
" Mama Mama." Teriak keduanya, membuat Kila langsung mematikan sambungan telepon video mereka tanpa menjawab salam Devi. dia tidak ingin membuat yang lainnya curiga.
Tetapi sayangnya, sikap dia bukannya membuat si kembar diam, mereka justru semakin menjadi jadi, Menangis, berteriak dan meraung raung, meminta Kila untuk kembali menghubungi Devi.
" Aunty, Aku mau Mama." Ucap Putra, Dengan tangisnya yang samakin membesar.
" Diam dulu sayang, Aunty janji kalau sudah diam Aunty telpon lagi Mamanya." Bujuk Kila. Beruntungnya kamar Kila kedap suara jadi tangisan mereka tidak sampai terdengar anggota keluarga yang lain.
" Mau Mama nggak nih." Tanya Kila lagi. Keduanya pun mengangguk. " Ya udah diam dulu, baru Aunty telpon mama lagi."
" Janji ya Aunty." Ucap Nanda.
" Iya bawel."
Setelah kedua anak itu tenang Kila Langsung mengirim pesan kepada Devi. Dia merasa tidak enak, karena telah mematikan panggil Devi begitu saja, Tanpa sepatah kata pun.
...Mbak Dira...
^^^Assalamualaikum mbak!^^^
^^^Maaf 🙏 Ini aku Akhila^^^
Waalaikumsalam.
Kila?
Mbak pikir siapa, habis Panggilannya di matiin begitu saja.
^^^Iya Mbak maaf ya🙏🙏^^^
^^^Soalnya tadi ponakanku lagi rewel.^^^
Rewel kenapa?
Sakit kah?
^^^Nggak ko mbak.^^^
^^^mereka lagi kangen aja sama mamanya.^^^
Emang mamanya kemana?
^^^mama mereka udah meninggal mbak.^^^
Innalilahi wainnailaihi rojiun.
semoga tenang ya disana.
^^^Amiin Mbak! makasih^^^
^^^Mbak.^^^
Iya
^^^Aku boleh video call sama mbak?^^^
Boleh donk.
^^^Tapi^^^
Tapi Apa?
__ADS_1
^^^Nggak jadi deh mbak.^^^
Loh kenapa?
Kalau perlu bantuan ngomong aja.
^^^Kila pernah bilang sama mbak, kalau wajah mbak itu mirip dengan kakaknya Kila.^^^
Iya Terus.
^^^^^^boleh nggak Kila minta tolong sama mbak.^^^^^^
Ngomong aja Kila.
^^^Boleh nggak keponakan aku manggil mbak sama seperti, putri mbak.^^^
Mommy maksudnya?
^^^iya mbak^^^
Kenapa?
^^^Karena Wajah mbak mirip dengan mamanya mereka^^^
Maaf Kila mbak nggak bisa, mbak nggak mau boongi mereka.
^^^Ayolah mbak!^^^
Gini aja, Kamu datang ke Cafe mbak yang ada di Jalan ......
Biar nanti kita ngomong di sana aja.
^^^Baiklah mbak, kita kesana sekarang.^^^
" Sayang, telpon mamanya nanti aja ya soalnya Aunty ada janji sama Temen." Ucap Kila penuh penyesalan, dia tahu kedua keponakannya itu pasti Kecewa kepadanya.
" Nggak mau, Aunty boong." Ucap Nanda. Keduanya kembali menangis, membuat Kila semakin bingung, dia tidak ingin keponakannya semakin kecewa kepadanya. Setelah cukup lama berpikir Kila memutuskan untuk mengajak keduanya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Dirumah minimalis nan mewah itu, seorang lelaki baru saja terbangun dari tidurnya, Dia menatap kesetiap sudah kamar, kamar itu masih Sepi seperti biasanya, Tidak ada wanita egois nan keras kepala itu lagi.
" Apa aku harus, menerima kalau kamu sudah tidak ada di sisiku lagi?" Tanyanya pada diri sendiri.
Di luar dia terlihat begitu tegar layaknya batu karang yang kokoh saat di hantam ombak, tanpa banyak yang tahu batu karang yang kokoh itu perlahan lahan di kikis menjadi butiran pasir.
Hidup dalam penyesalan bukanlah sesuatu yang mudah, Tetapi mau bagaimana lagi, semua sudah terjadi mau tidak mau kita harus menjalaninya.
Tring... tring... tring..
Bunyi Dering ponsel menyadarkan lelaki itu Dari lamunannya, tangannya meraih ponsel itu dan menjawab panggilan dari adiknya.
Ada apa Za. Jawabannya tanpa salam.
