
" Kamu berpikir aku melakukan semua ini karena posisi CEO yang kamu punya? Serta harta keluarga kita?" Gilang Tersenyum " Aku tidak sepicik itu hanya karena harta, aku juga tidak akan mengecewakan Mama dan tidak akan membuat keraguan mama kepada ku benar benar terjadi. Tetapi maaf Aks, aku juga mencintai Istri kamu, jauh hari sebelum dia menjadi menantu di rumah ini, aku Dekat dengan Nana hanya untuk mendekatinya, terserah kalian mau menggap aku menjijikkan atau apapun itu aku tidak perduli, yang jelas aku sudah mencoba menyingkirkan dia dari hati dan pikiranku dan aku tidak bisa, itu sebabnya aku memanfaatkan Heni melalui program inseminasi buatan."
BHUUUK BHUUUK BHUUUK.
" Kamu boleh meminta apapun yang aku punya tetapi tidak dengan dia." Ucap Aksel sambil terus memukuli Gilang, tidak peduli jeritan dari keluarganya untuk meminta dia berhenti. " Abang tahu dia itu segalanya buat aku, susah payah aku berusaha untuk mendapatkan dia, walaupun cara aku terbilang licik setidaknya perasaan aku tulus kepadanya." Aksel kembali mehujamkan Gilang dengan pukulannya.
" Aku minta maaf, tetapi aku tidak bisa terus membohongi perasaanku!" sahut Gilang, membuat Aksel semakin tersulut emosinya.
Aksel menahan kerak baju Gilang, "Jika aku bisa memberikan apa saja untuk mendapatkan Istriku, maka aku akan melakukan apa saja, agar orang lain tidak memilikinya, termasuk kamu bang! Camkan itu." Aksel mendorong tubuh Gilang, Sehingga ia mundur beberapa langkah.
" Aku pun sama Aks." Ucap Gilang dengan senyum mengejeknya.
" GILANG ABRAHAM." Teriak Aksel.
Tangan Aksel semakin terkepal kuat, Terlihat urat uratnya dengan Jelas, saat Aksel ingin mendaratkan pukulannya kepada Gilang, Devi lebih dulu menahan tangan Aksel.
" Jangan buang buang tenaga kamu, untuk orang seperti dia, karena sampai kapan pun aku tidak akan membalas perasaannya, sekalipun lelaki di dunia ini hanya tinggal dia seorang." Ucap Devi sambil menahan tengkuk Aksel, membuat tatapan Aksel beralih menatap wajah Devi.
Devi Tersenyum manis, Ia membalas tatapan Aksel, membuat hati lelaki yang masih berstatus Suaminya itu, teduh saat melihatnya.
" Kita tidak bisa menghentikan perasaan orang lain kepada kita dan kita tidak bisa melarang mereka untuk mencintai, Selama perasaan mereka tidak merugikan kita, biarkan saja! toh suatu saat mereka akan lelah.
" Tetapi mereka sudah merugikan kita Dev."
" Iya Aku tahu Aks." Devi berbalik menatap Gilang, Ia meletakkan satu tangannya di atas pundak Gilang," Maaf aku tidak tahu sejak kapan Bang Gilang punya perasaan sama aku, tetapi semenjak Nana berubah aku tahu alasannya pasti soal ini, karena sejak dulu! cuma masalah seperti ini yang membuat dia benci sama Aku, Maaf bukannya Terlalu percaya diri atau apa. Tapi ini kenyataan yang sering terjadi antara kita berdua."
" Aku Akan memberikan kamu jawaban Besok jam 12 siang di cafe." Ucap Devi kepada Aksel. Setelah itu Devi mengajak Abbah dan Anwar untuk pulang ke rumah Anwar.
__ADS_1
Baru beberapa langkah Gilang Kembali berucap," Aku tahu kamu tidak percaya kepadaku, Aku juga tidak berharap kamu membalas perasaan aku, aku sadar selama ini aku tidak pernah menunjukkan perasaanku kepadamu! Aku melakukan semua itu agar tidak menyakiti Aksel, walaupun hatiku sakit setiap hari harus menutup dan membunuh perasaanku sendiri. Aku melakukan itu karena Aksel adalah Adikku, aku tidak ingin menyakitinya juga perasaan mama, aku kasar agar kamu menjauh sehingga aku tidak semakin tersiksa karena semakin aku dekat dengan kamu, hati aku semakin sakit." Cairan bening lolos dari sudut mata Gilang menggambarkan apa yang ia rasa saat ini." Aku mungkin selalu kasar dan terkesan cuek sama kehadiran kamu di rumah ini, itu semua aku lakukan hanya untuk diriku sendiri, aku tidak ingin jatuh terlalu dalam, dalam pesona kamu! Dan Aku tidak pernah berniat untuk merusak kebahagiaan kamu, karena dengan melihatmu bahagia, aku ikut tersenyum walaupun bukan aku yang buat kamu bahagia. Tanyakan kepada Nana, dalam sehari aku berapa kali bertanya tentang mu. Dan Aku berani segila ini karena Aksel memberikan aku kempatan untuk melakukannya.
