
Setelah memberikan Aksel sedikit pelajaran, Devi langsung meninggalkan suaminya yang tengah terduduk sambil memegangi benda pusakanya.
Beginilah Aksel yang selalu terbuai dengan pesona dan Kehadiran Devi dirumah mereka, membuat Aksel melupakan sikap bar bar istrinya itu, Dan hasilnya seperti sekarang ini Aksel hanya bisa terduduk meringis di lantai.
" Kasian Sekali nasibmu tong, tong Setelah Sekian lama kita berpuasa dan bersolo karir, bukannya dimanja dan di elus elus, kita malah di siksa." Ucap Aksel pada benda yang ada diselangkangannya.
Aksel mengatur nafasnya, tatapannya tidak lepas dari pundak Devi, yang semakin menjauh dari pandangannya. Untuk beberapa saat dia terdiam dalam posisi yang sama, menunggu rasa sakitnya meredah.
Setiap perbuatan Devi kepadanya mau itu baik atau jahat sekali pun, Aksel tidak pernah marah atau pun membalasnya, jika dia Lelah menghadapi Istrinya, dia lebih memilih mendiami Devi dan membiarkan Devi sendiri. Bukan karena rasa cintanya telah berganti dengan rasa bosan tetapi dia hanya ingin Istrinya tahu, kalau dia juga mempunyai batas kesabaran, Tanpa harus menyakitinya secara fisik maupun lisan.
Aksel beranjak berdiri dari duduknya setelah rasa sakit di pusakanya sedikit Reda, dengan perlahan iya melangkah masuk kedalam kamar mereka.
" Kamu kenapa berjalan seperti itu." Tanya Devi tanpa merasa berdosa sedikit pun, bahkan dia bersikap seolah dia tidak tahu apa yang terjadi pada suaminya.
" Jika kamu ingin membuatku impoten, sebaiknya kita kedokter saja, tetapi jangan menyakitinya seperti ini." Devi hanya tersenyum menanggapi ucapan Aksel. " Terima kasih sudah mau mendengarkan penjelasan aku, Dev! Aku harap kita bisa kembali seperti dulu demi mereka." Ucapnya lagi tetapi tidak mendapatkan respon apapun dari Devi.
Aksel memutuskan untuk berbaring di lantai beralaskan karpet dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya, kedua tangannya iya jadikan bantal. Sedangkan Devi sendiri belum tidur, kedua mata wanita itu masih terjaga. Entah apa yang di pikirkan Devi, Sehingga pandangannya tetap fokus pada langit langit kamar itu.
" Kenapa diam, Apa masih ada yang mengganjal di hati kamu, Dev." Suara Aksel kembali terdengar, tetapi Devi seolah tidak mendengar perkataannya.
" Sudahlah Aks, Aku ngantuk, kita bahas lagi lain waktu." Devi memutar tubuhnya, iya memunggungi Aksel. Membuat kepala Aksel pening seketika.
Mood Devi yang tadinya begitu tenang, kini berubah menjadi dingin seketika! Jika Aksel tahu semuanya akan sesulit ini, mungkin sejak dulu dia telah memberitahu Devi tentang Heni, tetapi apa daya rasa takut kehilangan dan tidak sanggup melihat orang yang dia cintai kesakitan membuat Aksel menngulur waktu dan pada akhirnya bukan hanya Dia dan Devi yang terluka, bahkan ketiga anaknya juga menanggung dampaknya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
__ADS_1
Seperti pagi pagi sebelumnya, Devi kembali terbangun di waktu subuh, iya melirik ke arah Aksel, lelaki itu masih terlelap begitu juga dengan kedua putranya, lain halnya dengan Sevi, gadis kecilnya itu telah bangun. Sevi duduk bersandar pada kepala ranjang mengumpul semua kesadarannya.
" Masih ngantuk?" Tanya Devi dan gadis kecilnya itu hanya menggeleng. " Kalau begitu bangunkan Ayah dan kakak kita Sholat Sama sama." Pintah Devi. Setelah itu Devi beranjak ke kamar mandi.
Sevi terus menguncang tubuh Aksel dan kedua kakaknya, tetapi tidak ada tanda tanda, ketiga orang itu akan bangun.
Sevi menyerah iya memilih kembali duduk di sofa sambil melipat kedua tangannya di dada, menunggu mommynya.
