Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 34


__ADS_3

Riuh suara anak anak begitu nyaring terdengar di setiap sudut rumah minimalis itu, Ketiga Anak itu berlarian kesana kemari saling mengejar satu sama lain.


" Ayah satitt." Teriak Sevi, ketika putra menarik ujung rambutnya, Putra tidak bermaksud untuk menyakiti adiknya, iya hanya ingin mengambil pensilnya dari tangan Sevi, begitu juga dengan sih sulung yang ikut mengejar Sevi untuk mengambil bukunya.


Sekitar satu jam yang lalu kedua Anak itu baru saja pulang sekolah di Antar Kila, begitu sampai di rumah, mereka langsung berlarian masuk kedalam rumah untuk mencari keberadaan mommy mereka.


Sayang sekali orang yang mereka cari tidak ada, sehingga membuat wajah kedua anak itu langsung murung seketika.


" Mommy Pergi lagi." Ucap Putra dengan mata yang mulai berkaca kaca.


" Kenapa mommy tinggalin kita." Tanya Nanda kepada Adiknya.


" Aku nggak tahu kak." Keduanya duduk di sofa Dengan wajah yang begitu murung dan mata yang suda berkaca kaca.


" Kalian kenapa nak?" Tanya Aksel saat melihat wajah sedih kedua anaknya itu.


" Mommy pergi lagi." Ucap Nanda, butiran bening kini sudah mengalir membasahi pipi chubby Nanda.


" Kata siapa mommy pergi." Tanya Aksel tangannya mengusap wajah Nanda. " Anak cowo itu nggak boleh nangis ya."


" Terus mommy dimana yah?" Ucap putra.


" Di cafe lagi kerja sayang! kata mommy kalau kalian sudah pulang sekolah, langsung aja nyusul mommy ke cafe, tetapi setelah semua tugas sekolah kalian selesai."


" Benar yah?" Nanda memastikan ucapkan ayahnya barusan.


" Yeeaah." Teriak keduanya Setelah mendapatkan Anggukan dari Aksel.


Nanda dan putra langsung fokus menyelesaikan tugas mereka Setelah Menganti seragam sekolah mereka.


Sevi yang melihat kedua kakaknya, terlalu serius dan mengabaikan keberadaanya, langsung menjahili kedua Kakaknya, mengambil buku dan pensil mereka.


" Putra lepas." Bentak Aksel.


" Dia ambil pensil aku Yah." Putra melepas genggamannya pada rambut Sevi.


" Kamu bisa minta baik baik sayang, bukan dengan cara menyakiti adik kamu." Aksel menasehati putra, satu tangannya iya gunakan untuk mengusap kepala putra keduanya itu. " Nanda, putra kalian berdua harus menyayangi dan menjaga adik kalian ini." Aksel menujuk Sevi. " Bukan menyakitinya seperti tadi."

__ADS_1


" Iya Yah! maaf." Kedua Anak itu langsung memeluk Sevi secara bersamaan.


" Kamu jangan nakal lagi." Ucap Nanda pada Sevi.


" Iya tata."


" Awas kalau kamu nakal lagi, aku cabut rambut kamu." Bisik Nanda.


" Ayah."


" Putra, jangan buat Ayah marah ya." Ucap Aksel.


" Iya yah."


" Sekarang kerjakan tugas kalian, kalau mau cepat ketemu mommy." Tegas Aksel.


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


" Kamu bilang aku apa tadi? madu kamu, nggak salah?" Ucap Devi kepada wanita yang ada di hadapannya itu. Devi mengambil ikatan rambut yang selalu iya simpan di saku blazer yang iya gunakan, di ikat semua rambutnya keatas berbentuk Bun.


" Kenapa kamu tidak terima saya memanggil kamu seperti itu, Atau jangan jangan kamu lupa kalau saya juga istri sah suami kamu." Tantang Heni, Dia yang bertahan selama ini hanya untuk mendapatkan hati lelaki yang menikahinya, bahkan Heni selalu bertahan sekali pun dia diperlakukan layaknya sampah di rumah keluarga besar itu, Tetapi apa sekarang Bukannya cinta yang dia dapat, Mala bunyi talak yang dia terima, lebih menyakitkan lagi, itu adalah talak tiga dimana dia harus menikah terlebih dulu, jika dia ingin kembali menjadi istrinya Aksel. Semua ini terjadi karena wanita yang ada di hadapannya ini.


