
Dokter Nisa tersenyum penuh Ejekan kepada mama Aisya dan Aksel, " Anda menuduh saya atas ketidak pedulian anda terhadap istri anda sendiri? Tuan dan Nyonya Firmasha yang terhormat kemana saja kalian selama ini? Setelah sekian lama baru kalian Sadar dan mencari tahu semuanya?"
" Semua ini tidak akan pernah terjadi jika kalian tidak menipu kami." Aksel mulai berteriak Kepada Dokter Nisa.
" Terserah apa yang akan kalian tuduhkan kepada saya, saya tidak peduli dengan semua itu, Lebih baik Kalian katakan Tujuan kalian, karena masih banyak pasien saya yang mengantri di luar." Tegas Dokter Nisa. " Saya hanya akan menjawab 1 pertanyaan dari kalian tidak lebih." Sambungannya.
" Berapa Anak Yang di kandung istri saya waktu itu?" Tanya Aksel.
" 3, Silahkan kalian keluar." Jawab Dokter Nisa tanpa pikir panjang.
" Anda sombong sekali." Seru Mama Aisya, Mama Aisya ingin menjambak rambut dokter Nisa tetapi tangan Aksel Dengan cepat mencegahnya.
" Sudah Ma, lebih baik kita pergi dari sini." Aksel bersama mama Aisya pun melangkah keluar ruangan dokter.
Setelah kepergian ibu dan anak itu, Dokter Nisa menarik nafas panjang dan menghembuskannya, iya menyandarkan punggungnya pada kursi yang iya duduki, tangannya meraih ponsel yang ada di laci meja kerja, Setelah membuka laci itu.
Dokter Nisa memutuskan untuk menelpon Anwar.
Tut... Tut... Tut..
Assalamualaikum, Selamat malam! Ucap Dokter Nisa ketika sambung telpon itu di jawab Anwar.
Waalaikumsalam, Malam juga Dok! Ucap Anwar dia tersenyum menatap lurus kepada wajah Sevi yang tengah tertidur di hadapannya. Ada apa ya Dok? Tanya Anwar pada dokter Nisa.
Maaf ya Dokter Anwar kalau saya sudah menganggu waktu istirahat Anda.
Tak masalah, saya yakin anda menelpon pasti ada yang ingin Anda sampaikan kepada saya! iya kan Dok?
Eeh iya, saya hanya ingin memberitahu Anda, bahwa Nyonya Firmasha dan anaknya baru saja keluar dari ruangan saya.
Oh jadi mereka sudah bertindak! baguslah kalau begitu!
Hanya itu yang ingin saya sampaikan, Selamat malam.
Terima kasih ya dok atas infonya.
Sama sama, Assalamualaikum.
Waalaikumsalam, panggilan itu pun berakhir, Anwar mengusap punggung Sevi Dengan sayangnya.
" Papa tidak bermaksud untuk memisahkan kamu dari ayah dan juga kakak kakakmu, tetapi keadaan yang memaksakan papa untuk melakukan hal itu! Jika nanti mommy mu ingin kembali papa akan membersihkan duri di jalan, agar tidak melukai kalian berdua! tetapi untuk saat ini, Papa hanya ingin melihat perjuangan ayah kamu untuk mendapatkan kamu dan mommy mu." Ucap Anwar Iya mengecup kening Sevi dan menyelimuti tubuhnya setelah itu Anwar melangkah keluar kamar dimana Sevi dan putrinya tidur.
Anwar masuk ke kamarnya, iya duduk dan bersandar di kepala ranjang, memikirkan Nasib Adik dan keponakannya itu.
__ADS_1
" Ting" Bunyi notip yang masuk di ponsel Anwar. Anwar membuka pesan itu, bibir langsung melengkung sempurna ketika melihat isi pesannya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Esok harinya, Sevi yang terus merengek minta untuk di antarkan kecafe, membuat Rara mau dan tidak mau harus mengantarnya siang itu.
Rara menitip Putrinya kepada perawat dan pengurus Rumahnya, Barulah iya dan Sevi menujuh cafe.
Sepanjang perjalanan Sevi begitu gembira, iya bernyanyi dan sekali kali bertanya kepada Rara jika matanya menangkap sesuatu yang baru di lihatnya.
" Ma." panggil Sevi.
" Iya sayang ada apa." Tanya Rara sambil melirik sekilas ke arah Sevi sebelum tatapannya itu kembali fokus kedepan.
" Tenapa Dede ta punya papa sama seperti tata Esty dan juga tata Tity (kiky)."
