Devi dan Aksel.

Devi dan Aksel.
KSH 54


__ADS_3

Tepat setengah tujuh semua anggota keluarga telah berkumpul di meja makan dengan Pormasi yang lengkap. Erik ikut bergabung begitu juga anaknya Heni yang kini telah menjadi anaknya Nana. Selama sarapan Devi terlihat begitu tidak berselera makan! begitu juga dengan Kila dan Erik, gerak gerik Devi tidak lepas dari tatapan Aksel.


" Ada apa sayang?kamu sakit." Tanya Aksel disertai usapan lembut di kepala Devi.


" Nggak."


" Terus."


" Nggak papa, Nggak ada terusannya."


" Ya udah habiskan sarapan kamu dulu! Sepuluh menit lagi kita pergi." pintah Aksel sambil melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


" Kalian mau kamana." Tanya mama Aisya.


" Aku nggak tahu Ma." Jawab Devi.


" Hari ini, aku ingin menghabiskan waktu berdua dengan Devi.."


" Nggak! aku hari ini sudah ada janji sama dokter Nisa! lagian Sevi juga baru datang, aku ingin menghabiskan waktu dengan mereka bertiga." Tolak Devi.


" Sevi hari ini mau nggak jalan jalan sama Nenek dan Aunty." Tanya mama Aisya.


" Temana?"


" Kemana aja yang Sevi mau! tapi setelah ka Nanda dan Putra pulang sekolah biar bisa jalan jalan sama sama, mau kan?"


" Mau Nek." Seru ketiga kakak beradik itu dengan kompaknya.


" Masalah Sevi sudah selesai, kalian berdua silahkan nikmati waktu berdua sepuasnya." Jika berurusan dengan mertuanya Devi masih kalah selangkah dari wanita paruh baya itu, mungkin karena pengalaman hidupnya jauh lebih banyak dari Devi Sehingga sulit sekali melewan atau mengalahkan pendapatnya.


" Tapi ma! Devi sudah ada janji dengan dokter Nisa." Devi masih saja mencoba.


" Hanya dokter Nisa ajakan?" Tanya Aksel.


" Iya."


" Jam berapa? Aku temani."


" Jam 9."


" Oke."


" Dasar pengangguran." Umpat Devi saking kesalnya. Menciptakan tawa di ruangan makan pagi itu, Devi segera menyelesaikan sarapannya tanpa banyak bicara.


Bukannya marah Aksel justru Tersenyum mendengar umpatan dari bibir istrinya itu! sudah lama ia merindukan sifat istrinya yang seperti ini.

__ADS_1


Selesai sarapan Devi kembali ke kamarnya untuk bersiap siap di ikuti Aksel. Tidak butuh waktu lama untuk kedua pasangan itu Menganti pakaian mereka. Devi tampil cantik dengan dress berwarna putih yang menyelimuti tubuhnya senada dengan Sneakers yang ia gunakan, sedangkan Aksel mengunakan kemeja putih dan celana panjang berwarna soft dipadukan dengan Sneakers berwarna senada dengan yang di gunakan Devi.


" Ma kita pergi dulu ya." Pamit Aksel Sambil menyalami tangan mama papanya.


" Devi titip Sevi ya Ma."


" Iya sayang! kalian hati hati ya."


" Iya ma! Tapi ngomong ngomong Sevi kemana ma?" Tanya Devi.


" Kesekolah Antarin Nanda dan putra temani Kila sama Erik." Jawab mama Aisya. " Ya udah kalian pergi sana."


" Ya udah kita pergi ya ma Assalamualaikum."


" Waalaikumsalam."


...🍀🍀🍀🍀🍀🍀...


Mobil Aksel melaju membelah jalan ibukota, Sebelum Kembali berhenti. " Kita mau kemana?" Tanya Devi dengan malasnya, saat mobil Aksel terjebak macet.


" Ketempat praktek dokter Nisa." Jawab Aksel, ia melirik Devi Sekilas." Kenapa wajah kamu di tekuk seperti itu! kamu keberatan jalan sama aku?"


" Nggaklah."


" Terus."


" Maaf sayang, kalau aku buat kamu nggak nyaman! Jika kamu nggak suka jalan sama aku habis dari dokter Nisa kita langsung pulang." Terlihat raut kekecewaan di wajah Aksel. Rasa bersalah kepada Erik membuatnya tidak nyaman berpergian disaat ada masalah seperti ini.