" Bukannya Kenyataan seperti itu, bahkan aku masih ingat dengan jelas bagaimana mana suami kita mengabaikan kamu waktu terjatuh di lift hari itu." Sungguh wanita yang tidak punya malu, sudah di Ceraikan masih saja bertingkah layaknya istri muda yang begitu di cintai.


" Aku tidak menyangka racunku ini begitu menganggap bodoh diriku." Devi menaikkan dagu Heni mengunakan jari telunjuknya, Sikap Devi begitu santai, " Tapi Aku tidak sebegitu menyedihkan sampai harus di kasihani sama kamu! Justru sebaliknya Aku kasihan loh sama kamu."


" Ceeh wanita yang menjijikkan." Umpat Heni.


" Oh ya, ko aku baru tahu ya kalau aku ini begitu menjijikkan! Padahal yang jelas jelas sampah ada di hadapan Aku." Ketenangan yang di tunjukkan Devi semakin membuat Heni berani, Dia lupa akan kata pepatah, jangan pernah memancing di air yang tenang.


" Apa maksud kamu ngomong kaya gitu." Tangan Heni terangkat, Saat ingin mendaratkan di pipi Devi. Devi lebih meraih pergelangan tangan Heni dan memutar pergelangan tangannya.


"Kreek."


" Ahh saakiitt."


" Sakit ya, kasian." Devi tidak begitu saja melepas tangan Heni, walaupun wanita itu terus menjerit kesakitan. " Aku tahu siapa orang yang ada belekang kamu! tetapi aku tidak terlalu peduli dengan kalian. Dan satu hal aku mau kasih tahu kamu, kamu itu bukan madu aku, kenapa ya karena Nama suami Aku AKSEL PRADIKA FIRMASHA bukan Rudi Setiawan. Jadi jangan terlalu menganggap dirimu berharga di depan aku, karena sekali sampah tetaplah Sampah kecuali kamu mau aku daur ulang."

__ADS_1


PLAAKK.


" Untuk wanita yang tidak tahu malu."


PLAAKK.


" Untuk ajaran yang kamu berikan kepada anak anakku."


PLAAKK.


" Ini karena kamu sudah berani menjelek jelekkan aku di depan anak anakku.


PLAAKK.


" Anggap saja sebagai ucapan terima kasih aku karena kamu sudah mau merawat kedua anakku."


Devi terus menampar pipi Heni, tanpa melepas tangan Heni yang iya patahkan, Jeritan wanita itu tidak membuat Devi kasihan, bahkan pengunjung yang melihat hal itu tidak dapat membantu Heni, mereka terlalu takut Dengan Devi.


Devi mendorong tubuh Heni sampai tersungkur dilantai, iya berjongkok dan kembali menarik rambut Heni. " Pasti kalian berpikir kalau saya ini kejam iyakan." Tanya Devi kepada pengunjung dan beberapa pengguna jalan yang lewat, tidak ada yang menjawab mereka hanya menatap satu sama lain, sambil bergidik ngeri, " Asal kalian tahu wanita ini, sudah berani menganggu rumah tangga saya." Devi meramas pipi Heni sambil menjambak rambutnya.


" Tiga tahun kamu hidup bersama Dede dan Nana bukan, harusnya kamu bertanya kepada mereka, Seperti apa itu seorang DEVINA ALDIRA, bukan langsung datang kepadaku tanpa persiapan sedikit pun" Devi semakin menekan kukunya pada kulit pipi Heni, sedikit demi sedikit pipi Heni mulai mengeluarkan darah, tetapi Devi tidak berniat untuk melepaskannya begitu saja iya justru membenturkan kepala Heni kelantai parkiran, saat ingin membenturkan lagi, Erik yang entah datang dari mana langsung mencegahnya.


" Dira." Teriak Erik sambil menadahkan tangan tepat di bawah kepala Heni. " Ra Lepas." Ucap Erik mencoba melepaskan genggaman tangan Devi di rambut juga pipi Heni.


" Apa kamu mau anak anakmu, hidup tanpa mommy mereka hanya karena wanita murahan ini." Mendengar itu Devi langsung melepaskan Heni. iya berdiri merapikan pakaiannya.


" Urus dia Rik, aku mau cuci tangan dulu."


Nasib baik kini sedang menimpa Heni, andai saja tidak ada Erik, entah jadi apa wanita itu.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung.


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍


__ADS_2