Semua orang langsung menatap penuh tanya kepada Gilang.
...🍀 Flashback on 🍀...
Gilang Hendak keluar untuk makan siang, di restoran yang berhadapan langsung dengan perusahaan Firman Group. Saat berada di lobby, Gilang melihat seorang wanita yang sedang berdebat dengan Resepsionis.
Gilang memutuskan untuk menghampiri mereka, " Ada apa ini?" Tanya Gilang saat berada tepat di belakang wanita yang tidak lain adalah Heni.
" Maaf Pak Gilang, wanita ini sedang mencari suaminya." Ucap Resepsionis kepada Gilang.
" Siapa nama suami kamu, di bagian apa dia berkerja." Tanya Gilang kepada Heni.
" Nama suami Aku Rudi Setiawan, aku tidak tahu dia berkerja di bagian apa! kata tetanggaku perusahaan ini, yang menyumbang untuk operasi anak mereka."
" Untuk bantuan sosial memang banyak yang kami bantu, tetapi apa hubungannya sama suami kamu?"
" Apa kamu mempunyai foto suami kamu?" Tanya Gilang.
Heni langsung mengeluarkan Foto dia dan Aksel, sehabis ijab kabul. " Ini suamiku." Heni menyerahkan foto itu ke tangan Gilang.
" Kamu yakin? kamu jangan main main sama saya?" Ucap Gilang yang tidak terima Aksel menikahi wanita yang ada di hadapannya, Sedangkan disini dia sedang berusaha mengubur perasaannya.
" Iya pak, ini memang suami saya."
" Ya sudah kamu ikut saya dulu nanti saya bantu untuk mencari suami kamu." Heni mengangguk Setelah itu iya mengikuti langkah Gilang keluar dari perusahaan itu. Niat awalnya hanya untuk menjauhi Heni dari Aksel dia tidak ingin Devi terluka karena wanita itu.
__ADS_1
Gilang membawa Heni, ke kontrakan yang pernah di tempati, Devi, Nana, Lee dan Dede! karena Gilang tahu! 2 kontrak itu telah Aksel beli dari pemiliknya, sebenarnya Aksel ingin membeli sepenuhnya tetapi pemilik kontrakan itu menolak, dengan uang dan sedikit rayuan dua kontrak yang menjadi tempat tinggal wanita wanita yang membawa warna dalam hidup mereka kini bisa Aksel beli.
" Aku akan mencari suami kamu, kalau sudah ketemu aku akan mengantar kamu kepadanya. Untuk sementara kamu tinggal dulu disini, jika perlu sesuatu hubungi aku." Gilang menyerahkan kartu namanya Sebelum meninggalkan kontrak itu.
Saat Gilang Pergi, Heni mendapatkan telpon dari keluarganya di kampung, kalau suaminya mengirimkan surat kepadanya. Heni meminta kepada Adik perempuannya untuk membaca surat yang berisi kata kata talak kepadanya. Heni begitu kaget dengan keputusan Aksel.
Besoknya Heni menghubungi Gilang untuk datang ke kontrakan, Gilang pun mengiyakan permintaan Heni.
Jam Istirahat makan siang, Gilang memutuskan untuk menemui Heni. " Kemarin aku baru saja di talak suamiku, Aku tidak ingin berpisah dengan suamiku, tolong bantu aku." Ucap Heni. Tanpa basa basi, begitu Gilang tiba di kontrakan.
" Suami kamu saja aku tidak tahu siapa, bagaimana bisa aku membantu mu." Gilang masih menyelidiki apa yang terjadi sampai Aksel menikahi wanita yang ada di hadapannya ini, sehingga dia berbicara seperti itu.
" Mungkin sekarang aku belum bertemu dengan suamiku, tetapi aku yakin suatu saat aku pasti akan bertemu dengannya, Saat itu terjadi Aku ingin dia membatalkan talaknya itu."
" Kalau dia tidak mau bagaimana?" Tanya Gilang.
" Mau tidak mau, dia harus mau jika Aku hamil."
" Maksud kamu?"
.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung.
🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