Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 33


__ADS_3

Semenjak menyelesaikan kuliahnya, Kila lebih fokus untuk kedua Keponakannya itu, memberikan waktu yang pernah iya lewatkan bersama mereka. Dengan cara selalu menemani, menyuapi sampai mengantar mereka kesekolah seperti sekarang ini. Ya kedua anak itu memang sudah di sekolahkan di TK kuntum ceria.


Pagi pagi sekali Kila mendatangi rumah kakaknya itu, membawa baju seragam mereka sekaligus mengantarkan mereka kesekolah. Saat kedua anak itu telah siap dan mereka akan berangkat, Sevi merengek ingin ikut, Kila pun tidak keberatan.


Di rumah itu tinggal Devi dan Aksel, karena bibi yang mengurus rumah sedang ke pasar. Devi yang baru keluar dari kamar mandi terkejut karena melihat Aksel duduk di tempat tidur. pasalnya sebelum Kila mengantar kedua anaknya itu kesekolah, Aksel sudah lebih dulu pergi.


" Kamu nggak kerja Aks." Tanya Devi mencoba menutupi keterkejutannya.


" Nggak, Aku cuma ikut apel pagi aja."


" Terus nggak kekantor." Tanya Devi lagi.


" Aku sudah mundur dari jabatan aku sebagai CEO.."


" Kenapa?"


" Nggak papa."


" Ko nggak papa! Aks semua baik baik saja kan." Tanya Devi dengan suara yang begitu lembut, iya menghampiri Aksel dan langsung duduk di pangkuan suaminya itu.


Devi mengangkat wajahnya Aksel, menatap begitu dalam kedua manik suaminya dengan Dahi yang saling menempel. " Kenapa Aks."


" Maaf, karena jabatan itu, aku sia siakan kamu, Aku nyakitin perasaan kamu, maaf kan aku Dev. Aku sayang banget sama kamu." Aksel melingkar tangannya pada pinggang Devi, memutuskan Padanannya dan menenggelamkan wajahnya pada tengkuk leher Istrinya.


" Jangan terus minta maaf Aks, semua sudah berlalu! Jalani saja apa yang di gariskan tuhan untuk kita." Ucap Devi sambil mengusap punggung Aksel.


" Maaf ya atas sikap Nanda dan putra tadi pagi." Sebenarnya Hati Devi juga sakit mendengar ucapan Nanda dan putra tetapi dia bisa apa, toh Devi tidak terlalu mengenal sikap kedua anaknya. Sekalipun darah mempengaruhi sikap seorang anak tetapi pada dasarnya didikan dan lingkungan sekitar yang paling berpengaruh terhadap sikap mereka. " Jangan kasari mereka lagi ya Dev, sekali pun apa yang kamu lakukan itu baik, tetapi mereka akan berpikir yang tidak tidak tentang kamu, karena mereka masih begitu sensitif, mungkin karena mereka begitu merindukan kasih sayang kamu Dev, sekali pun hidup mereka serba berkecukupan." Devi hanya tersenyum walaupun, Aksel tidak bisa melihat senyum istri, tetapi usapan lembut dari jari jari tangan Devi di rambutnya sedikit mengobati rasa rindunya.


" Nggak papa Aks, itu hanya perkenalan! kedepannya aku nggak akan buat anak anakku mengemis kasih sayang dari wanitamu."


" Devina."


" Cup, jangan pakai urat bisa?" Devi mengecup singkat bibir Aksel, Setelah itu ia berdiri dari pangkuan suaminya itu.


Devi mencari ponselnya yang ia letakkan pada tas tangannya, Setelah mendapat apa yang dia cari, Devi langsung menghubungi nomor Erik.


" HHHNMMM." Jawab Erik dari seberang sana.


" Kamu kenapa Rik, Lagi PMS?" Goda Devi pada temannya yang setengah laki laki dan setengah lagi perempuan itu.

__ADS_1


" Dimana kamu?" Tanya Erik tanpa basa basi.


" Kenapa kamu tanya gitu? eh Erik aku ini bukan anak gadis yang harus kamu tanyai " jawab Devi membuat Erik di seberang sana memutar bola matanya malas.


" Aku tanya karena aku khawatir kamu tidak pulang semalam, aku tanya mbak Nadia katanya pas kalian keluar dari bioskop kamu Langsung pergi begitu aja, nggak peduli sama mbak Nadia dan calon suami kamu." Ucap wanita berurat itu, membuat Devi tersentak.


" Calon suami?"


" Ya Calon suami kamu! jangan bilang kamu amnesia dadakan?"


