yang telah di sediakan dia meraih ponsel dalam saku celananya untuk menghubungi Devi.
" Apa kau gila." Ucap Erik saat telponnya di jawab Devi.
" Ada apa sih Rik, baru telpon udah marah marah, kenapa? lagi PMS ya."
" Kamu bisa sesantai ini, Setelah kamu hampir membunuh orang."
" Baru juga hampir, belum sampai mati. Lagian aku bingung sama kamu! teman kamu itu aku atau dia sih." Jawab Devi seperti biasanya, membuat Erik semakin Bingung dengan Devi saat ini.
" Ra."
" Hmmm."
" Kamu masih Dira yang aku kenakan?"
" Tentu saja, emangnya kamu pikir aku siapa?"
" Dira siapa lagi."
" Terus kenapa kamu tanya kaya gitu."
" Aku hanya takut kamu di rasuki jin iprit, sungguh menyebalkan."
" Kamu berbicara seolah kamu pernah tinggal serumah dengan jin Iprit saja."
" Kenapa jadi bahas jin ya! Sekarang katakan padaku, kenapa kamu menyiksanya seperti itu? padahal masalah dengan Sevi kamu sudah membalasnya Ra."
" Ini bukan masalah tentang Sevi, ini tentang dia yang sudah berani nyamperin aku, seolah olah aku ini pelakor yang di samperin Istrinya dan yang aku lakukan itu, hanya untuk menunjukkan posisi dia yang sebenarnya." Mendengar jawaban Devi, Sungguh membuat Erik semakin merasa ngeri dengannya. Apa harus dengan cara kekerasan untuk menunjukkan posisi yang sebenarnya, apa dia pikir ini jaman kerajaan di mana siapa yang kuat dialah yang menang, Erik menarik nafas panjang, Sebelum mengakhiri telponnya dengan Devi.
__ADS_1
Berdebat dengan wanita itu, tidak akan membuatnya menang, entah kenapa temannya itu selalu memiliki segudang alasan untuk membenarkan semua perbuatannya yang jelas jelas salah.
Devi tidak terlalu peduli dengan Erik yang mematikan telponnya secara sepihak. Devi meletakkan ponselnya diatas meja kerja, lalu masuk kamar mandi untuk membersihkan wajah dan Tangannya.
Saat keluar dari kamar mandi Devi di sambut Aksel dan ketiga Anaknya, entah sejak kapan mereka di ruangan ini.
" Habis apa? wajah kamu terlihat lelah sekali sayang." Tanya Aksel kepada Devi yang sedang menghampiri mereka.
" Beresin sampah." Jawab Devi begitu ambigu.
" sampah." Ulang Aksel.
" Ya, tapi nggak usah di bahas, cape." Devi duduk di samping Aksel menyadarkan kepalanya pada pundak suaminya, ia memejamkan matanya sejenak sebelum kembali terbuka karena suara Sevi.
" Mommy Dede lapar." Ucap Gadis kecil itu sedikit merengek.
" Aku juga mom." kedua anak lelakinya pun tidak mau kalah dengan adiknya mereka ikut merengek kepada Devi.
" Kalau kamu lelah biar aku saja." Suara Aksel menghentikan langkah Devi untuk keluarga dari ruangan itu.
" Jangan bilang kamu sedang membantu wanitamu, agar aku terlihat semakin buruk di hadapan anak anakku." Niat hati ingin membantu tetapi kembali di salah artikan Devi, tapi mau bagaimana mana lagi dia sendiri yang membuat kepercayaan itu hilang. Aksel hanya menatap pintu dimana Devi menghilang.
" Mungkin sekarang kamu, masih ragu kepadaku tetapi suatu hari nanti, aku akan menghilangkan keraguan itu." Gumam Aksel.
Aksel duduk bersama ketiga anaknya, mendengar cerita mereka dimana Sevi yang lebih dominan berbagi cerita dengan ayahnya ketimbang kedua kakaknya, walaupun banyak kata katanya yang tidak jelas sebab Sevi tidak pandai menyebut huruf K dan R. Tetapi Aksel tetap menanggapi ocehan putrinya itu.
Ceklek. Pintu itu terbuka buka bersama dengan Devi yang masuk membawa sepiring makanan dan air putih untuk ketiga Anaknya.
" Cuma seporsi." Tanya Aksel.
" Ya untuk mereka bertiga." Jawab Devi,ia meminta ketiga anaknya untuk duduk di karpet Setelah meletakkan gelas berisi air putih itu di hadapan Aksel. Devi menyuapi mereka secara bergantian sampai makanan di piring itu habis bersamaan dengan air di dalam gelasnya.
" Apa kamu takut aku tidak bisa membayar makanan di cafe itu, sampai kamu memberikan mereka makan seporsi di bagi tiga." Aksel tidak habis pikir dengan apa yang ada di otak istrinya. sampai untuk makan saja dia membagi untuk mereka bertiga.
__ADS_1
" Untuk apa aku meminta bayaran, jika anakku ingin menghabiskan semua menu yang ada di sini aku dengan senang hati memberikannya. Jika kamu tidak tahu alasan aku memberikan mereka seporsi makan di bagi tiga, sebaiknya kamu bertanya bukan langsung menuduh." Devi beralih menatap ketiga anaknya. " Mau lagi." ketiganya serempak menggeleng kepalanya kompak.
Sevi berdiri. ia mendekati Aksel, naik dipangkuan ayahnya. Sedangkan Nanda dan putra masih Beta duduk bersama mommy mereka. Tangan Aksel mengusap lembut rambut Sevi memberikan rasa nyaman pada putrinya itu sampai iya tertidur dengan sendirinya.
" Jangan menganggu Kaka kakak yang sedang berkerja ya sayang." Teriak Devi Ketika dua anaknya itu berlari keluar dari ruangan dimana ia berada saat ini.
" Iya mommy." Hanya suara mereka yang terdengar.
" Kenapa kamu melakukan itu." Sudah bisa Devi pastikan, pertanyaan suaminya itu seputar makanan tadi.
" Karena aku ingin mereka saling menyayangi satu sama lain, saling bergantung dan saling merindukan saat mereka jauh! walaupun saat dekat mereka selalu berdebat dan bertengkar untuk masalah sepeleh, Sebab piring dan sendok kalau bertemu pasti menimbulkan bunyi, tetapi tetap berada pada wadah yang sama." Devi Tersenyum saat menjeda ucapannya. " Terlalu naif ya?"
" Tidak itu bentuk harapan kamu dan itu tidak salah! Dengan begitu mereka tahu artinya berbagai, sekecil dan sedikit apapun yang mereka punya mereka akan membaginya." Ucap Aksel. " Maaf." sambungnya.
" Untuk."
" Ucapan ku yang telah menyakiti kamu."
" Tidak ada yang salah dan tidak ada yang perlu di maafkan, karena aku yakin kamu hanya ingin memberikan yang terbaik untuk mereka."
" Padahal aku sadar, tidak semua yang aku anggap benar itu baik untuk mereka."
.
.
.
.
Bersambung.
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍
__ADS_1