" Aku tanya kamu mau ngajak aku kemana. kenapa jadi aku nggak suka jalan sama kamu."


" Kamu mungkin nggak bilang Dev, tetapi sikapmu menunjukkan seperti itu."


" Jangan so tahu Aks."


" Terus Aku harus apa! pura pura baik baik saja dengan sikap kamu? Oke baiklah Selama kamu tidak berpikir untuk meninggalkan aku, Aku tidak masalah sekali pun kebahagiaan kamu bersama aku hanya sebatas pura pura tak masalah lakukan apa yang menurut kamu nyaman." Aksel kembali melajukan mobilnya begitu jalanan mulai lancar.


" Aks, bukan maksud aku seperti itu! Tapi.."


" Sudahlah yank, jangan di bahas lagi. Aku tidak ingin membahayakan keselamatan kita saat ini." Devi langsung diam begitu pun dengan Aksel, sisa perjalanan mereka hening Devi dengan lamunannya sedangkan Aksel tetap fokus menyetir.


Mobil Aksel sampai di parkiran rumah sakit setelah memarkir mobilnya Aksel turun, berjalan memutar mobil itu membukakan pintu untuk Devi.


" Ayo Udah jam sembilan lewat lima belas menit nih! dokter Nisa pasti udah nunggu." Ucap Aksel sambil melihat jam yang melingkar di tangannya.


Devi melirik Aksel sekilas Sebelum keluar dari mobil. Tangan Aksel langsung merangkul pinggang Devi Setelah menutup kembali pintu mobil, kedua berjalan bersama sama.

__ADS_1


Sampainya di ruangan praktek dokter Nisa, Devi menghampiri suster yang berjaga di depan ruangan itu, sedangkan Aksel memilih menunggu di bangku yang telah di sediakan.


" Permisi Sus! saya ada janji buat ketemu dokter Nisa! apa dokter Nisanya sudah datang."


" Sudah Bu, Maaf kalau boleh tahu dengan siapa."


" Ny Devina Aldira Firmasha."


" Baik Bu! bisa tunggu sebentar." Setelah mengiyakan, Devi menghampiri Aksel ia duduk di samping suaminya itu, menyandarkan kepala pada pundaknya.


Baru Lima menit menunggu pintu ruangan dokter Nisa terbuka, Terlihat suster thalia keluar mengantar salah satu pasien dokter Nisa.


Suster thalia mengajak Devi masuk keruang itu, sedang Aksel tetep menunggu di luar sesuai permintaan istrinya.


" Apa kabar?" Tanya Dokter Nisa Sambil berpelukan dan cipika cipiki.


" Alhamdulillah aku baik! terima kasih sudah menyelamatkan mereka untukku." Ucap Devi begitu tulus.


" Kamu tidak perlu berterima kasih! semua itu sudah menjadi tugas aku! keselamatan pasien adalah sebuah kebanggaan untuk kita."


" Tapi tetap saja aku harus berterima kasih! Kalau bukan karena dokter ketiga anakku tidak akan tumbuh menjadi anak anak yang cerdas seperti sekarang ini, apalagi anak lahir prematur."


" Kamu terlalu berlebihan, Semua itu terjadi karena perawatan yang mereka dapat di ruangan NICU itu perawatan yang terbaik."


" Tetap saja, aku harus mengucapkan terima kasih."


" Terserah kamu! sekarang katakan ada perlu apa, sampai kamu ingin menemui aku tapi janjiannya sudah dari tiga bulan lalu." Tanya Dokter Nisa ." Apa kamu ingin hamil lagi?"


" Tidak, aku datang untuk menundanya."


" Kenapa? mereka juga sudah hampir empat tahun."


" Kalau aku hamil sekarang kemungkinan, calon anakku akan terlahir sama seperti ketiga kakaknya atau mungkin lebih buruk dari itu." Ucap Devi dokter Nisa pun mengerti, Ia mulai menyarankan berberapa alat kontrasepsi untuk Devi.


Devi menjatuhkan pilihan pada suntik satu bulan sekali. Setelah selesai Devi keluar dari ruangan dokter Nisa, jika pasien yang lain suster thalia yang mengantar, khusus untuk Devi dokter Nisa sendiri yang mengantarnya.


.


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


Kali ini boleh Vivia minta like di setiap babnya🙏 Aku begadang semalam biar bisa Double. 😭😭


🍀 Tinggalkan jejak ya👍


__ADS_2