Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 51


__ADS_3

Setelah Kejutan yang di berikan Aksel siang tadi, Kini giliran Keluarga dan sahabat Sahabatnya yang berkumpul untuk memberikan Kejutan kepada Devi.


Acara makan malam yang dijanjikan mama mertuanya, berjalan sesuai rencana! tetapi jauh dari ekspektasi Devi. Ya Devi pikir itu hanya makan malam biasa tetapi apa yang dia dapat jauh dari apa yang dia pikirkan. Taman Belakang rumah itu di sulap menjadi Garden party.


" Ma, ini sungguh berlebihan! Devi bukan Sevi yang harus di rayakan ulang tahunnya seperti ini." Ucap Devi kepada mama mertuanya.


" Apanya yang berlebihan nak! bagi mama acara ini terlalu biasa! Kalau bukan suami kamu yang larang karena takut kamu nggak nyaman! mama sudah sewa hotel bintang lima buat acara kamu ini, Mama undang semua pemengang saham di perusahaan kita serta semua klaen papa dan suami kamu." Ucap Mama Aisya membuat Devi melongo. " Biar semua Dunia tahu kamu adalah menantu tertua di rumah ini, kamu menantu kesayangan mama." Mama Aisya Memberikan Amplop berwarna coklat serta Kotak perhiasan untuk menantunya.


" Apa ini Ma?"


" Itu hadiah dari mama untuk kamu! maaf kan mama yang dulu! Bukalah." Pinta mama Aisya. Devi membuka amplop coklat itu, Dua lembar surat sebagai bukti pemindahan saham sebesar 5% atas nama mama Aisya untuk Devi. Sungguh Devi tidak dapat berkata kata! 1 set perhiasan yang Ada dalam kotak itu saja, sudah bisa Devi pastikan tidak Akan habis jika digunakan untuk makan cilok tujuh turunan 8 tanjakan 9 belokkan.


" Ini Hadiah dari papa." Papa Bastian menyerahkan kotak kecil kepada Devi,


" Papa tidak minta kamu umur panjang, karena batas umur kita sudah kita sepakati dengan Tuhan sesaat sebelum kita di lahirkan! Cuma hal yang papa minta Jaga Kesehatan dan jangan pernah berubah."


" Terima kasih Pa." Devi memeluk tubuh papa mertuanya.


" Sama sama Nak. Kamu tidak mau membuka hadiah dari papa." Tanya Papa Bastian.


" Oke Devi akan membukanya pa." Jawab Devi. " Kunci mobil." Ucap Devi setelah membuka kotak hadiah itu. Papa Bastian mengangguk.


" TUNGGU." Teriak gadis kecil di balik tubuh sahabat sahabat Devi, siapa lagi Gadis kecil itu kalau bukan si kecil Sevi.


Gadis kecil itu terlihat sedikit kesulitan saat berjalan melewati tubuh paman dan aunty aunty nya. Bagaimana tangan kiri Sevi memegang Amplop berwarna coklat sedangkan tangan kanannya membawa Gelas berisi air putih. " Ini Hadiah dali Abbah." Ucapnya begitu sampai di Depan Devi.


" Kamu datang sama siapa? kenapa nggak kasih tahu mommy! biar mommy Jemput." Tanya Devi, ia berjongkok menyesuaikan tingginya dengan Sevi.


" Sama papa Ano." Jawab Sevi. " Ayo di buta mom."


Devi Tersenyum melihat tingkah Sevi yang sedikit tidak sabaran itu. " Sevi masih belum bisa bilang K juga." Tanya Devi tangannya bergerak membuka amplop pemberian cinta pertamanya.


Sevi menyengir Sambil menggeleng kepalanya.

__ADS_1


" An, Bukannya cafe dan restoran itu milik kita bertiga? Terus ini maksudnya apa?" Tanya Devi begitu melihat Sertifikat bangunan serta surat surat usaha yang terdaftar menggunakan namanya.


" Erik dan Nadia hanya bantu kamu mengelola saja." Jawab Anwar.


" Maksudnya."


" Nanti aku Jelaskan."


" Setalang hadiah dari aku untuk mommy." Ucap Sevi.


" Enak Aja, ka Nanda dulu." Sahut Nanda.