"Ceklek." pintu kamar mandi terbuka.
" Sayang kenapa nggak bangunin Ayah." Tanya Devi yang baru selesai dengan ritual bersucinya.
" Udah, Dede udah bangun Ayah dan tata, tapi meleta ndaa bangun, Cape mom." Keluhnya kepada sang mommy.
" Biar mommy yang bangunin mereka." Ucap Devi, tangannya bergerak mengusap rambut Sevi.
Devi tidak menjawab, iya berjalan kearah kulkas mini yang tersedia di kamar mereka, membuka pintu kulkas lalu mengambil Air mineral dalam kemasan.
Devi menyiram sedikit air itu ke telapak tangannya " Dingin" itu yang Devi rasakan. Tanpa ba bi bu, Devi langsung mengusap wajah kedua putranya secara bergantian.
" Dingin." Teriak keduanya saling bersahutan di kamar ini.
" Nggak ada dingin dingin, bangun siap siap Kita sholat sama sama." Suara Devi begitu tegas. Tidak peduli dengan wajah protes dari kedua Anak itu.
"Kenapa? Ko malah, pada lihat mommy kaya gitu."
__ADS_1
" Mama Eni tidak pernah bangun kita kaya gini mom, kita selalu di sayang sama mama Eni, sekali pun kita buat salah juga nggak pernah di marahi kata mama Eni nggak papa, soalnya kita masih kecil." Ucapan putra, membuat hati Dev tersentil. hati wanita mana yang tidak sakit ketika anak anaknya membandingkan kasih sayang dan cara mendidiknya dengan wanita yang menyebabkan mereka harus terpisah.
" Maaf ya sayang, maafin mommy." Devi mengusap rambut kedua anaknya. " Sekarang bangun temani mommy sholat." sekali pun sakit hati yang dia rasakan, tetapi Devi tidak sedikit pun menyalahkan kedua anaknya.
Sedih, Kecewa, sakit hati itu yang Devi rasakan saat tetapi mau bagaimanapun Henilah yang mengurus mereka berdua wajar jika mereka membandingkan dia dengan Heni.
" Jangan liatin mommy taya gitu, butan cuma talian yang mommy buat taya gitu, Dede, tata Esty dan tata lendy, udah pelna di banguni patai es Dingin." Ucap gadis kecil itu, walaupun masih kecil sedikit sedikit Sevi sudah mulai paham. " Tata bunda, kalau Olang sayang telus peduli, meleka Atan telus malah jita tita buat salah, talau ndaa malah tandanya ndaa sayaang dan ndaaa peduli. Benaltan mommy?" Tanya Sevi pada mommy nya, Air mata yang Devi tahan airnya terjatuh juga, membasahi pipinya.
Walaupun Sevi di besarkan di lingkungan yang jauh dari keluarganya tetapi iya mendapatkan cinta dan kasih sayang yang tulus dari orang orang yang peduli kepada mereka, baik itu dari Erik, Nadia dan juga Raihan.
Berbanding terbalik dengan Nanda dan putra Sekalipun keduanya di besarkan dalam lingkungan keluarga, tetapi mereka tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang seperti yang Sevi dapat, papa mereka sibuk dengan keterpurukannya karena kehilangan Devi, kakek neneknya juga sayang tetapi tuntutan kesana kemari membuat mereka jarang memiliki waktu untuk kedua anak itu, Kila sendiri juga sibuk dengan kuliahnya, begitu juga dengan Dede maupun Lee. Henilah yang ada untuk mereka entah didikkan itu baik atau salah, keduanya tetap menganggap Henilah yang sayang kepada mereka karena wanita itu selalu ada untuk mereka.
Bahagia bukan tentang harta dan keluarga, sebab cinta yang tulus tidak selamanya datang dari materi dan ikatan darah. Bahagia itu sederhana, tergantung bagaimana cara kita menggapai kebahagiaan itu sendiri.
.
.
.
.
Bersambung.
Maaf ya kemarin nggak Up🙏🙏 soalnya tuntutan Reaal nggak bisa di tunda.
__ADS_1
IG Vi_via129 kali aja ada yang mau Dm Tanya di IG🤣🤣🤣
🍀 Tinggalkan jejak ya jika kalian suka 👍