" Bukan gitu Rik, maksud aku, Sejak kapan aku punya calon suami?"


" Kan pura pura lupa dia, Eeh sarap, wanita berotak separuh kamu kan bilang nggak mau balik lagi sama suami kamu itu, berarti kamu setuju nikah sama Raihan donk." Devi semakin di buat bingung dengan kata kata Erik yang mulai ngelantur.


" Aku nggak pernah ya ngomong mau nikah sama dia, jadi jangan buat berita hoax."


" Apanya yang hoax, bukannya pilih kamu itu cuma 2 balik sama ayah Sevi atau nikah sama Rayhan."


" Siapa kamu, bapak bukan, emak bukan! kenapa jadi kamu yang nentuin pilihan aku."


" Susah ya kalau ngomong sama orang yang otaknya udah separuh, rada rada nggak nyambung tahu nggak."


" Kamu ngomong seakan kamu yang paling benar aja ya! Situ nggak sadar Bu, kelaminnya cowok ngaku ngaku cewe Haddeeeh, kayanya kamu butuh di ruqyah deh biar sadar."


" Dasar Erik sialan."Devi langsung melempar ponselnya.


" Ada apa sayang." Tanya Aksel yang kini sudah Menganti seragam PDH Dengan kaos berkerah.


Aksel melipat kedua tangannya di memandang kearah arah Devi yang sedang kesal karena Erik itu.



" Nggak papa, Aku mau ke cafe." Devi Berjalan melewati Aksel dan langsung masuk ke walk in closed, untuk Menganti bajunya.


Tidak butuh waktu lama untuk Devi Menganti pakaiannya, Setelah melihat penampilannya di kaca sudah rapi, Devi langsung keluar ruangan khusus pakaiannya dan Aksel itu.


" Aks, kalau anak anak pulang, langsung aja ajak ke cafe ya! aku tunggu, Assalamualaikum." Tanpa menunggu Jawaban Aksel Devi langsung pergi begitu saja.


" Ceklek." belum 5 menit Pintu kamar itu tertutup, kini sudah terbuka lagi dari luar.

__ADS_1


" Ada apa sayang, Ada yang ketinggalan." Devi hanya menyengir kepada Aksel, melihat itu satu alis Aksel langsung terangkat.


" Bisa pinjam mobil kamu."


" pakai saja! karena semua yang menjadi milikku adalah milik kamu juga." Ucap Aksel yang kini sudah berada hadapan Dengan Devi, tangan Aksel mengusap pipi Devi memberi kecupan pada kening Devi. " Hati hati ya sayang, jangan terlalu cape." Sambungnya.


" Iya " Devi menadahkan tangan kepada Aksel, Seketika Aksel langsung mengeluarkan tiga Card-nya untuk Devi. " Aks, Aku minta kunci, bukan kartu kartu kamu ini." Ucap Devi.


" Kunci mobil masih di tempat yang sama! untuk kartu kartu ini sebaiknya kamu yang simpan Dev, karena ini menang hak kamu."


" Tidak Aks, Aku mungkin memaafkan kamu, tetapi bukan untuk kembali disisi kamu." Devi mengecup pipi Aksel singkat, Setelah itu iya berjalan menuju ruang kerja Aksel, dimana ia meletakkan kunci mobilnya.


45 menit cukup untuk Devi sampai di cafenya, begitu sampai Devi langsung mengecek kebutuhan cafe, juga menanyakan keluhan pelayan dan pengunjung cafe Sebelum masuk keruang Nadia.


" Mbak ada yang cari mbak." Ucap salah satu pelayan kepada Devi yang sedang berdiri di salah satu meja pengunjung.


" Siapa." Tanya Devi pada pelayanya itu.


" Nggak tahu mbak, katanya si pengen ketemu sama mbak Dira."


" Oh ya sudah nanti mbak temui." Pelayan itu langsung pergi setelah mendapatkan Izin dari Devi.



Devi melangkah keluar cafe, iya melihat seorang wanita sedang berdiri memunggunginya. " Maaf apa anda mencari saya."


" Iya, Maduku."


.


.


.


.


Bersambung.


🍀 sebelumnya aku mau minta maaf buat kalian karena sudah buat kalian menunggu, disini aku cuma mau kasih tahu buat kalian, untuk satu Minggu kedepan aku Upnya nggak menentu ya, soalnya kita disini lagi sibuk banget buat tahlilan 40 hari mama aku yang tinggal beberapa hari lagi, kalau kalian sudah Favorit kan, tunggu notip Aja ya🍀

__ADS_1


Love love sekebon Deh buat kalian yang mau mengerti ❤️❤️😙😙


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2