" Tapi atu yang duluan disini, tata Nanda halus ngalah dong."


" Kan Aku yang lahir duluan jadi aku yang harus kasih mama hadiah duluan setelah itu baru kamu."


" Udah jangan berantem gimana kalau kasihnya sama sama aja! tetapi sesuai urutan." Ucap Devi Mencoba menengahi kedua Kakak beradik itu. Mereka pun setuju.


" Boleh mami tahu kenapa Nanda ingin kasih mommy jam tangan! padahal jam tangan mommy udah banyak loh." Tanya Devi.


" Kata ibu guru di sekolah, jam itu pengingat waktu! Nanda cuma mau mommy ingat sama kita, setiap kali mommy lihat jam tangan ini, Aku mau lebih banyak waktu sama mommy." Permintaan yang begitu sederhana tetapi dapat menyetil hati semua yang mendengarnya. Begitu juga dengan Devi. Devi memeluk tubuh Nanda.


" Maafkan mommy sayang! mommy janji nggak akan ninggalin kamu lagi, mulai sekarang semua waktu mommy buat kalian." Air mata mulai membasahi kedua pipinya. Devi melepas pelukannya dengan Nanda ia menatap ke arah Putra.


Sebuah kamera yang putra pulihkan untuk mommynya. " Selama ini kita cuma lihat foto mommy sama Ayah! Bolehkah Aku ikut foto sama mommy juga." Ucapnya sambil menyerahkan kamera kepada Devi.


" Boleh dong! karena mulai sekarang setiap waktu bersama kalian akan mommy abadikan dengan kamera kamu ini." Devi memeluk hangat tubuh Putra.


" Sevi mau kasih mommy apa kali ini?" Tanya Devi.


" Ini buat mommy." Sevi Menyerahkan segelas air putih kepada mommy nya. " Tunggu dulu Dede lupa." Iya menarik kembali gelas dari tangan Devi. Sevi membaca doa kedua orang tua, Setelah meniup air itu Devi Menyerahkan gelas kepada Devi lagi. Devi mulai meneguk air pemberian Sevi.


Kebahagiaan yang Devi dapatkan malam ini tidak lepas dari tatapan tidak suka seorang Heni, Tetapi wanita itu bisa apa.

__ADS_1


...🖤🖤🖤🖤🖤🖤...


Acara di lanjutkan dengan makan malam bersama, Luna, Nana, Dede dan Nadia serta Erik Semuanya hadir di acara itu! begitu juga dengan pasangan mereka. Acara itu berjalan penuh suka cita, sampai Heni datang membawa minuman kepada mereka.


Devi sedikit Bersyukur karena mama Aisya mengajak semua cucunya untuk makan bersama om Hendro di ruang makan.


" Bisa tolong minum gantikan aku." Ucap Devi Menyerahkan Kembali gelas yang ada di hadapannya kepada Heni. Semua pandangan kini beralih kepada Devi dan Heni.


" Maaf Mbak! Aku tidak suka minum jus itu." Tolak Heni.


Devi Tersenyum paksa kepada Heni. " Kamu nggak suka atau ada apa apa yang kamu campurkan ke dalam gelas aku."


" Sudahlah, ular seperti kamu memang susah kalau di balikin! merugikan diri tau nggak." Ucap Devi iya mengambil gelas berisi jus itu dan langsung melemparkan kearah Heni. Jus itu tumpah mengotori gaun yang ia kenakan.


" Bi Ina." Teriak Devi, wanita setengah baya itupun menghampirinya. " Mana yang saya minta." Ucap Devi menadahkan Tangannya.


Tiga butir obat dengan bentuk dan warna yang berbeda, Ina letakkan di telapak tangan Devi.


" Kamu ingin menjebak aku! tidak segampang itu sayang! selama kamu masih bermain di daerah jangkauan aku. karena Pada Akhirnya kamu yang akan kalah dalam permainanmu ini." Devi menendang kaki Heni membuat wanita itu langsung terduduk di hadapannya.


.


.


.


.


Bersambung.


🍀 Maaf aku baru bisa up! 🙏🙏


🍀 Tinggalkan jejak ya kalau kalian suka 👍

__ADS_1


__ADS_2