Tanya sambil melihat ke luar jendela mobil. " Meleta uga, puna Papa sama tata Esti dan tata Tity." lanjutnya lagi sambil menunjuk ke arah luar.
Mobil yang di bawah Rara kini tengah berhenti, sehingga Rara bisa melihat objek yang di tunjuk Sevi. Iya menunjuk seorang Anak yang tengah di gendong ayahnya saat akan menyebrang jalan dan seorang lelaki yang tengah merapikan rambut anaknya.
Bibir Rara Keluh, iya sadar dari keegoisan orang tua anaklah yang menjadi korbannya, pikiran orang dewasa ingin di mengerti dan di sayangi membuat mereka saling menyalahkan dan lupa akan tangung jawab serta niat awal mereka bersatu.
" Sayang kamu punya papa ko, Sama seperti Esty dan Kiky..."
" Bukan sayang, tapi papa Sevi sendiri." Jawab Rara.
" Siapa." Tanya Sevi lagi.
" Nanti kalau sudah waktunya, Sevi pasti akan tahu siapa papa Sevi yang sebenarnya.
Wajah Sevi langsung cemberut ketika mendengar jawaban Rara, sepanjang perjalanan gadis itu hanya menunjukkan ketidak kekesalannya dengan terus berceloteh tak jelas.
Rara yang mendengar hal, ingin sekali tertawa, tetapi iya menahannya, agar Sevi tidak semakin Kecewa terhadapnya.
...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...
Di cafe siang itu begitu ramai, seperti biasanya Nadia dan Erik suka kualahan ketika jam makan siang seperti sekarang ini, Devi yang tengah duduk termenung di ruangannya Nadia, harus turut membantu melayani pelanggan yang berkunjung ke Cafenya.
...Devi, Nadia dan Erik begitu sibuk dari meja satu kemeja yang lain begitu juga beberapa pelayan yang lain....
Tanpa mereka sadari dari sudut Cafe, Devi terus di perhatikan oleh beberapa pasangan mata. Yang tidak lain adalah adalah Aksel, Lee, Dede,Reza dan Gibran.
__ADS_1
" Aku nggak nyangka bisa melihat Mak lagi, Aku kangen banget sama dia." Ucap Lee kepada yang lainnya.
" Aku juga ka." Dede pun turut menyuarakan perasaannya.
Aksel, Gibran dan Reza Hanya diam, tetapi pandangan mereka masih tertujuh kepada objek yang sama.
" Ka kita samperin Mak yuk." Ajak Dede tetap Aksel langsung mencegah keduanya.
" Jangan, kalian sudah janji! hanya melihat saja, jika kalian menghampirinya saat ini dia pasti akan menghindar kita." Ucap Aksel.
" Itu nggak mungkin Ka! Aku tahu Mak orangnya seperti apa, Dia nggak mungkin menghindari kita." Ucap Dede.
" 3 tahun lebih bukan waktu yang sebentar De dan dalam sebulan saja sikap orang bisa berubah apa lagi 3 tahun lebih." Ucap Aksel membuat Dede menghentikan niatnya untuk menemui Devi.
Untuk sesaat mereka terdiam, sebelum suara seorang Anak mencuri perhatian mereka.
" Mommy."
Devi yang mendengar suara itu pun langsung berbalik dan menatap ke arah pintu Cafe begitu pun pengunjung yang lain.
" Esty." Ucap Devi Iya berjongkok dan merentangkan tangannya, sambil menunggu Esty yang berlari ke arahnya.
" Mommy, mommy." Resty memeluk tubuh Devi iya menangis dalam pelukannya, " Esty kangen sama mom, mom kenapa nggak pernah telpon Esty, Esty janji nggak akan nakal, Esty janji akan sayang sama Dede tapi jangan tinggalkan Esty lagi." Ucapnya dengan sesegukan. membuat pelanggan yang mendengar hal itu turut larut dalam perasaan gadis kecil itu.
" Maaf." Ucap Devi penuh penyesalan.
" Mommy." Panggil Randy, Devi mengangkat wajahnya menatap wajah Randy.
" Sini sayang." Ucapnya, ketiganya pun berpelukan layaknya Teletubbies, Saat tengah lurut dalam pelukan kedua anak itu, Sudat mata Devi menangkap sosok yang begitu iya kenali, Devi pun memperjelas pandangannya. Saat kedua orang itu saling menatap suara basa dengan serak khasnya memutuskan pandangan keduanya.
" Anaknya aja yang di peluk Nih, Daddy nya."
.
.
.
.
Bersambung.
🍁 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍
__ADS_1