Kakak dimana? hari ini jadi nggak Ke cafe itu?
Jadi.
Mau aku jemput atau kita langsung ketemu disana saja?
Kita ketemu disana saja.
__ADS_1
Oke kalau begitu aku tunggu kakak disana.
Panggilan itu pun berakhir. Usai meletakkan ponselnya lelaki itu langsung masuk ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya di bawah guyuran shower.
Wajahnya kini terlihat lebih segar, setelah mendinginkan kepalanya di bawah guyuran shower, Iya melangkah masuk kedalam walk in closed nya, Terlihat pakaian Devi masih tertata dengan rapi di dalamnya.
Aksel mengambil baju kaos berwarna hitam dan celana denim, Setelah menggunakannya Aksel berjalan keluar rumah menuju mobilnya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Sampainya di cafe, Erik dan Devi melangkah masuk kedalam cafe yang terlihat begitu ramai itu.
" Kalian nggak kerepotan?" Tanya Devi, Dia tidak menyangka cafe akan seramai ini.
" Jangan di tanya lagi, aku sama mbak Nadia tuh repotnya minta ampun." Jawab Erik.
" Kenapa nggak kasih tahu aku sih.."
" Emangnya kamu bisa bantu? kalau di kasih tahu." Ucap Erik sedikit sewot.
" Setidaknya aku bisa pulang lebih cepat."
" Udah ahh, alasan aja lu kaya bajai, mending kita ke ruangan Nadia yu, Aku udah kangen banget nih sama keponakan aku yang lucu dan menggemaskan itu, sebelas dua belaslah sama aku." ucap Erik panjang kali lebar sambil merangkul pundak Devi.
" Enak aja, anak gue seimut dan selucu itu di bandingkan sama lu! Gue nggak Sudi ya." Ucap Devi langsung melepaskan rangkulan Erik.
" Terima Nasib aja Ra, emang itu kenyataannya." Desak Erik.
" Jangan buat gue muntah ya Rik."
Begitulah kedua manusia yang baru saja saling mengenal dan berteman, keseharian mereka penuh warna bukan karena sikap manis atau kepura puraan tetapi karena perdebatan yang berisi, hina dan ejekan, mungkin orang lain yang melihat hal itu akan merasa heran tetapi mereka tidak peduli selama mereka bisa tersenyum apa salahnya? toh selama itu tidak merugikan orang lain, kenapa harus pusing.
" Sayang sini sama Aunty kita kedepan." Erik merentangkan tangannya kepada Sevi yang tengah Asyik menikmati potong apel yang di suguhkan Nadia untuknya.
Buat hati dari Devi dan Aksel itu begitu menyukai buah dan Eskrim coklat, sama seperti kedua Abangnya.
" Aunty Lita." Teriak Sevi saat melihat Erik yang menghampirinya dan mengajaknya ke depan.
Gadis kecil itu hanya berteriak memanggil Erik sesaat, kemudian ia kembali fokus pada potongan Apel yang ada di hadapannya. Membuat Erik memanyunkan bibir layaknya anak kecil yang tidak di turuti maunya.
" Jangan so imut gitu, mending lu kedepan, bantu bantu." Ucap Nadia.
" Apa sih Nad, gue tuh capek di suruh nyetir, mending lu nyuruh ratu ular tuh bantu bantu jangan gue Mulu." Ucap Erik sambil melirik kearah Devi.
" Bodoh." Sahut Devi.
" Aunty ayo." Ucap Sevi sambil menarik tangan Erik, membuat perdebatan Antara mereka tidak jadi di teruskan.
Reza baru saja tiba di cafe itu, tidak lama berselang Aksel pun masuk kedalam cafe, dan perasaan yang sama kini kembali iya rasakan saat menginjak di pintu Cafe itu, yang anehnya, jantung Aksel kini berdetak dua kali lebih cepat dari pertama kali iya mendengar nama Devi, Aksel memegang dadanya. " Perasaan apa ini? apa Devi ada disini tapi kenapa perasaan ini jauh lebih kuat." Gumam Aksel Sambil memejamkan mata.
.
.
.
.
Bersambung.
Maaf ya Akhir akhir ini terlambat up, dan kalian sayang sayang aku yang minta buat Nana, Heni dan Gilang di kasih Karma, maaf aku cuma mau ngingetin aja ini bukan Novel Azab ya🤣🤣🤣 Happy Reading ya buat emak emak tetap semangat walaupun pusing karena anak anak pada ulangan, Aku tetap update tiap hari ko, belum ada waktu libur say, tapi untuk double 🙏🙏🙏🙏 belum bisa.
__ADS_1
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